
"Ulan!!!!"
Dari tadi Mama Ranti terus mengetuk pintu kamar Rembulan. Tapi tetap saja tidak ada jawaban sampai akhirnya ia memutar gagang pintu, lalu memasukkan kepalanya terlebih dahulu. Setelah memastikan Rembulan hanya tidur sendiri saja Mama Ranti langsung masuk dan melihat kamar Rembulan yang sangat berantakan belum lagi melihat Rembulan di atas ranjang yang tertidur sangat pulas, "Kak Ulan bangun," Mama Ranti mencoba menggerakkan tubuh Rembulan. Tapi Rembulan masih tertidur dengan sangat lelap, bahkan tidak merasa terusik sedikitpun walaupun Mama, Ranti terus menggerak-gerakkan tubuhnya.
"ULAN!!!!" teriak.
"Mama!" kesal Rembulan sambil menggosok telinganya yang terasa berdengung, karena suara Mama Ranti yang mungkin membuat gendang telinganya bisa rusak. Namun sesaat kemudian ia kembali tidur.
"Ya ampun..." Mama Ranti tidak kehabisan akal, ia menyiram wajah Rembulan dengan air.
Kali ini Rembulan mulai merasa terusik perlahan tangannya tertarik keatas dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, sesaat kemudian Rembulan kembali menutup wajahnya dengan bantal dan tertidur dengan lelap lagi.
"Ya ampun anak ini," gumam Mama Ranti dengan kesal, "Bangun!" Mama Ranti kembali menggerak-gerakan tubuh Rembulan.
"Ulan masih ngantuk banget Ma," kata Rembulan ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
Mama Ranti geleng-geleng kepala melihat kelakuan Rembulan, "Raka nggak mau minum susu formula kamu kasih ASI aja ya," kata Mama Ranti.
Rembulan sepertinya cukup mengantuk hingga ia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mama Ranti. Ia tetap menutup mata dan tertidur tidur kembali.
"Ulan! ini Raka haus banget."
"Ya udah sini deh," Rembulan menggerak-gerakkan tangannya.
"Ya ampun!" Mama Ranti kembali mengelus dada karena ternyata Rembulan hanya menutupi tubuhnya dengan selimut saja, "Untung kamu tinggal sama Mama, kalau sama mertua mampus kamu. Mama dulu bangun pagi cepat aja mata Mertua Mama langsung melotot. Apa lagi kayak kamu begini, udah di pasti di telan hidup-hidup Mama," kata Mama Ranti mengingat tentang ia yang dulu begitu menikah langsung tinggal di rumah mertuanya
"Itu sih derita Mama!" kesal Rembulan.
"Selamat pagi pengantin baru!!!!" seru Mentari yang yang ketika bangun tidur langsung menghampiri kakaknya karena ia ingin tahu bagaimana keadaan Rembulan saat ini, dan mungkin saja ia bisa mengejek Rembulan, "Wow amazing ini sangat luar biasa sepertinya Raka akan segera mendapatkan Adi adik."
"Yang enggak waras mulai masuk," gerutu Rembulan.
"Sudah Mama mau keluar dulu, kamu kasih Asi buat Raka, nanti kamu bersih-bersih dulu lihat kamar kamu berantakan banget apaan ini," Mama Ranti langsung keluar dari kamar karena ia harus segera menyiapkan beberapa keperluan Raka, melihat keadaan Rembulan yang tidak mungkin melakukan apa-apa sebab untuk membuka matanya saja Rembulan terlihat sangat malas.
"Berapa ronde Kak semalam parah banget kayaknya, masih bisa jalan enggak tuh?" ejek Mentari.
Rembulan tidak peduli dengan pertanyaan dari adiknya yang menurutnya sedang tidak waras itu dan ia hanya melihat Raka meminum ASI sambil berbaring disebelahnya. Mata nya kembali terpejam karena ia sangat mengantuk sekali. Tidak pernah terbayangkan di otak Rembulan jika ia baru tertidur habis subuh tadi dan itulah yang terjadi saat ini.
"Kak Ulan makan dulu," Mama Ranti kembali datang ke dalam kamar dan membawa makanan sebab Raka meminum ASI dan ia takut nanti nya malah Raka sakit perut karena Rembulan yang tidak makan.
"Ulan lagi enggak lapar Ma, sekarang ngantuk Ulan tidur aja ya Ma ya," jawab Rembulan tanpa membuka matanya.
"Kamu harus makan, kalau kamu terlambat makan. Raka bisa sakit perut karena dia minum ASI," kata Mama Ranti dengan memaksa Rembulan untuk makan, "Mama akan mandikan Raka, cepat bangun dan malam," tambah Mama Ranti lagi.
"Kalau ngomong jangan asal," geram Rembulan.
"Kak Ulan ini tato jenis singa apaan ya?"
Rembulan mulai tersadar dengan apa yang tengah dibahas oleh Mentari, setelah selesai Raka minum ASI ia langsung duduk sambil menutupi tubuhnya. Sejenak Ia berpikir apa yang dikatakan oleh Mentari barusan. Dam ia baru sadar pantas saja Mentari dari tadi mengejeknya, karena ia memang polos di bawah selimut.
"Sudah-sudah Rembulan, Ayo makan cepat. Makan sekarang Mama mandikan Raka dulu," Mama Ranti langsung mengangkat Raka dari atas ranjang dan membawanya karena ia harus memandikan cucunya terlebih dahulu.
"Noh Makan Kak Wulan, Mama baik banget sih," Mentari menyindir Rembulan seolah memuji Mama Ranti padahal mama Ranti sudah keluar dengan membawa Raka, "Gue aja nggak pernah dapet begini, lu asik-asik mantap-mantap di kamar lapar dikasih makan. Raka dimandiin, nah gue Kak. Kagak ada enak banget ya hidup lo. Tapi ntar malam giliran gue yang kasih anak-anak gue sama Mama biar gue juga bisa honeymoon," ujar Mentari dengan senyuman.
"Dasar gila! gue nggak pernah Ya. Minta Mama buat jagain Raka terus gue enak-enakan tidur berdua sama laki gue, yang ada Mama sendiri yang datang ke kamar dan minta Raka tidur sama dia," jelas Rembulan karena ia tidak pernah memerintahkan Mama Ranti untuk menjaga putranya.
"Bodo amat. Gue mah yang penting gue asik sama Kak Arka entar malam gue kasih kecebong kecebong Kak Arka ke Mama, gue juga pengen rasain yang jadi pengantin baru untuk yang kedua kalinya," Mentari menutup mata dan membayangkan wajah suaminya dengan gemas.
"Lagi mikirin apa Dek, jangan bilang lagi mikirin yang aneh-aneh!" ya tebak Rembulan.
"Aneh-aneh juga cuman hal-hal yang wajar aja lagian juga orang udah menikah pikirannya ke situ juga kan nggak masalah, kalau udah halal mah bebas," jawab Mentari tanpa bisa di bantah.
"Dek lu makin lama makin ngeselin mending ambil handuk buat gue!" titah Rembulan.
"CK," Mentari menghentakkan kakinya, tapi ia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Rembulan.
"Sayang," Radit yang sudah pulang dari rumah sakit langsung memeluk rembulan yang duduk di atas ranjang.
"Abi, nggak usah peluk-peluk!" tumbuhan mendorong tubuh Radit dan menolak untuk.
"Kenapa Abi kangen tahu mie," Radit berusaha memeluk rembulan walaupun rembulan menolak, "Kamu belum mandi sekalian mandi aja ya Sekali lagi deh," tinta Radit sambil menaik turunkan kedua alis matanya.
"Dua kali lagi juga boleh Abi!" kata Mentari yang langsung menyambar, "Nih," Mentari langsung melempar handuk yang barusan diminta rembulan pada wajah Rembulan.
Radit menatap rembulan dengan bingung, "kok ada Tari?" tanya Radit bingung.
"CK," Rembulan hanya berdecak kesal karena saat ini Mentari Tengah menertawai dirinya.
"Lanjutkan Kak Radit mumpung Raka lagi sama Mama! karena ntar malam jatah Tari dan kedua kecebong nya Kak Arka yang sama Mama!" ejek Mentari lalu ia keluar dari kamar Rembulan Dan juga Radit sambil tertawa dengan lebar karena wajah Radit memerah menahan malu.
*
Hai semua nya, Author mau tanya. Novelnya mau di end atau mau lanjut hehehe. Author takut kalau kalian bosen, episode nya panjang banget soalnya. hehehe. Jangan lupa like dan Vote ya.