Mentari

Mentari
Episode 50



Dewi dan Anita mendengar itu hanya saling menatap lalu menggelengkan kepala heran


"Kami pamit pulang ya nak. Jaga diri, jangan capek-capek, nanti cucu kami ikut capek" nasehat ibu Dewi lembut


"Iya sayang, jaga ya cucu bunda" timpal ibu Anita


Mentari menganggukkan kepala sembari senyum, "iya bu, bunda. Tenang Mentari akan jaga kok" jawabnya dengan penuh percaya diri


"Oke.. kalau gitu kami pamit yaaa papa dan ayah sudah menunggu dimobil.. assalamualaikum" pamit ibu tetua lalu mereka pergi


"Wa'alaikumussalam" jawab Mentari


Sekarang tinggal mereka bertiga diruang tamu, Brian yang sejak tadi menyimak apa yang ia dengar, karena dia belum tau kalau istri bosnya itu hamil maka tanpa menunggu waktu lama setelah ibu tetua pergi langsung bertanya hanya untuk memastikan meskipun awalnya sudah curiga dengan keanehan bos dan istrinya itu


"Nona hamil?" Tanya Brian dan Mentari dengan cepat mengangguk sambil menjawab


"Iya bapak Brian"


"Alhamdulillah ya Allah, apa ini keinginan penerus Purnawan? Tanya Brian lagi


"Bukan bapak Brian, ini keinginan saya bukan baby" jelas Mentari yang membuat Brian sedikit tercengang


"Parah, keinginan ibunya saja saya sudah seperti ini apalagi anaknya" batinnya sambil menunduk pasrah


Arka melihat itu, "kenapa Brian?"


"Pak, sepertinya anak bapak tidak suka saya" Brian dengan wajah sedikit sedih


"Kenapa?" Tanya Arka penasaran, apa yang terbesit dikepala Brian sehingga berkata seperti itu


Mentari baru selesai mendandani Brian tiba-tiba perutnya bunyi, ia pun segera pamit


"Kak Arka, bapak Brian. Aku makan dulu yaa, lapar... hehehe" pamit Mentari lalu ia pergi tanpa menunggu jawaban dari suami dan Brian


"Gini pak, belum lahir saja saya sudah didandani seperti ini, bagaimana kalau sudah besar nanti" rintihan hati Brian kepada bos-nya itu


"Hahaha... Ada-ada saja kamu Brian, Mentari tadi sudah bilang kalau itu keinginannya"


"Maaf pak, nona hanya tidak mengerti tapi itu sebenarnya keinginan anaknya" jelas Brian lagi untuk meyakinkan bosnya


"Kayak sudah pengalaman saja kamu" ucap Arka jauh dari kata formal. Memang saat Arka mengenal Mentari dan Brian sebagai perantara untuk antar jemput Mentari maka Arka sedikit berubah, ia kadang memanggil Brian layaknya seperti teman sendiri tanpa embel-embel asisten dan jauh kata formal dan kaku


"Saudara saya pernah hamil dan tingkahnya seperti nona, lebih menakutkan lagi kadang permintaan mereka itu aneh dan tidak masuk akal tapi kalau tidak dituruti akan menangis sampai keinginannya terpenuhi, ada lagi yang lebih parah pak..." Ucap Brian tiba-tiba dipotong oleh Arka saking penasarannya


"Apa itu Brian?" Tanya Arka dengan wajah seriusnya


"Kalau pengen sesuatu misalnya makanan pak kalau tidak diturutin anaknya pas lahir ileran"


"Itu hanya mitos Brian, ileran itu mungkin karena mau tumbuh gigi" Arka tidak percaya dengan ucapan Brian itu


"Tapi itu benar pak, semua orang bilang seperti itu, anak saudara saya pun seperti itu" jelas Brian lagi


"Brian, ini lebih menakutkan dari yang saya bayangkan, jadi harus diturutin ya?" Tanya Arka lagi dan Brian hanya mengangguk cepat


"Pak, saya harus pamit pulang, assalamualaikum" pamit Brian


"Wa'alaikumussalam, hati-hati dijalan dan jangan lupa pakai masker dan buka bulu mata palsumu itu, terima kasih sudah sabar menghadapi Mentari hari ini" ucap Arka kepada Brian


"Sama-sama pak, demi nona saya ikhlas pak" ucap Brian lalu ia pulang, tetapi terlebih dahulu ia memakai masker dan melepas bulu mata palsu yang Mentari pasang


...💛💛💛...


Malam yang tidak seperti biasanya, dimana Mentari tidak mau tidur kalau tidak dipeluk. Sedangkan mata Arka sudah tidak mampu ia kondisikan


"Kak Arka, aku lapar lagi" ucap Mentari


"Makan" jawaban singkat Arka dengan mata tertutup


"Makan, gak peka bangat sih" Mentari mulai kesal


"Lapar" ulang Mentari lagi


"Makan dek" jawab Arka lagi yang sudah setengah sadar karena ia sangat mengantuk


"Mau makan ubi" ucap Mentari lagi


"Iya dek, makan" jawab Arka dan sekarang sudah tertidur pulas


Mentari yang masih dalam dekapan suaminya itu terdengar jelas deru napas Arka yang teratur


"Sudah tidur.. hmmm, aku ikut tidur aja kalau gitu"


Mentari berusaha menutup mata dengan harapan agar cepat menyusul suaminya tidur dan berusaha mengalihkan semua keinginannya untuk makan ubi.


"Kleponnya enak bangat" ucap Mentari seorang diri sambil mengusap perutnya


"Apa aku bikin aja yaa" batin Mentari, "tapi ubinya mau ambil dari mana?, Hmmm, tapi ingin sekali makan klepon" Mentari bingung dengan keinginannya itu


Mentari mencoba membangunkan suaminya dengan menggoyangkan lengannya tapi sang empu tidak terusik sama sekali.


"Kleppppoooooon" teriak Mentari yang membuat Arka terlonjak kaget


"Astaghfirullah dek, kakak kaget" ucap Arka sambil mengusap-usap dadanya


"Maaf, tapi aku mau makan klepon" ulang Mentari lagi


"Nanti kita cari kalau sudah pagi, ini masih jam 11 malam sudah tutup penjual klepon jam segini"


"Tok tok tok... Kenapa tuan?, maaf tuan tadi ambil air minum didapur tidak sengaja mendengar suara Nyonya teriak, makanya saya kemari takutnya nyonya kenapa-napa" Ucapnya melihat Arka setelah Mentari membukakan pintu kamar


"Tidak mbok, apa ada ubi didapur mbok?" Tanya Mentari


"Tidak ada" jawab ARTnya


"Untuk apa dek?" Tanya Arka dengan muka bantalnya


"Mau buat klepon"


"Sekarang?"


"Iya kak, masa besok"


"Tapi gak ada ubi"


"Beli"


"Oohh Tuhan mana ada sih penjual ubi tengah malam seperti ini" batin Arka


"Kalau gitu, tunggu disini kakak cari dulu penjual ubi dan klepon" pamit Arka dan meraih kunci mobilnya


"Ikut" ucap Mentari yang sudah mengikuti belakang Arka


"Nanti masuk angin" larang Arka


"Pakai jaket"


"Bahaya angin malam, gak baik untuk ibu hamil"


"Ini keinginan baby bukan Mentari" kilah Mentari lagi


Arka yang cerdas langsung kepikiran untuk menelfon Brian dan Aldi


📞 "Brian tolong carikan ubi atau klepon sekarang" perintah Arka ditelepon lalu ia matikan dan lanjut menelepon Aldi


Aldi yang sudah tidur terbangun karena telepon Arka


📞"Iya Ar, ada apa telepon malam kayak gini ganggu orang tidur saja" kesal Aldi


📞"Di, ponakanmu ingin makan klepon.. minta tolong cariin yaa" Arka memohon


📞"Kamu bapaknya,, kamu yang cari lah"


📞"Di,, Mentari ingin ikut kalau aku yang keluar cari, itu bahaya.. tut tut tut" ucapan Arka berhenti setelah mendengar bunyi ponselnya mati


Arka mengerutkan kening lalu dengan cepat membalikkan badannya kebelakang tepat Mentari dan ART yang masih berdiri di depan pintu kamar


"Klepon lagi dijalan" memberi tahu Mentari


"Haaa.. klepon jalan kaki kesini?"


"Mulai lagi polosnya mbok" ucap Arka kepada ARTnya


ART Arka hanya senyum lalu memberi nasehat kepada Arka


"Sabar ya tuan, mood ibu hamil memang seperti itu, saya pergi dulu ya" pamit ART lalu ia pergi meninggalkan tuan dan Nyonya itu


***Mentari datang, maaf yaa baru up lagi. terima kasih sudah setia memantau kisah Mentari.. Semoga kita semua sehat selalu, diberikan kesehatan dan kemampuan untuk menjalankan puasa.. selamat berpuasa bagi umat muslim 😊💕


Kalau boleh tau teman-teman sudah berapa puasanya?


...SEMOGA SUKA ❤️...


...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAA 😉...


...TERIMA KASIH 🙏***...