Mentari

Mentari
Episode 200



"Ayo tidur dulu, nanti pas bangun tidur hadiahnya udah ada," kata Arka dan ia mulai membawa Mentari untuk tidur di atas ranjang.


"Janji ya Kak?" pinta Mentari penuh harap.


"Iya."


Mentari memilih menurut saja pada Arka, sebab kini ia tengah dalam mode yang sangat kesal sekali. Perang dingin antara ia dan sang Kakak Rembulan sedikit membuat Mentari juga kelelahan, jadi lebih baik tidur karena itu bisa memperbaiki mood yang sudah rusak.


Bibir Arka tersenyum saat Mentari sudah tertidur pulas, anak mereka memang sudah dua. Tapi tingkah Mentari yang kekanak-kanakan itu sama sekali tidak pernah berubah. Arka tidak ingin Mentari memaksakan diri untuk berubah dewasa seperti yang ia inginkan, mengingat usia Mentari yang masih belasan tahun. Apa lagi Mentari harus dewasa sebelum waktunya, itu satu poin yang luar biasa menurut Arka. Dan ia cukup menikmati' kehidupan nya kini bersama dengan istri bocahnya.


Tiga puluh menit kemudian, Arka sudah duduk di sofa menantikan Mentari bangun tidur karena hadiah yang di siapkan oleh Arka sudah tiba.


"Eeeemmmmm....." Mentari merenggangkan otot nya dan perlahan membuka mata, ia tersadar ada hadiah yang di janjikan oleh Arka. Dengan gerakan cepat Mentari langsung turun dari atas ranjang, dan kini ia duduk di samping Arka.


"Istri cantik Kakak udah bangun," Arka memeluk Mentari dan melihat rambut istrinya yang acak-acakan.


"Kak hadiahnya mana?" tanya Mentari tidak sabar.


"Ada, tapi kamu kira-kira pengen hadiah yang gimana?" tanya Arka.


"Yang bikin Tari bahagia!" jawab Mentari.


"Yang mengurangi rasa lelah kamu, yang bisa bikin kamu punya waktu perawatan ke salon? Yang bisa bikin kamu sedikit lebih rileks?" tanya Arka.


"Iya sih Kak, tapi gimana mau ke salon? Sea sama Satya rewel terus," Mentari mendesus, bukan mengeluh. Tapi memang begitu adanya.


"Justru itu Kakak punya hadiah," Arka tersenyum percaya diri, seolah hadiahnya memang sangat bisa membuat Mentari lebih bahagia.


"Wah....Tari makin enggak sabar," ujar Mentari.


"Kita ke kamar Sea sama Satya yuk," ajak Arka, "Hadiahnya ada di sana, karena mulai besok kita tinggal di rumah Mami," kata Arka.


"Ok," Mentari bangun dan langsung ikut dengannya Arka, ia berjalan di samping Arka sambil memeluk lengan Arka.


"Itu dia hadiahnya," dari pintu kamar baby twins Arka menunjukkan dua orang wanita yang masih cukup muda.


Mentari tercengang dengan hadiah yang di siapkan untuk dirinya.


Karena Mentari hanya diam saja, akhirnya Arka melirik istrinya, "Gimana?" tanya Arka, "Kamu pasti suka!" tebak Arka.


Dua wanita itu berjalan mendekati Arka dan Mentari, keduanya sedikit menunduk dan mulai memperkenalkan diri.


"Saya Jihan," kata seorang wanita.


"Saya Mia," kata wanita satunya lagi.


Mentari masih diam tanpa berbicara satu patah kata pun, dua wanita itu membuat otak Mentari seketika berpikir buruk. Kemudian ia menatap Arka.


Arka semakin tersenyum dengan tampannya ia yakin jika Mentari sangat suka hadiah dari nya.


"Kamu suka?" tanya Arka.


Mentari tidak menyangka jika Arka setega itu, Kakak tega banget sama Tari!" kata Mentari lalu ia pergi begitu saja.


Arka tentu saja bingung dengan reaksi dari Mentari, karena tiba-tiba Mentari malah marah-marah, "Sayang," panggil Arka, sedetik kemudian ia pergi juga menyusul Mentari yang kini kembali masuk ke kamar.


Mentari duduk di sisi ranjang sambil menangis, di otaknya kini Arka sudah berselingkuh bahkan membawa wanita-wanita itu ke dalam rumah nya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Arka panik karena Mentari menangis.


Mentari kini berdiri tegak menatap Arka, "Kakak tega banget sih sama Tari!!!" seru Mentari dengan nada yang cukup tinggi.


Seketika emosi Mentari semakin membuncah setelah mendengar pertanyaan Arka. Mentari berkacak pinggang dan nafasnya mulai naik turun karena kesal pada Arka yang seolah biasa saja.


"Kakak masih nanya juga?!" Mentari menggeleng, bahkan kini ia menatap Arka dengan sinis, "Ini itu rumah Mama Tari! Kakak tau?!" tanya Mentari.


"Iya," Arka mengangguk dan masih bingung, "Lalu?" tanya Arka lagi.


"Huuuufff......" Mentari semakin tidak bisa terkendali karena Arka yang terang-terangan menyakitinya.


"Tari kamu kenapa?" tanya Arka berharap Mentari bisa berbicara dengan baik, "Kamu ngomong, jelasin baik-baik. Kenapa?"


"Enggak usah pegang-pegang!" teriak Mentari.


Arka semakin bingung, "Kakak engga megang kamu, itu kamu kena sudut meja," jelas Arka sambil memperlihatkan kedua tangannya pada Mentari.


"Ish....." Mentari merasa kesal, dan ia memukul meja.


Plak!!!


"Aduh....." Mentari kesakitan dan ia menggosok tangannya sendiri.


"Sayang kamu kenapa sih?" tanya Arka lagi.


"Kakak yang kenapa bawa selingkuh Kakak ke rumah ini! Dua lagi!!!" geram Mentari agar lebih jelas.


"Selingkuhan?" Arka sangat terkejut mendengar kata yang di ucapkan oleh Mentari.


"Iya!" tegas Mentari, "Kakak terang-terangan bawa selingkuh ke rumah ini, bahkan dua! Atau jangan-jangan itu juga bukan sekedar selingkuh tapi sekaligus istri Kakak!!!" geram Mentari.


"Wahahaaaa......" Arka langsung tertawa kencang karena Mentari yang kini berubah menjadi aneh, dengan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal.


"Bahagia ya?!" Mentari tersenyum sinis sambil melipat tangannya, seolah kini ia adalah korban dari Arka.


Peltak!


Arka langsung menyentil jidat Mentari.


"Sakit!" teriak Mentari.


"Wahahaaaa......" Arka masih terus tertawa bahkan sampai mengeluarkan air mata karena tuduhan Mentari yang sungguh di luar akal sehatnya.


"Mulai hari ini kamu enggak boleh lagi nonton film, terutama film ikan terbang itu. Ataupun yang sedang trend sekarang ini, karena setelah itu kau menjadi tidak beres!" kata Arka sambil terus terkekeh lucu oleh sikap Mentari, "Tadi itu baby sitter untuk anak kita, karena Kakak kasihan sama kamu. Biar kamu bisa lebih terbantu. Kakak tahu kamu juga pengen ke salon, shopping. Kuliah, dan Kakak juga pengen kamu punya waktu saat Kakak pulang kerja buat Kakak. Dan itu solusinya adalah baby sitter, tapi kamu juga harus tetap memperhatikan baby twins!" jelas Arka panjang lebar agar Mentari tidak lagi marah-marah tidak jelas.


"Baby sitter?" tanya Mentari terkejut.


"Em!" Arka mengangguk sambil tersenyum.


"Aduh....." Mentari mendesus dan ia sangat malu sekali.


Arka tersenyum sambil menaik turunkan kedua alis matanya, sedangkan Mentari menutup wajahnya karena malu.


"Hehehe......" Mentari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sambil menunjukan dua baris gigi rapinya.


"Enggak mau minta maaf?" goda Arka.


"Emmmm....yakin itu cuman baby sitter?" Mentari dengan gengsi yang tinggi seolah tidak bisa terkalahkan, jadi harus terlihat tetap tidak takut. Dan tuduhannya tadi tidak asal.


"Kelamaan enggak di servis ini," Arka menarik Mentari ke atas ranjang, dan dengan cepat ia menindihnya, "Sini Sabariah biar otak mu ini kembali ke mode benar, Kakak kasih jatah dulu!!!" kata Arka.


Benar saja tebakan Arka, karena Mentari malahan sama sekali tidak menolak. Istri nya itu memang lucu dan menggemaskan sekali pikir Arka.