
Arka sedang rapat, sementara Mentari sedang mencari aman dari sasaran Radit karena ia yakin Rembulan pasti sudah menjadikannya sebagai dalang dari semua ini. Semua memang benar adanya, tapi Mentari tetap saja tidak suka jika hanya namanya yang disebut. Padahal mereka semua melakukannya terutama Rembulan, hingga akhirnya Mentari menuju kantor suaminya.
"Mohon maaf Ibu Mentari, Bos sedang meeting dan tidak bisa diganggu karena ada kolega besar di dalam," kata seorang sekretaris wanita, karena Ia memang takut disalahkan oleh Arka nantinya.
Mentari mengangguk, Iya mengambil ponselnya dan menghubungi Arka, "Halo Kak," kata Mentari setelah panggilan terhubung.
"Iya Sayang kenapa?" jawab Arka di seberang sana.
"Tari di depan ruang meeting Kakak tapi nggak dikasih masuk," adu Mentari.
Arka langsung memutuskan panggilannya ia bangun dari duduknya hingga semua mata tertuju padanya, tidak perduli dengan tatapan penuh tanya itu. Arka langsung berjalan ke arah pintu dan keluar, matanya langsung melihat Mentari di sana, "Siapa yang tidak mengizinkan istri ku masuk?" tanya Arka dengan wajah dinginnya sambil menatap seorang sekretaris yang berdiri di samping Mentari.
"Maaf Bos," kata sekretaris tersebut dengan rasa takut.
Arka masih menatap tajam wanita itu, "Biarkan istri saya mau datang kapan saja menemui saya! Jangan ada yang berani menghalanginya!" tegas Arka.
Sekretaris tersebut ketakutan sampai kakinya gemetaran, "I.....iya Bos, maaf," jawabnya dengan gemetaran.
Arka menarik tangan Mentari, "Kamu sudah lama di sini?" tanya Arka dengan senyum manisnya.
"Tari kangen sama Kakak," rengek Mentari sambil memeluk Arka.
"Mau tunggu di ruangan Kakak atau ikut masuk?" tanya Arka lagi.
"Ikut kakak aja...."
Arka mengangguk dan ia membawa Mentari masuk ke ruang meeting. Tidak peduli dengan tatapan yang lainnya Arka duduk di kursinya dan Mentari duduk di pangkuannya, terlihat meeting mulai tidak fokus karena Arka dan Mentari terlihat begitu mesra.
"Ehem...." Arka berdeham karena semua mata malah memperhatikan dirinya dan Mentari, "Ayo lanjutkan meetingnya," kata Arka.
Dimas hanya mendesis, sungguh Arka dan Mentari membuat jiwa jomblonya meronta-ronta. Ditambah lagi ia panjang lebar menjelaskan materi meeting hari ini, tapi semuanya terlihat lebih fokus kepada Arka dan Mentari. Iya merasa benar-benar tidak berguna untuk hari ini, biasanya semua memperhatikannya dan tidak ada yang berani berbicara apalagi berbisik-bisik.
"Baik meeting selesai jika ada yang mau dipertanyakan silakan tanyakan kepada Dimas," kata Arka mengakhiri meeting sepihak.
"Kak Tari ngantuk," kata Mentari pada Arka.
"Iya sayang," Arka tersenyum dan membawa istrinya menuju ruangannya.
Sementara Dimas menendang kursi Karena dia sudah lelah memikirkan materi meeting hari ini, belum lagi menjelaskannya dengan panjang lebar. Dan yang membuatnya sangat kesal adalah belum selesai ia menjelaskan tapi akan sudah mengakhiri meeting, "Dasar Ceo bucin!!!" gerutu Dimas.
Sementara Arka dan Mentari kini sudah sampai di ruangan, "Kak Radit marah-marah," adu Mentari.
"Kenapa begitu?" tanya Arka kini keduanya duduk di sofa dengan tangan Arka merangkul pundak Mentari.
"Soalnya udah ketahuan kalau Kak Ulan sakitnya bohongan," jelas Mentari.
Arka santai saja ia terlihat tidak peduli dan itu membuat Mentari geram, "Kakak nggak sayang ya sama Tari?!"
"Kok tanya nya begitu?"
"Nanti kalau Kak Radit marah-marah sama Tari gimana dong?"
"Kalau dia berani marahin kamu dia Kakak sunat lagi!" jawab Arka santai.
Mata Mentari melebar seketika karena jawaban Arka yang terdengar aneh dan konyol, "Hahahahaha......." tawa Mentari pecah seketika.
"Kenapa?"
"Kalau kakak Radit disunat lagi gimana nasibnya Kak Ulan?" tanya Mentari dengan cekikikan.
"Kumat lagi kan gilanya...." kata Arka karena istrinya itu memang wanita yang selalu ceria.
"Hehehehe..... abis Kakak aneh....." jawab Mentari sambil cekikikan karena ia belum bisa menahan tawa.
Clek.
Pintu terbuka dan terlihat Dimas di sana, kakinya langsung saja masuk lalu ikut duduk di sofa.
Mentari dan Arka saling tatap kemudian keduanya menatap Dimas.
"CK...." Dimas berdecak kesal kemudian ia menatap Arka lalu Mentari, "Memangnya kenapa?!" tantang Dimas.
"Enggak sopan tau Kak, Gimana kalau Tari sama Kak Arka lagi mesra-mesraan!" ujar Mentari.
"CK..... Kalian mau di mana-mana juga tetep manja ngapa-ngapain!" Dimas tahu Arka dan Mentari memang tidak tahu tempat, "Mau diketok atau tidak, mau izin atau tidak, tetap sama saja," kesal Dimas karena kalau Arka dan mentari sedang bermesraan di mana saja pasti tidak memikirkan orang lain. Terutama ia, yang jomblo sangat malang sekali nasib nya 3 kali gagal menikah sungguh membuatnya sangat tidak menyukai wanita lagi, "Kalian nggak mikir apa gue ini masih lajang otak gue bisa tercemar gimana sih!"
Plak!!!!
Arka melempar sebuah bolpoin kepada Dimas dan mengenai kepala Dimas.
"Sakit bos!!!" kesal Dimas sambil menggosok kepalanya.
"Otak lu emang udah tercemar, lu pikir gue enggak tahu bersama jaya ngapain di ruangan! bilang enggak!!!" tangan Arka menunjuk Dimas.
wajah Dimas seketika memerah sepertinya Arka tahu, "Alah sok tau, emang gue ngapain?" tantang Dimas lagi.
Arka menaikan sebelah alis matanya, dan itu membuat Dimas bergidik ngeri.
"Iya....." kata Dimas lagi dengan berat hati, "Ada, tapi cuman pemanasan doang nggak lebih, tapi itu juga karena nggak tahan godaan mau nikah," jelas Dimas. Karena memang itu benar tapi hanya sebatas permainan bibir saja tidak lebih.
"Nikahnya batal deh!" kata Mentari mengejek Dimas.
"CK...." Dimas menggaruk kepalanya.
"Mending kamu sama Lala aja," tawar Mentari, karena ia tahu jika Lala menyukai Dimas.
"Nggak usah dulu lah, aku udah nggak selera sama perempuan!" kata Dimas asal.
Arka langsung menatap Dimas dengan penuh intimidasi.
"Aku masih normal bos," kata Dimas lagi, karena ia tahu maksud tatapan Arka.
Arka bergidik ngeri, bahkan ia sampai merinding, "Asal mau tidak memimpikan aneh-aneh dengan ku!"
"Ada sih sekali!" kata Radit asal.
"Kurang ajar," Arka bangun dan langsung menjitak kepala Dimas.
Mentari mendorong Arka, hingga Arka menimpa Dimas.
"Waaaaaaa....." teriak keduanya.
"Ahahahhaha......" Mentari tertawa melihat Dimas dan Arka.
"Najis...cuih...." kata Arka seolah meludah, "Sayang kamu apasih!" kesal Arka.
"Tari cuman mau ngetes Kak Dimas aja Kak, apa dia itu udah nggak normal," kata Mentari sambil cekikikan.
"Tapi nggak usah Kakak juga dong Sabariah!!!" kesal Mentari.
"Iya maaf Sabaruddin..." jawab Mentari.
"Sabariah? Sabaruddin?" tanya Dimas bingung.
"Diam!!!" teriak Arka dan Mentari tepat di telinga Dimas.
"Itu panggilan sayang kami, kau jangan berani memanggil kami dengan nama itu," kata Arka.
"Maaf," Dimas langsung menuju pintu, "Dasar pasangan aneh," kata Dimas tanpa sadar.
Buuk!!
Arka melempar buku kecil hingga mengenai pundak Dimas, "Saya dengar!" kata Arka.
"Ampun bos," Dimas cepat-cepat keluar karena takut pada Arka.