
Arka dan Radit sedang berada di ruang rapat, sedangkan Mentari dan Rembulan menunggu di ruang Arka. Keduanya bercerita di temani camilan dan minuman.
"Kak udah USG belum?" tanya Mentari, sambil melihat Mentari. Keduanya duduk di sofa dengan saling berhadapan.
"Udah," kata Rembulan, karena sebelumnya Radit memang sudah memeriksa kandungannya.
Rembulan bersandar pada sofa dan mengingat wajah Radit, entahlah tapi rasanya dulu dan kini sangat berbeda. Dan Rembulan merasa tenang bila berada di dekat Radit, apa lagi saat Radit menggenggam tangannya. Rembulan benar-benar tersenyum dalam lamunannya, berharap semua baik-baik saja tanpa badai yang menerjang.
"Kak!" Mentari melemparkan satu camilan milik nya dan mengenai wajah Rembulan.
"Apasih dek!" Rembulan kesal, karena Mentari membuyarkan lamunan indahnya.
"Em...." Mentari tersenyum, karena ia tahu Rembulan tengah memikirkan sesuatu, "Cie yang lagi berbunga-bunga...." kata Mentari menggoda Rembulan.
"Hehehe......" Rembulan tersenyum, "Tau aja kamu Dek," kata Rembulan sambil cekikikan.
"Cie....Kak Ulan," Mentari juga terkekeh karena wajah Rembulan yang terus berbinar.
"Tar apa sih," Rembulan benar-benar malu karena memang apa yang di katakan Mentari semua benar, ia tengah jatuh cinta,! Tunggu apa tadi? Jatuh cinta! Oh....jatuh cinta rasanya indah sekali. Rembulan benar-benar sudah jatuh hati pada Radit sahabatnya sendiri, sungguh sangat indah tanpa bisa di cegah datang. Indah dengan begitu saja.
"Kak Ulan!" Mentari kembali menyadarkan Rembulan yang tengah senyum-senyum.
"Iya Tari bawel...." jawab Rembulan.
"Kak Tari pengen deh lihat Kak Arka Pakek tato di lengannya, tulisannya nama Mentari....terus dia jalan layaknya seorang model," kata Mentari dengan khayalan yang membuatnya tersenyum.
"Setuju Tar, Kakak juga pengen kalau Kak Radit tulis nama Kakak di punggung nya," kata Rembulan.
"Ish....Kakak Ulan," Mentari langsung naik ke atas meja dan kini duduk di samping Rembulan, "Cool banget ya Kak kalau suami kita begitu," Mentari memeluk Rembulan dengan gemas.
"Iya sih Tar," Rembulan mengangguk dan membenarkan apa yang di katakan oleh Adik nya, "Tapi Kakak nggak berani buat minta ke Abi," kata Rembulan dengan wajah sedihnya.
Tapi Mentari malah gemas dan merasa lucu saat Rembulan menyebut kata Abi, "Cie Abi, bilang dong sama Abi, pasti Abinya nggak akan nolak," kata Mentari terkekeh geli.
"Ish Tari," Rembulan yang salah sebut panggilan sayang mereka pada Mentari malah ikut geli juga, "Tapi iya juga sih, tapi nggak berani," kata Rembulan lagi.
Sementara Arka dan Radit sebenarnya sudah sejak tadi selesai rapat, tapi keduanya penasaran apa yang di lakukan istri mereka di ruangan sana. Hingga mereka melihat pada laptop, karena ada kamera yang terpasang tersembunyi di ruangan Arka.
"Gimana Dit?" tanya Arka, karena mereka tahu keinginan istri mereka.
"Aku sih gampang aja, demi Rembulan apa aja akan aku lakukan," kata Radit tersenyum, menurut Radit itu tidak sulit. Yang terpenting Radit tahu jika Rembulan sudah mulai bisa menerima dirinya, "Kamu gimana?" tanya Radit menatap Arka.
"Sulit!" Arka menggeleng sambil memijat kepalanya, ia tidak suka menampakan perut kotak-kotak nya pada orang banyak. Di tambah lagi membuat tato, itu sangat bertolak belakang dengan ilmu agama yang di pelajari oleh Arka.
"Memangnya kamu tidak mencintainya Mentari?" tanya Radit.
"Iya, tapi tetap saja semua itu tidak boleh, karena aku takut kalau Tuhan memisahkan kami maka dari itu aku takut kalau melanggar aturan yang sudah di berikan Tuhan," jawab Arka.
"Gimana kita bikin tato, tapi nggak usah tato sesungguhnya...." Radit mendapat ide, dan menurutnya itu ide yang cukup bagus sekali.
"Setuju!" Arka mengacumkan jempolnya pada Radit, karena itu adalah jalan yang sangat bagus dan bisa membuat istri mereka bahagia.
"Kenapa Dim?" tanya Radit yang melihat wajah masam Dimas.
"Kalian berdua CEO takut istri!" jawab Dimas, seolah meremehkan Arka dan Radit.
"Mending kita CEO takut istri, dari pada lu!" ketus Radit.
"Wakil CEO nggak jadi nikah sampai tiga kali!" celetuk Radit.
"Ahahahhaha...." Arka dan Dimas menertawakan nasib Dimas yang sangat malang.
"Sekali lagi lu gagal nikah, kita kasih hadiah!" ujar Arka.
"Apa?" tanya Dimas dengan serius.
"Payung, yang bisa melindungi lu dari hujan air mata lu sendiri!" celetuk Arka.
"Ahahahhaha....." tawa Arka pecah, karena wajah Dimas yang melas dan menyedihkan.
"Sialan kalian berdua!" Dimas langsung keluar dari ruangan tersebut, ia sangat kesal pada Arka dan Radit yang kini menjadikannya bahan candaan.
Arka dan Radit menyusun rencana demi mewujudkan impian istri tercinta mereka. Setelah itu keduanya kembali ke ruangan Arka.
"Kakak!" Mentari langsung berlari dan memeluk Arka yang masih berdiri di depan pintu, "Tari kangen...." ucap Mentari.
"Kakak juga kangen sama kamu Sabariah ku sayang," ujar Arka mengecup pucuk kepala istrinya.
"Iya, hehehehe...." Mentari tersenyum bahagia.
"Fitting baju pengantin yuk, Mami barusan minta kita ke butik," kata Arka.
"Bukannya besok Kak?"
"Mami bilang sekarang sayang," kata Arka dengan penuh cinta.
"Em....." Mentari mengangguk, "Kak kaki Tari pegel," Mentari menuju kakinya, yang hanya menggunakan sendal jepit. Karena sendal jepit adalah bagian dari hidup Mentari, akan tetapi sendal milik Mentari berharga cukup pantastis karena mencapai seratus juta rupiah.
"Kakak gendong yuk," Arka langsung mengangkat Mentari, tidak sulit untuk mengangkat tubuh istrinya. Walaupun Mentari lebih gemuk, tapi Arka tetap suka karena ia yang membuat istri kurusnya menjadi gemuk. Dengan bangganya Arka menobatkan dirinya sebagai lelaki berbakat dalam menggemukan istri bocahnya, bahkan membuat istri bocahnya dewasa lebih awal.
"Umi," Radit mendekati Rembulan yang tengah asik mengunyah makanannya, mulut Mentari memang terus mengoceh. Tapi tidak dengan Rembulan. Ia lebih suka makan, bahkan berat badannya juga sudah sangat naik. Dan itu setelah Radit di dekatnya, karena dulu Rembulan lebih sering menangis hingga lupa makan. Sekarang bila ia lupa makan ada Radit yang menyuapi dirinya, sungguh Membuat Rembulan bahagia. Mungkin sampai badai di depan sana menguji mereka, menguji pernikahan mereka, menguji bertapa kuatnya ikatan pernikahan karena terpaksa.
"Abi...."Rembulan melihat Radit, ia tersenyum malu saat Radit semakin mendekat padanya.
"Umi lagi apa?"
"Makan," kata Rembulan menunjukan camilan miliknya.
"Makan apa?" tanya Radit lagi.
"Camilan."
"Kirain lagi makan cinta, cinta kita yang abadi selamanya," lanjut Radit menggoda Rembulan.
"Radit ish....malu tau, nggak bisa apa kita seperti dulu temenan aja," kata Rembulan berusaha tetap tenang, walaupun sulit sekali pesona Radit sungguh sangat memikatnya.
"Bisa, kita kan sahabat sepanjang hidup ini," kata Radit yang langsung mengecup kening Rembulan.
Rembulan mematung, ia seperti nya lupa cara bernafas dengan baik. Karena jantung nya sangat tidak karuan, karena Radit bukan dokter biasa. Tapi sekaligus dokter cinta bagi Rembulan.
*
Tolong like dan Vote ya Kak.