
Arka dan Mentari pulang diantar oleh Brian. Meski tidak lama di gedung itu Mentari merasa capek, dalam mobil gelisah karena sudah sanggup duduk lebih lama.
"Bapak Brian, apa masih jauh?" Tanya Mentari sambil memegang pinggangnya yang pegal.
"Kenapa dek?" tanya Arka
"Pinggang aku mau patah, lama duduk kayaknya tadi" Jawab Mentari
"Maaf nona, tinggal 5 menit lagi" jawab Brian.
"Oke, ngebut dikit bapak Brian, jangan bawa mobil kayak siput" Protes Mentari lagi.
"Tapi nona.." Timpal Brian tidak melanjutkan ucapannya. Ia segan kepada bosnya itu.
"Hmmm, aku tau pasti karena kak Arka kan" Tebak Mentari, "Kak Arka seperti itu ya bapak Brian?" Sambungnya dengan pertanyaan.
"Iya Nona" jawab Asisten Brian.
"Ohhh" Ucap Mentari sambil melirik suaminya itu.
Arka tau kalau jawaban itu membuat Mentari salah paham.
"Brian, kasih jelas bicara" Ucap Arka.
"Maksud saya, kalau nona yang dibawa harus pelan-pelan" Jawab Asisten Brian.
"Berarti ada numpang disini selain aku?" tanya Mentari lagi memancing asisten Brian.
"Iya nona" jawab Asisten Brian spontan.
Mentari menoleh lagi melihat suaminya itu lalu kembali melihat asisten Brian didepan, "Siapa asisten Brian?" tanya Mentari lagi.
Asisten Brian yang awalnya santai menjawab tapi kali ini ia merasa tidak aman dengan Mentari memanggilnya tidak seperti biasa.
"Santi, masa lupa" Ucap asisten Brian.
"Oh iya, Santi dimana? kok gak pernah lihat" Ucap Mentari seketika teringat dengan Santi yang sudah lama bertemu.
"Kenapa, ingin bertemu dia?" tanya Arka.
"Aku atau kakak nih, ngaku" Ucap Mentari lagi pada suaminya.
"Kalau jujur pasti marah" Jawab Arka sengaja.
"Berarti suka ular betina itu?, apa sih kelebihan dia itu, kesal aku lama-lama"
"Dia itu gak ngambekkan" ucap Arka seakan membandingkan.
"Kenapa dulu gak nikah sama dia?" tanya Mentari yang di respon oleh Arka seulas senyum.
"Kakak bikin aku kesal. Kenapa gak menikah dengan ular betina itu?" ulang Mentari.
"Gimana caranya mau menikah dengan dia. Aku terlahir ditakdirkan untukmu" jawab Arka. Arka sengaja agar sang isteri tidak marah, ia punya cara tersendiri jika istri marah tinggal gombal depan orang langsung hilang.
"Kak Arka tidak malu?, ada Bapak Brian" Ucapnya berbisik.
"Malu kenapa sayangku" Ucap Arka lagi.
"Kak aku yang malu" Ucapnya dengan muka merah seperti udang rebus.
"Kenapa merah mukanya?" tanya Arka lagi pura-pura tidak tau.
Seketika Mentari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu bersandar di bahu suaminya itu sembari berkata dengan sedikit berbisik.
"Malu jangan tanya lagi"
"Ooh" Ucap Arka singkat sambil mengangguk.
"Hahaha, perempuan lain kalau ngambek bujuk segala cara, ini tinggal gombal langsung hilang. Enaknya hidup" batin Arka sembari senyum-senyum.
Mentari menatap suaminya itu tanpa orangnya sadari, Ia mengerutkan dahinya sambil menatap suaminya.
"Kak Arka ini, kenapa?" batin Mentari. Selagi Arka masih senyum selama itu Mentari memperhatikan suaminya.
Sedangkan Arka, merasa tidak ada pergerakan dari sang isteri dan ia kira tidur. Arka menoleh seketika dan begitu kaget wajahnya begitu dekat dengan Mentari.
"Astaghfirullah dek, bikin kaget" Ucap Arka sambil mengusap dada.
"Kaget?, aku mirip hantu ya?" Tanya Mentari yang sudah duduk seperti semula.
"Tidak, hanya tidak menyangka ada bidadari yang duduk disampingku" bahasa Arka ini bukan hanya Mentari yang malu melainkan dirinya sendiri. Ia malu pada Asistennya sendiri.
Asisten Brian mengulum senyum sambil membawa mobil, dalam hati Brian kali ini ketawa mendengar ucapan bos-nya itu.
"Asisten Brian pasti ketawa dengar ucapan kakak tadi" Ucap Mentari setelah lama diam.
"Maaf nona, saya tidak dengar" Kilah Asisten Brian.
"Apakah bosmu selalu mengajarkan mu untuk tidak jujur?" tanya Mentari kepada Asisten Brian.
Brian kali ini dilema dengan ucapannya sendiri, ia sengaja berkata seperti itu untuk tidak memperpanjang masalah tapi malah lebih rumit.
"Oh gitu ya, kalau begitu bapak Brian ke rumah besok atau lusa tanya-tanya santai, supaya fokusnya dipertanyaan aku saja" Mentari mengambil keputusan.
"Ribet kalau perempuan sudah penasaran" Batin Arka.
"Baik nona" jawab Asisten Brian.
Sedangkan disisi lain. Gedung tempat acara masih menikmati makan malam. Aldi makan malam bersama keluarganya dan orang tua Arka kembali melihat gadis yang pernah ia lihat tadi siang dan bahkan mengajaknya ngobrol malah pergi.
"Bertemu lagi disini" Batin Aldi sembari senyum.
Gadis itu duduk sambil menikmati makan malamnya bersama Fahri hanya saja Fahri ke toilet sebentar.
Aldi penasaran dengan gadis itu, maka ia bertanya pada orang tua Arka.
"Bu, bukan itu perempuan datang diacara tujuh bulanan Mentari?" tanyanya sambil menunjuk perempuan itu.
"Oh itu, masa gak tau. Yang bantu ayah saat di RS" ucap Pak Rahmat.
"Oh, diundang lagi kesini, keluarga atau kolega bisnis?" Tanya Aldi lagi sambil sambil mengunyah makanannya.
"Tidak ada hubungan keluarga, saat Mentari di RS kebetulan Lia itu ada didepan dan dalam keadaan darurat saya minta untuk menolong kita dan dia mau" Jelas pak Rahmat.
"Kata ayah nanti dia kerja di toko kue Mentari" timpal ibu Dewi.
"Oh iya, bagus dong" ibu Anita ikut senang.
"Bagus juga" dukung Aldi.
Setelah pembicaraan itu, mereka kembali fokus makan tanpa ada pembiaran lagi. Berbeda dengan Aldi, rasa penasaran ingin tau pada perempuan tersebut semakin menggebu-gebu.
Aldi lebih dulu menyelesaikan makanannya dan izin untuk ke toilet sebentar.
Aldi pun pergi, ia sengaja lewat disamping perempuan itu namun seketika terhenti setelah melihat ada laki-laki yang duduk disamping perempuan itu dengan santai.
"Apa cowoknya" batin Aldi lalu melanjutkan jalannya.
Seketika laki-laki yang bernama Fahri itu menyapa Aldi yang lewat disamping mereka berdua.
"Pak Aldi kakak Mentari?" tanya Fahri.
"Iya" jawab Aldi, "Kenal adik saya?" sambungnya dengan pertanyaan.
"Iya" jawab Fahri lagi.
"Ohh, selamat menikmati" Ucap Aldi kepada Fahri dan sekilas memperhatikan perempuan itu lalu lanjut ke toilet.
Fahri pun kembali duduk didepan perempuan itu.
"Lia, apa benar akan kerja disini?" Tanya Fahri tidak yakin, karena bagaimanapun Siska Amalia ini merupakan anak berada di kotanya.
"Iya benar, aku hanya ingin mencari uang sendiri tanpa bantuan orang tua" Jawab Siska.
"Bagaimana kerja saja di kantor" tawar Fahri yang merupakan kakak sepupunya.
"Gak, aku ingin sekat dengan sahabatku" Jawab Siska lagi.
"Siapa?" tanya Fahri penasaran.
"Mentari" Jawabnya singkat.
"Kenapa gak ketemu tadi?" tanya Fahri lagi penasaran.
"Rencana kedatangan ku kejutan buat Mentari ternyata dia sudah pulang" Ujar Siska dengan wajah murung, "Padahal aku sudah menunggu momen ini" sambungnya lagi.
"Sabar, hari ini aku baru saja menemukan bidadari tapi sayang bidadari itu sudah memiliki pangeran" Ucap Fahri yang mengundang tawa Siska.
"Hahahaha, siapa bidadari itu? aku penasaran" Tanya Siska sambil memukul lengan sepupunya itu.
"Mentari" jawab Fahri.
"Hahahaha, cantik orangnya kan?" tanya Siska lagi setelah tertawa yang diangguki oleh Fahri.
Fahri dan Siska begitu akrab dimata Aldi yang sudah kembali duduk diantara orang tuanya dan orang tua Arka. Namun, matanya selalu memperhatikan mereka berdua.
Anita dan Dewi merupakan mata ibu-ibu yang super peka itu langsung mengikuti arah mata Aldi. Mereka yang awalnya heran langsung senyum.
"Matanya ke arah Lia" Ucap Dewi.
"Iya, apakah yakin Lia mau kerja di toko Mentari soalnya aku lihat dari modelnya sepertinya orang berada" Ucap Anita melihat style Siska yang tidak masuk akal kerja di sebuah toko.
"Iya, asalkan dengan Mentari" Jawab Dewi lagi.
"Oke lah kalau memang seperti itu, saya percaya pada kalian semua" Ucap ibu Anita sembari senyum.
"Saatnya kita pulang kalau begitu, ngantuk" Ucap ibu dewi.
...**SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏**...