
Hari-hari berlalu Rembulan hanya murung tanpa banyak bicara, bahkan untuk makan saja Rembulan sangat malas. Kini ia sudah di bawa pulang kerumahnya, bahkan Nina pun dengan setia terus mengunjungi dirinya.
"Ulan, kamu makan ya," kata Nina, ia membawa makanan dari rumah. Bahkan itu masaknya sendiri.
Rembulan menatap piring yang berisi makanan dan lauk di dalamnya, ia terlihat tidak berselera untuk makan. Bahkan kini Rembulan hanya meminum susu saja, tidak ada terbesit di otaknya untuk makan sesuatu.
"Ulan tidur aja ya Ma," Rembulan membaringkan tubuhnya dan menarik selimut.
Nina merasa kasihan pada Rembulan, karena Radit menghilang entah kemana. Bahkan sudah satu bulan Radit pergi tanpa ada kabar, Nina benar-benar tidak mengerti dengan putra semata wayangnya itu, ia selalu pergi bila sedang bermasalah.
"Ulan, kalau kamu tidak makan gimana kandungan kamu?" tanya Nina, berharap jika Rembulan mau makan walaupun hanya satu suap nasi saja.
"Ma," Rembulan tidak berniat membuat Nina berkecil hati, tapi memang ia sedang tidak ingin makan apa-apa, "Ulan enggak lapar, Ulan lagi pengen tidur aja," jawab Rembulan.
"Ya udah, nanti kalau lapar bilang ya..... biar Mama bawakan makanya," kata Nina dan ia keluar begitu saja.
"Iya Ma," jawab Rembulan.
Rembulan memiringkan tubuhnya, ia kembali menitihkan air mata. Rasanya Rembulan tidak sanggup lagi jika terus begini, ini semua sangat menyakitkan dan entah sampai kapan ia bisa menanggung beban ini.
Nina yang belum benar-benar pergi dari sana merasa iba pada Rembulan, ia mengingat saat mengandung Radit. Mahesa selalu ada untuk nya, memberikan apa yang ia inginkan. Tapi tidak dengan Rembulan. Dari awal kehamilan nya ia hanya sendirian tanpa ada Radit, bahkan ia sampai pendarahan dua kali itupun karena Radit. Nina menitihkan air mata merasa iba dengan penderitaan Rembulan. Dan perlahan kakinya melangkah keluar.
"Jeng," Ranti yang melihat Nina menangis merasa terharu, karena terlihat sekali Nina begitu menyayangi putrinya.
"Maaf ya Jeng, ini terjadi karena.....hiks....hiks...." tangis Nina pecah, saat Ranti memeluknya.
"Semua sudah di atur, dan memang mungkin ini adalah takdir Rembulan Jeng.....jangan terus menyalakan diri sendiri," kata Ranti.
"Ma, Tante Nina," sapa Mentari yang melihat Nina dan Mama Ranti ada di depan pintu kamar Rembulan.
"Kamu datang sendiri Dek?" tanya Ranti.
"Iya Ma, Kak Arka lagi kerja," jawab Mentari, "Tari ke kamar kak Ulan dulu ya Ma," kata Mentari dan ia perlahan masuk.
"Iya."
Mata Mentari langsung melihat Rembulan yang tengah berbaring di ranjang, tidak ada yang di lakukan Rembulan selain menangis.
"Kak, kita ke taman yuk.....makan eskrim," tawa Mentari, berharap dengan begitu Rembulan bisa lebih baik.
"Kakak ngantuk Dek," tolak. Rembulan.
"Ish.....Tari pengen makan eskrim bareng Kak Ulan.... sebenarnya pengennya si dedebayi sih," kata Mentari sambil terkekeh.
"Iya udah," Rembulan tidak lagi menolak jika Mentari sudah memakai cara janinnya, dan Rembulan benar-benar setuju.
"Asik," kata Mentari tersenyum.
Kini mereka berada di taman, Mentari dan Rembulan duduk di taman dengan memegang eskrim di tangannya. Air mata Rembulan kembali menetes saat melihat banyak wanita hamil yang tengah di temani suaminya. Sejenak Rembulan mengingat Radit. Tapi sesat nya lagi Rembulan mengusap air matanya dan mencoba tersadar dari lamunannya. Apa yang saat ini ia harapkan, kehadiran Radit di sana? Itu tidak mungkin. Bahkan setelah ia mengusir Radit si hari itu, tidak ada lagi Radit berusaha menemuinya apa lagi untuk menggarap maaf dari nya. Entah cinta yang seperti apa yang selama ini si maksudkan Radit, tapi saat ini Rembulan hanya mencoba untuk tersenyum.
"Kak," Mentari merasa bersalah telah mengajak Rembulan keluar rumah, karena sampai di sana ia malah melihat Rembulan menangis. Ia tahu Rembulan menangis karena melihat orang-orang dengan pasangan nya, ia sangat mengerti dengan perasaan Kakaknya.
"Iya Tante," kata Mentari tersenyum, seolah anaknya yang barusan menjawab.
"Yuk kita makan," Rembulan menghapus air matanya, dan mulai memakan eskrim nya.
"Sayang," Arka yang tahu istrinya pergi ke taman bersama Rembulan mulai menyusul, dan ia melihat jika istri dan Kakak iparnya Rembulan tengah tersenyum sambil makan eskrim di sana.
"Kakak nyusulin Tari?" Mentari terlihat bahagia dan ia langsung memeluk Arka.
"Iya dong, Kakak kan kangen," ujar Arka tersenyum pada Mentari.
Rembulan tersenyum melihat Mentari begitu bahagia, tidak ada lagi perasaan terbeban karena keterpaksaan Mentari menikah muda.
"Kak kita fhoto yuk," Mentari mengeluarkan ponselnya dan meminta Arka mengambil gambarnya dan Rembulan.
Rembulan berdiri dengan perut buncitnya, begitupun dengan Mentari. Keduanya mulai mengabadikan momen saat-saat mereka akan menjadi seorang ibu dengan begitu bahagia.
"Bagus banget sih," kata Mentari melihat gambar wajahnya dan Rembulan pada ponsel miliknya, "Kita gemuk banget ya Kak," kata Mentari pada Rembulan. Karena wajahnya memang terlihat cabi. Tapi tidak dengan Rembulan, ia terlihat kurus dangan wajah pucat nya.
"Tar pulang yuk, Kakak lagi lemas banget," kata Rembulan yang merasa tubuhnya mulai lelah.
"Ok....." Mentari mengangguk setuju dan berjalan menuju mobil Arka, namun saat tiba-tiba matanya melihat Radit tengah duduk bersama dengan Diva di sebuah kursi taman tidak jauh dari mereka.
Rembulan mengusap air matanya, ia dengan cepat menaiki mobil Arka. Dan membawa sakit hatinya.
"Kakak kenapa?" tanya Mentari bingung, karena Rembulan terlihat menahan tangisnya.
"Enggak papa," kata Rembulan sambil beberapa kali mengusap air mata yang terus mengalir.
"Kakak kenapa?" tanya Mentari.
"Nggak papa," kata Rembulan.
Sampai di rumah Rembulan turun dari mobil, ia berjalan begitu saja. Bahkan ia tidak menyadari jika Mama Ranti berdiri di dekat pintu, kakinya terus melangkah menginjak anak tangga hingga ia masuk ke kamarnya.
Rembulan masuk ke kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya di bawah dinginnya air yang membasahi tubuh nya. Rembulan tidak ingin lagi terus membuat janinnya menjadi korban, hingga ia terus berusaha mengendalikan diri agar tetap tenang.
"Kak Ulan," Ranti tahu putrinya itu tengah tidak baik-baik saja, ia cepat-cepat menyusul Rembulan dan masuk kemar mandi tanpa permisi. Dan benar saja Rembulan menyiram tubuhnya masih dengan baju yang melekat pada tubuhnya, "Ulan kamu kenapa?"
"Ulan nggak papa Ma, cuman sedikit gerah makanya Ulan mandi," jawab Rembulan.
"Mama bantu ya," Ranti merasa ada yang berbeda dari Rembulan tapi apa, Ranti kemudian sadar Rembulan menangis tapi bibirnya tersenyum, "Ulan kamu kenapa Nak?" tanya Ranti panik.
"Ulan kenapa Ma?" tanya Rembulan balik.
"Ulan?"
"Ma, Rembulan seneng banget karena tadi makan eskrim di taman sama Tari," kata Rembulan sambil tertawa.
"Ulan?":