
"Jadi cucu Mama mau di kasih nama siapa?" tanya Linda dengan bahagia.
"Yang cewek Sabariah Ma, dan yang cowok Sabarudin," kata Arka.
"Kakak apasih!" Mentari sangat kesal pada Arka, karena anak-anak di berikan nama itu. Bukan terlalu jelek, hanya saja jika ada nama pilihan lain lebih baik tidak usah nama itu.
"Kenapa?" Arka terkekeh melihat wajah Mentari yang kesal padanya. Karena ia pun hanya berniat menggoda Mentari. Sebab ia memang belum mendapatkan nama yang tepat untuk kedua anaknya, bahkan mereka juga belum membicarakan soal nama sebenarnya karena kedua baby twins itu lahir sebelum waktu nya.
Bahkan sudah dua hari ini baby twins lahir, tapi sampai saat ini juga Arka belum mendapatkan nama yang cocok untuk kedua anaknya.
"Kakak kok belum kepikiran sih?" tanya Mentari dengan sedikit bersedih, karena kedua bayinya belum memiliki nama.
"Bikin nama bayi itu enggak mudah sayang, bikin nya aja harus capek-capek bahkan sampai mandi keringat," kata Arka lagi.
"Arka," Linda kesal pada Arka, karena Arka kini suka berbicara dengan asal. Bahkan di saat ada orang tua sekalipun, "Kamu itu kalau ngomong di filter!" geram Ranti.
"Tau nih Kakak!" timpal Mentari yang tidak kalah kesal.
"Ya itu kan Memeng nyata Mi," kata Arka lagi.
"Emang iya?" tanya Dimas. Dimas bermaksud ingin menyudutkan Arka, karena ia ingin membalas Arka yang sering kali memamerkan kemesraan nya bersama Mentari, tidak salah dengar itu semua. Tapi Dimas tidak suka karena ia masih melajang, bahkan jomblo juga.
"Makanya nikah, biar tahu rasanya!" jawab Arka.
"Arka!!!" seru Linda semakin kesal.
Arka tidak menghiraukan sang Mami, ia kini semakin semangat menggoda Dimas, "Lu mana tahu rasanya di peluk istri, di sayang istri, di buatin kopi sama istri......jones mana paham, mending lu keluar cari angin," kata Arka menatap Dimas.
"Angin buat apa?" tanya Dimas kesal, karena niat hati ingin membuat Arka merasa panas dan tersudut tapi malah berbalik padanya sendiri.
"Buat nyegarin elu yang lagi kepanasan!" jelas Arka.
"Sialan!" kata Dimas.
"Aa Dimas," Lala langsung memeluk lengan Dimas, "Kalau panas sini Lala tiupin," kata Lala sambil cengengesan di samping Dimas.
"Lala apa sih," Rika langsung menarik Lala agar menjauhi Dimas, "Kita itu perempuan, harus punya harga diri!" Rika sampai mengetuk dahi Lala. Karena Lala selalu hilang kendali bila sudah melihat Dimas.
"Buat Aa Dimas, Lala mah gratis aja," celetuk Lala.
"Mmmmfffffpp....." Arka menahan tawa mendengar kata gratis yang di katakan oleh Lala.
"Ahahahhaha....."
"Ahahahhaha...."
Yang lainya tidak kuasa menahan tawa, Nina, Ranti, dan juga Linda benar-benar terhibur dengan adanya Lala.
"Kamu apasih!" kesal Rika lagi, karena ia yang hanya tidak suka Lala bertingkah bodoh di sana.
"Tidak menerima barang gratis!" kata Dimas sambil menatap remeh Lala, bahkan wajahnya terlihat sangat membenci Lala.
"Dimas!" tegur Linda, "Kamu tidak boleh bicara begitu, nanti menjilat ludah sendiri lho...." kata Linda lagi.
"Untuk yang ini enggak mungkin Mi," jawab Dimas menatap Linda, kemudian menatap Lala yang masih berdiri tidak jauh darinya, "Biasanya yang gratisan itu barang rongsokan, dan saya tidak suka barang rongsokan! Karena masih mampu membeli barang mahal. Yang sudah jelas bagus!" kata Dimas lalu pergi begitu saja, ia benar-benar tidak ingin Lala terus mendekati dirinya. Hingga kata itu keluar dengan sadar dari mulut Dimas.
"Kak Dimas apasih," kata Rika kesal.
"Lala," Linda tanpaknya tahu perasaan Lala saat ini. Karena setelah Dimas mengatakan itu Lala terlihat Diam tanpa bicara lagi.
"Enggak papa kok Tante, Lala enggak akan nyerah kan cinta itu harus di perjuangkan....jadi harus semangat!" kata Lala sambil terkekeh. Walaupun hatinya sedikit sakit karena kata-kata kasar Dimas, tapi Lala adalah Lala ia wanita kuat dan tangguh yang tidak kenal kata menyerah, "Belum ada janur kuning melengkung Tante, masih banyak kesempatan buat dapetin AA Dimas," kata Lala lagi yang ingin meyakinkan Linda dan yang lainnya jika ia tidak apa-apa.
"Oya, Tari udah punya baby, Lala udah ngebet sama Dimas, terus kamu apa lagi Rika?" tanya Linda pada Rika.
"Hehehe......Rika masih pengen kuliah dulu Tante, nanti kalau udah selesai kuliah baru deh Rika pikirin masalah jodoh," jawab Rika dengan perasaan canggung, karena ia juga sudah ingin punya pacar. Hanya saja belum ada yang berhasil membuatnya tertarik sampai saat ini juga.
"Ya udah Tante doa in semoga apa yang kamu inginkan segera terwujud..." Linda tersenyum.
"Iya Tante, Amin," jawab Rika.
"Radit enggak di doa in Tante Mami?" tanya tanya Radit yang dari tadi hanya diam saja.
"Iya, kamu juga semoga persalinan Rembulan nanti lancar dan sehat Rembulan dan bayi nya," kata Linda tersenyum.
"Bukan itu Tante Mami," kata Radit.
"Terus apa dong?" Linda bingung dan menatap Radit.
"Doa in biar setelah lahir yang ini cepet di kasih lagi," ujar Radit.
"Radit!" Nina yang dari tadi hanya diam mendadak emosi, karena omongan Radit yang asal bicara saja.
"Ma, jangan," Rembulan langsung melindungi Radit, "Kasian suami Ulan Ma," kata Rembulan.
"Cieee....yang enggak pengen Abinya kenal timpuk," kata Mentari yang setengah duduk di ranjang.
"Hehehe...." Rembulan baru sadar dengan kebohongan nya sendiri.
"Enggak gila lagikan?" tanya Ranti.
"Mama!" Rembulan malu dan pipinya bersemu merah, karena mendengar godaan dari orang-orang di sekitarnya.
"Umi, Love you," kata Radit yang mencolok dagu Rembulan.
"Ish....Abi,aku tau Bi," Rembulan menyenggol Radit, dan ia tertunduk dengan pipi yang bersemu merah seperti tomat.
"Ih....kok gemes ya," kata Radit yang menarik pipi Rembulan.
"Mau mesum jangan di sini woy!" kata Arka yang malah geli melihat Radit dan Rembulan.
"Tau nih anak, ada mertua juga...." kata Nina, "Enggak Sopan!"
"Hehehe.....tenang semua, kita enggak ngapa-ngapain cuman berdiri aja di sini...kalau memang di hutuhkan kan ada kamar mandi," seloroh Radit, padahal hanya berbicara asal tapi benar bisa membuat yang lainnya marah.
"Radit!!" kesal Nina.
"Hehehe.....bercanda Nin," kata Radit lagi, karena itu adalah panggilan sayang papanya kepada sang Mama. Dan hari ini Radit memanggil Mamanya dengan nama itu.
"Dasar kurang ajar, anak enggak sopan!"
Plak.
Nina memukul Radit dengan kuat, karena Radit sudah keterlaluan.
"Ampun Ma bercanda, ada mertua Radit di sini Ma," kata Radit yang merasa malu.
"Ahahahhaha....Arka malah tertawa dan merasa senang dengan penderitaan Radit."
"Puas lu!" kesal Radit.