
"Gimana bro?" seloroh Arka.
Radit kini duduk di ruang tamu, ia sangat kesal karena usul Mentari yang menurutnya tidak masuk di akal. Bayangkan saja kini ia harus menjalani proses pingit, padahal hampir saja ia bahagia tapi rusak seketika.
"CK!!!" Radit menatap Arka yang kini tersenyum bahagia karena melihat penderitaan nya, "Apa ini rencana mu?" tanya Radit asal.
"Iya," jawab Arka dengan jelas, kemudian ia duduk di sofa dengan saling berhadapan dengan Radit.
Radit seketika menatap Arka dengan kesal, awalnya ia hanya asal menuduh, tapi jawaban Arka terlihat meyakinkan sekali, "Maksud lu apa?!" geram Radit.
"Maksud gue baik, kita ibadah puasa di perpanjang biar banyak dapat pahala," jawab Arka asal.
"Sialan lu!" geram Radit, "Lu tau?"
"Enggak!" timpal Arka cepat, padahal Radit belum selesai berbicara.
"Padahal hampir aja gue mantap-mantap tapi lu merusak semuanya!" lanjut Radit. Karena barusan Arka langsung memotong perkataan nya, padahal ia belum selesai berbicara.
"DL!"
"Apaan tu?" tanya Radit penasaran.
"Derita Lu!" Arka tersenyum mengejek Radit.
"Sialan lu," Radit melempar bantal sofa pada Arka.
Tapi dengan cepat Arka mengelak sehingga tidak kena, "Enggak kena, itu aja enggak bisa bego!" ejek Arka lagi.
Radit yang tengah menahan kesal, semakin kesal. Karena Arka yang terus saja memanas-manasi diri nya, hingga dengan cepat Radit mendekati Arka dan mencekik leher Arka.
"Abis lu!" geram Radit.
"Gue enggak bisa nafas!" ujar Arka sambil berusaha melepaskan diri dari Radit.
"Mampus lu!" kata Radit semakin mencekik Arka.
Arka yang sudah tidak tahan mulai melawan, hingga akhirnya keduanya terjatuh dari sofa. Dengan Radit yang kini berada di bawah Arka. Bahkan tanpa sengaja kening Arka jatuh di atas bibir Radit. Hingga terlihat seperti Radit yang mengecup kening Arka.
"Aaaaaaa......" teriak Mentari, ia awalnya ingin menemui Radit dan mengatakan tidak udah ada rencana untuk di pingit. Karena Rembulan yang mengatakan jika ia butuh Radit untuk membantu nya mengurus Raka yang masih terlalu kecil, Mentari merasa apa yang dikatakan oleh Rembulan ada benarnya. Dan kini ia menemui Radit yang berada di ruang tamu bersama dengan Arka, tapi kini ia malah shock. Karena Radit dan Arka yang sedang berbuat aneh.
"Abi ngapain sama Arka," Rembulan juga yang berada di belakang Mentari mendadak bergidik ngeri, "Abi masih normal kan?" tanya Rembulan dengan perasaan bingung.
Arka dan Radit langsung saling pandang, dan keduanya juga merasa geli dengan posisi mereka saat ini. Bayangkan saja, ini posisi yang sangat mengerti sekali.
"Bangun! Betah banget lu di atas gue!" Radit mendorong Arka dengan kuat.
Arka langsung saja bangun, bahkan tanpa di dorong sekali pun. Sebab ia pun tidak akan mau sedekat itu dengan Radit.
"Nafsu banget lu kayak nya sama gue!" kata Radit yang berusaha menyudutkan Arka.
"Enak aja, gue masih normal ya! Gue enggak akan mau sesama pisang!" tegas Arka, "Cueeehhh," Arka meludah asal dan mengelap bibirnya, bahkan ia mengelap dengan sangat kuat. Karena ia merasa bekas kening Radit masih menempel di bibir nya.
"Najis!!" Radit berusaha juga mengelap keningnya dengan. kaos oblong yang terpasang di tubuh nya, ia juga merasa geli karena bibir Arka jatuh tepat di atas kencingnya.
"Cukup!!!" seru Mentari yang merasa kesal, karena Arka dan Radit terus saja bertengkar seperti anak kecil.
Arka dan Radit langsung melihat Mentari, dan keduanya tentu saja tidak mau di tuduh yang macam-macam.
"Sayang ini tidak yang seperti kamu pikirkan," kata Arka pada Mentari. Ia tentu saja ingin menjelaskan jika itu murni karena unsur ketidak sengaja, dan murni karena kecelakaan.
"Memangnya apa yang Tari pikirkan?" tanya Mentari balik.
"Kamu pasti mikir kalau Kakak sama Radit itu ada sesuai?!" tebak Arka.
"Sayang kamu jangan mikir aneh-aneh ya," ujar Arka yang tidak ingin di tuduh oleh Mentari.
Rembulan kini juga menatap Radit, "Tadinya Umi mau bilang enggak usah ada acara pingit begitu, tapi," Rembulan menjeda ucapannya sambil menatap Radit dari atas sampai bawah, ia kini malah merasa geli. Karena apa yang terjadi barusan antara Arka dan Radit barusan, "Tapi umi kok mendadak ngeri ya," Rembulan memegang pundaknya karena merasa merinding.
"Umi......umi...." Radit mendekati Rembulan dan ia berusaha untuk menjelaskan pada istrinya jika ia masih sangat normal, "Itu kecelakaan Umi, murni kecelakaan," Radit berusaha memegang lengan Rembulan.
"Abi enggak usah pegang-pegang," Rembulan menjauh dan tidak ingin di pegang Radit.
"Kak kita pergi aja yuk," Mentari memegang tangan Rembulan, dan ia mengajak Rembulan untuk pergi.
"Yuk, Kakak juga ngerasa horor di sini," jawab Rembulan.
"Sayang," Arka memegang lengan Mentari, "Kakak normal yang," ujar Arka lagi.
"Tari enggak yakin, tapi Tari rela di madu. Kalau memang Kakak sama Kak Radit," jelas Mentari.
Glek.
Arka dan Radit meneguk saliva, karena apa yang di katakan oleh Mentari sungguh membuat keduanya ingin pingsan saat ini juga.
"Tari yuk kita pergi, mana tau mereka berdua mau mesra-mesraan," Rembulan menarik lengan Mentari, dan keduanya ingin pergi.
"Umi jangan aneh-aneh ya!" geram Radit.
"Abi yang aneh-aneh!" Rembulan dan Mentari langsung pergi, keduanya masih ngeri dengan kelakuan aneh suami mereka.
Radit dan Arka langsung duduk di lantai, keduanya saling bersandar. Meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan.
"Ka, lu kuat enggak?" tanya Radit dengan suara bersedih.
"Apanya?" tanya Arka karena ia masih sangat lemas, sebab kini istri pasti ragu akan dirinya yang sudah tidak normal lagi.
"Itu-itu lah, bayangin nya aja gue udah pusing. Apa lagi ngejalaninnya," kata Radit dengan putus asa.
"Gue juga, masa ia gue harus main solo. Padahal gue udah sombong banget ngomong ke sabun enggak akan gunain lagi buat itu, karena udah punya bini," kata Arka.
"Emang lu bilang apa ke sabunnya?" tanya Radit penasaran.
"Gue bilang, gue udah sombong. Udah punya bini, jadi enggak akan gunain lu jadi alat gue," jawab Arka.
"Terus kalau lu gunain buat itu, jatuh banget harga diri ku di hadapan sabun!" ujar Radit sambil terkekeh lucu.
"Iya, sama sabun aja gue udah enggak ada harga diri," tambah Arka.
"Enggak nyangka gue CEO sedingin kulkas bisa aneh juga!!" seloroh Radit mengingat tingkah Arka yang aneh.
"Iya, gue juga ngerasa makin enggak waras!"
"Ka?"
"Em?"
"Puasa bareng, nangis juga bareng yuk?" ajar Radit.
"Yuk, ada tisu nggak?"
"Nih," Radit mengambil tisu dari atas meja.
"Ayo kita mulai!"
"Ayo!"