Mentari

Mentari
Episode 160



"Assalamualaikum," Rembulan mengetuk pintu, kemudian ia memutar gagan pintu dan memasukan kepalanya terlebih dahulu. Dan matanya melihat Radit yang juga tengah melihat kearah nya.


"Waalaikumusalam Umi," jawab Radit yang duduk di kursinya.


Rembulan tersenyum dengan tampannya, bahkan Rembulan sampai tidak bergerak dari tempatnya.


"Sayang," suara Radit membuyarkan lamunan Rembulan, dan entah kapan Radit berjalan mendekat ke arahnya yang jelas Radit kini sudah berdiri di hadapannya.


"Eh...." Rembulan terkejut.


"Kamu kenapa?" tanya Radit lagi.


"Emang aku kenapa?" tanya Rembulan dengan konyolnya.


"CK," Radit menggeleng karena mendadak istrinya menjadi tidak jelas, "Kamu kenapa di pintu?" tanya Radit lagi.


"Terus?" tanya Rembulan dengan bingung.


"Umi enggak mau masuk? Datang ke rumah sakit cuman mau berdiri di depan pintu saja kah?" tanya Radit dengan jelas.


Glek.


Rembulan baru sadar ternyata barusan ia terlihat sangat bodoh sekali, "Hehehe..." Rembulan menggaruk kepalanya menyadari bertapa ia begitu bodoh sekali.


"Cengengesan lagi," kata Radit dengan gemus, "Ayo masuk, tidak usah melihat begitu. Abi tahu Abi tampan!" celetuk Radit.


"Ish....Abi," wajah Rembulan bersemu merah, ia cepat-cepat masuk dan duduk di kursi kerja Radit seperti biasanya, tidak lupa tangannya meletakan kotak bekal di tangannya pada meja.


"Umi masak apa?" tanya Radit, kini ia berdiri i samping Rembulan.


"Ini Umi masak cah kangkung, sama sambel lele, buat Abi," kata Rembulan, bahkan tangannya sudah menyusun rapi makanannya pada meja.


"Wah enak sekali," kata Radit.


"Iya dong," kata Rembulan dengan bangga.


"Tapi ada yang lebih enak!" kata Radit lagi.


"Apa?" Rembulan penasaran dan langsung melihat Radit.


"Makan Umi," celetuk Radit.


"Emmmm......" Rembulan menunduk, ia benar-benar malu saat Radit menggoda dirinya, "Sssssttt.....mau makan enggak?"


"Mau dong," Radit mencolek dagu Rembulan, "Makan ini, atau kamu?" tanya Radit lagi.


"Abi....hiks....hiks...." Rembulan ingin sekali menangis karena ulah Radit yang terus saja menggoda dirinya.


"Apa sayang, jangan teriak.....nanti ada yang denger," kata Radit sambil terkekeh.


"Abi sih!" kesal Rembulan.


"Sini Abi suapin," Radit setengah duduk di atas meja, kemudian sedikit menunduk dan mulai menyuapi Rembulan, "Enak?" tanya Radit.


"Enak," jawab Rembulan.


"Ini karena yang suapin terlalu tampan," kata Radit.


"Mmmmfffffpp....." Rembulan menahan tawa karena Radit ternyata masih saja sama dari dulu sampai sekarang pun, "Kamu enggak berubah ya, tetap aja konyol," kata Rembulan sambil tertawa kecil, "Mana ada makanan enak karena yang nyiapin. Yang ada makanan bisa enak karena yang masaknya pinter," ujar Rembulan.


"Iya, pinter, cantik lagi," kata Radit.


"Emmm.....Abi udah ah....." Rembulan tidak kuat menahan gombalan receh Radit, hingga ia benar-benar ingin Radit segera mengakhiri gombalannya itu.


"Radit," tiba-tiba pintu terbuka dan masuk seorang wanita dengan kemeja putih yang melekat pada tubuhnya, dan Rembulan bisa menebak jika itu adalah seorang dokter juga.


"Gia, apa kabar," Radit tersenyum, ia berdiri dan meletakan makan yang ia pegang.


"Baik, kamu apa kabar.....aku kangen tau," Gia langsung berjalan kearah Radit dan memeluk Radit.


"Aku juga," Radit membalas pelukan Gua dengan baik.


Brak!


Rembulan menggebrak meja, kemudian ia berdiri dan menatap kedua orang itu dengan tajam.


"Gia, kenali ini Rembulan....Kakak Ipar kamu," ujar Radit dengan santai.


Gia menatap Rembulan dan tersenyum, "Ternyata Kakak Ipar aku lebih cantik aslinya daripada pas kamu tunjukan di photo," kata Gita tersenyum dan ia mendekati Rembulan. Sedetik kemudian ia memeluk Rembulan.


"Kakak Ipar?" tanya Rembulan bingung.


"Iya," Gia menjauh dan be erapa detik kemudian ada dua anak kecil yang menyusul masuk.


"Om...Radit!!!"


"Om.... Radit!!!"


"Ponakan Om yang cantik-cantik," kata Radit dan langsung memeluk dua bocah itu.


"Assalamualaikum," sapa seorang Pria.


"Apa kabar Dit," tanya Bagus, sepupu Radit. Atau lebih tepatnya Gia adalah keponakan Nina. Kemudian menikah dengan Bagus, yang artinya Bagus juga menjadi sepupu Radit.


"Alhamdulillah baik, kenalin ini istri aku Rembulan," kata Radit menunjukan Rembulan.


Rembulan yang masih bingung dan linglung dengan terpaksa mengarahkan tangannya, ia benar-benar merutuki kebodohannya. Hampir saja ia marah-marah tidak jelas lagi sebelum bertanya.


"Dit, kita balik dulu ya....si bocil minta ketemu Oma Nina," kata Gia.


"Hati-hati ya Gia, entar kita juga ke rumah Mama kita makan malam bareng," Kata Radit.


"Iya, Kak Rembulan, Gia pamit ya," kata Gia.


"Iya," Rembulan mengangguk dan tersenyum dengan paksa.


"Kamu mau marah-marah, atau mau pura-pura gila lagi?" seloroh Radit, karena ia tahu tadi Rembulan sudah hampir terbakar emosi.


"Sok tahu," Rembulan kembali duduk dan berusaha tetao tenang.


"Enggak papa juga sih, seneng juga ada yang cemburuan," celetuk Radit.


"Pede gila!" kesal Rembulan.


"Enggak cemburu, enggak cinta," kata Radit, "Kamu enggak cemburu tadi?" tanya Radit serius.


"Enggak!"


"Okeh.....aku cari pacar baru dulu," kata Radit dan ia ingin pergi.


"Eh...." Rembulan cepat-cepat bangun dan memegang lengan Radit, "Abi apaan sih!" kesal Rembulan.


"Hehe...." Radit merangkul pundak Rembulan, "Sayang enggak sama Abi?"


"Sayang," kata Rembulan dengan suara kecil.


Radit menahan tawa melihat wajah Rembulan, "Enggak denger, suara Umi kecil," bohong Radit.


"Sayang....." kata Rembulan dengan jelas.


"Aduh cantiknya," Radit mencolek dagu Rembulan, "Kita enggak mau bolos bareng ni?" tanya Radit.


"Kita udah enggak sekolah Abi..." jawab Rembulan dengan malu-malu.


"Abi lupa, tapi satu yang Abi enggak akan pernah bisa lupa."


"Apa?"


"Umi tetap ada di hari Abi," kata Radit.


"Abi ish....gombal," Rembulan mencubit pelan perut Radit.


"Serius tau Mi, dari dulu sampai sekarang enggak ada yang berubah," goda Radit lagi.


"Abi udah ah..... " Rembulan menutup kedua telinganya karena tidak kuat dengan kata manis Radit.


Radit tersenyum melihat Rembulan dengan cantiknya, apa lagi kini Rembulan sudah menerimanya dengan baik sekali. Impian Radit untuk hidup bersama Rembulan kini benar-benar menjadi nyata.


"Abi apa sih liatnya gitu banget," Rembulan tertunduk sambil tersipu malu, melihat tatapan kagum Radit.


"Mi, kita pulang yuk," kata Radit.


"Ngapain?" tanya Rembulan.


"Maunya ngapain Mi?" goda Radit.


"Ish....Abi apasih!" kata Rembulan sambil menahan malu.


"Jangan bilang Umi mikirin aneh-aneh ya?" tebak Radit.


"Enak aja!" kesal Rembulan.


"Tapi emang Umi mikirin apa?"


"Abi apasih," Rembulan benar-benar ingin berteriak karena Radit sangat pandai menggoda dirinya.


"Iya enggak papa!"


"Yaudah yuk pulang, Abi udah selesai kerja," kata Radit.


"O.... hehehe...." Rembulan menggaruk kepalanya, karena memang otaknya sudah terkontaminasi.


"Ahahahhaha... mikirin apa hayo?"


"Hahaha......" Rembulan tertawa karena sepertinya Radit dapat menebak apa yang ia pikirkan.


"Dasar otak miring!" kata Radit.


"Ahahahhaha......"