Mentari

Mentari
Episode 90



Setengah hari ibu Dewi ada dikantor Arka, ia pun keluar dari ruangan bersama Mentari. Mereka jalan beriringan sambil cerita sesekali mereka ketawa.


Arka yang duduk santai sudah menyelesaikan semua pekerjaannya tinggal menunggu istri dan ibunya.


"Bahagia bangat kelihatannya, lagi bahas apa?" tanya Arka penasaran.


"Hmmm, gimana ya bu, dikasih tau aja kak Arka atau jangan?" tanya Mentari kepada ibu mertuanya.


"Jangan, biarkan dia penasaran" jawab ibu Dewi lalu dia duduk, "Duduk disini sayang" sambungnya sambil menepuk sofa disampingnya.


Mentari pun nurut apa yang diucapkan ibu mertuanya itu. Arka ikut duduk di sofa depan mereka sehingga posisi mereka berhadapan membuat lawan bicara jelas untuk mendengar.


"Sebenarnya saya penasaran, ada apa bu?" tanya Arka lagi.


"Kak Arka ngeyel sih, nanti juga dikasih tau kalau sudah waktunya" jawab Mentari.


"Nah waktunya itu yang tidak jelas" ujar Arka lagi tidak mau kalah, "Terserah, aku pusing hadapin perempuan" sambungnya terdengar pasrah.


Ia tau percuma bertanya saat ini tidak akan dikasih tau juga oleh ibu dan Mentari.


"Jadi kapan pulang, ini sudah jam 4 sore" Ucap Arka lagi dengan mata fokus di jam tangannya itu.


"Ya udah kita pulang" Ucap Mentari sembari bangkit dari duduknya yang dibantu oleh Arka.


"Terima kasih kak, rasanya badan Mentari itu tambah berat sekarang" ucapnya setelah berdiri dengan sempurna sambil memegang ponselnya.


"Baru sadar bu kalau dia berat" ucap Arka memberitahu Ibunya.


Ibu Dewi hanya senyum mendengar penuturan anaknya itu dan Mentari sudah cemberut.


"Jadi maksud kak Arka, aku gendut?, jahat kak Arka, padahal aku gendut karena mengandung, iya kan bu?" Ucap Mentari mengakhiri dengan pertanyaan kepada ibu mertuanya.


"Iya, semua gara-gara kamu Arka, jangan bilang seperti itu dong" Ucap Ibu Dewi membela Mentari agar tidak sedih.


Ia sangat tau perasaan ibu hamil itu sangat sensitif, Arka mengangkat bahunya lalu mengambil jasnya dikursi kebesarannya itu.


"Ayo kita pulang" ajak Arka.


"Duluan, aku dengan ibu saja" Mentari pura-pura ngambek.


Arka pun jalan diikuti oleh ibu Dewi dan Mentari. Mereka jalan sepanjang koridor kantor sembari cerita, lagi asyik-asyiknya cerita ibu Dewi tiba-tiba kepikiran untuk ke dokter kandungan lagi untuk cek keadaan cucunya itu.


"Gimana kita ke dokter sekarang?" ajak ibu Dewi.


"Capek bu, lain kali yaa" tolak Mentari dengan lembut.


"Ok, sudah masuk 9 bulan kan?" tanya Ibu Dewi.


"Sudah 9 bulan bu, gak tau lewat berapa hari" Jawab Mentari santai.


Seketika ibu Dewi berhenti melangkah, ia kaget mendengar penuturan mantunya itu, bisa-bisanya kandungannya sudah lebih 9 bulan masih keluyuran diluar.


"Serius?, ya Allah. Ibu merasa gagal menjagamu selama ini, tapi hitungan ibu baru masuk 9 bulan" ucap ibu Dewi tidak percaya.


Arka berhenti karena sudah jauh dari ibu dan istrinya, namun masih mendengar percakapan diantara mereka berdua.


"Benar kata Mentari bu, hitungan kami gak mungkin salah" ujar Arka yang diangguki oleh Mentari.


"Astaghfirullah, untung cucuku gak brojol hari ini di kantor" Ucap Ibu Dewi sembari memegang kepalanya yang mendadak pusing mendengar ucapan anak dan mantunya itu.


"Kita pulang sekarang, hati-hati sayang" Ucap ibu Dewi lagi.


Perjalanan pulang dipenuhi dengan omelan ibu Dewi dalam mobil membuat Arka dan Mentari hanya diam tanpa mengeluarkan satu patah kalimat.


"Aku heran, apa kalian berdua gak sayang anak kalian?" tanya ibu Dewi kesal pada anak dan mantunya.


Ibu Dewi kali ini marah besar bukan hanya pada Arka melainkan pada Mentari juga. Ia baru kali ini memarahi mantunya selama menikah dengan anaknya.


"Pokoknya Arka, mulai hari ini jangan ke kantor lagi, jaga Mentari" ucap final ibu Dewi.


"Iya bu, nanti Arka minta lagi asisten Brian yang urus semua pekerjaan kantor" Jawab Arka dengan lembut kepada ibunya.


"Ok, hati-hati bawa mobil" tegur ibu Dewi lagi.


Perjalanan ditempuh 1 jam dari kantor sampai rumah, semua itu arahan dari ibu Dewi kepada anaknya. Ini semua kemauan ibu Dewi kalau Arka mengemudi mobil dengan kecepatan lambat. Mereka masuk rumah dengan berjalan pelan menyeimbangkan langkahnya dengan Mentari.


Ibu Dewi lelah, lemah dan letih akibat kelakuan keluarga anaknya ini. Ia duduk sambil menyandarkan badannya di sofa sembari memejamkan mata.


"Bagaimana bisa, kalian bedua ini menghadapi


...💛💛💛...


Malam ini Mentari tidurnya tidak nyenyak, sedikit-sedikit perutnya mules. Ia mulai bangkit dari tempat tidurnya setelah sekian lama menahan rasa sakit diperutnya.


"Huuff, sakitnya gak berhenti" Batin Mentari sambil berjalan pelan dalam kamar.


"Apa aku minum kali yaa untuk meredakan sakit" gumam Mentari lalu pergi menuju dapur untuk minum.


Setelah ia minum dengan harapan rasa sakit perutnya berhenti tapi kembali sakit bahkan semakin sering dan lama dari biasanya dengan berjalan pelan kembali dikamar.


Mentari mulai meringis kesakitan dengan pelan pelan tangannya menggoyangkan bahu suaminya.


"Kak Arka, Mentari sakit perut" Ucapnya.


Arka bangkit dengan cepat, "haaa, kamu sakit dek, ke rumah sakit sekarang. Mana kunci mobil" ucap Arka kalang kabut karena efek kaget dari tidurnya.


"Kak Arka, perbaiki dulu perasaannya, memang siapa yang mau kerumah sakit?" Tanya balik Mentari.


"Ohh" respon Arka setelah sadar dan merasakan kepalanya sedikit pusing, "5 menit ya dek" sambung Arka lalu kembali merebahkan diri untuk memperbaiki perasaannya.


"5 menit, emang sakitnya mengerti kalau minta waktu 5 menit. gila kak Arka ini" Mentari mulai marah-marah.


Emosi Mentari mulai tidak stabil saat ini karena kurangnya waktu tidur dan rasa sakit diperutnya sudah tidak sanggup lagi.


"Kak ke rumah sakit, sudah tidak sanggup" Ucap Mentari lagi.


Arka mendengar itu langsung bangkit dengan mata sedikit merah, "Dek, benar sakit perut?" tanyanya mencoba meyakinkan diri dan ingin memperjelas ucapan istrinya itu.


"Iya, cepat" Ucap Mentari sedikit membulatkan matanya yang sedikit berair.


Sesampainya depan kamar orang tuanya langsung mengetuk pintu, ketukan ketiga baru pintu terbuka.


"Ada apa" tanya ibu Dewi kepada anaknya itu.


"Mentari sakit perut bu" Ucapnya dengan panik.


"Haaa, maksudnya mantu ibu akan melahirkan?" tanyanya balik.


Pak Rahmat mendengar suara depan pintu merasa terganggu, ia bangun dan menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" tanya Rahmat.


"Mentari yah, sakit perut dan minta ke rumah sakit sekarang" Ucap Arka lagi.


"Telepon Dokter bu, kita siap-siap sekarang" Ucap pak Rahmat setelah mendengar kalimat dari anaknya itu.


"Ok Yah" Ucap Arka dan kembali ke kamar begitupun dengan Rahmat dan Ibu Dewi.


Mobil kali ini di kemudi ayah Rahmat meskipun Arka meminta dirinya yang bawa, bukan pak Rahmat tidak mempercayai anaknya, tapi melihat kondisinya yang panik sangat tidak memungkinkan untuk mengemudi mobil.


Mentari mulai berkeringat bagian dahi dan meringis kesakitan sembari memegangi perutnya. Ibu Dewi dan Arka ikut panik melihat itu.


"Sudah dekat kok sayang" Ucap ibu Dewi sambil mengusap kepala Mentari yang dilapisi jilbab.


"Bu, aku tidak sanggup melihat Mentari seperti ini" Ujar Arka dengan mata yang sudah menangis.


"Arka, kamu jangan panik nanti Mentari ikut panik" Ujar pak Rahmat yang fokus nyetir.


"Iya yah" jawab Arka. Meskipun jawabannya seperti itu tapi tergambar jelas di wajahnya kalau saat ini sangat panik dan sekali-kali Arka menggenggam erat tangan istrinya seakan memberikan ke kuatan.


Mentari meringis kesakitan dan kadang memejamkan mata dan itu membuat Arka semakin takut, "Dek, jangan pejamkan mata" larang Arka.


"Kak jangan banyak aturan ini lagi sakit" ucap Mentari pelan tapi dalam hati kesal. Ia sangat sensitif dengan ucapan suaminya karena menurutnya dengan memejamkan mata mampu mereda rasa sakit yang ia alami saat ini.


Ibu Dewi antara khawatir dan lucu menghampirinya seketika, khawatir dengan keadaan mantunya dan lucu dengan ucapan mantunya juga.


"Nak, ibu hamil dan orang yang mau melahirkan itu sensitif" Ucap ibu Dewi memberikan pengertian kepada anaknya itu yang hanya diangguki oleh Arka tanda respon.


Mobil pun sampai di RS yang biasa mereka datangi keluarga Purnawan. Mentari turun dari mobil dan ibu Dewi masuk duluan dalam RS untuk meminta suster membawa kursi roda.


"Suster kursi roda, cepat ya" Ucap ibu Dewi.


Suster pun langsung lari dengan mendorong kursi roda menuju pintu utama.


"Sini bu" Ucap suster


Mentari pun duduk dikursi roda dan dibawa ruang persalinan, "Maaf ya pak bu" Ucap suster lalu menutup pintu ruangan itu.


Arka diluar panik begitupun dengan kedua orang tuanya. Arka selalu memantau pintu ruangan dimana istrinya berada. Duduk bangkit dari kursinya lalu mondar mandir didepan pintu ruangan itu.


Arka kembali kepada ibunya, "Bu, sudah lima menit pintu belum terbuka" ucap Arka dengan gelisah.


"Sabar dong, ibu juga panik ini" ucap ibu Dewi juga.


"Tenang, coba telepon Hadi" Ucap pak Rahmat.


"Sudah pak, sebelum kesini aku sudah telepon" jawab Ibu Dewi.


Beberapa menit kemudian,.dari jauh ibu Anita jalan cepat meninggalkan suami dan anak laki-lakinya dibelakang. setelah sampai tidak menunggu waktu lama, ibu Anita langsung bertanya,


"Gimana Mentari?" tanyanya.


"Masih didalam bun" jawab Arka sambil menunjuk ruangan yang berada didepan mereka.


Ibu Anita duduk untuk menenangkan perasaannya, jujur saja ia sangat terkejut saat menelfon besannya dan mengatakan kalau Mentari akan ke rumah sakit, ia berpikir kalau anaknya itu kenapa-napa.


Ibu Anita sekali-kali menghembuskan napas dengan sedikit kasar dan pak Hadi menyadari kalau seperti itu tanda istrinya sedang tidak baik-baik saja.


Sementara Aldi menghampiri Arka, untuk menanyakan sebenarnya apa yang terjadi sehingga sang adik masuk rumah sakit dini hari. Aldi masih bertanya tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan disana muncul salah satu suster yang menangani Mentari.


"Suami ibu Mentari" ucapnya.


Arka langsung bangkit dari duduknya dan sedikit berlari menghampiri suster tersebut, "Iya sus, saya suaminya" Jawab Arka.


"Mari pak, masuk didalam" Ucap suster tersebut mempersilahkan Arka.


Arka pun masuk didalam, saat melangkah masuk diruangan persalinan sang isteri sudah berjanji akan kuat namun setelah melihat keadaan Mentari tiba-tiba matanya tanpa permisi menjatuhkan air mata.


"Kak kenapa menangis?" tanya Mentari dengan sedikit menyunggingkan senyum, walaupun terlihat jelas diwajahnya menahan rasa sakit.


"Tolong bapak bantu semangati istrinya yaa" ucap suster tersebut tersebut lalu memberi arahan kepada Mentari untuk mengatur napasnya.


Arka yang menyaksikan itu, air matanya tidak berhenti keluar sampai dokter dan suster didalam ruangan itu heran. Dokter pun bercandai Arka,


"Sepertinya bapak sangat sayang kepada istrinya" Ucap dokter yang menangani Mentari.


"Iya pak, andaikan nyawa saya sepuluh aku kasih istri saya sembilan, tidak apa-apa saya satu saja" Jawab Arka membuat yang didalam itu tersenyum lucu.


Mentari memutuskan untuk melahirkan normal agar ibu merasakan jadi ibu yang sesungguhnya, nikmat dan tangguhnya seorang ibu saat ia bertaruh nyawa untuk buah hatinya.


Mentari berpegang pada tangan Arka dan berkuat. Tangan sang suami merupakan sumber kekuatannya saat ini.


"Diatur lagi napasnya bu, sedikit lagi bu" Ucap dokter tersebut dan akhirnya.


"Oek Oek Oek" suara tangisan bayi.


Diluar yang menunggu mendengar suara bayi langsung berucap syukur sedangkan Hadi langsung sujud syukur.


Ia sangat khawatir dengan keadaan putrinya meskipun terlihat tenang tapi jauh dari itu ia sangat takut kalau terjadi sesuatu pada anak dan cucunya.


Sedangkan dalam ruangan itu, dokter termasuk suster mencari keberadaan suami Mentari.


"Maaf bu, suaminya mana?" tanya suster.


Jangan lupa dukungannya ya teman-teman, Like, Komen dan share ke teman-temannya. Terima kasih sudah mendukung karya ini 🙏😊🥰