Mentari

Mentari
Episode 155



"Ini tuan," Bik Sumi memberikan lada bubuk yang diminta Arka, kemudian ia mengambil cangkir yang tadi ia buat teh. Karena Bik Sum juga ingin segera pergi dari hadapan Arka, sungguh wajah Arka sangat mengerikan sekali.


"Tunggu!"


Suara berat Arka membuat Bik Sum bergidik ngeri, ia kembali meletakan cangkir di tangannya dan melihat Arka.


Tanpa banyak bicara Arka membuka lada bubuk nya dan mulai memasukannya pada cangkir teh buatan Bik Sum, setelah itu mengaduknya Arka melihat Bik Sum.


"Antar kedelapan!" titah Arka.


"Kakak apasih, kok itu di kasih begituan," protes Mentari sambil melebarkan matanya, ia tidak menyangka Arka bisa begitu sadis. Apa yang akan terjadi bila Haikal meminum teh tersebut.


"Antar kedelapan!" Arka tidak perduli pada Mentari, ia hanya menatap bik Sum. Bahkan Arka mulai marah karena Bik Sum masih saja diam di tempatnya.


"Tap.....tapi tuan," tangan Bik Sum gemetaran, ia sangat takut mengantarkan teh dengan ramuan terbaru Arka itu, "Non...." Bik Sum melihat Mentari, berharap Mentari bisa menolongnya. Menolongnya untuk tidak mengantarkan teh aneh tersebut, dan bebas dari bertapa seramnya Arka.


"Kakak Arka," kata Mentari dengan meninggikan suara nya. Mentari berharap kalau Arka berubah pikiran, karena kasihan sekali bila Haikal meminum teh tersebut.


"Bibik mau antar ke depan, atau Bibik yang minum sendiri?" kata Arka memberikan pilihan pada Bik Sum. Pilihan yang terdengar begitu mengerikan keduanya bukan pilihan yang tepat.


Bik Sum melihat cangkir tersebut, kemudian mengingat saat-saat Arka memasukan cabai bubuk kedalam nya. Tentu saja bik Sum merasa sakit pada perutnya, padahal tehnya belum sama sekali ia teguk.


"Bik Sum ayo minum!" kata Arka, Arka yakin jika Bik Sum lebih memilih mengantarkan minuman itu ke depan daripada ia minum sendiri.


"Kak Arka apasih!" kesal Mentari. pertama kalinya untuk mengetahui tentang Arka yang bisa mengerjai orang seperti ini.


"Bik Sum, minum!" titah Arka lagi.


"Tuan saya antar kedelapan saja," kata Bik Sum, karena ia tidak mau di suruh menghabiskan teh pedas itu.


"Pilihan yang tepat," Arka tersenyum.


Bik Sum terus berjalan dengan gemetaran sambil membawa teh pada nampan di tangannya.


"Kamu kenapa Sum?" tanya Ranti, karena saat meletakan cangkir di atas meja Bik Sum terlihat ketakutan.


"Tidak apa Bu, saya pamit," Bik Sum cepat-cepat pergi dan meninggalkan cangkir yang di letakkan nya di atas meja.


"Ada-ada saja," kata Ranti, "Ayo di minum nak Haikal," kata Ranti.


"Maaf Tante, tapi Haikal puasa," kata Haikal menolak dengan tidak enak hati.


"Kamu masih saja sama, sangat Soleh sejak dulu ya," Ranti tersenyum dan memuji Haikal, karena Haikal memang sangat taat beribadah.


"Tidak Tante, saya sama saja.....pendosa yang ingin bertaubat," jelas Haikal. Karena ia tahu dosa yang ia perbuat cukup banyak, dan kini ia ingin benar-benar kembali kejalan yang benar.


"Ah....kamu ini ya, suka sekali merendah," kata Ranti lagi.


"Tante, saya permisi dulu....karena ada hal lain yang harus saya lakukan segera," kata Haikal berpamitan.


"Baiklah, sekali lagi terimakasih oleh-oleh nya," kata Ranti.


"Lan aku pamit ya," pamit Haikal pada Rembulan yang tengah mengompres Radit.


"Iya hati-hati ya Kal," kata Rembulan.


"Saya permisi Mas," pamit Haikal pada Radit juga.


Radit hanya mengangguk dan Haikal pergi, setelah kepergian Haikal. Ranti melihat teh buatan Bik Sum, dan ia mengambilnya.


"Mau dibawa kemana Ma?" tanya Radit.


Radit mengangguk, "Ma bisa buat Radit aja nggak, Radit haus banget," kata Radit. Sebenarnya Radit bisa saja meminta tolong pada Rembulan, tapi kasih karena takut Rembulan terlalu lelah. Belum tadi ia menggepur istrinya sampai dua kali, dan sekarang tengah mengompres pinggang nya. Sementara istrinya tengah mengandung.


"Apa enggak bikin yang baru aja," kata Ranti.


"Itu aja Ma, kan tamunya enggak nyentuh juga kasihan mubazir," kata Radit lagi.


"Yaudah kalau kamu tidak keberatan," Ranti memberikan cangkir tersebut pada Radit.


Mentari dan Arka kembali bergabung dengan Rembulan dan Radit di sana, sebenarnya Arka penasaran apakah tamu itu sudah meminum teh racikan nya. Namun Mentari juga ikut karena ia juga sangat merasa kasihan pada korban Arka.


"Tamunya udah pulang Ma?" tanya Arka, karena matanya melihat tidak ada Haikal di sana.


"Udah, baru aja," jawab Ranti.


"O...." Arka mengangguk dan melihat Radit yang memegang cangkirnya, dan Arka yakin itu adalah teh racikannya.


Radit yang sudah cukup haus karena terjatuh dengan cepat meneguk teh tersebut, bahkan ia sangat bersemangat sekali. Berharap teh itu bisa menghilangkan dahaganya, namun ternyata tidak tiba-tiba Radit berdiri dengan cepat.


Bruuurr!!!!


Radit menyemburkan teh rasa aneh tersebut, dan ternyata tanpa Radit sengaja Arka terkena semburannya.


"Apa yang kau lakukan!!!" Arka menatap Radit dengan penuh amarah.


"Maaf.....maaf," cepat-cepat Radit mengambil tisu pada meja dan mengelap mulutnya, "Teh ini rasanya aneh sekali....ada pedas-pedas nya gitu," jelas Radit.


"Dasar jorok!" geram Arka, karena wajahnya basah dengan kemeja yang juga ia pakai.


"Tehnya pedas Kak?" tanya Mentari sambil cekikikan.


"Iya, aneh sekali aku belum pernah minum teh aneh begini," kata Radit.


"Tari!" Ranti menatap Mentari, karena ia curiga Mentari yang melakukan itu. Sebab hanya Mentari manusia jail yang bisa melakukan apa saja.


"Untuk kali ini Mama jangan souzon!" Mentari menunjuk Arka, "Itu teh racikan mantu tampan Mama," kata Mentari lagi.


"Arka?" tanya Ranti penuh rasa bingung.


"O....jadi elu yang buat teh rasa aneh ini!!!" kata Radit yang mendadak emosi, jika awalnya Radit merasa tidak enak karena menyemburkan minumannya pada Arka. Maka sekarang berbalik, karena Radit sangat marah.


"CK...." Arka menggaruk kepalanya, karena frustasi pada idenya yang gagal mengerjai tamu barusan.


"Pedes banget," gerutu Radit.


"Ahahahhaha....." Mentari tertawa sambil melihat Arka, "Tuan makan senjata," kata Mentari sambil memeluk perutnya yang terasa geli, akibat melihat Arka.


"Senjata makan tuan Tari," Rembulan membenarkan, kalimat Mentari yang terbaik.


"Ahahahhaha....Ita Kak maksud nya Tari begitu, niat mau ngerjain orang malah balik kediri sendiri," kata Mentari sambil di selingi tawa.


"Kalian ini ada-ada saja," Ranti pergi meninggalkan pasangan aneh itu, tapi setelah di kejauhan Ranti juga tertawa terbahak-bahak, "Ahahahahah......"


Mentari dan Rembulan saling pandang karena mendengar tawa Ranti, keduanya juga tertawa terbahak-bahak.


Arka menatap kesal pada istrinya, bahkan ia sampai menggelap muka basahnya beberapa kali.


Radit juga mengibas-ngibaskan tangannya, karena merasa pedas dan juga panas.


"