
"Ma, Ulan pamit keluar dulu ya," kata Rembulan yang kini sudah memakai daster dan jaket.
Ranti memperhatikan penampilan Rembulan dari ujung kaki sampai ke atas, "Kamu mau kemana Kak? Pakek daster begini?" tanya Ranti.
"Ulan enggak betah pakek dress Ma, saat ini daster adalah baju ternyaman buat badan Ulan," kata Rembulan. Karena memang usia kandungan nya yang sudah delapan bulan, dan kini membuatnya sulit untuk bergerak.
"O," Ranti mengangguk, "Tapi kamu pamitan mau kemana?"
"Ulan mau ke mall Ma, besok itu Radit ulang tahun," kata Rembulan.
"Ulang tahun?" tanya Ranti.
"Iya Ma, kalau dulu kita suka rayain dengan makan bareng. Tapi sekarang Ulan mau beliin kado aja," kata Rembulan.
"Em," Ranti mengangguk mengerti, "Mama ikut, kamu nggak boleh keluar sendiri," kata Ranti. Karena kini Rembulan sudah hamil tua.
"Tapi Ulan enggak papa lho Ma, kalaupun keluar sendiri," kata Rembulan lagi.
"Sama Mama aja, jangan ngeyel," Ranti bangun dari duduknya, "Mama ambil tas dulu ke kamar, kita di antar mang Kodir aja," kata Ranti. Karena itu adalah supir pribadinya.
"Yaudah Ulan terserah Mama aja," kata Rembulan pasrah.
"Kamu udah pamit sama Radit?" Ranti tidak suka jika Rembulan ataupun Mentari bila bepergian dari rumah tidak berpamitan pada suami. Karena ia pun tidak pernah pergi tanpa ijin dari suaminya.
"Tapi kan kita mau beli kado Ma, nanti kalau Ulan pamitan dia tau dong," kata Rembulan. Karena ia ingin memberikan kejutan pada Radit.
"Kamu bilang sama Radit, kalau kamu keluar sama Mama. Kalau dia enggak kasih ijin kita enggak jadi keluar," kata Ranti. Dan ia mulai menuju kamarnya untuk mengambil tas tangan dan ponselnya.
Rembulan mendesis, kemudian dengan terpaksa ia mengambil ponselnya dan menghubungi Radit.
[Assalamualaikum,] Umi.
Ting.
Ponsel Radit berdering dan itu adalah Rembulan, ia yang ingin memeriksa pasien sejenak mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Bibir Radit tersenyum karena itu Rembulan.
[Waalaikumusalam,] Abi.
Radit mengirim pesan dan ponsel Rembulan kembali berdering.
Ting.
Rembulan membaca pesan dari Radit dan tangannya kembali bergerak untuk mengetik pesan.
[Umi mau ke mall sama Mama, pengen ke mall,] Umi.
[Nanti sama Abi perginya,] Abi.
[Pengen sekarang,] Umi.
Rembulan terus berusaha agar mendapatkan ijin dari Radit, hingga ia tetap keras kepala untuk di beti ijin keluar. Lagi pula jika keluar bersama Radit tentu saja Radit akan tahu nantinya tentang hadiah yang akan ia beli.
[Sayang, Abi tiga jam lagi sudah di rumah,] Radit.
[Pengen sekarang,] Umi.
[Ya udah hati-hati ya, cepat pulang,] Abi.
Radit seperti nya mengalah, walaupun hatinya cukup berat mengijinkan Rembulan untuk keluar dari.
[Makasih Abi,] Umi.
Rembulan tersenyum, karena akhirnya Radit mengijinkan dirinya untuk keluar.
[Bayar!] Abi.
[Bayar pakek apa?] Umi.
[Nanti malam, biar pembukaan lancar,] Abi.
Wajah Rembulan memerah, dan meneguk saliva. Radit kini sudah mulai terang-terangan memang semenjak hari itu keduanya tidak pernah lagi melakukan itu. Dan itu karena memang keadaan Rembulan yang tidak boleh, mungkin Radit tahu ini sudah lebih baik hingga ia mengatakan itu.
[Hati-hati sayang,] Abi.
[Iya, Assalamualaikum,] Umi.
Rembulan melihat Ranti yang sudah di hadapannya, "Udah Ma, Radit udah kasih ijin," kata Rembulan.
"Yaudah, ayo biar bisa milih-milih nya agak lama.... takut Radit keburu pulang," kata Ranti.
Ranti tersenyum bahagia, karena kini rumah tangga kedua putrinya sangat baik, dan Ranti berharap akan selamanya terus begini.
Keduanya pergi dengan mengendarai mobil milik Ranti yang di kemudian oleh supir pribadi Ranti, hingga akhirnya di perjalanan ban mobil mereka bocor. Dan sopir menepikan mobilnya.
"Kenapa Mang?" tanya Rembulan.
"Ban mobilnya pecah Non," kata Mang Kodir.
"Lho....kok bisa? Bukanya baru di ganti ya?" tanya Ranti.
"Iya Bu, baru tadi pagi," Mang Kodir turun dari mobil dan memeriksa mobilnya.
Rembulan dan Ranti juga ikut turun dari mobil, dan melihat jika memang benar jika ban mobilnya pecah.
"Ma, kita naik taxi aja," kata Rembulan.
"Kok perasaan Mama enggak enak ya Kak?" tanya Ranti.
"Kenapa Ma?" tanya Rembulan lagi.
"Enggak tahu sih," kata Ranti lagi yang juga bingung dengan dirinya.
Tidak berselang lama ada sebuah mobil berwana putih berhenti, dan seorang wanita turun dari dalamnya.
"Apa kabar?" tanya wanita tersebut dengan ramah.
"Baik," kata Rembulan dengan wajah datarnya, Rembulan tahu itu adalah Diva. Diva adalah mantan tunangan Radit, dan ada apa dengan wanita itu. Mengapa terlihat begitu ramah padanya? Rembulan tidak ingin berpikir buruk. Karena selama ini pun Diva tidak pernah mengganggu ataupun berusaha menghaturkan hubungannya dengan Radit.
"Tante kenalin saya Divanka," Diva mengulurkan tangannya pada Ranti.
"Ranti," Ranti tidak tahu siapa itu Divanka, mungkin itu teman Rembulan pikir Ranti. Lagi pula Rembulan memiliki banyak teman dan mungkin ini adalah salah satunya.
"Kalian mau kemana?" tanya Diva, dan ia melihat perut buncit Rembulan.
"Kami permisi," Rembulan merasa tidak perlu terlalu akrab dengan Diva, lagi pula tidak ada keperluan sama sekali pikir Rembulan. Dan Rembulan pun takut ada kesalahpahaman nantinya.
"Tunggu dulu," Diva kembali menghentikan langkah kaki Rembulan dan Ranti, "Kalian mau kemana? Biar aku bantu tumpangan," kata Diva yang melihat mobil Rembulan yang mogok.
"Terima kasih, tapi kami tidak ingin merepotkan...." kata Rembulan yang menolak, "Kami permisi," Rembulan memegang lengan Ranti dan berusaha mencari jalan.
"Rembulan, apa kau tidak ingin berteman dengan aku? Padahal maksud ku baik," kata Diva.
"Aku sedang buru-buru, lain waktu saja ya....maaf," kata Rembulan yang terus berusaha menghindari Diva.
Diva memegang lengan Rembulan, hingga akhirnya Rembulan tidak bisa melangkah pergi.
"Apa ada yang harus kita bicarakan?" tanya Rembulan sambil menatap lengannya yang di pegang Diva.
"Aku hanya ingin berbicara dengan mu, itu saja," kata Diva lagi.
Sejenak Rembulan terdiam, ia menimbang kata-kata Diva. Walaupun ia sejujurnya sangat malas untuk berhadapan dengan Diva, bagi Rembulan Diva sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya.
"Bicara, aku tidak punya banyak waktu," kata Rembulan. Karena cuaca juga cukup terik dan ia tidak kuat bila harus berdiri lama-lama.
"Terima kasih," Diva tersenyum karena Rembulan mau berbicara dengan nya, "Kita cari tempat lain saja, tempat yang nyaman. Kasihan kandungan kamu," kata Diva menatap kandungan Rembulan.
"Tidak perlu, bicara saja di sini!" jawab Rembulan.
"Ini jalanan, panas dan kasihan kandungan mu," ujar Diva lagi.
"Cepatlah aku tidak punya banyak waktu."