Mentari

Mentari
Episode 107



"Kak, Tari udah mulai masuk kuliah..... padahal seharusnya satu minggu yang lalu, tapi Tari nggak di ijinin terus sana Kakak," kesal Mentari sambil mengerucutkan bibirnya, karena memang Arka tidak mengijinkannya untuk pergi jauh walau hanya sebentar saja, "Tari sebenarnya di bolehin kuliah apa nggak sih?" mata Mentari menatap Arka dengan tajam.


"Nggak," jawab Arka dengan refleks, karena ia memang takut istrinya di lihat banyak orang. Jadi ia ingin mengurung istrinya di rumah saja.


Mentari terkejut saat mendengar jawaban Arka yang ternyata tidak mengijinkan diri nya untuk kuliah, "Mami masih di bawah, Tari mau bilangin Kakak," Mentari bangun dari atas ranjang dan ia ingin menemui Mama mertuanya.


"Cantik," Arka cepat-cepat memegang lengan Mentari, karena ia takut jika Mentari mengadu pada Mami. Kemungkinan bisa jadi jika ia bernasib sama dengan Radit, sungguh Arka tidak bisa menjauh dari istri bocahnya, "Mau kemana?" Arka kembali menarik Mentari untuk duduk di sampingnya.


"Mau temuin Mami!"


"Jangan dong, Kakak becanda.....kamu boleh kuliah tapi dengan syarat tidak boleh nakal, tidak boleh lihat laki-laki, tidak boleh senyum pada laki-laki, tidak boleh berbicara pada laki-laki......" ucap Arka.


"Caelah Sabaruddin, itu syarat apa larangan?" kesal Mentari.


"Tidak boleh pakai baju sexy!"


"Kakak apasih begitu banget!"


"Kalau mau nurut kuliah.....kalau tidak, ya tidak usah!"


"Ets.....iya Tari setuju," Mentari cepat-cepat menyetujui persyaratan yang Arka berikan padanya, takut kalau Arka malah berubah pikiran dan tidak mengijinkannya kuliah.


"Kamu sayang kan sama Kakak?"


"Caelah Kak, ini perut Tari udah bunting masih banyak tanya lagi lagi!" Mentari menunjuk perutnya yang sedikit membuncit pada Arka, "Gimana sih Kakak!"


Arka diam dan tidak lagi berbicara, bahkan ia bangun dari duduknya. Hingga Mentari bingung dan merasa bersalah karena menolak keinginan Arka.


"Kak," Mentari memegang lengan Arka, "Maaf ya Kak, iya udah Tari nurut aja," kata Mentari mengangguk.


Arka tersenyum dan ia langsung melihat istrinya, "Terima kasih cantik," Arka langsung mengecup pucuk kepala Mentari.


"Hehehe....." Mentari tersenyum karena Arka memeluknya dengan erat.


Arka juga menatap istrinya dengan penuh cinta, karena jika Mentari dengan pakaian tertutup maka tidak ada yang memandang istrinya dengan haus.


"Kak, antara Tari ke kampus yuk...." pinta Mentari.


"Ayo....."


Keduanya keluar dari kamar, hingga sampai di ruang keluarga Mentari melihat hanya Ranti saja.


"Ma, Tante, sama Mami kemana?" tanya Mentari.


"Mereka baru aja pulang," jawab Ranti dengan tersenyum.


"Em," Mentari mengangguk mengerti, "Ma Tari sama Kak Arka ke kampus ya..." pamit Mentari.


"Iya, jangan terlalu banyak aktivitas ingat kandungan mu."


"Iya Ma," Mentari tersenyum.


Ting tong..


Terdengar suara bell berbunyi, dan itu adalah tamu yang datang.


"Dek, kamu bukain sana...." kata Ranti pada Mentari.


"Iya Ma," Mentari berjalan menuju pintu, kemudian ia membukanya. Mata Mentari melebar dan bibir nya tersenyum, "Caelah ada yang kangen sama Kak Ulan ni....." Seloroh Mentari.


"Siapa Dek??" kata Ranti dengan suara yang agak kencang agar Mentari mendengar nya.


"Mantu kesayangan Mama!!!" jawab Mentari dengan suara yang juga sedikit kencang, "Kak Radit Ma."


"O...." kata Ranti, kemudian ia kembali menonton televisi.


"Ulan nya ada?" tanya Radit, ia kini sedang menyedikan stok kesabaran yang lebih. Karena harus belajar menghadapi Mentari.


"O......" Mentari tersenyum, entah apa yang ada di otaknya, "Ada dong," jawab Mentari, "Jadi Kakak langsung aja ke kamar Kak Ulan," Mentari menunjuk arah tangga, "Kakak naik keatas, sampai di atas Kakak jalan dan di depan pintu Kak Ulan ada tulisan Rembulan nah.....itu kamar Kak Ulan," jelas Mentari dengan maksud begitu baik.


"Ke kamar?" Radit seperti nya bingung, apa ia harus langsung ke kamar Rembulan? Dan apa itu sopan pikir Radit. Jujur saja Radit juga takut kalau mertuanya malah semakin membenci dirinya.


Mentari mengangguk dan ia kembali menunjuk anak tangga, "Kakak naik aja ke atas..."


"Tapi apa itu tidak apa?" tanya Radit.


"Lah.....Kakak nggak gentle banget sih, kan Kak Ulan istri Kakak, perjuangin dong!" kesal Mentari.


"Bukan begitu, tapi apa baik saya langsung ke kamar?" tanya Radit.


"Ma!!!" seru Mentari, karena Ranti memang cukup jauh darinya.


"Nggak usah teriak-teriak dek!" kata Ranti tanpa bangun dari duduknya.


"Kak Radit boleh temuin Kak Ulan nggak?" teriak Mentari lagi.


Ranti sebenarnya sudah mengijinkan Radit, jangankan untuk menemui Rembulan. Untuk tinggal bersamanya saja di rumah itu tidak apa, tapi ia ingat kata besannya yang harus menghukum Radit dan Ranti menurut saja.


"Kalau merasa suaminya tidak butuh ijin kan!" jawab Ranti, dan kini ia sudah berada di hadapan Radit.


"Maaf Tante, tapi saya mau jenguk Ulan...."kata Radit sedikit menunduk.


"Tante...Tante....saya ini mertua kamu!" kata Ranti lalu ia pergi begitu saja.


"Kak Radit sih, panggilnya Mama dong...." kata Mentari mengingatkan Radit.


"Mama?" Radit menatap Mentari dengan penuh tanya, dan ia sedikit terkejut.


"Ish...." Mentari langsung memukul lengan Radit karena kesal.


"Eh...." Arka langsung menarik telinga Mentari, "Kenapa berani bersentuhan dengan laki-laki lain."


"Sakit Kak," Mentari menggosok telinganya, setelah Arka melepaskan nya, "Maaf, tadi refleks....soalnya Kak Radit begonya nggak ketulungan!" seru Mentari yang kini beralih melihat Radit.


"Hah...." Radit melongo, seumur hidupnya hanya Mentari yang pertama kali mengatakannya bego. Sungguh pemecah rekor.


"Kakak udah nikah sama Kak Ulan, berarti Mama Kak Ulan Mama Kakak juga, adik Kak Ulan adik Kakak juga!" jelas Mentari dengan panjang lebar, agar Radit mengerti, "Dasar keluarga es....begini jadinya!"


"Kok keluarga es?" kali ini Arka yang bertanya.


"Karena kalian itu sama, minim komunikasi..... apa-apa itu di ungkapkan, di tanya......jangan diem aja!" kata Mentari lagi dengan kesal, kemudian ia kembali melihat Radit, "Noh.....naik tangga, Kak Ulan di kamar, kelonin noh......nangis mulu dia pengen di kelonin suaminya yang nggak peka ini!"


Radit mengangguk, kemudian ia mulai masuk. Bisa di bayangkan betapa ia sangat asing di sana. Tapi demi cinta akan ia lakukan apa saja.


"Kak Radit malam Jum'at memang udah lewat, tapi hati Jum'at masih!!!" teriak Mentari yang seketika membuat wajah Radit memerah.


"Untung adik ipar," gumam Radit.


"Kak Radit hati-hati ya...." seru Mentari lagi.


"Dasar!" Arka langsung menjitak kepala Mentari.


"Ish.....sakit Sabaruddin!" Mentari menatap Arka dengan kesal.


"Gemes....." kata Arka dan langsung menggendong Mentari.


"Ahahahhaha....." Mentari tertawa karena ia memang sangat suka di gendong.