
Hari ini Rembulan berniat pergi ke supermarket, ia ingin membeli beberapa barang yang ia perlukan. Bahkan ia juga ingin beli camilan, Rembulan mengambil ponselnya dan mengirim kan pesan pada Radit.
[Assalamualaikum,] Umi.
Pesan terkirim dan Radit yang berada di rumah sakit langsung mengambil ponselnya dari saku celananya, ia tersenyum karena ternyata itu pesan dari Rembulan. Dengan hati yang bahagia Radit bergegas membalas nya.
[Walaimkucinta,] Abi.
Pesan terkirim dan Rembulan bergegas membuka ponselnya, ia tersenyum saat membaca balasan pesan dari Radit.
[Waalaikumusalam,] Umi.
Rembulan membalas dengan membenar jawaban salam yang salah dari Radit, walaupun bibirnya terus tersenyum bahagia.
Ting.
Radit langsung membaca balasan pesan dari Rembulan. Kemudian ia membalas kembali.
[Iya, Umi ku....kenapa?] Abi.
Radit tahu Rembulan pasti sedang menginginkan sesuatu, Radit sangat mengerti tentang ibu hamil. Dan ia benar-benar ingin Rembulan bahagia. Lama Rembulan membalas pesannya hingga akhirnya Radit langsung menelpon.
Rembulan yang melihat nama Radit tertulis di ponselnya, langsung menjawab panggilan tersebut.
"Assalamualaikum...." jawab Rembulan setelah panggilan terhubung.
"Waalaikumusalam," jawab Radit di seberang sana, "Kamu mau apa, apa mau sesuatu?" tebak Radit, sebab ia tahu Rembulan sangat pemalu.
"Em...." Rembulan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Abi, bisa anterin Umi ke supermarket nggak? Pengen beli kebutuhan bulanan, sama camilan juga," kata Radit.
"Bisa, tapi nggak bisa sekarang sayang....soalnya Abi lagi ada pasien, nanti juga ada jadwal operasi, kamu ngerti ya," kata Radit, sebenarnya Radit tidak tega tapi mau bagaimana lagi ia adalah seorang dokter yang punya banyak pasien. Jadi Radit tidak boleh main-main dengan pekerjaan nya.
"Em...." sebenarnya Rembulan merasa kesal, tapi ia mengerti dengan pekerjaan Radit, "Kalau gitu Umi pergi sendiri aja boleh nggak?" tanya Rembulan.
"Boleh tapi naik taxi, atau nggak nanti Abi kirimin supir buat kamu dari rumah," kata Radit di sebrang sana.
"Nggak usah, Umi naik taxi aja deh.....nggak papa," kata Radit sambil senyum-senyum, karena Radit begitu perhatian padanya.
"Iya boleh, hati-hati ya sayang," kata Rafit sebelum panggilan berakhir.
"Iya, Assalamualaikum...."
"Waalaikumusalam...."
Bib.
Panggilan terputus dengan Rembulan yang mengakhirinya. Kemudian ia mengambil tas tangan miliknya dan keluar dari kamar.
"Kamu mau kemana Kak?" tanya Ranti saat melihat Rembulan mendekatinya, yang tengah masak di dapur.
"Ma, Kak Ulan pamit ke supermarket bentar," kata Rembulan.
"Lho....kamu udah ijin sama Radit, nggak boleh lho.....keluar rumah nggak ijin sama suami," ujar Ranti.
"Udah Ma, udah di ijinin," kata Rembulan tersenyum.
"Yaudah, hati-hati.....cepat pulang ya," pesan Ranti.
"Iya Ma, Ulan pergi ya."
Rembulan keluar dari rumah nya, dan sampai di depan gerbang ia melihat sudah ada taxi pesanannya. Ia langsung naik dan sampai di supermarket. Rembulan turun dari mobil dan bergegas masuk, ia mulai membawa trolinya dan melihat-lihat barang yang akan ia beli. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Iqbal.
"Ulan?" Iqbal yang melihat Rembulan langsung menyapa Rembulan.
"Iqbal, apa kabar," Rembulan juga senang dan keduanya saling berjabat tangan.
"Iya," jawab Rembulan dengan bahagia.
"Ulan!!!!" seru Luci yang juga berada di sana.
"Yaampun Ci, udah lama banget kita nggak ketemu...." seru Rembulan dan kedua berpelukan.
"Kangen tau Lan," ujar Lucu dengan bahagia, dan ia melepas pelukannya dan melihat perut Rembulan, "Kamu hamil Lan?"
"Iya," Rembulan mengangguk.
"Suami kamu mana?" tanya Luci lagi karena ia memang tidak melihat Rembulan bersama orang lain.
"Aku sendiri aja Ci, dia lagi di rumah sakit," kata Rembulan.
"Luci mengangguk dan ia kemudian mengingat beberapa hari yang lalu, "Lan suami kamu Radit kan?" tanya Luci.
"Iya," jawab Rembulan.
"Wah, kita harus cerita banyak nik, kita cari restoran aja yuk....kangen aku sama kamu tau Lan," tutur Rembulan.
"Tapi Ci, aku harus pulang," Rembulan belum mendapatkan ijin dari Radit untuk berkumpul-kumpul bersama Luci. Jadi ia merasa bersalah bila tidak ada ijin suami, sebab itu yang di ajarkan oleh Mamanya.
"Sekali-kali dong Lan, udah lama banget kita nggak ketemu!" Luci terus berusaha memaksa Rembulan, karena ia memang sangat merindukan Rembulan. Mereka adalah sahabat sejak duduk di bangku SMA.
"Ya udah deh," Rembulan mengangguk, mereka berbelanja. Selesai berbelanja ketiganya menuju restauran favorit mereka yang sudah lama tidak mereka kunjungi.
"Ya ampun.... udah lama banget kita nggak nongkrong di sini, jadi kangen Reni, Radit juga nih....." kata Luci yang mengingat dua sabahat nya lagi yang belum bergabung.
"Bener banget," timpal Iqbal yang ikut duduk bersama dua sahabatnya.
"Pesan apa Lan?" tanya Luci.
"Samain aja," jawab Rembulan.
Luci langsung memesan apa yang ia inginkan setelah itu ia memegang perut Rembulan, "Sekali lagi selamat ya Lan, nggak nyangka banget kamu sama Radit ternyata jodoh," kata Lucu dengan bahagia.
"Iya, Ci.....ini terjadi karena malam itu," kata Rembulan, ia bukan tidak ingin menikah dengan Radit. Hanya saja ia sangat merasa bersalah dengan penyebab mereka menikah, Rembulan juga sama seperti wanita lainnya, ingin menikah dengan cara baik-baik.
Luci menarik nafas, ia mengerti perasaan Rembulan. Luci juga tahu saat malam itu, karena malam itu terjadi di dalam apartemen miliknya, "Ya udahlah, ambil yang sisi baiknya aja.....Radit tanggungjawab kan?" tanya Luci.
"Iya" Rembulan mengangguk.
"Ya udah, toh.....kita udah kenal Radit lama, terutama kamu, kalian duduk juga bareng Bahakan kamu suka nyontek dari dia kan?" kata Luci saat mengingat masa lalu Rembulan.
"Iya sih," Rembulan mengangguk dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Luci.
"Lan aku minta maaf ya, walaupun kamu sama Radit udah menikah tapi aku tetap merasa bersalah sebelum minta maaf ke kamu," kata Iqbal yang dari tadi diam dan kini tiba-tiba bersuara, bahkan dengan kata maaf.
"Maaf?" tanya Rembulan bingung.
"Iya," Iqbal masih menunjukan wajah bersalah nya, "Aku yakin Radit udah cerita semuanya ke kamu, tapi aku juga harus minta maaf langsung ke kamu Lan....gimana pun juga aku yang udah masukin obat di minuman kamu, dan aku minta maaf," kata Iqbal lagi, karena Iqbal terus di hantui rasa bersalah sebelum mendapatkan maaf dari Rembulan. Sungguh ia sangat menyesal, kalau bukan karena Radit yang memintanya mungkin ia tidak akan melakukan itu.
"Maksud kamu apa ya?" Rembulan sangat bingung dengan permintaan maaf Iqbal, "Obat?" Rembulan melihat Luci, namun sepertinya Luci juga tidak tahu kemudian ia kembali melihat Iqbal, "Iqbal?" tanya Rembulan.
Deg.
Iqbal terdiam tanpanya ia salah berbicara dan salah berpikir, ia pikir Radit sudah memberitahu Rembulan. Namun kini Iqbal salah menerka bahkan ia yang ketakutan sendiri.
*
Jangan lupa Like dan Vote Kakak.