
"Tari kamu kenapa?" tanya Ranti yang melihat anaknya terus memegangi perutnya.
"Ma, sakit banget Ma," rintih Mentari sambil terus memegangi perutnya.
"Arka!!!!" teriak Ranti dengan kencang, "Arka!!!! Radit!!!! Ulan!!!!" seru Ranti dengan panik.
"Ada apa Ma?" tanya Arka yang buru-buru turun saat mendengar teriakan Ranti.
"Ini Tari," Ranti memegang Mentari yang tengah kesakitan.
"Ada apa Ma," Rembulan juga cepat-cepat keluar dari kamarnya bersama dengan Radit di belakangnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arka yang tidak kalah panik.
"Kak, sakit banget Kak," Mentari mencengkram tangan Arka dengan sekencangnya, karena sara sakit yang ia rasakan.
Radit mendekat dan melihat ada cairan berwarna putih yang keluar, "Kita bawa ke rumah sakit saja," kata Radit.
Arka cepat-cepat mengangkat Mentari namun tiba-tiba Mentari sudah tidak sadarkan diri, "Tari..." Arka benar-benar panik, ia sangat takut melihat keadaan istri nya.
"Arka ayo cepat baikan ke mobil, sebelum terlambat," kata Radit.
Arka menurut saja, walaupun perasaanya sudah tidak karuan karena ketakutan. Ia duduk di jok belakang sambil memangku Mentari yang sudah tidak sadarkan diri.
"Sayang bangun," Arka menepuk-nepuk pipi Mentari, tapi ia tidak juga sadarkan diri.
Sampai di rumah sakit Mentari di tangani dengan cepat, hingga seorang dokter yang ber- tag Anggia keluar, "Apa ada suami pasien?" tanya dokter Anggia.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Arka panik.
"Pasien harus segera mendapatkan tindakan operasi tuan, kalau tidak nyawa pasien yang menjadi taruhannya," jelas dokter Anggia.
Deg.
Arka gemetaran, rasanya sangat sulit sekali mengetahui keadaan Mentari saat ini.
"Tuan Arka, saya butuh anda untuk menandatangani surat pernyataan...agar kami bisa segera melakukan tindakan," kata Anggia lagi.
"Tapi kandungan istri saya belum genap tujuh bulan dokter," kata Arka sambil mengusap air mata yang terus saja tumpah.
"Ini harus di lakukan tuan, karena sang ibu yang belum waktunya mengandung tuan dan ini menimbulkan resiko," tambah Anggia lagi.
"Lakukan yang terbaik dokter," kata Arka.
Arka mengikuti langkah kaki Dokter Anggia, sampai akhirnya ia duduk di kursi dan menandatangani selembar surat pernyataan. Tangan Arka bergetar dan ia benar-benar takut kehilangan Mentari.
Operasi segera di mulai, tiga dokter turut adil dalam operasi ini. Dokter Anggia, Dokter Veli dan juga dokter Radit.
Arka hanya diam sambil menunggu di depan ruangan, hanya menangis dan berdoa yang bisa ia lakukan saat ini. Padahal baru saja semalam keduanya bercanda bersama tapi pagi ini tiba semua ini terjadi.
Lala dan Rika yang mengetahui kabar Mentari langsung menuju rumah sakit, dan semua anggota keluarga terlihat tegang menantikan detik-detik operasi selesai.
Beberapa jam berlalu, pintu ruangan belum juga terbuka. Sampai Arka terus menatap gagang pintu berharap ada yang keluar, dan benar pintu terbuka dan Radit keluar.
"Dit," Arka langsung berdiri dan menatap Radit.
"Selamat ya, anak kamu laki-laki dan perempuan, keduanya baik," kata Radit.
"Alhamdulillah...." semua anggota keluarga merasa lega, karena semuanya baik-baik saja.
"Mentari bagaimana?" tanya Arka.
Radit diam tanpa menjawab, sampai akhirnya dokter Anggia keluar bersama dengan dokter Veli.
"Istri anda baik-baik saja, tapi keadaannya sangat memprihatikan sekali, dan dia masih tidak sadarkan diri," jelas dokter Anggia.
Arka menunduk dan mengusap wajahnya, rasanya sulit di percaya tapi ini memang terjadi. Arka sangat takut kehilangan Mentari, Mentari yang ceria dan selalu menyinari hari-hari nya hingga menjadi penuh warna.
"Arka kami azan ni anak kamu, ayo ikut aku," kata Radit.
Radit membawa Arka ke sebuah ruangan, dimana di sana ada dua jagoan kecilnya. Perlahan Arka menatap bayi-bayi itu, bayi dari hasil cintanya dengan Mentari. Arka mulai meng Azan ni kedua anaknya, sampai akhirnya ia selesai dan ia ingin melihat keadaan Mentari istrinya.
Arka melihat Mentari yang tengah terbaring, ia mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh cinta. Tapi sayang Mentari belum juga sadarkan diri.
"Sayang bangun," Arka menggenggam erat tangan Mentari, ia mengecup sampai beberapa kali.
Perlahan mata Mentari terbuka dan wajah yang ia lihat pertama kali adalah wajah Arka, Mentari tersenyum dengan lemah ia terus berusaha sadar.
"Tari kamu sudah sadar Nak, Alhamdulillah," kata Ranti dan yang lainnya tersenyum bahagia.
"Sayang," Arka tersenyum dan mengecup pucuk kepala Mentari, kemudian pipi kanan dan kiri, "Kakak takut kamu menutup mata la sekali seperti tadi, Kakak takut kamu tidak akan pernah membuka mata lagi, Kakak takut Mentari," kata Arka dengan bibir yang bergetar.
Mentari tersenyum, ia berusaha tetap kuat walaupun tubuhnya terasa begitu lemah sekali. Mentari juga bisa melihat sua ada di sana.
"Selamat ya Tari, kamu jadi ibu sekarang," ujar Rembulan dan memeluk Mentari.
"Anak tari dimana Kak?" tanya Mentari.
"Di ruang inkubator, kamu kuat dulu nanti kalau udah kuat baru liat ya," kata Rembulan tersenyum.
"Iya," Mentari semakin tersenyum bahagia, karena kini ia sudah menyandang gelar Ibu.
"Selamat ya Nak," kata Ranti.
"Ma, maaf ya kalau selama ini Tari itu suka ngelawan sama Mama....Tari janji enggak akan nakal lagi, Tari sekarang tahu gimana susahnya Mama buat lahirin Tari," kata Mentari menitihkan air mata.
"Sayang," Ranti terharu dan langsung memeluk Mentari, "Mama sayang sama kamu, sama Kak Ulan juga, melahirkan anak itu memang tidak gampang dan itulah keistimewaan seorang wanita ketika akan menjadi seorang ibu," kata Ranti lagi.
"Kak Ulan, lu jangan ngelawan sama Mama lagi deh, sakit melahirkan anak itu," ujar Mentari seolah memarahi Rembulan.
"Ya pun Tar, kamu bisa enggak sih serius dikit.....kami di sini panik mikirin kamu dari tadi," kata Rembulan, karena memang itu yang terjadi.
"Sayang kamu ya," kata Arka yang kembali gemas pada istrinya, tangisnya kini berganti bahagia setelah melihat istrinya baik-baik saja.
Mentari tersenyum, ia tahu semua orang di sana sedang mengkhawatirkan dirinya. Tapi ia tidak ingin semua bersedih, dan di sanalah letak dari kelebihan Mentari. Ia tidak ingin menjadi beban orang lain.
"Tari," Rika langsung mendekati Mentari, begitu juga dengan Lala.
"Selamat ya Mommy, sekarang udah punya baby," kata Lala.
"Iya, makasih Aunty," kata Mentari tersenyum.
"Uncle, nya mana?" seloroh Mentari.
"Itu," Lala menunjuk Dimas yang baru saja masuk, hingga semua orang langsung melihat Dimas.
"Em...." Mentari mengangguk dan tersenyum, karena ia yakin sepenuhnya Lala sudah sangat jatuh hati pada Dimas.
"Kapan Dim?" tanya Nina yang menyenggol Dimas.
"Apa Tante?" tanya Dimas bingung.
"Datang ke rumah atuh....Aaa buat nemuin Ayah," kata Lala sambil cengengesan.
"Ahahahhaha......" yang lainya langsung tertawa karena kelucuan Lala yang sangat memecahkan kesedihan.