
Oe oe oe.
Terdengar suara tangisan baby Sea.
"Tari itu?" Arka menunjuk asal suara, dan itu adalah suara putri cantiknya yang tengah menangis.
"Itu Sea lagi main sama Mama," jawab Mentari santai.
Arka tercengang dan ia langsung menatap Mentari, sungguh ia sangat bingung dengan apa yang tengah terjadi.
"Kenapa?" tanya Mentari yang sibuk membolak-balik majalah pada tangannya.
Arka seketika duduk di samping Mentari kemudian tangannya mengambil paksa majalah pada tangan Mentari.
Mentari sangat kesal karena Arka mengambil majalah di tangannya, padahal Ia sedang asyik sekali melihat beberapa dress trend terbaru.
"Kakak apa sih, balikin!" geram Mentari sambil berusaha merebut kembali majalah tangan Arka.
Arka berusaha menjauhkan majalah itu dari Mentari, bahkan ia melempar nya cukup jauh.
Buk!
Suara majalah itu mengenai seseorang, tidak lama berselang kemudian terdengar suara teriakan yang cukup kencang.
"Aaaaaaaa......"
Arka dengan cepat bersembunyi di belakang Mentari, karena ia tahu barusan melempar majalah dan mengenai wajah Mami Linda.
Dan sekarang Mami Linda berdiri dengan berkacak pinggang di depan Mentari, tapi ada Arka yang bersembunyi di belakang Mentari.
"Siapa yang melempar majalah sialan ini!!!" tanya Mami Linda penuh amarah.
Glek.
Arka melebarkan matanya karena ia sangat takut sekali.
"Jawab Mami?" kesal Mami Linda, "O....Mami tahu, siapa yang ketakutan pasti dia!" kata Linda lagi.
"Siapa yang takut," Arka langsung duduk dengan santai di samping Mentari.
"Kamu tadi yang nimpuk Mami kan?!" geram Mami Linda.
"Mami apasih, fitnah tau Mi!!" geram Arka yang juga tidak mau kalah.
"Terus siapa dong!"
"Mana Arka tahu!"
"Enggak mungkinkan kamu Tari?" tanya Mami Linda pada Mentari.
"Bukan Tari Mi," Mentari menggeleng karena ia takut ikut tertuduh.
"Mungkin itu dari langit Mi," kata Arka asal.
"Langit-langit gigi mu!" Linda melayangkan di udara dan hampir saja memukul Arka dengan majalah tersebut.
"Mi, ada barang keluaran terbaru. Nanti majalah nya rusak, Mami belum lihat isi nya lho," kata Arka agar Mami Linda urung untuk memukulinya dengan majalah tersebut.
Benar saja, Mami Linda kini melihat majalah itu dan tidak lagi berkeinginan untuk memukuli Arka. Ia kini membuka majalahnya dan melihat setiap lembaran nya.
"Apa iya, tapi ini sepertinya Mami udah lihat," kata Linda sambil terus membolak-balik lembaran majalah.
"Iya itu kan memang punya Mami, Tari aja yang baru lihat. Mami kak udah dari kemarin," jawab Mentari.
Mami Linda seketika sadar jika Arka kini tengah mengerjai dirinya, dan ia kembali melihat Arka. Namun Arka sudah tidak ada lagi duduk di samping Mentari, seperti anak kesannya itu sudah pergi melarikan diri.
"Arka mana?" tanya Mami Linda pada Mentari.
"Udah pergi dari tadi Ma," jawab Mentari.
"ARKA!!!!!!!!" teriak Linda setelah sadar ia ternyata tengah di tipu oleh anaknya,."Dasar bocah edan!" geram Mami Linda karena belum berhasil membalas Arka untuk melayangkan majalah pada kepala Arka.
"Mami kenapa?" tanya Anggara yang baru saja sampai di rumah, tapi sudah di sambut teriakan istrinya.
Anggara merangkul pundak istri tercinta nya, walaupun sudah tua kemesraan masih saja seperti anak muda.
"Sudah.....sudah, bikini Papi kopi," kata Anggara.
"Tapi Mami lagi kesel," kata Mami Linda yang belum bisa meredamkan amarah nya pada Arka.
"Sudahlah biarkan saja," kemudian Anggara berbisik di telinga Mami Linda.
"Papi serius?" tanya Linda dengan mata yang melebar.
Anggara menaik-turunkan kedua alis matanya, "Serius," kata Anggara lagi.
Mami Linda tersenyum, "Ya udah yuk ke kamar Pi, bikin adik bayi buat Arka..." ujar Mami Linda santai.
Arka yang sebenarnya sembunyi di belakang sofa terkejut mendengar hal aneh yang di katakan oleh Mami Linda. Jujur saja saat ini ia ingin sekali keluar dari persembunyian nya, tapi sejenak ia tahan karena ia takut di pukuli sang Mami.
"Mami enggak usah kencang-kencang," kata Anggara karena malu Mentari mendengar nya.
"Hehehe...." Mami Linda tertawa kecil, karena Mentari hanya diam, tapi sebenarnya ia menahan tawa yang sulit sekali untuk di luapkan, "Tapi enggak papa Pi, Mami pengen anak perempuan. Jadi kan sepasang deh," ujar Mami Linda sambil tersenyum.
Arka langsung keluar dari persembunyian, ia sangat geram dengan apa yang ia dengar, "Mami jangan aneh-aneh ya! Udah punya cucu dua mau bikin adik buat Arka! Malu sama umur Mi!!!" seru Arka.
Mami Linda menatap Anggara, kemudian ia kembali menatap Arka. Dan tanpa aba-aba Mami Linda langsung menarik telinga Arka, dengan cukup kuat.
"Aduh......Mami!!!" Arka merasa kesakitan dan ingin di lepaskan.
"Akhirnya kamu keluar juga dari persembunyian mu ya!" kata Mami Linda.
"Mami tadi jebak Arka?" tanya Arka panik.
"Iya!"
Glek!
Arka meneguk saliva karena ternyata ia sedang dikerjai.
"Kenapa?!" tanya Mami Linda dengan geram.
"Mi, ampun Mi. Arka tadi enggak sengaja, jadi tadi Arka panik karena Arka pikir anak Arka hilang. Soal nya pas bangun tidur mereka enggak ada, dan ternyata...." Arka seketika melihat Mentari.
Mami Linda mulai melepaskan tangan nya, dan ia melihat Mentari, "Jadi tadi Arka enggak tahu kita bawa Sea sama Satya?" tanya Mami Linda.
"Enggak Mi," kata Mentari menggeleng.
"Harus nya kamu enggak usah kasih tahu sampai lama, biar dia tambah pusing." Mami Linda melihat Anggara, "Yuk Pi," kata Mami Linda dan langsung pergi ke kamarnya.
"Ini gara-gara kamu ya Sabariah!" geram Arka pada Mentari.
"Enak aja, Kakak aja yang enggak nannyak!" jawab Mentari yang tidak mau kalah, "Tapi Btw Sabaruddin mau di kasih Adek tu," seloroh Mentari sambil cekikikan.
"CK....." Arka berdecak kesal, karena omongan Mentari yang mulai ngaur, "Enggak usah kumat di waktu yang tidak tepat ini!" ujar Arka.
"Tari enggak kumat! Tapi tadi Mami bilang begitu kan? Mau kasih Kakak adik cewek, mungkin biar bisa main sama anak kita," ujar Mentari yang terus cekikikan karena geli sendiri, bayangkan saja bila benar Arka akan memiliki adik lagi. Apa yang akan terjadi.
Plak!.
Arka menjitak dahi Mentari, "Otak ini enggak pernah benar!" kesal Arka.
"Sakit tau Kak!" kesal Mentari sambil menggosok dahinya.
"Makanya jangan aneh-aneh!"
"Ish.....awas aja ya! Tari besok udah bisa Ehem. Jadi awas kalau minta!" kata Mentari lalu berlalu pergi meninggalkan Arka yang kebingungan.
"Bisa Ehem?" tanya Arka bingung, kemudian otaknya mulai bekerja dengan baik, "Sayang kamu serius udah bisa Ehem?" teriak Arka karena Mentari sudah jauh.
"Puasa di perpanjang!" jawab Mentari dengan suara yang sedikit kencang agar Arka mendengar nya.
"Aduh?????" Arka menggaruk kepalanya.