Mentari

Mentari
Episode 141



Setelah kepergian Nina, Mahesa, Arka, dan Mentari. Radit juga pergi ia ingin mencari Rembulan di tengah gelapnya malam Radit terus menyusuri jalanan tidak tentu arah dan tujuan, yang terpenting adalah mencari Rembulan karena ia juga sangat khawatir dengan keadaan Rembulan. Awalnya Radit berpikir jika ia tidak lagi di dekat Rembulan, mungkin Rembulan tidak akan sedih. Namun ternyata tidak, setelah kepergiannya pun sama saja Rembulan semakin tidak karuan. Sampai akhirnya Radit melihat seorang wanita yang tengah berjalan di sisi jalanan, ia yakin itu adalah Rembulan. Cepat-cepat Radit menepikan mobilnya kemudian turun dan mendekati wanita tersebut, dan ternyata benar itu adalah Rembulan. Radit terkejut melihat penampilan Rembulan karena terlihat tidak karuan dengan rambut yang acak-acakan dan air mata yang terus mengalir.


"Ulan," Radit memegang kedua lengan bagian atas Rembulan.


Rembulan menatap siapa orang yang kini berada di depannya, "Radit," kata Rembulan.


"Iya ini aku," kata Radit.


"Tidak mungkin," Rembulan tersenyum seakan tidak ada terjadi apa-apa bahkan seolah ia baik-baik saja, "Nggak mungkin kamu Radit, aneh.....dia itu pergi nggak tahu mana aku yang aneh sih," kata Rembulan lagi sambil terkekeh.


Radit menyadari ada yang berbeda dari Rembulan, pandangan rembulan terlihat berbeda cara berbicaranya pun terlihat berbeda. Rembulan bukan wanita yang banyak bicara. Bahkan ia hanya diam biasanya bila tidak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu, "Kamu kenapa di sini, ini sudah tengah malam...." kata Radit lagi.


"Ini masih siang, hari juga terang begini. Mana ada malam aku mau jalan-jalan, suntuk di rumah mau cari teman di luar mau ajak main anak aku kasihan dia di dalam, soalnya aku sakit-sakitan terus," jawab Rembulan santai.


Radit masih diam dalam kebingungannya Rembulan memang berbeda apakah apa yang dikatakan oleh Mentari barusan benar jika Rembulan stress, tapi sepertinya apa yang dikatakan Mentari memang benar adanya Rembulan sangat berbeda. Bahkan Radit sudah tidak mengenali lagi siapa wanita yang kini di hadapannya, ini Rembulan jauh berbeda.


Sedetik kemudian Rembulan melepaskan tangan Radit yang memegang kedua lengan bagian atasnya, "Aku jalan-jalan dulu ya semoga ketemu lain waktu," pamitran Rembulan lalu ia kembali berjalan.


Sesaat kemudian Radit juga tersadar dari lamunannya kemudian ia berjalan dengan langkah kaki yang lebar untuk mengikuti Rembulan, "Emang kamu mau kemana? Ayo kita pulang sudah malam," Radit mulai bicara dengan perasaan yang tidak karuan.


"Kamu apasih.....ini masih siang kamu enggak lihat ini terang benderang begini kamu bilang udah malam, udah aku mau pergi dulu kamu siapa sih ganggu aja!" tangan Rembulan kembali melepaskan tangan Radit.


Tidak ingin membuat Rembulan nantinya berteriak ataupun meronta-ronta yang akan membahayakan Rembulan, akhirnya Radit mengikuti dari belakang, tapi entah kemana Rembulan melangkah tanpa tujuan yang jelas. Tanpa ada rasa lelah sedikit pun, Radit benar-benar khawatir akan hal ini. Akhirnya Radit meminta sahabatnya Adam untuk membawakan obat penenang untuk Rembulan, mungkin setelah Rembulan tidak sadarkan diri Ia bisa membawanya pulang, tidak menunggu lama Adam sahabat yang setia langsung datang dan membawa suntikan berisi obat penenang di dalamnya.


"Ulan,"Radit kembali memegang lengan Rembulan hingga Rembulan tidak lagi bisa melangkah.


Radit terus melihat Rembulan dengan perasaan iba bahkan 1 titik air mata tumpah dari mata Radit, air mata itu adalah air mata penyesalan atas apa yang sudah ia lakukan terhadap orang yang sangat ia cintai. Cara yang ia lakukan ternyata sangat membuat Rembulan terluka, awalnya ia pikir semua akan baik-baik saja tapi ternyata tidak. Awal yang dimulai dengan kesalahan berakhir pula dengan kesulitan. Sangat sulit menemukan jalan keluar semua ini benar-benar meninggalkan penyesalan akan hal itu, entah sampai kapan ya bisa terus melihat Rembulan tersiksa seperti ini? Dengan cepat Radit mengangkat Rembulan ke dalam mobil setelah itu ia membawa Rembulan pulang ke rumah mertuanya.


Sebenarnya bisa saja membawa Rembulan ke Apartemen miliknya akan tetapi Radit tidak ingin membuat keluarga yang lainnya khawatir, dan mungkin juga Rembulan nanti akan mengamuk karena ia yang merawatnya. Jadi Radit ingin mencari aman saja, aman bagi Rembulan dan juga yang lainnya sudah tidak menghawatirkan Rembulan ada di mana karena mereka sudah bersama walaupun dengan keadaan yang memprihatinkan.


"Ulan," seru nanti saat melihat Radit menggendong Rembulan memasuki rumah. Ranti memang hanya berdiri di depan pintu rumahnya berharap jika Rembulan segera kembali ia tidak bisa tidur sebelum Putri sulungnya itu pulang ke rumah. Ranti sangat bersyukur sekali karena kepulangan Rembulan.


"Ma, Rembulan tidak apa-apa dia hanya sedang terpengaruh obat yang barusan Radit suntikan, karena karena Radi takut kalau Rembulan menolak untuk dibawa pulang," jelas Radit.


Tidak ingin memperkeruh suasana Ranti mengangguk, "Tolong kamu bawa Rembulan ke kamarnya," pinta Ranti kemudian ia ikut berjalan dibelakang Radit mengikuti Rembulan yang tengah di gendong oleh Radit.


Sampai dikamar perlahan Radit membaringkan tubuh Rembulan di ranjang, setelah itu ia mulai memeriksa keadaan Rembulan, "Ma, Radit bisa minta tolong ambilin air hangat sama handuk," pinta Radit, karena Rembulan demam.


"Iya...." Ranti keluar dari kamar dan mengambil apa yang di pinta Radit, kemudian sesaat kemudian ia yang meletakkannya di atas meja nakas, "Tadi kamu menemukan Rembulan di mana?"


"Di jalan Ma, Rembulan sedang berjalan tanpa arah yang jelas," jawab Radit sambil mulai meletakkan handuk basah ke atas dahi.


"Did, Mama mohon selesaikan masalah kalian dengan baik-baik tolong......Mama mohon Dit," pinta Ranti dengan air mata mulai berlinang di pipinya.


"Iya Ma," Radit mengangguk, dan merasa bersalah saat melihat air mata Ranti jatuh begitu saja, "Maaf ya Ma, karena Radit semua jadi begini," kepala Radit tertunduk dan ia sangat malu sekali melihat wajah Ranti.


"Iya, yang sudah berlalu sudah tidak apa....Mama cuman mau kamu yakinkan Rembulan tentang kesungguhan kamu, kecuali kamu memang tidak mau, Mama tidak akan pernah memaksa.....tapi kamu bisa keluar dari kamar ini, dari rumah ini, dari kehidupan Rembulan sekarang...."kata Ranti sambil memegang dadanya, ia hanya tidak ingin Rembulan semakin stres karena melihat Radit. Lagi pula Rembulan tidak sama seperti Mentari yang terus merasa bahagia walaupun ia terluka. Rembulan adalah wanita yang tertutup dan tidak ingin berbagi masalah ataupun apa yang ia rasakan pada orang lain.


Radit mengangguk.