
Keesokan harinya keadaan Arka sudah lebih baik, akan tetapi ia masih tidak di ijinkan oleh Mentari untuk pergi bekerja. Arka hanya menurut saja, karena ia memang masih merasa terlalu lelah.
"Kakak tidur lagi ya," kata Mentari setelah ia memberikan obat untuk di minum Arka, "Biar cepat sembuh," tangan Mentari menarik selimut untuk Arka agar menyelimuti tubuh suaminya.
"Kakak mau tidur di temani sama kamu," pinta Arka.
"Tapi Kakak juga pengen bubur buatan Tari."
Beberapa saat lalu Arka meminta di buatkan bubur, tapi harus istrinya yang membuatkan untuk nya. Tapi sekarang Arka juga ingin ditemani tidur, hingga Mentari bingung harus melakukan yang mana.
"Kakak pengen dua-duanya," pinta Arka.
"Iya udah tidur dulu.....nanti kalau Kakak udah nyenyak Tari baru turun dan bikinin Kakak bubur nya," kata Mentari.
Mentari duduk di atas ranjang dengan miring, dan menyisir rambut Arka dengan jari-jari nya layaknya seorang ibu yang tengah menidurkan anaknya. Sedangkan Arka mulai menutup mata dan melingkarkan tangannya di pinggang Mentari. Hingga akhirnya Arka tertidur dengan lelap, mungkin karena pengaruh obat hingga ia sangat mudah tertidur.
Dengan hati-hati Mentari menjauhkan dirinya dari Arka, setelah itu ia turun dengan gerakan pelan agar Arka tidak terbangun. Apa lagi kalau sampai menganggu tidur lelapnya. Setelah merasa aman Mentari keluar dari kamar, ia mulai menuju rumah kedua orang tuanya karena akan meminta Mama Ranti atau pun Kak Ulan untuk mengajarinya cara membuat bubur. Sebab Mentari sangat awam dalam memasak.
"Assalamualaikum....." seru Mentari saat ia memasuki rumah orang tuanya.
"Waalaikumusalam," jawab Rembulan.
"Cerah banget itu wajah Kak," Seloroh Mentari. Karena ia bisa melihat wajah Rembulan dengan sedikit cahaya kebahagiaan, "Abis ngapain semalem?" tanya Mentari.
Rembulan langsung memanyunkan bibirnya, karena adiknya itu sangat suka sekali bertanya hal aneh, "Apaansih lu dek!!!"
"Emmmm," Mentari menyenggol punggung Rembulan, "Bau shampoo, wangi banget sih....." celetuk Mentari lagi.
Peltak.
Tangan Rembulan menyentil dahi adiknya itu, "Nggak usah mikir aneh-aneh!" ketus Rembulan karena memang tidak ada yang terjadi, tapi entah mengapa ia senang saat Radit menemaninya tidur malam ini. Walaupun Radit tidur di sofa, tapi paling tidak ia bisa melihat Radit yang berdekatan dengan nya. Sampai perlahan ia membiasakan diri dengan terus bersama Radit, "Kamu ngapain kesini Dek?"
"Caelah Kak, ini juga rumah Mama aku....." kesal Mentari, karena merasa Rembulan tidak suka ia ada di sana.
"Bukan gitu Dek, sensi sekali Bumil," ujar Rembulan sambil mengibaskan tangannya, "Maksud aku, Arka kan lagi sakit....tapi kenapa kamu kesini nggak temanin dia," jelas Rembulan menjelaskan maksud pertanyaan.
Mentari langsung ingat maksudnya mendatangi rumah kedua orang tuanya, "Hampir aja aku lupa Kak," Mentari mengetuk kepalanya, karena asik menggoda Rembulan ia malah lupa dengan maksudnya, "Kak ajarin aku bikin bubur dong, Kak Arka minta aku bikini soalnya," pinta Mentari, "Atau nggak Tari bikinnya di ajarin Mama aja kali ya."
"Mama sama Tante Linda tadi keluar."
"Kemana Kak?"
"Ke pasar, kata Mama.....Tante Linda pengen diajarin sama Mama masak jengkol," kata Rembulan.
"O," Mentari mengangguk, "Ya udah Kakak aja yang ajarin Tari ya."
"Iya."
Kedua bumil itu langsung berjalan menuju dapur, Rembulan mulai menunjukkan bahan-bahan untuk membuat bubur dan Mentari yang mengerjakannya. Mentari merasa aroma bubur yang ia masak sangat tidak enak, hingga ia dengan cepat berjalan ke kamar mandi.
"Assalamualaikum," terdengar suara Ranti yang datang bersama dengan Linda, keduanya sudah pulang dari pasar.
Walaupun Ranti dan Linda berasal dari keluarga berada tetap saja keduanya sangat suka sekali belanja di pasar, dengan alasan selain murah juga sangat segar sekali.
"Waalaikumusalam, Ma....Tante," kata Rembulan tersenyum.
"Hueeekk..... huuueeekkkk....."
"Itu Tari yang muntah Kak?" tanya Ranti.
"Iya Ma, Arka minta di bikinin bubur buatan Mentari, Mama tahukan kalau Tari nggak bisa cium bau makanan dia bisa langsung muntah-muntah," kata Rembulan yang merasa kasihan melihat keadaan Mentari.
Linda cepat-cepat menyusul Mentari ke kamar mandi, ia kasihan bila melihat Mentari sudah muntah-muntah. Karena selain lama Mentari juga akan merasa sangat lemas setelah nya.
"Tari kamu lemes Nak?" tanya Linda sambil tangannya memijat leher Mentari.
"Enggak Mi," Mentari menggeleng, ia mencuci mulutnya dan mengambil tisu, "Tari cuman mual aja kok," jelas Mentari lagi karena mertuanya itu terlihat begitu khawatir pada dirinya.
"Mami saja yang buat bubur untuk Arka," tawar Linda.
"Nggak usah Mi, makasih....tapi Kak Arka mintanya buatan Tari sendiri."
"Tapi kamu lemas begini dan bisa muntah-muntah kalau mencium bau makanan,."
"Nggak kok Mi, lagian Tari juga pengen pinter masak.....biar bisa masakin buat Kak Arka juga," kata Mentari sambil tersenyum pada Linda.
"Iya sudah," Linda merasa Mentari tetap tidak akan mau menerima bantuannya, hingga Linda ikut saja dengan keinginan Mentari.
Ranti keluar dari kamar mandi begitu juga dengan Mentari, karena harus kembali melanjutkan buburnya yang hampir selesai.
Dengan menahan bau dan banyaknya perjuangan akhirnya bubur cinta buatan Mentari sudah selesai, Linda sampai terharu melihat kesungguhan Mentari. Padahal sudah jelas jika Mentari tidak bisa mencium aroma makanan, tapi berkat kegigihan nya ia berhasil sampai akhirnya sudah tertata dengan baik di atas napan.
"Jadi deh," Mentari tersenyum bahagia, karena usahanya tidak sia-sia.
"Masakan perdana ya Dek," seloroh Ranti.
"Perdana?" tanya Linda yang berdiri di samping Mentari.
"Iya lho Jeng, Mentari mana mau di suruh masak....bikin mie instan aja di minta bikinin Sum," ujar Ranti, "Demi suami ya dek," kata Ranti menggoda putri bungsunya dengan kini banyak perubahan.
"Ish....Mama, Tari malu tau Ma," kata Mentari, sebab ada Linda di sana. Bagaimana pun Linda adalah mertuanya.
"Kenapa?" Linda memegang lengan Mentari, "Mami bersyukur dan terharu sekali, kalaupun kamu tidak bisa memasak tapi kamu sudah berusaha begini," kata Linda sambil memegang tangan di dada, sungguh Linda sangat beruntung memiliki menatu yang begitu mencintai putra semata wayangnya. Walaupun Mentari banyak kekurangan, tapi ia tetap mau belajar untuk menjadi istri yang tebaik.
Mentari tersenyum, dan ia benar-benar malu di puji oleh Linda. Rasanya seperti sangat tidak mungkin sekali ada yang memujinya tentang memasak yang dulunya sangat ia benci. Namun karena demi Arka kini ia mencoba untuk belajar, dan mulai mengerti tentang kewajiban nya sebagai seorang istri.