
Mentari memandangi gelang yang diberikan oleh Angga tadi siang, gelangnya lucu,mencerminkan sekali kepribadian anak remaja. Dia teringat kata-kata Meli yang menyebutkan itu adalah gelang yang lumayan mahal jika dilihat dari kode yang ada pada gelang tersebut.
"Dasar anak orang kaya. Kasih kado ulang tahun aja nggak kaleng-kaleng", gumam Mentari sendirian saat dia sedang menunggu nasi gorengnya selesai dibuat oleh Pak Abdul,tukang nasi goreng depan komplek perumahan Mentari.
"Ini neng, udah jadi",kata istri Pak Abdul sambil menyerahkan plastik berisi nasi goreng milik Mentari.
"Makasih Bu",ucapnya menerima nasi goreng dan memberikan uang sejumlah harga nasi gorengnya.
Mentari menyusuri jalan utama kompleknya. Dia bersenandung kecil sebagai teman kesendiriannya. Hal itu sudah biasa ia lakukan setelah keluar dari rumah Awan. Kehidupan normal yang biasa-biasa aja,tapi tetap ia syukuri.
"Ah!",ia memekik tertahan kala sebuah tangan besar membekap mulutnya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat sehingga perlawanan yang ia lakukan menjadi sia-sia. Mata dan mulutnya tertutup,tangan dan kakinya diikat,tapi dia masih sadar. Ya Tuhan,apa aku jadi korban penculikan wanita? Apa aku akan dijual? Apa aku akan dibunuh dan diambil organ tubuhku? Pikiran-pikiran buruk seketika melintas di otak Mentari.
Abang...Meli...tolong aku! Jeritnya dalam hati. Ia terus meronta ditengah ketidak berdayaannya. Orang yang menculik Mentari tadi sepertinya bukan hanya satu atau dua orang melainkan empat orang. Terbukti dari banyaknya orang yang sedang berbicara didalam mobil yang sedang membawa Mentari entah kemana.
Setelah mobil berhenti,Mentari masih dibawa entah kemana. Sampai dia merasakan tubuhnya diturunkan di atas kasur empuk. Apa aku akan jadi santapan hidung belang? Kenapa tempatnya nyaman?biasanya kalau diculik itu tempatnya gudang kosong. Dalam situasi genting saja,Mentari masih mengingat kejadian penculikan di dalam novel yang biasa ia baca. Pikirannya sungguh konyol.
"Bagaimana?", sayup-sayup Mentari mendengar suara seseorang berbicara. Tapi bukan diruangan yang sama dengan Mentari. Ia sudah menajamkan telinga untuk menguping. Tapi tetap tidak jelas. Apalagi setelah pintu ditutup,keadaan jadi hening. Rupanya,ruangan itu kedap suara.
"Kalian tidak menyakitinya bukan?",Awan yang berada diluar ruangan berbicara dengan anak buahnya. Ya, tempat itu adalah apartemen Awan,dan kasur empuk tadi adalah ranjang Awan. Ekstrim sekali cara Awan mendatangkan Mentari,sampai ada adegan penculikan segala.
"Anda bisa lihat sendiri Pak"
Awan hanya mengangguk. Dia putuskan untuk melihat keadaan Mentari. Perlahan ia membuka pintu, dan tampaklah gadis pujaannya meringkuk dalam keadaan menyedihkan. Kaki dan tangan terikat,mulut dan mata tertutup rapat. Belum lagi, rambut dan pakaiannya yang acak-acakan karena Mentari terus melawan. Awan ingin marah, tapi lebih baik dia membantu Mentari dahulu sebelum membuat perhitungan dengan anak buahnya. Sudah ia katakan dari awal,jangan sampai menyakiti Mentari.
Mentari merasakan ada pergerakan di ranjang yang ia tempati. Tuhan...apa ini hari terakhirku sebagai gadis? pikiran buruk itu datang lagi. Mentari gemetar saat merasakan ikatan dipergelangan tangannya dibuka. Sedangkan Awan nampak geram,melihat tangan Mentari yang merah karena ikatannya terlalu kencang. Ia buka lagi ikatan kakinya,dan ia temukan pula hal serupa. Pergelangan kaki Mentari juga memerah. Sekarang ia lepaskan penutup mulut Mentari.
"Ampuni saya Pak,Tuan,Om, atau siapapun anda. Saya cuma gadis miskin,kumel ,dekil dan sudah tidak perawan lagi",cerosos Mentari begitu lakban terbuka. Awan sampai menahan tawa karena perkataan Mentari. Tapi sempat ada yang mengganggu pikirannya,apa benar yang dikatakan Mentari bahwa dia sudah tidak perawan? Ah,perawan atau bukan,Awan akan tetap mencintainya.
"Tolong saya,lepaskan saya"lirih Mentari. Kalau saja matanya tidak tertutup kain,pasti air matanya sudah mengalir deras.
Awan merasa sakit hatinya melihat Mentari seperti ini,tapi mau gimana lagi. Kalau dia melepaskan Mentari,rencananya pasti akan gagal. Dia saja tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Mentari nanti. Tapi,dia akan berusaha sekuat yang ia bisa untuk meluluhkan Mentari lagi.
"Lepaskan saya Tuan". Hati Awan kembali mencelos. Namun,ia tetap diam seribu bahasa. Apa yang sudah direncanakannya harus berhasil malam ini.
***
Mentari terbangun dari tidurnya kala ia dibangunkan oleh seseorang. Orang tersebut menuntun Mentari menuju suatu tempat. Tempat dimana Awan telah menunggu disana. Bisa ia rasakan semilir angin malam yang berhembus disekitarnya. Ia tak bisa memastikan tempat apa itu,tapi yang jelas itu adalah ruangan outdoor.
Perlahan Awan melepas ikatan penutup mata Mentari. Mentari terlihat pasrah dan lemas.
"Syukurlah om disini. Om pasti mau nyelametin aku kan? Mereka semua orang jahat Om. Mereka menculik aku. Aku mau dijual, diperkosa terus dibunuh dan diambil organ tubuhku Om.Mereka sindikat perdagangan manusia", pelukan Mentari sangat erat, gadis itu benar-benar ketakutan. Awan iba meskipun kini ia menahan tawa akibat rancauan Mentari yang terlalu lebay.
"Hahahahahha......",Indra terbahak tiada henti mendengar Mentari. Membuat Mentari melepas pelukan Awan dan menoleh ke Indra.
"Kenapa Om Indra ketawa? Kalian tahu dari mana aku diculik?",Mentari mulai sedikit mampu mengendalikan pikirannya.
"Eh Mentari! Yang kamu bilang orang jahat yang menculik kamu itu adalah mereka", Indra menunjuk beberapa orang berbadan besar dan berwajah bengis. "Kamu tahu siapa dalang dibalik penculikan kamu?"
Mentari menggeleng,ia masih bingung dengan keadaan. Kenapa orang-orang menyeramkan itu terlihat segan dengan Indra. Jangan-jangan.....
"Ya, kamu pasti pintar menganalisis bukan? Orang yang ada dibalik kejadian ini adalah aku", Indra berbicara dengan entengnya. Sementara wajah Mentari sudah nampak berubah,terkejut dan mulai mulai muncul tanda-tanda kemarahannya.
Awan menghela napas lemah,ia hanya pasrah menyaksikan itu semua. Pasti Mentari marah besar setelah ini. Dan ia harus menyiapkan segala cara meredam kemarahan Mentari.
"Eits...Tunggu dulu!",ucap Indra saat melihat kemurkaan di wajah Mentari. "Penjahat sebenarnya bukan aku. Aku hanya menjalankan tugas. Penjahat sesungguhnya adalah Awan",Indra bukannya membantu momen ini jadi romantis,tapi malah merusaknya.
"Apa?!",Mentari terkejut, kenapa Awan jadi jahat? Pikirnya.
"Iya. Ini semua rencana Awan,pacar kamu sekaligus bossku. Gimana?",Indra menaikkan satu alisnya.
Mentari berbalik menatap Awan, mengisyaratkan bahwa ia meminta penjelasan darinya. Awan hanya bisa tersenyum kikuk. Bangsat si Indra! Bisa-bisanya dia memperkeruh keadaan. Lihat aja liburan lo bakalan batal kalau sampai Mentari marah.
"Jelaskan Om!",tegas Mentari.
"Emmm...Begini....",Awan masih bingung memulai dari mana. "Kita duduk dulu aja", sudah terlanjur rusak momen romantis yang ia rencanakan.
Mentari menurut saat Awan menuntunnya duduk disebuah kursi dengan meja yang penuh hidangan mewah. Belum lagi lilin-lilin yang menambah kesan romantis tempat itu. Rupanya Mentari baru menyadari keadaan sekitarnya. Dia terlalu sibuk dengan rasa takut dan keterkejutannya.
"Maafkan aku harus memakai cara seperti ini", Mentari terkejut lagi saat melihat Awan sudah berlutut disampingnya. Menggenggam tangannya. Namun ia masih diam mencerna semuanya.
"Aku nggak tahu lagi gimana mendatangkan kamu kesini". Mentari masih diam,membiarkan Awan berbicara."Semua ini memang rencanaku membuat surprise party untukmu. Selamat ulang tahun Baby". Ucapnya lembut.
Mentari sempat terhanyut karena ternyata Awan ingat hari ulang tahunnya. Awan mengeluarkan kotak berisi cincin dan memasangkan di jari manis Mentari. Lantas ia cium dengan dalam tangan itu,mengantarkan seluruh rasa sayangnya kepada gadisnya itu.
Mentari tersadar, ia menarik tangannya tiba-tiba dari genggaman Awan. Ya,ini salah. Awan adalah kesalahannya.