
"Kak Arka siang bolong kayak gini marah-marah sama siapa?" Mentari bertanya-tanya sembari jalan menuju sumber suara
Tidak berbeda jauh orang tua mereka yang istrahat ikut keluar kamar menuju sumber suara.
Mentari sampai disana bersamaan dengan orang tua mereka
"Kakak kenapa marah-marah?" Tanya Mentari penasaran karena dari kamar sudah terdengar jelas kalau suaminya itu marah
"Iya, kenapa Arka?" Tanya ibu Dewi, "kami kaget loh, soalnya ibu gak pernah dengar kamu marah seperti ini sebelumnya"
"Maaf ya, saya hanya kesal sama Brian" jawabnya sambil menaruh ponselnya diatas meja
"Kesal, kenapa bapak Brian dimarahi?, kak Arka jahat bangat sih" ucap Mentari yang membuat suaminya kaget dengan sedikit ternganga
"Dia asisten dek, saya suamimu"
Mentari menatap suaminya dengan tajam, "kalau kakak marah sama bapak Brian lagi, Mentari diam seribu bahasa"
"Lho...lho...lho, kenapa kayak gini?" Arka bingung dengan ucapan Mentari sambil menoleh kearah kedua orang tua mereka dengan ekspresi minta bantuan
"Mood ibu hamil memang seperti itu Arka, jadi suami harus sabar" ucap ibu Dewi, "itu ada yang klakson diluar, siapa?" sambungnya dengan pertanyaan
Mentari dan Arka menggeleng tidak tau, "apa mungkin Brian tapi gak mungkin klakson" batin Arka
"Kami kembali istrahat yaa, sebab sore nanti sedikit belanja" pamit ibu Dewi
Ibu Anita sebelum kembali kekamar terlebih dahulu memeluk anaknya itu
"Gak baik ibu hamil marah lho, nanti anaknya jelek.. hehehe" ucap ibu Anita
"Jelek?, kayak kak Aldi?.. ihh amit-amit, gak mau" ucap Mentari sambil mengusap perutnya yang masih rata
Ibu tetua kembali kekamar sementara Mentari menyusul suaminya menuju pintu rumah, dan Mentari yang penasaran ia hendak membuka pintu
"duduk aja, nanti kakak yang buka pintunya" ucap Arka dan Mentari pun mengangguk lalu ia duduk sambil menunggu tamunya itu
"Al..." Panggil Arka sambil membuka pintu karena ia kira Aldi
"Santi" sambungnya
"Kak Arka, emang aku gak diajak masuk nih?" Tanya Santi, setelah lama ia berdiri tanpa dipersilahkan masuk oleh pemilik rumah
Sedangkan Mentari penasaran siapa yang datang itu, "kak Arka siapa yang datang?" Tanyanya sedikit teriak lalu ia mengikuti suaminya kearah pintu, baru ia berdiri sudah melihat perempuan dan suaminya jalan bersamaan
"Kak Santi" Mentari sedikit kaget
"Iya dek.. apa kabar?" Tanya Santi yang masih berdiri, lagi-lagi tidak dipersilahkan untuk duduk
"Alhamdulillah baik kak, kalau kak Santi sendiri?" Tanya balik Mentari
"Baik.. ekhem, apa aku gak dipersilahkan duduk. Aku ini tamu lho disini" Sindir Santi
"Ohh iya.. hehehe.. maaf ya kak, silahkan duduk kak" Mentari mempersilahkan Santi itu dengan sopan dan tidak lupa pamit untuk kedalam dengan tujuan untuk menyuruh ARTnya bawakan minum untuk Santi
"Mbok, bawa air minum didepan satu ya mbok"
"Ada tamu ya?" Tanya ART
"He..em" jawab Mentari lalu ia minum dan kembali diruang tamu
Sedangkan Santi terus menatap Arka, "kak Arka gak ada niat gitu untuk poligami?" Tanya Santi yang membuat Arka menatap Santi dengan tajam lalu menoleh tempat lain
"Kamu jangan pernah mengatakan poligami apalagi didepan Mentari" Arka tegas
"Waow, sejak kapan kak Arka takut istri?" Tanya Santi lagi dengan sedikit mengejek
"Saya bukan takut istri tapi saya sangat sayang istri saya, jadi sekarang pulang atau tunggu diusir, tinggal pilih?" tanya Arka dengan nada dingin
Mentari yang tidak tau apa-apa dan polosnya selalu memandang semua orang adalah baik selain Santi
"Kakak kenapa?" Tanya Mentari setelah melihat Arka dengan rahang yang mengeras menahan emosi
"Ini lho dek, masa aku tanya tentang poligami langsung marah, padahal aku hanya sekedar tanya saja gak lebih, tapi kak Arka malah bereaksi lebih" Santi mencoba membuat Mentari percaya padanya dengan gaya bahasa yang ia buat seakan pertanyaannya itu hal biasa tanpa ada maksud tertentu
"Ohh gitu, kak Santi mau jadi istri kedua?, Ihh gak baik tau selain dibilangin perusak hubungan orang, bisa juga dibilang pelakor atau orang ketiga.. tau gak kak Santi orang ketiga diantara dua orang?" Tanya Mentari dan spontan Santi menggeleng tidak tau
"Setan kak, ihhh seram lho kak. Jangan mau yaa kak jadi istri kedua, emang mau dibilangin nenek sihir" ucap Mentari lagi sambil menatap Santi dengan sedikit menerawang, "kak Santi bangkrut yaa sehingga mau jadi istri kedua?, Jangan korbankan diri kak Santi" Mentari mengingatkan Santi
Arka malah memijit pelipisnya pusing menghadapi dua wanita ditambah lagi perutnya lapar dan Brian belum datang sampai sekarang.
ARTnya datang dengan nampan berisi teh dan kue lalu menaruhnya diatas meja
"Silahkan diminum" Mentari mempersilahkan Santi
"Terima kasih tapi tidak usah.. Assalamu'alaikum" pamit Santi lalu ia pergi
"Wa'alaikumussalam" jawab Mentari pelan dan lambat dengan menoleh kearah Arka tepat disampingnya, "dia kenapa?"
Arka berdiri dan menaikkan pundaknya pura-pura tidak tau lalu ia pergi meninggalkan Mentari.
Sedangkan Brian baru merampungkan semua pesanan Arka dan sekarang jalan menuju kediaman Arka, sepanjang perjalanan Brian yang notabenenya tidak banyak bicara sekarang sudah mulai tertular cerewetnya Mentari. Tidak menggunakan waktu lama, Brian sampai dirumah bos-nya itu
"Assalamualaikum" ucap Brian sambil ketuk pintu
Mentari membukakan pintu untuk Brian, "wa'alaikumussalam bapak Brian"
"Bos ada?" Tanya Brian lagi
Mentari bukan menjawab malah ia senyam-senyum kepada Brian yang membuat Brian salah tingkah dibuatnya.
"Kenapa nona senyam-senyum?" Tanya Brian lagi
"Bapak Brian tau gak?" Tanya Mentari lagi
Brian yang mendengar itu malah menggaruk tengkuknya bingung, tau dari mana bertanya saja belum
"Gak tau nona" jawab Brian sekenanya
"Ihhh bapak Brian gak asik bangat.. Mentari sebenarnya gak bisa ketemu laki-laki tapi kenapa kalau ketemu bapak Brian aku gak mual" ucapnya dengan pikir
Arka yang sudah duduk anteng tepat dimeja makan menunggu makanan yang dibawa Brian, tapi anehnya sampai kesabarannya mulai habis dan lutut seakan sudah gemetar karena lapar, pesanannya belum sampai juga
Arka sudah membulatkan tekadnya keluar sendiri dan sebisa mungkin Mentari tidak ikut. Dengan kunci mobil ditangannya jalan santai menuju pintu, belum sampai dia sudah dimanjakan dengan suasana yang lucu.
Arka melihat Brian lagi duduk disofa dengan muka pasrah dan Mentari lagi dandanin Brian layaknya perempuan. Arka tidak bisa tahan tawa, ia menghampiri keduanya
"Dek, kamu ngapain asisten Brian?" Tanya Arka dengan pura-pura namun tergambar jelas diwajahnya apalagi disudut bibirnya seakan mau lepas tawa
"Didandani supaya cantik lah kak, takutnya kalau lama-lama lihat muka bapak Brian mual" jawan Mentari dengan serius sambil memasang bulu mata palsu
Mentari begitu telaten mendandani Asisten Brian, ia begitu bangga dengan hasil riasannya namun tidak untuk Brian. Brian begitu tersiksa dengan bulu mata palsu yang ia kenakan, membuka mata pun begitu sulit
"Kenapa saya baru sadar ternyata asisten Brian ini lebih cocok jadi perempuan" ucap Arka spontan
"Nah, iyakan kak" Mentari membenarkan ucapan suaminya itu sambil menambahkan bedak diwajah Brian, "bapak Brian gerah ya? Jadi bedaknya luntur kayak gini"
"Suamiku, tolong panggil mbok untuk bawa kipas kecil" sambung Mentari lagi, Brian langsung menolak dengan halus
"Gak usah nona, saya jadi gak enak"
"Santai bapak Brian, saya senang dandanin orang kayak gini.. feeling aku itu benar kalau bapak Brian itu cocoknya jadi perempuan"
Mentari semakin dibenarkan oleh suaminya semakin senang, sedangkan Arka sudah kembali dengan kipas angin mininya untuk Brian
"Ambil, bikin repot saja"
"Suami ku tidak boleh seperti itu" larang Mentari kepada Arka
"Iya iya,.. asisten Brian mana pesanan saya?" Tanya Arka
"Ada sama mbok tadi, berarti dimeja makan dong kak" jawab Mentari
"Saya tanya asisten Brian dan tadi panggil suami sekarang panggil kakak lagi" protes Arka
"Bapak Brian gak bisa bicara, lipstiknya berat.. hehehe"
"Ohhh.. lanjutkan dek, saya makan dulu dan asisten Brian selamat menikmati.. cantik kok, sempurna" puji Arka sambil mengangkat kedua jempolnya
Mentari yang melihat itu menjawabnya dengan senyum bahagia, "tidak sia-sia aku dandanin bapak Brian, ini baru pertama loh bapak Brian dan hasilnya memuaskan, dan suami saya suka.. aaahhaaa padahal aku mikirnya kak Arka akan marah dandanin asistennya ternyata enggak, alis bapak Brian ini berantakan, apa aku cukur saja ya" Mentari mulai berpikir sedangkan Brian sudah mulai gelisah mendengar ucapan istri bosnya itu
"Nona, apa masih lama?" Tanya Brian, "aku harus cari alasan, masa iya aku sulam alis setelah dibotakin..ihhh" batin Brian dan tidak sadar ia bergidik ngeri
"Belum dong, alis dan rambut belum disentuh sama sekali" Mentari mulai mengambil sisir alis
"Ini untuk apa?" Tanya Brian lagi bingung setiap Mentari mengambil alat make-up, ia sangat asing dengan alat tempur perempuan
"Sisir alis"
"Oohhh"
"Kenapa?"
"Tidak, saya hanya lelah seharian kerja dan mata saya sekarang tidak bisa di buka ditambah mulut terus menganga" kilah Brian dengan memasang wajah sedih agar Mentari mengasihaninya
"Buka mata dong bapak Brian dan bibirnya dirapatin nanti masuk lalat.. percaya sama Mentari nanti lama-kelamaan bapak Brian akan terbiasa"
Brian ingin teriak dan menangis saat, hancur wibawa seorang laki-laki yang dia bangun selama ini, "dosa apa yang hamba perbuat selama ini ya Allah" membatin
Setelah sekian lama memejamkan mata sekarang Brian berusaha untuk buka mata. Mentari melihat itu langsung bertepuk tangan senang
"Yeeee... Bapak Brian sudah buka mata, seperti mata korea,, sipit" puji Mentari, "ini" sambung Mentari memberikan cermin kepada Brian
Brian menerima cermin itu dengan hati yang deg-degan bukan main sedangkan Mentari senyum diwajahnya tidak luntur
"Bapak Brian pasti suka..." Ucap Mentari lagi
Sedangkan Brian melihat wajahnya lewat cermin itu, hatinya teriris dan seakan ia ingin menangis saat itu juga. Brian menepuk wajahnya berharap ini hanya mimpi
"Bapak Brian kenapa wajahnya ditepuk" Tanya Mentari
Brian hanya menoleh melihat Mentari sekilas lalu ia kembali menepuk wajahnya dengan sedikit keras
"Aaow sakit, berarti saya gak mimpi" gumamnya Brian lagi
"Bapak Brian mimpi apa sih?" Tanya Mentari lagi
"Tidak nona, apa ada tisu basah untuk lap wajah nona?" tanyanya lagi
"Gak bisa bapak Brian, itu permanen" jawab Mentari asal
"Maksud nona ini tidak terhapus?" Tanya Brian dengan wajah yang sudah ia tekuk dan Mentari dengan cepat menganggukkan kepala
"Lipstiknya 2 hari baru bisa hilang"
Brian menjerit dalam hati, "nona kenapa memakaikan lipstik itu, terus gimana kalau aku ke kantor?" Tanya Brian dan sekarang dia seakan sudah menyerah dengan perlakuan istri bosnya itu
"Masker... Bapak pakai masker" usul Mentari
Brian hanya menghela napas mendengar usulan istri bosnya itu, memang masuk akal pakai masker tapi tidak mungkin selama dua hari tidak buka masker
"Apa gak bisa dicuci pakai air nona?" Tanya Brian lagi pusing dengan model ondel-ondelnya saat ini
"Bapak ini wajah bukan baju dicuci pakai air segala, bapak Brian bercandanya gak masuk akal" ujar Mentari lagi yang membuat Brian hanya pasrah dan bersandar disofa sambil memejamkan mata
Sedangkan Arka setelah selesai makan, ia kembali menemani istrinya di ruang tamu. Berbeda dengan Brian yang sudah pasrah dengan hidupnya hari ini maka ia memutuskan untuk memejamkan mata sejenak menetralkan perasaannya.
Begitupun dengan Arka lantaran kenyang hanya mampu duduk diam dan ikut memejamkan mata
Berbeda dengan para tetua yang sudah keluar hendak pamit pulang. Ibu Dewi dan Anita dikagetkan dengan wajah Brian yang sudah di makeover
"Ohh my God... Siapa ini?" Tanya Dewi yang tidak tau kalau itu asisten anaknya
"Bapak Brian" jawab Mentari dengan cepat yang membuat Brian dan Arka membuka mata bersamaan
"Sayang.." panggil ibu Anita kepada putrinya itu tapi jauh dari lubuk hatinya ia ingin sekali ketawa, "kenapa asisten Brian di dandanin seperti ini?" Sambungnya
"Suka aja sih bun, tapi kak Arka dukung kok... kak Arka tadi bilang kalau bapak Brian cantik seperti ini"
...SEMOGA SUKA ❤️...
...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😉...