Mentari

Mentari
Episode 137



Plak!


Satu tamparan mendarat di wajah Radit, Mahesa tidak menyangka jika Radit bisa berbuat begitu nekat. Menjebak Rembulan hanya demi menjadi miliknya sungguh sangat di luar batas pikiran Mahesa.


"Pa, sudah ini rumah sakit," Nina juga tidak menyangka jika putranya bisa melakukan demikian, akan tetapi ia tidak ingin membuat keributan di rumah sakit. Dimana ada Rembulan yang tengah terbaring tidak sadarkan diri, apalagi Nina sangat mengkhawatirkan keadaan calon cucunya dengan Rembulan juga yang keadaannya sangat memprihatikan.


"Kenapa kamu bisa berbuat serendah itu Radit!" tanya Mahesa. Emosi nya tidak pernah mereda apa lagi saat melihat Radit.


"Tuan Mahesa," Ranti yang terus saja menangis mulai melihat besannya, "Saya mohon, anak saya masih belum sadarkan diri....hiks....hiks...." Ranti menatap Rembulan dengan wajah penuh dengan air mata.


Sebagai seorang ibu Nina juga bisa merasa apa yang di rasakan oleh Rianti, ia memeluk Ranti dan menggosok pundak Ranti. Nina sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi saat ini, "Maaf Mbak, aku sudah gagal menjadi seorang ibu....bahkan aku tidak pantas di sebut seorang ibu," kata Nina penuh luka.


Radit semakin merasa bersalah, karena apa yang terjadi sungguh banyak melukai banyak orang.


"Kau yang bertanggung jawab bila Rembulan dan janinnya kenapa-kenapa!" tegas Mahesa lagi.


Arya yang baru saja sampai di rumah sakit langsung masuk dan melihat Rembulan, tidak ada kata yang bisa ia ucapkan. Wajahnya hanya menunjukan jika ia sangat terluka melihat putrinya di sana, Arya hanya bisa memeluk Rembulan yang terbaring di atas ranjang.


Perlahan tangan Rembulan bergerak, dan Arya mulai melihat kelopak mata Rembulan mulai bergerak.


"Kamu sudah sadar Nak," kata Arya hingga semua yang ada di sana langsung melihat Rembulan.


Rembulan mulai membuka matanya, dan melihat Arya di sana.


"Alhamdulillah....." Nina cepat-cepat mendekati Rembulan, dan ia sangat bersyukur sekali atas Rembulan yang sudah sadarkan diri.


"Ulan," Ranti langsung memeluk Rembulan, bersama dengan Mentari juga.


"Maaf ya Tar, karena kecerobohan aku kamu harus ikut terseret dalam masalah ini," kata Rembulan dengan suara lemahnya.


"Tari nggak papa kok Kak, Tari juga udah bahagia sama Kak Arka," kata Mentari tersenyum, "Justru Tari mau bilang makasih, karena Kakak kabur Tari bisa nikah sama Kak Arka," celetuk Mentari.


Mentari memang seorang wanita yang penuh ceria, ia selalu bersinar dengan cerahnya. Seberat apa masalah yang menimpanya tidak ada waktu untuk larut dalam duka, bahkan kini pun ia berusaha membuat Rembulan kembali tersenyum.


Rembulan tersenyum, ia bersyukur karena Mentari juga sudah bahagia. Hati Rembulan begitu lega mendengarnya, karena kebahagiaan Mentari adalah kebahagiaan nya juga dan begitupun sebaliknya.


Kaki Radit mulai melangkahkan mendekati Rembulan, hingga tanpa sengaja Rembulan juga menatap Radit.


"Maaf," lirih Radit.


Rembulan membuang pandangannya ke arah lainya, entah mengapa kini Rembulan tidak ingin melihat wajah Radit.


"Ma," Rembulan melihat Ranti yang berdiri di dekatnya, "Suruh dia pergi!" kata Rembulan.


Semua bingung dengan sikap Rembulan, bahkan hanya untuk melihat Radit saja ia cukup muak.


"Tapi dia suami mu, tidak boleh begitu...." kata Ranti sambil mengusap kepala Rembulan.


"Ulan kamu mau apa?" tanya Nina panik.


"Ulan...." Ranti juga begitu panik melihat apa yang di lakukan oleh Rembulan.


"Tidak apa Ma, biar Ulan aja yang pergi," Rembulan mencoba turun dari ranjang.


"Jangan Nak, kamu masih lemah....." Ranti memegang tangan Rembulan dan berusaha membuat Rembulan tidak pergi.


"Keluar kamu dari sini!" Nina langsung menari tangan Radit untuk keluar dari sana, ia tidak ingin membahayakan keadaan Rembulan dan kandungan nya.


"Tapi Ma," Radit tidak ingin keluar dari sana, dan ia ingin melihat keadaan Rembulan. Radit menatap Rembulan yang duduk di ranjang, tapi Rembulan hanya menangis sambil melihat arah yang berlawanan tanpa ingin menatap Radit.


"Radit, keluar!" kata Nina yang terus memaksa Radit, hingga benar-benar keluar dari ruang tersebut.


Mau tidak mau, Radit kini berada di luar. Ia duduk di lantai sambil bersandar di dinding. Seperti orang yang tidak berguna, menyesal pun sudah tidak ada artinya lagi. Rembulan pun sudah sangat kecewa padanya.


Sementara selang infus Rembulan mulai kembali di benarkan, "Saya permisi," kata dokter Anggia setelah ia selesai memeriksa keadaan Rembulan.


"Terima kasih dok," kata Ranti.


Radit yang melihat dokter Anggia sudah keluar dari ruangan Rembulan tidak diam saja, ia mengikuti dokter Anggia hingga masuk ke ruangan dokter Anggia.


"Dokter, Anggia," kata Radit.


"Iya," dokter Anggia berbalik dan baru menyadari ternyata Radit mengikutinya.


"Apa istri saya baik-baik saja?" tanya Radit.


"Duduk," Anggiat unjuk kursi dan meminta Radit duduk, kemudian ia juga duduk di kursinya, "Tidak usah saya jelaskan dengan detail, karena anda juga seorang obstetri dan ginekologi, ini sudah untuk yang kedua kalinya istri anda mengalami pendaran, kita lihat sampai beberapa hari kedepannya tapi kandungan nya sangat lemah dokter Radit, kalau tidak ada perkembangan mungkin dengan berat hati lebih baik janinnya kita angkat agar tidak membahagiakan nyawa ibunya juga," kata dokter Anggia dengan suara pelan, ia dapat merasakan apa yang di rasakan Radit.


Radit mengangguk, ia bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan Anggia. Radit kembali melihat Rembulan dari kaca pintu kamar, karena ia takut bila nanti Rembulan marah jika ia masuk. Sesaat kemudian Radit melangkah keluar, tidak ingin membuat kandungan Rembulan bermasalah karena ada dirinya Radit pun pergi agar Rembulan tidak melihatnya dan Rembulan bisa lebih baik.


Rembulan hanya diam, tidak ada yang bisa di katakan sekarang ini ia sedang benar-benar kecewa.


"Kak, kan yuk," kata Mentari yang memegang buah di tangannya.


"Nanti aja ya Tar," tolak Rembulan.


Tidak ada lagi mulut Rembulan yang suka mengunyah, semua itu hilang seketika setelah luka hatinya terhadap Radit hadir. Rembulan ingin sekali berdamai dengan dirinya sendiri atas semua ini, tapi semuanya sulit di pahami hatinya yang keras masih begitu sulit untuk memaafkan Radit.


Radit yang menjebaknya masuk dalam hal mengerikan itu, tapi Radit malah bersikap seolah ia juga korban. Mungkin jika Radit yang memberitahukan semuanya dan ia langsung meminta maaf semua tidak akan sesakit ini, tapi tidak Radit seolah menyembunyikan semuanya dengan rapi. Bahkan Radit pergi begitu saja setelah menikahi nya, memang Rembulan mengakui jika ia yang membiarkan Radit pergi. Tapi saat itu Rembulan berpikir jika Radit juga korban, bahkan ia sempat berpikir Radit juga terpaksa menikahinya. Hingga Rembulan malah tidak ingin membuat Radit terikat pernikahan itu, tapi justru semua tidak begitu hati Rembulan sangat sakit.


*


Tolong Vote dong Kak!!!! Author nggak semangat nih