
Saat ini Arka telah berada di perusahaannya, ia terlihat begitu teliti dalam bekerja hingga beberapa saat kemudian pintu terbuka.
"Maaf Bos," kata Dimas yang berusaha menahan seseorang untuk masuk ke ruangan Arka, "Tuan ini terus memaksa masuk Bos," kata Dimas lagi pada Arka yang mulai melihat mereka.
Arka mengangguk dan ia melihat seorang pria berumur sekitar 50 tahun Tengah menatap dirinya dengan begitu penuh amarah, Arka tentu tahu siapa orang itu dia adalah Ayah dari divanka. Arka juga sudah bisa menebak kedatangan dari Handoko ke perusahaannya, bahkan dalam keadaan marah.
"Kenapa Kau menghancurkan perusahaanku?!" geram Handoko pada Arkan, Karena perusahaan Handoko kini terancam bangkrut. Dan perusahaan Arka yang mulai mengambil satu persatu rekan bisnisnya, bahkan beberapa kolega yang berinvestasi di perusahaan nya mulai menarik saham mereka yang tentu ini sangat merugikan bagi perusahaan Handoko. Setelah diselidiki dengan baik ternyata Arka dibalik semua ini, Arka yang memiliki perusahaan raksasa bisa melakukan apa saja kepada perusahaan yang dianggap kecil. Akan tetapi menurut Handoko ini bukanlah tindakan yang baik bagaimanapun tidak ada yang boleh melakukan kecurangan dalam bisnis, hingga ia merasa Apa yang dilakukan oleh Arka adalah salah dan ia sengaja langsung mendatangi Arka tanpa berminat mengirimkan orangnya. Karena Arka harus diberi pengertian menurutnya.
Arka yang menjadi sasaran amukan Handoko hanya diam saja santai duduk di kursinya. Bahkan ia bersandar di kursi goyang kebesarannya sambil meletakkan kakinya ke atas meja, tentu saja sambil melihat Handoko yang terus marah dengan Dimas yang memeganginya.
"Kenapa kau diam saja atau sengaja ingin menghancurkan perusahaan ku, belum puas sekali menghancurkan anakku, belum puas kalian mempermalukan anakku, keluarga kalian yang meminta anak ku untuk menjadi anggota keluarga kalian. Tapi kalian yang memutuskannya sepihak, dan sekarang kalian mencoba menghancurkan perusahaanku lagi," geram Handoko yang meluapkan segala amarah di dadanya.
Arka tersenyum bahkan terlihat sampai kini beralih menatap cangkir di mejanya dan meneguk kopi didalamnya dengan santai, mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Handoko. Arka ingin tahu apalagi yang ada di hati Handoko saat ini tentang dirinya. Lagi pula Arka bukanlah orang yang suka berbasa-basi atau mau berdebat dalam hal seperti, Ia lebih suka adu kekuatan karena itu jauh lebih menantang menurut Arka.
"Kenapa kau masih diam di sana Jawab aku," kata Handoko yang berusaha melepaskan diri dari Radit, "Lepaskan aku! Bos mu itu harus diberi pelajaran, kalau dia itu bukan manusia tapi manusia berhati iblis!" geram Handoko.
"Lepaskan dia!" titah Arka pada Dimas.
Dimas langsung melepaskan Handoko dan dalam sekejap Handoko mendekati Arka, wajah nya berkabut amarah yang begitu tidak bisa di tahan.
"Dasar biadab, sekarang perusahaanku mengalami kerugian miliaran kau tahu itu!" Handoko menarik kerah jas Arka.
Arka bangun dari duduknya dan menyingkirkan tangan Handoko dari kerah jas, Arka berjalan menjauhi Handoko.
"Apa yang harus saya katakan tuan?" tanya Arka sambil memasukkan kedua lengannya ke dalam masing-masing saku celana.
Handoko kembali mendekati Arka, "Kau masih saja bertanya padaku, aku yang seharusnya bertanya padamu kenapa keluarga kalian begitu teganya pada keluarga kami. Mulai dari mempermalukan anak saya, sampai akhirnya menghancurkan perusahaan Saya lagi, apa maksud kalian apa salah kami pada kalian?" papar Handoko dengan penuh amarah.
Arka tersenyum miring mendengar pertanyaan dari Handoko, "Di mana putrimu?" Arka tidak berniat menjawab pertanyaan Handoko yang menurutnya sangat tidak penting itu, karena setiap Apa yang dilakukan oleh Arka pasti ada sebab dari semua itu.
"Kenapa kau menanyakan anakku, kau juga berniat menghancurkan masa depan anak ku lagi. Seperti saat sepupu itu yang menghancurkan anakku?!" garam Handoko yang tidak bisa berbicara dengan kepala dingin, bayangan kebangkrutan kini sudah benar-benar menakut-nakutinya.
"Sebenarnya anak mu itu tidak penting sama sekali untuk ku! Tapi anak mu itu sudah melakukan kriminal, pada keluarga kami! Jadi putri mau itu harus mendapatkan ganjaran nya. serahkan anak mu padaku atau perusahaan kamu akan hancur berkeping-keping tanpa tersisa!" jawab Arka karena Divanka menghilang setelah kejadian itu, dan Arka percaya jika Handoko tahu di mana keberadaan putrinya itu, jika memang Handoko pun tidak mau memberitahukan dimana putrinya maka ia akan menghancurkan habis-habisan perusahaan milik Handoko sampai sehabis-habisnya setelah itu ia akan mencari Diva dan akan memasukkannya ke dalam buih. Menurut Arka Apa yang dilakukan di Diva sudah sangat keterlaluan. Ini sudah menyangkut nyawa seseorang, bukan hanya satu nyawa. Tapi sebenarnya alasan yang utamanya adalah istrinya Mentari, Karena kini Rembulan terbujur di rumah sakit dengan keadaan yang memprihatinkan. Mentari juga selalu murung tanpa ada senyuman tanpa ada tawa seperti yang dulu selalu ada saat mereka tengah bersama, kadang juga Mentari jatuh sakit, makan dan tidur karena terlalu memikirkan kakaknya Rembulan.
Handoko terkejut mendengar kata kriminal yang disebutkan oleh Arka, "Kriminal?" tanya Handoko.
"Katakan di mana Putri mu itu, atau apa yang aku katakan akan benar-benar terjadi! Kau akan hancur dan Aku seret kau tinggal di bawah kolong jembatan. Aku pasti kan itu!" kata Arka lagi memberi ancaman kepada Handoko.
"Jelaskan dulu perbuatan kriminal apa yang sudah dilakukan oleh anakku, Diva adalah wanita yang baik dia tidak mungkin tega melakukan hal di luar batas!" kata Handoko yang masih berusaha melindungi putrinya.
"Nanti kau tanyakan kepada anakmu itu bila dia sudah bertemu dengan mu, aku tidak ada kepentingan untuk menjelaskan itu semua!" kata Arka lagi.
Hutomo bingung dan terdiam sejenak memikirkan apa yang sudah dilakukan Diva hingga Arka bisa semarah ini. Bahkan tidak tanggung-tanggung apa yang dilakukan Arka sangat merugikan dirinya. Sejujurnya ada rasa ketakutan juga di hati Handoko jika benar nanti akan menghancurkannya sampai berkeping-keping, "Kalaupun anak ku melakukan kejahatan, seharusnya kau tidak m membawa masalah nya pada ku juga! Apalagi pada perusahaan ku!"
"Kau masih ingin menasehati aku!" kata Arka menatap tajam Handoko, ia benar-benar kesal pada Handoko yang terus merasa korban dari segala nya, "Kalaukau masih berani artinya kau menantang aku!" geram Arka lagi, "Kalau kau tidak mau perusahaan mu bangkrut, serahkan anak mu yang sudah menelantarkan seorang ibu hamil di tengah hutan, dan sekarang wanita itu terbaring koma di rumah sakit!" tegas Arka yabg membuat Handoko terkejut sekali.