
Hari ini dimana acara tujuh bulanan Mentari. Semua sudah dipersiapkan semua tinggal menunggu kedatangan Mentari bersama sang suami. Keluarga sudah menunggu dan anak yatim-piatu sudah berada disitu.
Mentari melihat anak yatim-piatu itu seketika senyum dengan mata berkaca-kaca.
"Tisu kak" Ucap Mentari.
"Duduk dulu" Arka mengantar sampai memastikan istrinya duduk dengan aman lalu Arka mengambil selembar tidur untuk istrinya.
"Kenapa?" tanya Arka.
"Gak" jawab Mentari, "Terharu dengan usaha ibu" sambungnya lagi.
Arka yang mendengar itu hanya mengusap punggung sang isteri sembari berkata, "Begitulah ibu, tapi semua itu bukan hanya ibu tapi semua keluarga terlibat"
"Kenapa aku gak dikasih tau, kan bisa bantu" protes Mentari.
Arka menggeleng sembari menghela napas dan mengeluarkannya dengan pelan, "Justru itu tidak diberi tahu, tapi aku juga gak diberi tahu oleh ibu"
"Benar?" tanya Mentari tidak percaya.
"Iya" jawab Arka yakin dan singkat.
Pak Rahmat menghampiri anak dan menantu memberitahu kalau acara akan segera di mulai. Acara berjalan lancar disertai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan terakhir pembagian parcel souvernir pada anak yatim-piatu. Pembagian ini membutuhkan waktu lama karena Mentari dan Arka yang bagikan langsung kepada anak yatim-piatu.
"Kalau capek duduk ya, ada kursi sudah disediakan" Arka mengingatkan sang isteri.
"Iya kak, tapi aku gak capek kok" Jawabnya sambil memberikan parcel itu pada anak-anak Yatin.
"Iya, lanjut lagi kalau begitu" Ucap Arka dan Mentari hanya membalasnya dengan senyum.
Anak yatim yang belum kebagian tinggal setengah dan Mentari merasa kakinya sudah pegal, ia pun mundur ke belakang untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan pembagian parcel itu lagi.
Arka memberikan parcel dan sesekali menoleh kesamping bagian belakang hanya untuk memastikan istrinya.
Berbeda dengan orang tua mereka, Dewi dan Anita membahas untuk penambahan perlengkapan calon cucu mereka. Sedangkan Aldi, malah asyik dengan ponselnya seperti ada yang menarik didalamnya.
"Dewi cucu kita ini cewek apa cowok?" tanya Ibu Dewi.
"Beli warna netral, warna biru, hijau atau hitam" Usul Anita.
"Benar juga, jadi kapan?" tanya Dewi.
"Lusa atau besok, gimana?" tanya balik Anita.
"Boleh juga itu" Dewi setuju.
"Oke" Jawab Anita, "Al, sibuk besok atau lusa?" tanyanya pada sang putra itu.
Aldi bukan menjawab malah senyam-senyum sambil melihat layar ponselnya itu.
"Aldi" panggil ibu Anita.
"Iya bun" Jawabnya, "sibuk kayaknya" sambungnya setelah beberapa menit jeda
"Tidak jelas, gimana kita minta antar saja sama sopir?" tawar ibu Dewi.
"Iya ya, kenapa gak kepikiran. Hhmmm, sepertinya kami langsung ke gedung Dewi" Ucap ibu Anita.
"Istrahat disini saja, sekalian ke sana sama" Dewi seakan melarang besannya itu untuk pergi duluan di gedung yang sudah disiap dari dua hari yang lalu.
"Apa disana sudah beres semua, aman gitu?" tanya ibu Anita.
"Aman bunda" jawab Aldi, "Bun sepertinya aku kesana dulu" sambungnya sambil menunjuk sebuah tempat yang tidak jauh dari Mentari dan Arka.
"Oke" jawab ibu Anita.
Aldi langsung pergi menghampiri seorang gadis yang sedang duduk tidak jauh dari adiknya itu. Ia berdehem setelah sampai tepat dibelakang gadis itu.
Gadis itu menoleh seketika sembari senyum terpaksa lalu kembali melihat kegiatan Mentari dan Arka.
Aldi penasaran maka ia mengikuti arah mata gadis itu, "Oh, memperhatikan Mentari dan suaminya, gak bisa dibiarkan ini" Batinnya lalu kembali berdehem.
"Ekhem.. Disini datang dengan siapa?" tanya Aldi.
Gadis itu tidak menjawab melainkan diam dan pandangannya fokus kearah Mentari.
"Siapa yang undang ke sini?" tanya Aldi lagi.
Namun, lagi-lagi gadis itu tidak menjawab.
Gadis itu menoleh lalu senyum miring dan kembali melihat Mentari lagi.
"Memang suami orang itu lebih menarik?" tanya Aldi lagi.
Gadis itu awalnya tenang duduk disitu, tapi bahasa Aldi yang membuatnya terganggu. Gadis itu seketika mengambil dompetnya yang ia simpan disampingnya lalu pergi dari tempat itu.
Aldi menatap punggung gadis itu, "Dasar wanita sekarang, lihat laki-laki mapan meskipun sudah punya istri masih juga suka" gumam Aldi.
Aldi memutuskan untuk menghampiri sang adik dan suaminya itu dari pada duduk sekarang diri disitu.
"Gimana dek, capek?" tanya Aldi disamping adiknya itu dengan tangan ia masukkan disaku celana.
Mentari melihat kakaknya dari dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Kenapa? kakak mu ini ganteng sebenarnya" Aldi bangga, dengan salah satu tangan menyisir rambutnya menggunakan jari.
"Jangan sok ganteng disini, ganteng kak Arka dari pada kakak" Jawab Mentari yang mendapat tatapan dengan mata membulat dari kakaknya itu.
"Jangan marah, itu bisikan dari baby. Ponakan mu hanya ingin menyampaikan apa yang terlintas di kepalanya saat lihat paman lapuknya" Jawab Mentari. Jawabnya begitupun menyakitkan hati jika itu dari orang lain.
"Haalllaaahh, suami tingkat kegantengannya seperti itu dibanggakan, coba tanya gadis-gadis diluaran sana, pasti milihnya aku" Ucap Aldi bangga.
"Terus mau milih kak Arka?, ku tabok duluan biar sadar" jawab Mentari yang membuat Aldi ketawa.
"Kak Aldi bantu kak Arka bagikan parcel-parcel itu. Gak ada jiwa sosialnya kakak ini" Ucap Mentari lagi.
"Benar-benar ini anak, buat kakak kesal dengarnya.. Iya, iya, mau bantu ni" Ucap Aldi sambil melangkah kearah Arka, namun tiba-tiba berhenti dan bertanya.
"Lihat gadis di acara tadi dek?" tanya Aldi setelah membalikkan badan.
"Siapa?" tanya Mentari.
"Sepertinya gak tau, sudah mau bantu Arka dulu" Ucap Aldi lalu membantu Arka bagi parcel itu sampai habis.
Arka dan Aldi setelah membagikan itu tidak langsung gabung dengan orang tua mereka, ia berdua memutuskan untuk duduk disitu melepas rasa capek tanpa memperhatikan Mentari yang sudah tidur berbantalkan lengannya.
"Di istriku tidur" Ucap Arka lalu menghampiri Mentari itu.
"Santai bangat ini anak, orang kalau usia kandungannya sudah tujuh bulan itu kadang duduknya harus bersandar" Aldi heran dengan cara Mentari tidur.
"Aku juga kadang heran Di" Arka menjawab ucapan iparnya itu, "Dek, bangun" sambung Arka sambil mengelus pipi Mentari itu.
"Hmm, cara banguninnya elus pipi? dulu aja kadang dipukulkan bantal baru bangun" Ucap Aldi melihat cara Arka membangunkan adiknya itu.
"Masuk ke dalam aja deh, banyak protes dari tadi" Ujar Arka yang masih mencoba membangunkan Mentari itu.
"Iya iya, tapi kenapa gak gendong saja dari pada bangunin lagi" Ucap Aldi.
"Berat badan Mentari itu bertambah Di, mana sekarang hamil tujuh bulan."
"Apa hubungannya?, gendong aja baru kita masuk didalam" Ucap Aldi lagi dan Arka terpaksa mengikuti ucapan iparnya itu.
Arka menggendong sang istri yang terus berat badannya semakin bertambah. Aldi mengikuti Arka dari arah belakang, mereka melewati orang tua mereka dan spontan mereka bertanya terutama ibu Dewi.
"Mentari kenapa?" tanya ibu Dewi sembari bangkit dari duduknya lalu menghampiri Arka yang sempat berhenti itu dan menempelkan tangannya di dahi mantunya itu.
"Gak demam kok" Ucap ibu Dewi lagi sambil mengerutkan keningnya, "terus ini kenapa?" tanya ulang Dewi lagi, "Oh, ketiduran. hehehe" Sambungnya lalu ia ketawa, ia menertawai dirinya sendiri.
Arka geleng kepala kepada ibunya itu, "Ibu kelewat panik, Mentari tidur bukan demam" Jelas Arka itu.
"Iya iya ibu tau, tadi menyentuh dahi Mentari. Sana, bawa dikamar nanti tidurnya terganggu" Ucap ibu Dewi dan Arka langsung pergi membawa Mentari dikamar.
Keluarga Mentari terutama Hadi sangat senang melihat itu, "tenang hati saya melihat hari ini pak Rahmat" Ucapnya.
"Iya, Alhamdulillah Mentari berada di keluarga yang tepat" timpal ibu Anita.
"Anita, saya pun senang anak saya dicintai putri mu lho Anita, hehehe" Ucap Dewi diakhiri dengan tawa.
"Hehehe, Alhamdulillah, tidak akan lama lagi punya cucu" Ucap Anita.
"Iya, gak sabar" Timpal Dewi
...**SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏**...