Mentari

Mentari
Episode 116



Perlahan tangan Rembulan memegang jaket kulit yang di pakai Radit, hingga akhirnya Radit menarik kedua tangan Rembulan dan melingkarkan di pinggang nya. Hingga dengan terpaksa Rembulan terhuyung ke depan, ia terkejut karena Radit menarik tanpa memberitahu nya terlebih dahulu.


"Sudah siap?" tanya Radit, yang hanya menatap ke depan dan mulai menyalakan mesin motor.


"Udah," jawab Rembulan dengan suara yang pelan, karena baru pertama kali nya ia memeluk Radit seperti ini.


Rasanya cukup aneh bila mengingat Rembulan sudah mengandung anak Radit, tapi kedua masih seperti memiliki jarak. Akan tetapi keduanya terus berusaha untuk bisa saling mengenal satu sama lain, walaupun mereka adalah sahabat namun semua berbeda. Bersahabat dan berstatus menikah itu sangat berbeda, karena mengingat biasa mereka sering jail bersama. Namun kini harus saling menerima dengan menghilangkan rasa saudara saat berteman dulu.


Saat di perjalanan mata Rembulan melihat seorang penjual jagung bakar, entah mengapa ia ingin sekali memakannya. Tapi ia bingung bagaimana cara memintanya pada Radit, memanggil nama atau memanggil panggilan Abi. Rembulan dilanda kegalauan, sementara penjual jagung di pinggir jalan itu mulai menghilang dari pandangan matanya.


"Abi," panggil Rembulan dengan cepat dan suara pelan.


"Apa?" jawab Radit sambil memutar lehernya pada Rembulan, kemudian ia kembali lagi melihat ke depan.


Rembulan kembali diam, karena jagung bakar yang ia lihat barusan benar-benar sudah terlewati.


"Hiks.....hiks....hiks....." tanpa sadar Rembulan malah menangis, dan memutar lehernya kebelakang seolah berharap tukang jagungnya masih ada.


Radit langsung menepikan motornya, ia cepat-cepat melepaskan helm yang terpasang di kepala nya. Kemudian Radit turun dari motornya, sementara Rembulan masih berada di atas motor. Sambil sesegukan.


"Kamu kenapa?" tanya Radit panik.


Radit sangat takut sekali Rembulan merasa sakit pada kandungannya, ataupun ia terlalu ugal-ugalan membawa motornya. Padahal ia sudah berusaha untuk lebih hati-hati, bahkan ia membawa motor dengan kecepatan rendah mengingat Rembulan masih belum pulih dengan baik. Tapi tetap saja ia melihat Rembulan menangis, sebenarnya Radit ragu untuk bepergian jauh dengan Rembulan. Karena kondisi kehamilannya, tapi Radit tidak menolak juga karena ia ingin menebus kesalahannya pada Rembulan. Bahkan sampai Rembulan pendarahan karena dirinya, walaupun itu semua tanpa di sengaja tetap saja Radit merasa bersalah.


"Umi...." Radit memegang lengan Rembulan, ia mulai panik.


"Hiks....hiks....hiks...." tangis Rembulan lagi-lagi pecah, dan ia masih belum bisa mengatakan nya juga.


"Perut kamu sakit?" tanya Radit panik.


Rembulan menggeleng sambil sesegukan, karena bukan itu.


"Kamu kelelahan?"


Rembulan kembali menggeleng dan ia malah semakin kesal, karena Radit tidak bisa menebak dengan benar apa yang ia inginkan.


"Kamu berubah pikiran, apa kita pulang saja."


"Jagung bakar.... hiks.....hiks....hiks..." kata Rembulan sambil menangis, tapi ia menunjuk kearah belakang. Karena jagung bakar nya memang sudah lewat di belakang sana.


"Jagung bakar?" Tanya Radit. Kali ini Radit benar-benar bingung karena di buat Rembulan.


"Abi....hiks....hiks....jagung bakarnya udah lewat tadi di belakang...." ucap Rembulan.


Radit melongo, ia sudah panik tapi ternyata Rembulan menangisi jagung bakar, "Mmmmfffffpp....." Radit menutup mulut dengan tangannya, karena ia menahan tawa.


"Ish.....kok ketawa sih!!!"


Radit kini berubah santai, ia sejenak berhenti tertawa. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali tertawa dengan lepas melihat kekonyolan Rembulan saat ini.


"Kamu mau jagung bakar yang di belakang tadi?"


"Iya," Rembulan mengangguk, dengan wajah basah dan mata sembab.


"Lap air matanya dulu, supaya kita putar balik!"


"Udah apanya?" goda Radit.


"Udah di lap Abi," jelas Rembulan dengan suara pelan.


Radit tersenyum, dan ia kembali menaiki motor nya. Radit masih menahan tawa melihat bertapa lucunya Rembulan, setelah mereka berhenti di depan penjual jagung bakar yang tadi di inginkan Rembulan. Kedua kembali turun dari motor, dan Radit melepaskan helm Rembulan.


"Bu jagungnya tiga ya," kata Rembulan pada si penjual.


"Iya neng duduk dulu ya," penjual tersebut terlihat begitu ramah, ia mempersilahkan Rembulan duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Rembulan dan Radit duduk, kemudian Radit melihat Rembulan. Bibirnya masih tersenyum mengingat bertapa konyolnya Rembulan barusan.


"Kenapa?" Rembulan belum tahu penyebab Radit senyum-senyum hingga ia mulai bertanya, tampaknya bumil itu belum menyadari kekonyolan nya.


"Kamu tadi kenapa nangis, kalau mau jagung bakar bilang aja," jawab Radit sambil terkekeh.


Rembulan terdiam,ia mulai sadar. Barusan ia menangis hanya karena jagung bakar, "Hehehehe...." Rembulan menggaruk kepalanya, dan cengengesan pada Radit. Sambil merutuki kebodohannya.


"Ini jagungnya Neng," Ibu penjual itu meletakan nya di atas meja.


"Makasih Bu," Rembulan mulai mengambil satu buah jagung bakar, kemudian ia mulai menikmatinya.


"Ternyata tidak salah aku mencintaimu sejak dulu, kamu memang sangat menggemaskan...." ujar Radit.


"Uhuk....uhuk....." Rembulan langsung tersedak, saat mendengar apa yang di katakan oleh Radit. Sungguh ia sangat shock mendengar kata cinta sejak dulu.


"Minumnya Neng," penjual tersebut memberikan satu botol air mineral yang langsung di teguk rembulan.


"Kenapa?" tanya Radit dengan wajah tenang, matanya menatap Rembulan dan ia tau Rembulan seperti shock, "Kaget?"


Rembulan mengangguk, dan ia benar-benar penasaran. Sejak dulu itu maksud Radit sejak kapan, dan sungguh ia penasaran.


Radit tanpaknya tahu tentang hati Rembulan yang bertanya-tanya, "Sejak pertama kali kamu aku timpuk pakek bola basket," lanjut Radit lagi.


Flashback On.


Saat itu Radit dan Rembulan masih duduk di bangku kelas satu SMA, Radit yang pintar dalam bermain bola basket menjadi idola di sekolah nya. Tak jarak Kakak kelasnya yang menyatakan cinta padanya, tapi anehnya tidak dengan satu wanita yang bernama Rembulan. Rembulan malah jatuh hati pada seorang ketua OSIS, yang juga saat itu tengah berpacaran dengan nya. Sampai akhirnya saat Rembulan melewati lapangan bola basket tiba-tiba kepalanya terkena lemparkan bola.


Buk.


"Aaaaaa......" teriak Rembulan, kemudian ia melihat siapa orang yang sudah melempar bola basket ke kepalanya.


"Maaf ya," Radit mengulurkan tangannya, ia benar-benar tulus meminta maaf. Tapi sayang Rembulan malah pergi begitu saja, dengan pandangan begitu tajam. Seolah ia sangat benci pada Radit.


"Lu nggak papa Lan?" tanya Rani yang mendekati Rembulan.


"Sakit," Rembulan mengelus kepalanya, "Gara-gara itu orang!" kesal Rembulan menatap Radit penuh permusuhan.


Saat itulah Radit seakan tertarik untuk mengenal Rembulan lebih jauh, dan hingga akhirnya mereka berteman dengan baik. Tapi tanpa di ketahui Rembulan jika Radit sudah menaruh hati padanya.


Flashback Of.


Wajah Rembulan seketika merah, 'Berarti 0as gue suka aneh-aneh dia lagi perhatian gue dong, pas bolos bareng, pas nyolong kunci jawaban bareng,' batin Rembulan. Sungguh ia sangat malu sekali bahkan ia sering meminta contekan pada Radit, duduk juga sebangku berdua. Dan selama itu ia tidak menyadarinya, "Memalukan" gumam Rembulan.