
Mentari merasa jika suaminya sedang demam dengan suhu tubuhnya Arka semakin tinggi, hingga ia mengambil handuk basah dan mulai meletakkannya di atas dahi Arka. Tubuh Arka seketika menggigil karena karena merasa kedinginan.
"Ya ampun Kak, badan Kakak makin hangat," Mentari semakin panik saat merasakan tubuh hangat Arka mulai mengeluarkan keringat dingin, ia berniat turun dari ranjang namun tanpa di duga Arka memegang lengannya. Mentari bingung dan melihat lengannya yang di pegang Arka.
"Di sini saja," pinta Arka.
"Tari cuman mau minta Kak Radit ke sini, buat periksa keadaan Kakak," jawab Mentari.
"Tidak usah," Arka tidak ingin Mentari lepas dari pandangan nya walaupun hanya satu detik saja, ia sangat takut apa yang ia mimpikan tadi malah benar-benar terjadi. Arka bisa benar-benar tidak bernapas jika mimpi buruk itu berubah menjadi nyata.
"Tapi Kak," Mentari berusaha meyakinkan Arka, jika ia hanya sebentar saja tapi Arka malah menggeleng dan tidak ingin di tinggalkan oleh Mentari.
"Kakak tidak apa, Kakak cuman mau kamu disini," pinta Arka lagi dengan wajah pucatnya.
"Huuuufff....." Mentari menarik napas dengan panjang, kemudian ia kembali duduk di atas ranjang sambil memegang handuk basah yang ia letakkan di kepala Arka. Sementara Arka memeluk pinggang Mentari dengan erat, ia tidak ingin Mentari menjauh darinya. Semakin lama Mentari semakin tidak tenang, karena demam Arka semakin tinggi dan tubuh nya semakin menggigil. Akhirnya Mentari mengambil ponselnya, dan mulai mencari nomer ponsel Rembulan di sana.
Rembulan yang masih berdiri di depan pintu seperti orang bodoh, mendadak bingung harus melakukan apa.
"Ulan kamu sedang apa di sana, nanti kamu merasakan lelah lagi...." kata Radit.
Radit tahu Rembulan tengah bingung, dan ia merasa canggung akan adanya diri nya di kamar itu. Tapi mau bagaimana lagi keduanya kini memang suami istri, padahal dulu mereka sering berdua dalam satu ruangan. Bahkan sering pergi untuk berdua saja dalam mencari tugas sekolah. Tapi tidak ada sama sekali kecanggungan sangat berbeda sekali dengan kali ini.
"I....iya," Rembulan berusaha tenang kemudian ia berjalan menuju sofa, dan ingin duduk.
"Kamu kenapa di sana, kemari.....tidur di sini," Radit menepuk kasur yang tadi tempat berbaring Rembulan.
"Aku di sini aja ya Dit," Rembulan tidak berniat untuk menghindari Radit, tapi entah mengapa ia malah berkeringat bila di dekat Radit dan semua suasana seakan menjadi horor.
"Kenapaasih?" Radit turun dari ranjang, ia mendekati Rembulan, "Biar aku yang di sofa, kamu naik ke atas ranjang," Radit mengerti dengan Rembulan, dan ia lebih memilih untuk di sofa untuk sementara waktu sampai Rembulan mulai terbiasa dengan dirinya.
"Aku disini aja, kamu aja yang di ranjang," tolak Rembulan, ia tidak ingin bersikap tidak menghargai Radit. Tapi sulit sekali untuk bisa menjadi pasangan suami istri pada umumnya untuk saat ini, bahkan Rembulan masih sangat shock karena Radit kini menjadi suaminya.
"Ayo," Radit memaksa, bahkan ia dengan cepat mengangkat Rembulan.
"Radit," Rembulan tersentak, dan tidak menyangka jika Radit menggendong dirinya. Karena panik Rembulan dengan refleks melingkarkan tangannya di leher Radit.
Rembulan menutup mata, seiring dengan tubuhnya yang di turunkan Radit perlahan di ranjang. Ia tidak berani membuka mata sebelum Radit pergi menjauh darinya, rasanya sangat aneh sekali bila wajah Radit begitu dekat dengan nya.
"Kamu kenapa?" tanya Radit. Ia tahu Rembulan tengah menahan malu berdekatan dengan nya, "Mengharapkan yang lainnya?" Seloroh Radit.
Rembulan seketika membuka mata saat mendengar godaan Radit, ia terkejut karena apa yang di katakan Radit.
"Tidak apa," Radit tersenyum, karena ternyata Rembulan bisa bertingkah aneh juga. Sebab selama ini Rembulan terlihat sempurna dengan sikap dewasanya.
Rembulan diam dan kebingungan, hingga terdengar suara ponsel miliknya berdering.
Dret dret dret.
Rembulan melihat ada nama Mentari di sana, kemudian ia menjawab panggilan itu.
"Apa?!" jawab Rembulan. Karena keduanya memang terlihat ketus saat berbicara.
"Kak, ada Kak Radit nggak?" tanya Mentari di seberang sana.
Seketika Rembulan melihat pada Radit yang sudah duduk di sofa, "Ada,' jawab Rembulan.
"Kak, bilangin sama Kak Radit dong buat periksa keadaan Kak Arka," pinta Mentari dari seberang sana.
"Kak Arka demam Kak," jawab Mentari lagibdari sebelah sana.
"Iya udah bentar Kakak bilangin dulu ya," jawab Rembulan yang terus menatap Radit.
"Iya Kak, buruan ya Kak," pinta Mentari lagi, karena ia benar-benar khawatir akan suaminya.
Rembulan langsung memutuskan panggilan itu, "Dit, Tari bilang Arka demam....dia minta kamu buat periksa keadaannya," ujar Rembulan.
Radit hanya diam sambil terus menatap Rembulan, ia mendengar apa yang di katakan oleh Rembulan. Tapi ia lebih memilih untuk diam dan menunggu Rembulan selesai berbicara.
"Dit," Rembulan menaikan nada bicaranya, karena Radit belum bersuara apa lagi bergerak dari tempatnya.
"Ternyata ada juga yang berani mendekati Arka," ujar Radit.
"Maksudnya?" tanya Rembulan bingung.
"Selamat ini semua takut padanya, tapi sepertinya demam itu adalah yang memiliki banyak kekuatan hingga bisa menyerang Arka," jawab Radit.
"Hehehe....." Rembulan terkekeh mendengar gurauan Radit, "Ada-ada saja kamu Dit."
"Lan kita ini suami istri bukan sahabat lagi, tidak bisakah kamu memanggil ku lebih baik?" tanya Radit.
"Em.....iya, tapi sekarang kamu periksa keadaannya Arka dulu gih.....kasihan," kata Rembulan.
"Kasihan?"
"Emmmm.... kasihan Mentari yang kayak nya panik banget," jelas Rembulan.
"Lan, panggil aku Abi dong," pinta Radit.
"Abi?" tanya Rembulan sedikit terkejut.
"Iya Umi," seloroh Radit, padahal tahu tadi Rembulan berniat bertanya bukan tengah memanggil nya.
Wajah Rembulan memerah saat Radit memanggil nya dengan panggilan Umi.
"Lan kita pacaran yuk, biar bisa saling mengenal.....anggap saja ini kita mulai semuanya dari nol, kita mulai untuk saling berdekatan dengan cara hubungan yang baru," pinta Radit.
"Kita kan udah nikah Dit, kok ngomongin pacaran?" tanya Rembulan bingung.
"Apa kamu udah siap menganggap aku suami mu dengan selayaknya suami?" tanya Radit dengan serius.
Glek.
Pertanyaan Radit seketika membuat Rembulan sulit untuk meneguk saliva, jujur saja butuh waktu dan proses untuk semua itu.
Radit tahu Rembulan belum bisa dengan itu semua, "Bagaimana?" tanya Radit lagi, bangun dari duduknya dan berjalan kearah Rembulan.
"Iya udah iya," jawab Rembulan mengangguk, tidak ada salahnya untuk belajar berdekatan dengan Radit seperti pasangan pada umunya. Lagi pula Rembulan merasa tidak ingin jauh-jauh dari Radit, mungkin karena kehamilan nya.
Cup.
Radit langsung mengecup pucuk kepala Rembulan lalu keluar dari kamar, Karena ia sekarang mau memeriksakan keadaan Arka.
Rembulan masih diam mematung, karena ia terkejut dengan apa yang di lakukan Radit barusan.