
Hari-hari sudah berlalu kini Baby Sea dan Satya sudah berusia empat puluh hari, begitu juga dengan baby Raka. Ketiga bayi itu sudah menunjukan perkembangan nya dengan begitu baik, dan kini mereka tengah berkumpul di kediaman Ranti. Untuk membicarakan acara pernikahan ulang Rembulan dan juga Radit.
"Jadi gimana kalau minggu depan saja Jeng," ujar Nina karena ia sudah tidak sabar ingin Rembulan dan juga Raka segera tinggal di rumahnya.
"Setuju Tante," jawab Mentari dengan semangat.
"Hus!" Ranti mengibaskan tangannya karena anak bungsunya itu memang sangat suka sekali menimpali pembicaraan orang tua.
"Mama apasih," kata Mentari kesal.
"Anak-anak diam, terima keputusan!" kata Ranti.
"Mama bilang Tari anak-anak?" tanya Mentari.
"Iya, kamu itu kan memang anak-anak dek," jelas Ranti.
Mentari mengibaskan tangannya sambil menggeleng, "Tari udah punya anak dua, kalau anak-anak itu Sea, Satya, sama Raka. Bahkan Mama aja kalah sama Tari!" ujar Mentari dengan bangga.
Ranti menatap putri bungsunya dengan bingung, "Mama kalah sama kamu Dek?" tanya Ranti lagi.
"Yups...." Mentari mengangguk.
Ranti semakin bingung, ia melihat wajah Nina, Linda, Rembulan, Radit, lalu Arka. Tapi semua hanya diam tanpa ada yang bisa menjelaskan. Kemudian Ranti kembali melihat Mentari, "Kalah apanya?"
"Tari udah punya anak dua, lagi program anak ketiga," celetuk Mentari.
Plak!
Ranti langsung memukul kepala Mentari dengan majalah, "Jangan macam-macam ya Tari!" ancam Ranti. Ia takut sekali bila apa yang dikatakan oleh Mentari benar, "Kamu belum boleh hamil lagi sampai usia Sea dan Satya lima tahun, awas kamu kalau hamil lagi dalam waktu dekat ini!" ancam Ranti.
Sebenarnya Ranti tidak masalah bila Mentari hamil lagi, tapi resikonya terlalu besar. Apa lagi Mentari baru saja melahirkan, kehamilan pertama saja Ranti sudah sangat ketakutan kehilangan anaknya karena kehamilan di usia terlalu muda.
"Arka apa benar apa yang di katakan Mentari?" timpal Linda yang juga ikut ketakutan.
Arka menatap Linda, karena ia pun bingung. Dan sedetik kemudian Arka melihat Mentari.
Linda juga tidak kalah kesal, karena menganggap diamnya Arka sebagai jawaban kalau apa yang di katakan oleh Mentari memanglah benar.
"Jangan macam-macam kamu Arka! Kamu enggak sayang sama istri mu! Kamu enggak kasihan sama istri mu seperti melahirkan Sea dan Satya?!" tanya Linda dengan geram, "Awas kamu Mami potong itu si Otong kamu ya!" ancam Linda.
"Aduh," Radit menahan tawa, karena wajah Ranti terlihat begitu menyeramkan dan seperti ancamannya tidak main-main.
Sementara Arka melebarkan matanya, dan ia merasa ngilu pada si Otong yang di sebutkan oleh Linda. Bahkan terasa tidak nyaman sekali.
"Ngilu?" tanya Radit, karena Radit bisa melihat wajah Arka yang tengah menahan malu dan rasa tidak nyaman.
Arka menatap Radit penuh emosi, kemudian ia melihat Mentari, "Sayang kamu kalau mau bercanda jangan masalah itu dong, lihat semua pada ngeroyok Kakak. Kitakan udah sepakan untuk tidak mencetak anak sampai Sea dan Satya dewasa," kata Arka pada Mentari.
"Arka!" geram Linda.
"Apa lagi Mi, kan Mami udah denger tadi!" kata Arka yang tidak kalah kesal.
"Apanya cetak-cetak! Enggak Arka, enggak Mentari enggak ada yang beres! Pantas saja kalian berjodoh!" kata Linda.
Linda mengatakan itu bukan karena membenci Mentari, bahkan Linda sangat menyayangi Mentari. Terkadang ia rela bergadang semalam untuk menjaga cucunya, karena kasihan pada Mentari. Dengan ia menjaga kedua baby twins Mentari bisa tidur sejenak. Hanya saja Mentari dan Arka memang memiliki kesamaan yang aneh, ya itu mulut mereka yang suka berbicara asal. Dan bukan hanya mulut saja, tapi tingkah keduanya juga sama-sama absurd dan tidak ada tandingannya.
"Hufff....." Linda menarik nafas dan lagi-lagi geleng-geleng kepala, tanpaknya tidak ada lagi Arka yang sedingin salju. Yang ada Arka yang seperti api yang membuat orang-orang sekitarnya kepanasan karena tingkah aneh keduanya, "Jadi beneran kalian belum program anak lagi?" tanya Ranti dengan jelas.
"Enggak Mi, maaf. Tadi itu Tari bercanda aja," kata Mentari.
"Bagus," kata Linda yang merasa lega, begitu juga dengan Ranti.
"Hampir aja Mama sport jantung," timpal Ranti.
"Makanya Mama jangan bilang Tari masih anak-anak, karena Tari udah punya anak dua. Kita sama Ma, Mama anak dua Tari juga. Kita imbang ya Ran," ujar Mentari dengan menunjuk Ranti seolah ia tengah angkuh dan meremehkan Ranti. Dan jangan lupakan panggilan Ran yang di sebutkan oleh Mentari adalah panggilan sayang sang Papa pada sang Mama.
Buk!
Ranti langsung melemparkan bantal sofa pada Mentari, dan bantal itu tepat mengenai wajah Mentari. Sebenarnya Arka bisa saja menangkap bantal itu dengan cepat, tapi tidak ia lakukan karena tidak berani. Bagaimana pun Ranti adalah Ibu mertuanya, dan posisi Ranti tentu saja sama imbang dengan Maminya Linda.
"Kamu ya Dek!" kata Ranti lagi.
"Ahahahhaha......." Mentari tertawa melihat wajah Mamanya, "Kemarin Tari liat Mama di balkon sama Papa...."
Buk!
Ranti kembali melempar bantal pada wajah Mentari, karena ia takut Mentari malah membocorkan pada yang lainnya. Kalau Mentari memergoki dirinya tengah bermesraan dengan Arya.
"Sekali lagi kamu bicara Mama kutuk kamu jadi kotoran," geram Ranti.
"Ahahahhaha....." Mentari masih tertawa dengan kencang, padahal ia pun tidak mungkin mengatakan itu pada yang lainnya. Mentari hanya menakut-nakuti Mamanya saja. Dan benar saja kalau wajah Ranti memerah, karena takut ia berbicara.
"Tari diam!" kata Ranti lagi semakin geram.
"Mmmmfffffpp...." Mentari menutup mulutnya, sambil berusaha menahan tawa, "Wahahaaaa...." tawa Mentari kembali pecah saat melihat wajah sang Mama yang semakin memerah.
"Tari!" Ranti mulai menatap putri bungsunya dengan tajam.
"Ampun Ma," Mentari diam dan cepat-cepat meneguk jus agar lehernya tidak kering.
"Tari," panggil Linda.
"Em," kata Mentari sambil terus meneguk jusnya.
"Memang kamu mau bilang apa tadi?" tanya Linda.
Mata Mentari melebar, "Uhuk....uhuk....uhuk...." Mentari langsung terbatuk-batuk, saat mendengar pertanyaan dari Mami mertuanya.
"Sayang," Arka yang duduk di samping Mentari kesal, karena jus dari mulut Mentari malah mengenai wajah nya.
"Ahahahhaha......" semua tertawa karena wajah Arka terkena tumpahan jus.
"CK...." Arka sangat kesal sekali, kemudian ia bangun dari duduknya dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah.
Mentari juga sudah tidak kuat tertawa, ia lebih memilih ikut dengan Arka. Dari pada masih bersama yang lainnya yang hanya bisa mengocok perut nya saja.
*
Buat Kakak yang belum ambil pulsa cuma-cuma silahkan chat Author, atau hadiah pulsa nya Author kira hangus. Atau Author Alihkan pada yang lain.