
"Kak, Ulan bangun!" Mentari tidak kuasa melihat sang Kakak yang terbaring di depan matanya. Mentari tidak menyangka jika jalan hidup Rembulan begitu sulit sekali, rasanya Mentari lebih memilih ia yang tersakiti dari pada harus melihat sang Kakak seperti ini, "Kenapa ya Kak, Tari ngerasa kalau kakak itu menderita selalu, dari semenjak menikah sampai sekarang. Padahal baru saja Kakak mau merasakan bahagia, takdir memang sulit ditebak ya Kak. Tari pikir setelah semua ini kakak akan segera bahagia tapi ternyata belum cobaan masih saja ada," kata Mentari sambil mencium tangan Rembulan.
Mentari yang selalu ceria kini sudah tidak lagi, karena Kakak yang ia sayangi masih setia menutup mata dan entah sampai kapan Mentari pun tidak tahu. Tidak ada lagi canda di antara keduanya tidak ada lagi tawa yang selalu menggema pertengkaran yang selalu terjadi kini Mentari merasa benar sendiri tanpa Rembulan yang selalu menjadi teman bertengkarnya setiap hari.
"Sayang," Arka tidak kuasa melihat kesedihan Mentari istri cantik dan ceria nya itu kini sangat murung, Arka benar-benar tidak tega melihat istrinya yang seperti ini. Mentari dan Rembulan memang dua orang yang berbeda tetapi memiliki hati yang sama, jika salah satu diantara mereka terluka maka yang satunya lagi ikut merasakannya.
"Kak sampai kapan kak Ulan terus begini?" tanya Mentari dengan memegang dadanya yang terasa semakin sesak, karena tangis yang terus saja keluar dari bibir manisnya.
Arka tidak berani menjawab pertanyaan Mentari, karena jika ia menjawab artinya ia sudah menjanjikan sesuatu kepada istrinya. Dan Arka bukan lelaki yang pandai berjanji pada wanita nya, ia lebih memilih memeluk Mentari dengan erat dan berusaha memberikan kekuatan kepada istrinya.
"Kita berdoa saja semoga Kak Ulan segera sadar," kata Arka sambil mengelus pundak Mentari.
Tidak lama kemudian Ranti masuk dan ia melihat Mentari ada di sana, "Dek kamu pulang ya, keadaan kamu belum membaik 100%. kamu nggak boleh terlalu stress nanti lama sembuhnya," kata Ranti karena takut nantinya Mentari malah ikut drop karena terlalu stress memikirkan keadaan Rembulan, bagaimanapun juga Mentari kini sudah menjadi seorang ibu dari 2 anak lak dan perempuannya. bahkan kini Mentari sudah belajar memberi ASI untuk kedua anaknya.
"Sampai kapan ya Ma, Kak Ulan terus begini?" tanya Mentari yang mengharap Ranti bisa memberikannya suatu penjelasan dan pengertian ataupun sebuah janji yang bisa Iya nanti dan suatu hari ia tagih kembali.
"Kalau Ulan pasti sembuh, pasti buka mata, kita Sabar saja semua pasti ada hikmahnya," kata Ranti yang mengusap punggung Mentari.
Mentari mengangguk dan ya keluar bersama Arka, Mentari tidak langsung pulang karena ia harus melihat kedua anaknya yang juga masih berada di rumah sakit yang sama.
"Radit kamu nggak mau pulang dulu ganti baju?" tanya Ranti karena dari kemarin Radit sama sekali tidak mengganti pakaiannya sama sekali, rambut yang acak-acakan tubuh yang kusam.
"Nanti saja Ma, nanti biar Mama yang bawakan baju Radit. Radit nggak bisa tinggalin Ulan Radit takut nanti terjadi sesuatu lagi Ma," jawab Radit karena ia masih ketakutan dan masih terlalu trauma kan nanti ada yang berani menyakiti Rembulan lagi, sedangkan anaknya sudah dibawa oleh Mama Nina ke rumah.
Ranti mengangguk dan ia keluar dari ruangan itu, Ranti duduk di kursi tunggu di depan ruangan meninggalkan Radit dan Rembulan berdua saja di ruangan itu.
"Umi," Radit menggenggam erat jemari Rembulan, "Abi kangen, kangen senyum kamu, kangen tawa kamu, kangen keusilan kamu, semuanya Abi kangen," lirih Radit dengan terus saja meneteskan air mata. Radit terus menatap wajah Rembulan, wajah Rembulan yang biasa bersinar cerah memerah seperti kepiting rebus itu kini berubah seketika. Tapi bagi Radit seperti apapun Rembulan tetaplah mencintai Rembulan dengan apa adanya, dulu dan sekarang sama saja tidak ada bedanya. Cinta Radit tidak pernah memandang fisik Rembulan entah mengapa itu terjadi, Tapi sejak Radit bertemu dengan Rembulan bulan cinta Radit muncul begitu saja tanpa ada alasan yang jelas.
"Anak kita laki-laki, kira-kira kita kasih nama siapa ya Mi. Abi mau Umi bangun kita kasih nama anak kita sama-sama, Maaf ya Umi. Umi begini karena Abi. Tapi Abi sayang sama Umi sampai kapan pun tetap begitu, Abi mohon bangun demi anak kita," kata Radit yang terus berusaha berkomunikasi dengan Rembulan, Radit sangat berharap Rembulan akan terbangun karena mendengar kata anaknya. Lagipula anak mereka memang sangat membutuhkan Rembulan, entah sampai kapan ini akan berlangsung. Radit juga ingin memeluk anaknya bersama Rembulan bersama-sama.
"Kita selalu sama-sama dari sekolah sampai sekarang, apa Umi tega sama anak kita," kata Radit lagi. Air mata Radit terus menetes tanpa henti mengingat kebersamaan mereka yang selalu saja jaket penuh tawa, "Umi bangun, Abi mohon masih banyak hal-hal yang harus kita lakukan bersama, kamu ingat dulu kita bolos bareng nyontek bareng semuanya kita lakuin bareng, bangun ya Mi Abi kangen," Radit terus saja mengusap air matanya, air mata kepedihan itu terlihat mengalir begitu saja.
Flashback On.
"Ulan kamu gimanasih manjat tembok aja enggak bisa!" kata Radit yang menunggu di bawah, karena mereka akan segera meloncat tembok untuk bolos sekolah.
"Sabar gue pakai rok lihat nggak!" garam Rembulan karena Radit dari tadi terus saja mengomel.
"Cepetan bahu gue pegel banget nih," kata Radit karena Rembulan kini menjadi kan bahunya sebagai pijakan agar bisa melewati tembok.
"Sabar woi gue pakai rok susah!" jawab Rembulan kesal.
"Lan kepala sekolah LAN," kata Radit yang mulai panik dan bergerak-gerak.
"Jangan gerak dong ntar gue jatuh," kata Rembulan panik karena tubuhnya mulai bergoyang-goyang tidak seimbang.
"Itu ada kepala sekolah Lan mampus kita," kata Raditya semakin panik karena kepala sekolah itu sudah melihat.
"Hei kalian berdua turun," kata kepala sekolah tersebut menunjuk.
Radit panik dan ia bergerak ia ingin berlari kabur dan tiba-tiba Rembulan terjatuh karena sudah tidak memiliki pijakan.
Buk!!!
"Haduh sakit banget pinggang," ringis Rembulan sambil memegang pinggangnya.
"Aduh!" Radit menepuk dahinya, "sorry Lan gue lupa," kata Radit karena ya tadi memang terlalu panik hingga melupakan Rembulan.
"Kalian berdua mau bolos ya, ikut saya ke ruangan!" titah sang kepala sekolah.
"Pak kita nggak mau kabur kok pak, maksudnya kita nggak mau bolos," bohong Rembulan.
"Terus kamu ngapain panjat dinding!"
"Kita lagi latihan pak buat pertandingan voli bulan depan!" Ulan dengan memberi alibi.
"Apa hubungannya dengan memanjat dinding?" kepala sekolah semakin bertambahnya.
"Biar otot lentur Pak," jawab Rembulan.
"Kalau begitu ayo lanjutkan Bapak bantu," kata kepala sekolah santai.
Rembulan Dan Radit saling pandang, "serius pak?" tanya Radit dengan bahagia.
"Ya enggaklah, kalian pikir saya bodoh cepat pergi ke toilet dan bersihkan toilet selama satu minggu sampai bersih!"
Radit dan Rembulan saling pandang keduanya berpikir sudah bebas namun ternyata.
Flashback off.