
Hari kelulusan Mentari sudah terjadi, sudah ada pengumuman yang menyatakan bahwa gadis itu dan juga teman-teman baiknya semua lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Hari ini, sekolah Mentari mengadakan acara wisuda untuk siswa-siswi yang baru saja lulus dari pendidikan SMAnya.
"Akhirnya kamu lulus dek. Kakak bangga sama kamu", bang Rendy pagi tadi tiba di rumah Mentari bersama anak dan istrinya.
"Di tengah sulitnya kamu berjuang sendiri, kamu bisa menunjukkan ke semua orang kalau kamu bisa sejauh ini", Semakin lama suara bang Rendy semakin bergetar. Ada kaca-kaca bening di sudut matanya. Tapi, dia tahan sebisa mungkin, karena ini hari bahagia adiknya.
"Makasih bang, Abang sama mbak mau sempetin buat dateng di wisuda Mentari". Acara itu sudah selesai sekarang.
"Biar bagaimanapun kamu tetap adik Abang meskipun kamu sudah dewasa sekarang", bang Rendy mengelus puncak kepala Mentari pelan agar tak merusak tatanan rambut yang dibuat oleh Cloudya sejak subuh tadi.
Mentari tersenyum. Jujur, ini hari bahagianya yang luar biasa. Tapi, dia paham jika ini bukan akhir dari perjuangannya melainkan sebuah awal babak baru menuju dewasa. Dia sudah berumur 18 tahun sejak Awan memberinya surprise party yang gagal itu.
"Mentari". Mentari dan Rendy menoleh. "Maaf aku telat", Awan ngos-ngosan setelah berlari. Pria itu terburu-buru karena meeting yang dilakukannya molor sampai ia telat datang ke acara wisuda Mentari. Pasalnya, acara itu sudah selesai.
Mentari tak marah. Dia sudah cukup bahagia hari ini dan tak ingin mengacaukannya hanya karena Awan terlambat. Ia pun tahu alasan Awan sampai terlambat. "Nggak apa-apa om".
"Ini siapa Mentari?", bang Rendy penasaran.
"Ini om Awan bang, temen Mentari sekaligus kakak dari Cloudya yang tadi pagi ketemu Abang di rumah". Bang Rendy sempat ketemu Cloudya dan bertegur sapa sebentar sebelum Cloudya pulang.
"Ini abang kamu?", Awan bertanya dan mendapat anggukan dari Mentari.
"Halo bang, apa kabar? Kenalin saya ini calon adik ipar abang", Awan menyodorkan tangannya pada Rendy.
Rendy mengernyit. Maksudnya apa dia belum paham. Tapi dia tetap membalas uluran tangan Awan. "Maksudnya bagaimana ya?"
"Mungkin Mentari belum cerita tentang saya, jadi kita bisa makan dulu sambil ngobrol-ngobrol biar kenal", saran Awan.
"Tapi saya nggak bisa lama-lama. Istri dan anak-anak saya menunggu di parkiran ". Bukannya tak suka dengan Awan, tapi memang begitu kenyataannya. Anak-anak Rendy tadi sempat rewel saat di dalam gedung wisuda. Sampai akhirnya istri Rendy mengajak mereka keluar gedung.
"Sekalian aja diajakin bang"
"Tapi...", Rendy merasa tak enak jika pembicaraan yang sepertinya serius ini terganggu oleh anak-anaknya.
"Nggak apa-apa bang. Biar sekalian om Awan kenal sama keluarga Mentari yang lain". Pernyataan Mentari semakin meyakinkan Rendy tentang hubungan mereka. Rendy masih berburuk sangka mengenai adiknya karena melihat Awan yang katanya calon adik iparnya itu lebih tua darinya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang di sebuah rumah makan Sunda dengan saung-saung di pinggir kolam. Awan memilih tempat itu karena melihat keponakan Mentari yang masih kecil-kecil.
"Ayo papa, Idan udah lapar", Zidan anak pertama Rendy yang berumur 4 tahun menarik tangan Rendy yang sedang menggendong si bungsu.
"Pelan-pelan Idan, nanti jatuh", Mentari memperingatkan keponakannya.
" Tante Tari emangnya nggak lapar?", celoteh anak itu.
"Laparlah... makanya kita kesini". Mentari mengambil alih tangan Zidan dari genggaman papanya.
Mereka memilih saung yang tak terlalu dekat dengan kolam besar demi keselamatan anak-anak Rendy yang masih balita.
"Mungkin Abang bingung maksud saya tadi. Maaf kalau membuat bang Rendy penasaran",ucap Awan mulai pembicaraan serius.
" Saya ingin melamar Mentari setelah dia lulus. Dan sekarang dia sudah lulus. Jadi saya akan meminta izin Abang untuk meminang Mentari"
"Apa ini lelucon?", Rendy malah terlihat emosi, dia tak terima adiknya dilamar dengan sebegitu mengejutkannya begini. Istri Rendy mengusap lengan Rendy agar sang suami tenang.
"Biar Mentari yang menjelaskan bang. Tolong dengerin dulu penjelasan Mentari", Mentari memohon.
Rendy mau tak mau menuruti adiknya. Dia juga penasaran dengan apa yang terjadi. Sungguh ia tak ingin Mentari menjadi sugar baby seperti dugaannya.
"Mentari kenal sama om Awan saat Mentari menabrak mobil om Awan. Karena Mentari nggak punya duit buat perbaikan mobil, Mentari menjadi pembantu om Awan sampai hutang Mentari lunas. Tapi, belum lunas hutang Mentari, kami sudah saling suka dan menjalin hubungan bang"
"Apa kamu dimanfaatkan sama laki-laki ini?", Rendy mulai dengan pikiran negatifnya.
"Bukan bang, tenang dulu". Mentari melirik Awan sekilas lalu melanjutkan penjelasannya. "Mentari berani bersumpah bang, Mentari masih suci sampai sekarang. Om Awan nggak pernah manfaatin Mentari. Malah dia suka membantu Mentari"
"Om Awan memang duda, tapi dia menikah karena di jebak mantan pacarnya saat kami sudah menjalin hubungan bang"
"Dan saya sudah resmi bercerai dari mantan saya bang", Awan menyela. "Saya serius dengan Mentari. Seluruh keluarga saya sudah kenal dengan Mentari. Bahkan adik saya saja sangat dekat dengan Mentari"
"Kamu tidak main-main kan? Saya lihat sepertinya kamu orang kaya. Saya sebagai kakak khawatir kamu hanya mempermainkan adik saya"
" Abang nggak usah khawatir. Saya serius dengan Mentari. Kalau Abang udah setuju,nanti orang tua saya akan melamar Mentari pada Abang"
" Saya pegang omongan kamu. Semoga kamu tidak seperti orang kaya yang hanya memanfaatkan kepolosan orang biasa seperti kami"
"Saya bisa pegang janji saya bang"
Meskipun Rendy masih berberat hati mengijinkan Mentari menikah muda, tapi Rendy tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi dia melihat pancaran bahagia di wajah sang adik.
***
" Abang mau kamu menjelaskan kronologi bagaimana kamu bisa berpacaran dengan orang yang umurnya jauh lebih tua dari kamu itu Mentari", Rendy berkata setelah menyesap kopinya. Dia dan keluarganya memutuskan menginap satu malam di rumahnya dulu itu. "Penjelasan kamu belum cukup membuat Abang lega"
Mentari menghela napas. Sekuat tenaga ia berbicara jujur dan berusaha meyakinkan kakaknya
" Apa pekerjaannya?", penjelasan mengenai pekerjaan Awan belum Mentari ceritakan.
"Om Awan itu CEO di perusahaan keluarganya bang. Tapi papanya masih jadi presiden direktur disana"
" Kamu yakin dengan dia? Kehidupan sosial kita sangat berbeda dengan mereka Mentari"
"Iya , Mentari tahu bang. Tapi, selama ini om Awan sangat baik sama Mentari. Begitupun keluarganya"
"Hati-hati kamu. Abang nggak mau kamu kecewa"
Mentari tersenyum kepada abangnya. Dia juga merasa senang karena meskipun abangnya jauh tapi masih pehatian. Sedangkan Rendy, sejujurnya berat sekali ia melepas adiknya, apalagi baginya hubungan Mentari dengan Awan ini masih misteri.