Mentari

Mentari
Episode 183



"Wawaahahah....." Mentari tidak bisa menahan tawa saat melihat wajah Arka yang baru saja terkenal siraman darurat dari Satya. Bahkan air mata Mentari juga sampai keluar karena melihat wajah Arka.


Arka menatap kesal istrinya yang mengejek dirinya, awalnya Mentari ingin mengganti sendiri popok Satya. Tapi karena Arka ingin juga belajar untuk mengganti popok, akhirnya Mentari membiarkan Arka yang bekerja. Namun sayang saat Arka membuka popoknya malah di saat Satya mengompol dan airnya terkena langsung pada wajah Arka.


"Gimana Kakak enggak kena siram? Wajah Kakak dekat banget sama selangnya Satya, jadi ke siramkan...." Mentari terus tertawa melihat wajah Arka, suaminya itu terlihat lucu sekali saat ini.


"Sekarang tanggal berapa?" tanya Arka.


"Tanggal Enam belas Desember," jawab Mentari, "Kok nanyak tanggal Kak?" tanya Mentari bingung.


"Tahun nya?" tanya Arka lagi, tanpa menjawab pertanyaan Mentari barusan.


"Tahun dua ribu dua puluh satu!"


"Kalau begitu tulis di kalender tahun dua ribu empat puluh Daddy akan balas!" kata Arka pada Satya, seolah ia sangat marah sekali.


"Mmmmfffffpp....." Mentari menutup mulutnya karena tidak kuasa menahan tawa, "Ahahahhaha....." tawa Mentari kembali menggelar, karena tidak kuat menahan nya.


"Tidak waras!" geram Arka.


"Kakak yang enggak waras, kayaknya karena epek cuci muka pakek air mujarab nya Satya barusan, Ahahahhaha......" Mentari memegang perutnya karena tertawa terbahak-bahak, membuat perutnya sedikit sakit. Dan tanpa sengaja kakinya memijak Pampers yang sudah di pakai Satya.


Buk!


Mentari terpeleset, ia terduduk di lantai, "Aduh," Mentari memegang pinggul nya yang terasa sakit.


"Ahahahhaha......" giliran Arka yang menertawakan Mentari habis-habisan. Karena Arka merasa itu balasan untuk kenakalan Mentari yang barusan mengejek dirinya, "Azab!!!" tambah Arka lagi.


"Ish...." Mentari memukul udara dan kesal pada Arka, "Tolongin," Mentari mengulurkan tangannya agar Arka menolong nya.


Arka masih tertawa kecil, sambil tangannya menarik Mentari agar bangun.


"Udah pakein popok Satya, kasihan," kata Mentari. Karena dari tadi mereka hanya tertawa karena kelucuan yang di buat oleh bayi mungil yang sudah berusia tiga minggu itu.


"Iya," Arka kini beralih menatap Satya yang masih berbaring di atas ranjang, "Awas ya kalau kamu siram Daddy lagi pakek air mu itu!" kata Arka seolah mengancam Satya.


"Daddy mu lagi sakit Satya, kamu harus maklum!" timpal Mentari.


Arka mendengar apa yang di katakan oleh Mentari, tapi ia diam saja dan seolah tidak perduli. Arka mulai memasang popok Satya yang baru, "Daddy pasangin popoknya ya, harus pakek popok. Kalau enggak nanti basoka kamu di dikerumuni lalat," ujar Arka seolah tengah berkomunikasi dengan bayi yang masih berumur hitungan minggu.


Mentari kembali geleng-geleng kepala, karena Arka yang aneh, "Ya ampun Nak, malang sekali nasib mu," kata Mentari seolah bersedih.


Arka penasaran dan langsung melihat Mentari, dan Mentari tahu itu. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya yang tengah merapikan baju Sea.


"Kamu masih kecil sekali, tapi Daddy mu sudah tidak waras. Malangnya nasib mu Nak," kata Mentari yang seolah berbicara pada Sea.


Arka kesal mendengar kalau Mentari mengejek nya, dan maksud Mentari adalah ia yang gila. Dengan cepat Arka mendekati Mentari, dan langsung menekan kepala Mentari kebawah.


"Wahahaaaa...." walaupun kepala Mentari sudah berada di bawah ketiak Arka, tapi ia tetap tertawa karena bahagia bisa mengejek Arka, "Ahahahhaha......" Mentari tidak bisa menahan tawanya, bahkan cukup sulit untuk mengehentikan tawa itu.


"Dasar kau ya? Mau jadi istri durhaka!" geram Arka.


"Ahahahhaha...." Mentari kini berdiri di depan Arka, dan menatap wajah kesal Arka.


"Kalian sedang apa?" tanya Linda shock.


Tadinya Linda ingin melihat cucunya, tapi tiba-tiba ia melihat Arka yang tengah menindih Mentari di depan pintu kamar yang terbuka lebar.


"Sedang bermesraan," jawab Arka asal.


"Kakak ish...." Mentari mendorong dada Arka agar menjauh darinya, tapi tidak bisa Arka masih betah di sana.


"Kalau mau mesra-mesraan jangan di sini dong! Pintunya juga di tutup. Lagian juga Mentari belum boleh!" omel Linda karena anaknya itu memang aneh dan takut khilaf.


Cup.


Arka dengan isengnya malah mengerjai Linda, ia mengecup bibir Mentari.


"Haaaaaa....." Linda menarik nafas dengan panjang sambil memegang dadanya.


"Mau lihat lagi?" tanya Arka.


Linda menggeleng kemudian dengan cepat ia keluar dari kamar Arka dan Mentari, bahkan tidak lagi melihat Sea dan Satya seperti niat awalnya.


"Kakak!" Mentari dengan cepat mendorong Arka, dan setelah itu ia bangun juga. Mentari berdiri di depan Arka dengan kesal, "Kakak apasih, depan Mami begitu!" geram Mentari.


"Kenapa!" kata Arka lalu ia melihat Satya, dan Sea yang tengah berbaring di atas ranjang.


"Ish," Mentari kesal dan menghentakkan kakinya, Arka sungguh membuat nya kesal.


"Ini punya siapa?" Arka melihat ada mie goreng di dalam piring yang ada di atas meja.


"Punya Tari!" kata Mentari dengan kesal.


"Pas banget kebetulan lagi lapar," Arka langsung duduk di sofa dan mulai menyantap mie goreng yang disiapkan untuk Mentari, setelah selesai menghabiskan mie goreng Mentari. Arka kemudian meneguk air putih yang terisi penuh pada botol minuman dan masih sama. Itu pun milik Mentari, "Akhirnya," gumam Arka, kemudian ia melihat sekitarnya untuk mencari tissu. Dan ia melihat ada tisu di atas meja, langsung saja Arka menggunakan nya sebagai lap mulut, "Sayang," panggil Arka.


"Apa?" Mentari duduk di sisi ranjang dan melihat Arka.


"Ini tisu nya tebal banget," Arka menunjukan sebuah benda yang di katakan tisu oleh Arka, bahkan sudah ada sisa makanan di sana.


"Kak," Mentari mendekati Arka, matanya melebar saat melihat benda yang disebut Arka tisu, "Ini bukan tisu Kak," kata Mentari.


"Terus apa dong?" banyak Arka bingung.


"Mmmmfffffpp," Mentari kembali memegang kepalanya, ia kembali menahan tawa karena melihat keanehan Arka, "Ahahahhaha....." Mentari kembali tertawa dengan kencang, karena ulah Arka yang aneh.


Arka menggaruk kepalanya karena bingung, "Sayang kamu apasih," kata Arka semakin bingung.


"Itu bukan tisu, itu pembalut Kak," jelas Mentari.


Arka seketika melihat benda yang masih ia pegang dan ia sebut sebagai tisu. Namun ternyata itu adalah sebuah pembalut dan ia sudah mengelap kepada mulutnya. Dengan gerakan cepat Arka langsung membuangnya, tentu saja Arka juga merasa kesal kepada dirinya. Karena tindakan bodohnya, ini sangat memalukan sekali bayangkan saja ia mengelap mulutnya dengan sebuah pembalut.


"Kamu ngapain narok di atas meja!" geram Arka.


"Tadi itu Tari mau ganti pembalut Kak, terus Sea nangis. Akhirnya Tari kasih ASI dulu buat Sea dan pembalutnya Tari letakkan di atas meja terus Tari lupaan deh akhirnya Tari ambil pembalut yang lain dari lemari dan kakak yang pakai buat tisu, Ahahahhaha....."