Mentari

Mentari
Episode 84



Hari ini dimana tokonya akan dibuka untuk pertama kalinya setelah diresmikan waktu acara tujuh bulanannya. Mentari sudah siap berangkat, tinggal menunggu suaminya memakai dasinya.


"Ini jaz nya kak" Ucap Mentari sembari memberikan jaz itu kepada suaminya.


Arka yang pagi ini sangat buru-buru maka dia memperhatikan istrinya, "Lho sudah siap saja, mau kemana?."


"Ke Toko" Jawab Mentari sembari senyum.


"Nanti capek, gimana ke kantor saja" Tawar Arka. Ia sangat takut jika sang istri kecapean sedang dirinya di kantor.


"Mau lihat orang kerja, tapi siapa yang rekrut karyawan?" Tanya Mentari karena ia belum melakukan apa-apa terhadap toko kuenya itu tapi sudah mulai buka hari ini.


"Ada, jadi dek santai dirumah, jangan terlalu pusing dengan Toko" Ucap Arka.


Mentari yang sudah duduk dibibir ranjang dengan tas yang masih ia pegang, "Aku pemiliknya jadi aku harus lihat keadaan disana."


"Aman, yang urus itu orang pilihan Ayah jadi saya rasa aman" Ucap Arka lagi meyakinkan Istrinya.


"Buat aku penasaran saja, cepat kak" Ucap Mentari lagi.


Arka menarik napas lalu membuangnya dengan kasar, "Ok, kita sarapan dulu."


"Aku belum lapar, tapi kalau kakak makan aku temenin" Ucap Mentari.


"Gak bisa, harus sarapan dan minum susu" Ucap Arka dengan tegas.


Mentari mendengar itu langsung diam lalu mendongak melihat wajah suaminya sembari senyum, "Ok, kita sarapan sekarang"


Mereka pun jalan menuju meja makan, 10 menit mereka sudah menyelesaikan sarapan pagi mereka. Ibu Dewi melihat itu heran tapi begitulah keluarga anaknya.


"Sepertinya buru-buru?" tanya ibu Dewi.


"Ke Toko bu" Jawab Mentari.


"Toko atau kantor?" tanya Arka pada Mentari.


"Tadi sudah di iyakan ke Toko" jawab Mentari dengan wajah cemberut.


"Ok, Kita berangkat sekarang" Ucap Arka lagi, "Bu kami pergi dulu, Assalamualaikum" Sambungnya dengan pamit sambil cium tangan ibunya


Ibu Dewi menjawab salam sembari senyum, "Wa'alaikumussalam, iya kalian hati-hati ya."


"Ibu pamit ya, doain Mentari agar diizinkan ke Toko, Assalamualaikum" Ucap Mentari dengan kalimat terakhir sedikit berbisik lalu cium tangan ibu mertuanya.


"hahaha, wa'alaikumussalam, ke kantor saja lebih aman" Ucap ibu Dewi.


Mentari menarik napas dan meraih tangan mertuanya untuk kedua kalinya, "Kak Arka pasti senang kalau seperti itu bu" Adunya dengan nada manja.


Arka hanya senyum-senyum, bagiamana tidak dengar sementara saat ini mereka bertiga berada dipintu utama. Arka berdehem dan Mentari mengerti maksud dari deheman suaminya itu.


"Ibu, Mentari pergi dulu yaa, mmmuachh" Mentari cium jauh kepada ibu mertuanya itu setelah 10 langkah darinya.


"Iya, hati-hati" Ucap ibu Dewi lagi sembari melambaikan tangan dan senyum.


Ibu Dewi memperhatikan Arka dan Mentari masuk mobil sampai mereka pergi meninggalkan rumah, lalu ia kembali masuk dalam rumah. Ia merasa senang dan terhibur dengan tingkah mantunya itu, jalan sambil senyam-senyum dan saat itu Pak Rahmat jalan melewati istrinya.


"Kenapa ibu senyum-senyum?" Tanya Pak Rahmat dari arah belakang ibu Dewi.


"Ibu kira sudah ke kantor tadi" Ucap ibu Dewi setelah menoleh kearah suaminya itu.


"Ada yang di lupa" Ucap Pak Rahmat.


"Sudah ambil?" Tanya Ibu Dewi.


"Sudah" Jawab Pak Rahmat sambil mengangkat map warna biru ditangannya itu.


"Ok, jangan capek-capek Pak. Gimana Arka saja yang urus perusahaan?" Usul ibu Dewi.


"Kalau hanya duduk diam di rumah kadang bosan, saya harus pergi, assalamualaikum" Pamit Pak Rahmat.


"Wa'alaikumussalam" jawab ibu Dewi dan pak Rahmat pergi, Sudah tidak heran sifat Arka mirip ayahnya" Ucapnya lagi.


...💛💛💛...


Aldi pagi ini sudah rapi dengan jaz di badannya, ia menuju meja makan sambil bersiul. Ibu Anita dan Papa Hadi yang berada dimeja makan itu heran melihat gaya dan tingkah putranya pagi ini.


"Waoaw, nasi goreng" Ucap Aldi, "tidak masalah" sambungnya sambil makan.


"Pa, anak kita kenapa, kok hari ini aneh?" Ibu Anita heran dengan perubahan Aldi hari ini.


"Entahlah, papa juga bingung" Ujar Hadi.


Kedua orang tua itu bingung dengan tingkah laku putranya yang tidak seperti biasa, Anita kembali melihat cara makan Aldi yang sembari senyum.


"Pa, Aldi kita bawa ke psikiater" Usul ibu Anita yang membuat Hadi kaget.


"Untuk apa?" Tanya Hadi.


"Jangan sampai Aldi stres atau kelainan mental" Ucap ibu Anita lagi.


"Kamu ini pikiranmu, itu lagi jatuh cinta" Jawab Hadi asal.


"Benar tu" Timpal Aldi sambil membunyikan tangannya.


Ibu Anita dan Hadi langsung melihat Aldi, "Benar?" tanya mereka bersamaan.


"Iya, jatuh cinta pada Bunda dan Papa" Jawab Aldi yang membuat Anita dan Hadi saling pandang.


"Papa, anakmu lagi stress" Ucap Anita pada suaminya.


"Doain Aldi bun?" Tanya Aldi.


"Bukan sayang tapi tingkah mu hari ini seperti orang yang rusak mental" Ucap ibu Anita.


"Bukan rusak bun tapi gangguan" Ucap Aldi.


"Kenapa senyam-senyum dan bersiul?" tanya ibu Anita lagi.


"Hidup ini harus diwarnai Bun" Jelas Aldi yang membuat ibu Anita semakin heran.


"Bunda tau, tapi hari ini lain dari biasanya" Ucap ibu Anita lagi penasaran.


"Berarti Bun, Aldi keluar dari zona Aldi sendiri, itu gak mudah loh Bun" Ucap Aldi lagi sembari senyum.


Ibu Anita menarik napas, "Alhamdulillah kalau seperti itu, bunda tenang jadinya"


"Di Toko sudah ada yang atur semua" Jawab Hadi, "Sepertinya papa ke kantor sekarang" Sambungnya.


"Iya pa, hati-hati dijalan" Ucap ibu Anita.


"Iya, assalamualaikum" Pamit Hadi.


"Wa'alaikumussalam" Jawab Anita dan Aldi bersamaan, "Kamu gak ke kantor sama-sama papa saja?" tanya ibu Anita pada putranya itu.


"Aldi ke Toko Mentari cake dulu pagi ini" jawab Aldi


Ibu Anita mengangguk paham, "Bawakan bunda kue dari sana yaa"


"Siap bunda" Jawab Aldi, "Aldi pergi dulu, assalamualaikum" Sambungnya cium tangan lalu pergi.


Dalam perjalanan menuju Toko, Aldi memutar musik sambil mengikuti lagunya dan berhenti ketika handphonenya bunyi.


Aldi mengangkat telefon itu, "Dia sudah di toko?, Ok" Ucap Aldi ditelepon itu.


"Aldi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Arka dan Mentari masih mode diam, Arka tidak mengizinkan Mentari ke Toko tanpa dirinya, mengingat Mentari kadang ceroboh menjaga dirinya sendiri.


"Gimana kita lewat depan toko saja hanya untuk lihat keadaan disana" Bujuk Mentari.


"Besok saja gimana?" tanya Arka.


Mentari menarik napas sambil mengelus dada lalu ke perutnya dan itu dapat ditangkap mata oleh suaminya.


"Kenapa?" tanya Arka.


"Tidak, hanya mencoba untuk menyabarkan diri dan baby" Jawab Mentari dengan lembut sedikit lirih.


Arka yang mendengar itu langsung senyum, ia tau itu senjata ampuhnya jika keinginannya tidak terpenuhi.


"Baby kan tidak tau" Jawab Arka.


"Baby tergantung perasaan ibunya" Ucap Mentari lagi.


"Iya kalau gitu, kita singgah tapi tidak lama" Arka memutuskan untuk ke Toko dan Mentari langsung senyum sumringah.


Arka tidak lupa menelepon Asisten Brian untuk ke kantor segera karena dia harus ke Toko dulu.


Perjalanan yang ditempuh tidak lama, mereka pun sampai dan saat itu Aldi sudah sampai duluan. Mereka keluar dari mobil dan melihat mobil Aldi.


"Itu bukan mobil Aldi?" tanya Arka sambil menunjuk mobil yang tidak jauh dari mereka.


"Benar kak, kita masuk" Ajak Mentari sudah tidak sabar melihat toko kuenya.


Mentari masuk dalam tokonya sudah disuguhkan dengan kakaknya yang sedang menikmati kopi di Toko kuenya.


"Kak Aldi minum disini, apa dirumah tidak sempat sarapan" Batin Mentari sambil jalan menghampiri Kakaknya itu.


Mentari dan Arka memutuskan untuk menghampiri Aldi, Aldi yang baru saja menikmati kopinya langsung ia geser ke samping seketika.


"Minum kopi, sejak kapan kakak minum kopi?" tanya Mentari dengan mata berpindah ke gelas kopi.


"Pengen coba ternyata gak terlalu buruk" Jawab Aldi.


"hmmm" Mentari mengangguk sambil bertopang dagu menatap kakaknya.


Aldi yang ditatap seperti itu merasa aneh, "Kenapa sih dek?"


"Aneh" Jawab Mentari satu kalimat tapi mampu menarik perhatian Arka. Seketika Arka melihat Aldi, "Iya, dari gaya rambut berubah" Timpal Arka.


"Masa sih, perasaan kalian saja" Kilah Aldi.


"Mata kakak yang melihat bukan perasaan" Jawab Mentari.


"Tapi perasaan kan yang merasakan?" tanya Aldi sambil main mata.


"Sudahlah, kak Aldi kelainan mental pagi ini" Ucap Mentari sambil jalan membuat karyawan di tokonya dengar.


Aldi menoleh kiri kanan begitu banyak pengunjung yang geleng kepala dan tidak jauh dari mereka ada Siska yang ketawa dengan tingkah Mentari pagi.


"Ya Allah Mentari, gak pernah berubah" Ucapnya dan kembali masuk dalam ruangannya.


Pak Rahmat sengaja sediakan satu ruangan khusus untuk Siska Amalia tepat disamping Ruangan Mentari di Tokonya itu.


Mentari kembali memanggil suaminya dan kakaknya, "Ruangan aku dimana? kata ayah disini disediakan satu ruangan buat aku" Ucap Mentari.


"Iya, sini aku antar" Ajak Aldi. Aldi pun bangkit dari duduknya diikuti oleh Arka.


Mereka jalan bertiga namun yang duluan adalah Mentari, "Cepat, kirain aku gak capek, apa" Ucap Mentari sambil jalan.


"Dasar bumil, ngomel mulu kerjaannya" lirih Aldi.


"Sabar bro, aku saja pusing dalam mobil hadapin dia" Arka pun mengeluarkan isi hatinya.


"Hahahaha" Suara tawa Aldi.


"Mana ini, kanan atau kiri? ehhh maksud aku ruangan pertama atau ke dua?" Tanya Mentari.


"Ya Allah dek coba fokus dan baca tulisan di pintunya, fokus dek supaya anakmu nanti tidak gagal fokus kayak kamu" Ucapan Aldi itu mendapat tatapan tajam dari Mentari.


"Jangan marah, bercanda" Ucap Aldi lagi.


"Gimana gak marah, kamu bilangin anakku didepan ibunya sendiri, sakit hati aku kak, ingat ya kak sebentar lagi surga dibawah telapak kakiku" Ucap Mentari bangga lalu masuk dalam ruangannya.


"Ma Syaa Allah, Tau banget kesukaanku, terima kasih sebelumnya" ucap Mentari bahagia lalu keluar memeluk Arka dan Aldi yang masih depan pintu.


"Jangan juga di tarik leherku dek" Protes Aldi.


"Kalian tinggi jadi Mentari susah meraihnya" Jawabnya lagi.


"Makanya dek pas pembagian tinggi badan datang" Ujar Aldi lagi.


"Isshh" Ucap Mentari lalu melepaskan tangannya di tengkuk Aldi dan Arka, "Berbagi bahagia gak mau"


"Kami sudah bahagia melihatmu bahagia dek" Jawab Arka sembari senyum.


"Lanjuuuuuut terus gombalannya, dunia terasa milik berdua" ucap Aldi lalu pergi meninggalkan Arka dan Mentari yang sedang menertawakannya


...SEMOGA SUKA ❤️...


...TERIMA KASIH 🙏...