
Pagi ini Mentari bangun cepat-cepat, karena ia harus kuliah. Di tambah lagi ia kini harus mengurus suami manjanya yang tampan itu, semakin hari Arka semakin manja saja. Apa lagi kini Arka makan saja harus di suapi oleh istri bocahnya.
"Kak Tari nggak kuat bau makanan nya," Mentari menutup mulutnya, dan cepat-cepat meletakan piring di tangannya pada meja makan. Sedangkan ia langsung berlari menuju kamar mandi, "Hueeekk.... hueeekk.... hueeekk....." Mentari terus muntah-muntah di sana.
"CK....." Arka melihat Mentari sangat kasihan, tapi ia pun hanya ingin di suapi Mentari saja.
Akhirnya Mentari kembali dan berdiri di dekat Arka, "Kak Tari beneran nggak kuat...."
Arka mengangguk, "Kakak makan sendiri saja, tugas nyiapin makannya di ganti ya," ujar Arka sambil menutupi nasi pada mulutnya.
"Ganti?"
"Iya, kamu sekarang bantuin Kakak pakek baju aja," kata Arka santai.
Mentari melebarkan matanya, suaminya itu selalu punya ide untuk membuatnya bekerja, "Nggak sekalian mandiin Kakak juga," kata Mentari memutar bola matanya dengan jenuh.
"Ide bagus!" jawab Arka, "Itu juga menjadi tugas kamu!" kata Arka lagi sambil menaik turunkan kedua alis matanya.
"Hah....." Mentari melongo dan ia sungguh menyesal sudah mengatakan itu, yang malah menjadi bertambah tugasnya. Bukan nya Mentari tidak mau, tapi ada banyak tapinya di sana dan ia tidak boleh berhubungan dulu dengan Arka. Karena kandungannya yang memang belum kuat.
Tapi Arka seperti tidak mau tahu akan hal itu, kadang Arka menahan tapi karyawan nya yang menjadi sasaran kemarahannya. Hingga Mentari harus meluluhkan hati Arka dan berakhir dengan ranjang hangat.
"Bos," Dimas yang baru saja datang langsung duduk di kursi meja makan, ia bahkan langsung meneguk jus buatan Mentari untuk Arka.
"Apa yang kau lakukan!" Arka kesal karena Dimas meneguk minumannya, "Itu jus ku, buatan istri ku!"
"Bos," Setelah Dimas meneguknya ia kembali meletakan gelas kosong nya di depan Arka, "Untuk kali ini tidak usah marah ya bos," Dimas menunjukan wajah sedihnya.
Arka bersandar, dengan cepat ia menarik Mentari untuk duduk di pangkuan nya, "Kau kenapa?" tanya Arka.
"Aku gagal kawin bos...." lirih Dimas dengan wajah bersedih.
Mentari langsung merasa iba pada Dimas, sedangkan Arka malah tersenyum.
"Bos bahagia?" tanya Dimas yang melihat exspresi dari Arka.
"Iya, kau kan sudah sering gagal menikah.....sudah tiga kali bukan?!" tanya Arka. Karena Dimas memang selalu gagal menikah, dan entah sampai kapan itu terjadi.
"Iya sih...." Dimas mengacak rambut nya.
"Tiga kali," tanya Mentari terkejut, bayangkan saja sudah tiga kali itu sangat mengejutkan.
"Iya Nyonya bos," jawab Arka sambil terkekeh.
"CK....." Dimas berdecak kesal, "Dan itu semua karena anda bos, anda tidak memberikan saya waktu untuk berpacaran, apa lagi mengurus pernikahan saya!" kesal Dimas. Karena saat itu Arka memang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
"Dimas kamu jangan nyalahin suami saya dong!" Mentari tidak terima jika suami tercintanya di salahkan, "Kamu nggak nikah memang kalian tidak berjodoh!"
"CK....." Dimas masih menunjukan wajah masamnya.
"Dengarkan itu apa kata istri saya," kata Arka dengan bangganya, "Kiss!" pinta Arka pada Mentari.
Cup.
Mentari langsung mengecup pipi Arka dengan penuh cinta.
"Sial!" Dimas malah kepanasan saat melihat Arka dan Mentari yang sibuk bermesraan, padahal ia sedang dalam masa kesedihan.
"Selamat pagi anak Mama!" sapa Linda yang baru ikut bergabung di meja makan.
"Pagi Mi," jawab Mentari, ia langsung turun dari pangkuan Arka.
"Di sini saja," kata Arka tidak mengijinkan Mentari turun.
"Kakak!" kesal Mentari. Karena di hadapan orang tua harus sopan itulah yang di ajarkan kedua orang tuanya, dan Mentari pun tidak membedakan antara Mamanya dan Mami mertuanya. Dan cepat-cepat ia turun.
"Ehem....." Linda berdehem menggoda Arka yang tengah kesal, "Dulu aja nggak mau!" ejek Linda, karena ia tahu Arka tidak bisa berjauhan dari Mentari. Padahal dulu keduanya selalu cekcok, "Dimas, betul apa betul?"
"Cakep!" Linda memberikan jempolnya pada Dimas.
Sedangkan Arka kesal karena dua orang di hadapannya terang-terangan mengejek dirinya, tapi semua itu mulai terjadi sejak Mentari hadir di hidup Arka. Sebab dulu Arka memang dingin tak tersentuh.
"Tari besok kita ke butik ya Nak, kita lihat gaun buat resepsi kamu dan Arka," ujar Linda tersenyum bahagia.
"Memangnya kapan acaranya Mi?" Mentari tidak kuat berdiri berlama-lama, ia menarik kursi dan duduk di dekat Linda.
"Satu minggu lagi."
"Di percepat Mi," tanya Mentari. Sebab setahunya satu bulan lagi, karena begitulah rencana mereka saat beberapa hati yang lalu.
"Rencana nya sih begitu, tapi Dimas batal nikah kan?" mata Linda menatap Dimas dengan wajah masanya, "Nah.....jadi resepsi kalian di percepat, kecuali Dimas enggak batal nikah baru resepsi kalian di undur lagi,' tambah Linda.
Dimas menunduk dan mengacak rambutnya, "Mami senang ya Dimas gagal kawin!" kesal Dimas.
"Iya senenglah," jawab Linda cepat.
Dimas kesal dan ia menatap Linda dengan tajam.
"Nggak...." Linta terkekeh, "Mami nggak mungkin dong seneng kamu batal nikah, cuman kan nggak ada salahnya acara resepsi Mentari dan Arka di percepat, nanti kalau kamu udah dapat pengganti Zea kamu bisa langsung nikahkan..." kata Linda, karena ia memang sudah menganggap Dimas seperti anaknya sendiri.
Dulu Ayah Dimas yang bekerja dengan baik di perusahaan keluarga Wijaya, tapi kini ia sudah tua dan Dimas yang menggantikan posisi itu. Kesetiaan Ayah Dimas tidak di ragukan lagi pada keluarga Wijaya, hingga Linda sudah menyayangi Dimas juga.
"Assalamualaikum," kata Radit yang mulai melangkah masuk.
"Waalaikumusalam salam, Kakak ipar," kata Mentari sambil terkekeh.
"Waalaikumusalam Dit," jawab Linda juga tersenyum, "Duduk," Linda menarik kursi untuk keponakan nya itu.
Radit duduk dan melihat wajah Dimas yang kusut, "Kenapa?" tanya Radit.
"Gagal kawin!" timpal Arka.
"Kok bisa?!" tanya Radit lagi terkejut.
"Tau ah!" jawab Radit dengan sedih.
"Di batalin sama calon istrinya!" kata Arka lagi yang seketika membuat Dimas semakin kesal.
"Makanya kasih tanda biar dia nggak bisa k
batalin sepihak!" kata Radit lagi.
"Ide kreatif!" Arka menunjuk Radit, karena ia mengerti maksud Radit.
Arka memang tidak ingin memusuhi Radit lagi karena Rembulan, sebab semua sudah terjadi. Lagi pula Arka sudah tahu tentang Radit yang ternyata sudah mencintai Rembulan sejak dulu. Bahkan Radit berniat melamar Rembulan setelah menyelesaikan studinya, tapi malah Radit mendengar berita Rembulan akan menikah dengan Arka. Saat ini menurut Arka Mentari adalah hal utamanya, tidak boleh ada yang berani mengganggu istri bocahnya yang sangat ia cintai itu.
"Maksud lu gue ngikutin jejak lu!" kesal Radit.
"Dasar bocah edan!" Linda yang baru mengerti langsung memukul Radit.
"Tante Mami ampun Tante Mami....." kata Radit sambil menjauh, dan berusaha melindungi dirinya.
"Mampus lu lawan itu ya....!!!" kata Dimas, karena ia memang sangat kesal pada Radit.
"Ampun Tante.....!!!" seru Radit lagi sambil berlari keluar dari rumah, karena Linda terus memukulinya.
"Awas kamu ya Dimas! Berani lakuin apa yang tadi di ajarin Radit.....abis kamu sama Mami!!!"
Brak!
Linda menggebrak meja makan, kemudian ia pergi begitu saja.
Dimas dan Arka mengelus dada seketika melihat amarah Mami Linda, karena mereka takut malah juga menjadi sasaran amukan Mami kesayangan mereka itu.