Mentari

Mentari
Episode 144



"Aaaaaaaa......." teriak rembulan di dalam kamar mandi.


Radit yang masih tertidur lelap di atas sofa mendadak terbangun karena terkejut mendengar suara teriakan Rembulan, cepat-cepat ia bergegas menuju kamar mandi. pintu kamar mandi tidak terkunci dan Radit langsung saja masuk, Ulan kamu kenapa," tanya Radit dengan wajah paniknya.


Namun dalam Ulan terlihat santai saja setelah barusan berteriak membuat Radit panik setengah mati. Bahkan dengan santainya Rembulan keluar dari kamar mandi seolah tidak ada yang terjadi barusan.


Radit hanya melongo sambil kebingungan setelah itu ia juga ikut keluar menyusul Rembulan.


Tok tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu dan Radit berjalan ke arah pintu lalu membukanya.


Kek rek.


Pintu terbuka dan Radit bisa melihat Mama Ranti di sana.


"Maaf Dit Mama ganggu, Mama cuman mau anterin dokter Sahara ketemu sama Ulan," kata Ranti mengutarakan maksudnya.


"Iya Ma," jawab Radit kemudian ia melihat dokter Sahara, "Silahkan masuk dokter," Radit mempersilahkan dokter Sahara untuk masuk.


"Terima kasih," dokter Sahara berjalan masuk dan ia melihat Rembulan yang tengah berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya. Dokter Sahara terus melangkahkan kakinya mendekat pada Rembulan, namun Rembulan seperti patung seolah ia sedang sendiri tanpa ada yang sedang memperhatikannya, "Selamat pagi Rembulan," sapa dokter Sahara.


Tidak ada jawaban dari Rembulan hanya diam menatap cermin, namun tidak lama kemudian Rembulan berbicara sendiri, "Anak Mama nanti kalau udah besar mau jadi apa?" tanya Rembulan seolah ia tengah berbicara pada kandungannya, "Enggak usah jadi dokter ya nak biar jangan kayak Abi kamu," jawab Rembulan lagi sesaat kemudian ia berhenti berbicara, "Karena Abi kamu tidak bertanggung jawab Jadi kamu jangan seperti itu ya."


Dokter Sahara menatap Rembulan penuh tanya seolah ia tengah bingung kemudian ia menatap pada Radit yang berdiri di dekat pintu tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya.


Radit diam sambil memijat dahinya ya semakin merasa bersalah, karena sepertinya Rembulan kalau sudah sembuh tidak akan mau mengenal dia lagi. Sungguh ini sangat menakutkan bagi Radit. Apa yang akan terjadi pada nya bila Rembulan sembuh nanti. Apakah Rembulan akan bisa menerimanya seperti saat kemarin, jujur saja sebenarnya Radit tidak siap jika harus berpisah dari Rembulan. Tapi yang penting tidak ingin membuat Rembulan menderita, Radit juga ingin terus berdekatan dengan anak dan istrinya.


"Ulan," dokter Sahara menggerak-gerakkan tangannya nya.


Rembulan masih saja diam tanpa menyadari ada orang lain disekitarnya kemudian sesaatnya lagi rembulan tertawa, "Hahahaha......"


Tidak lama kemudian Mentari langsung menerobos masuk ke dalam kamar Rembulan, karena memang pintu kamar tidak tertutup. Bahkan ia menyenggol Radit yang berdiri di depan pintu. Mentari melihat Rembulan yang tengah menatap cermin dan tertawa terbahak-bahak, dengan langkah kaki yang cepat Mentari berjalan kearah Rembulan, "Kak Kenapa sih?" tanya Mentari seolah panik.


"Sepertinya Ulan terlalu stress, dia yang seperti ini coba diberikan perhatian yang lebih agar bisa segera sembuh kasihan janinnya," kata dokter Sahara dengan serius kepada Mentari.


Mentari menatap Radit dengan tajam, "Ini semua karena Kak Radit!!!" kesal Mentari.


"Huuuufff....." Radit menarik napasnya ia semakin merasa bersalah, kakinya perlahan mendekati Rembulan, "Ulan jangan begini terus aku kan jadi ngerasa benar-benar bersalah. Aku merasa bener-bener gagal jadi suami. Aku sebenarnya ingin membahagiakanmu tapi ternyata yang aku lakukan justru menyiksamu, aku minta maaf ya," ucap Radit penuh penyesalan.


Kemudian dokter Sahara mendekati Radit, "Sepertinya istri anda depresi berat dokter Radit, Coba anda lebih dekat dengan dia dan lebih mengutarakan rasa sayang dan juga cinta.....anda, karena memang perempuan itu bukan hanya ingin mendengar saja tapi juga harus ada perjuangan didalamnya saya harap anda bisa memahami itu," jelas dokter Sahara.


"Dengerin tuh dasar nggak peka!!!" omel Mentari, "Dokter apa sebaiknya Kak Ulan kita bawa ke rumah sakit jiwa saja?" tanya Mentari.


"Uhuk....uhuk.... uhuk......" Rembulan langsung terbatuk-batuk mendengar apa yang dikatakan oleh Mentari.


"Ullan kamu minum ya," dengan cepat Radit mengambilkan air yang ada pada meja nakas dan memberikannya kepada Rembulan.


'Adik kurang ajar,' batin Rembulan, karena ia kesal kepada Mentari yang menyarankan kepada dokter Sahara untuk membawanya ke rumah sakit jiwa.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Radit yang masih menunjukkan.


"Mmmmfffffpp....." Mentari tau Rembulan tadi kaget karena ia menyarankan kakaknya untuk dibawa ke rumah sakit jiwa, dan Mentari sedang menahan ketawa yang sepertinya seharusnya meledak seketika.


Dokter Sahara yang melihat ekspresi Rembulan Dan Mentari juga tersenyum, mungkin saat nanti Dokter Sahara juga akan melepaskan tawanya setelah ia tidak lagi berdekatan dengan Radit di sana tentunya.


"Bagaimana dokter Sahara apakah apa yang saya katakan tadi ada solusi yang baik, bukannya Kak Ulan lebih baik dirawat di rumah sakit jiwa supaya dia lebih cepat sembuh...." tambah Mentari lagi.


Rembulan berjalan ke arah Mentari dan menarik kedua pipi Mentari dengan kesal, "Kamu anak cantik dan baik tapi kamu sering nakal," dengan kuat Rembulan menarik pipi Mentari walaupun ia masih seolah bertingkah seperti masih mengalami gangguan jiwa, tapi sebenarnya ia meluapkan kekesalannya dengan mencubit Mentari cukup kuat.


"Aaaaaaaa...." teriak Mentari karena Ulan mencubit nya cukup kuat dan itu sangat menyakitkan.


"Ulan Apa yang kamu lakukan," Radit semakin panik Ulan melakukan kekerasan kepada Mentari, "Apakah membawa Rembulan ke rumah sakit jiwa adalah solusi terbaik dokter?" tanya Radit Karena ia merasa Rembulan semakin bertambah parah walaupun hatinya sakit saat Rembulan nantinya akan benar-benar diponis gangguan jiwa.


Rembulan menatap Mentari dengan tajam ini adalah ide gila Mentari, sebenarnya Rembulan mulai merasa yang gila bukan lah dirinya tapi Mentari yang mengalami gangguan jiwa sangat parah.


"Tidak usah dibawa ke rumah sakit jiwa, saya masih bisa merawat menantu saya," kata Nina yang tidak tega bila Rembulan harus dibawa ke rumah sakit jiwa, Apa lagi Rembulan tengah mengandung janin yang kini sudah memasuki bulan kelima.


"Selamat......" kata Rembulan tanpa sadar kemudian Radit menatapnya begitu juga yang lainnya, "Selamat pagi kawan," kata Rembulan kepada Nina karena hampir saja ia ketahui.


"Ulan," cepat-cepat Radit memeluk Rembulan Karena ia merasa kasihan dan tidak tega melihat Rembulan seperti ini.


Rembulan yang sedang di peluk Radit melihat dokter Sahara dan juga Mentari.


"Mantap!" Mentari mengacungkan jempol kepada Rembulan.