
"Putri bunda gimana?" tanya Ibu Anita setelah dibukakan pintu oleh Aldi.
"Masuk dulu bun" Ucap Aldi tanpa menjawab pertanyaan ibunya itu.
Ibu Anita masuk diikuti oleh Aldi dibelakangnya. Mentari melihat ibunya langsung senyum dan merentangkan tangannya.
"Peluk" Ucap diatas tempat tidurnya itu.
Ibu Anita menyambut tangan putrinya itu lalu mereka pelukan.
"Kakak, sini" Panggil Mentari lagi pada kakaknya itu.
Aldi yang lagi perhatikan ponselnya langsung menoleh mendengar namanya dipanggil, "Aku?" tanya Aldi sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kakak Mentari hanya kakak, gimana sih" Ujar Mentari lagi dengan muka cemberut dalam pelukan ibunya itu.
Aldi langsung berdiri menghampiri ibu dan adiknya itu, ia bingung kenapa dia dipanggil, "Terus apa lagi?" tanya Aldi bingung.
"Peluk song" Jawab Mentari lagi dengan sudut mata tidak bersahabat.
"Iya iya bumil, sensitif amat sih" Ucap Aldi lalu memeluk wanita yang berharga dalam hidupnya itu. Dalam melepas rindu tiba-tiba Mentari mengingat Ayahnya.
"Papa mana?" Tanya Mentari lagi.
"Ke toilet" Jawab ibu Anita.
Dalam pelukan melepas rindu begitu lama sampai Mentari memintanya untuk dilepas.
"Panas" Ucap Mentari, seketika ibu dan Aldi melepas pelukannya dan saat itu Arka terbangun karena suara Mentari sedikit mengganggu pendengarannya.
Arka membuka mata yang dilihat pertama adalah ibu mertuanya, Arka celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.
"Kami datang bersamaan, tapi pas depan tadi mereka ke toilet katanya, dan papa juga ini belum kembali sampai sekarang" Jelas Ibu Anita yang diangguki oleh semua yang ada disitu.
Menjelang beberapa menit kemudian para tetua itu belum kembali dan ibu Anita menunggu sambil menelfon suaminya tapi tidak tersambung.
Sementara disisi lain, Rionaldo dan Santi saat ini lagi berpesta di satu tempat klub malam di kota mereka. Santi begitu menikmatinya sambil minum segelas vodka dengan sedikit berlenggak lenggok dan sesekali mewarnainya dengan ketawa.
"Diam" Ucap Rionaldo.
"Minum biar segelas, nih" Respon Santi dengan menyodorkan segelas vodka.
"Aku masih berpikir jernih" Tolak Rionaldo dengan mendorong gelas itu menjauh darinya.
"Ohh, aku tau. Cari kehangatan?" Tanya Santi lagi dengan sedikit senyum.
"Aku menghargai wanita" Jawab Rionaldo lagi.
Pikiran Rionaldo kali ini berkelana memikirkan Mentari yang masuk rumah sakit. Ia tidak tega untuk mencelakai Mentari, tapi itu jalan satu-satunya untuk balas rasa sakit hatinya.
"Hahaha" Santi ketawa jahat, "Jangan munafik, terus ngapain kesini?" Tanya Santi lagi dengan gelas vodka ditangannya sambil menghampiri Rionaldo.
"Minggir" Ucap Rionaldo dan langsung berdiri.
Seketika wajah Santi merah padam mendengar kata-kata keluar dari bibir Rionaldo itu malu dan marah jadi satu. Bagiamana tidak, baru kali ini dia ditolak mentah-mentah oleh laki-laki ditempat yang ramai. Santi mendekat kearah Rionaldo mencoba untuk mensejajarkan dirinya lalu berbisik di telinga Rionaldo.
"Untung kamu rekan bisnisku, kalau tidak sudah lama aku tendang" Ucap Santi itu lalu pergi.
"Mana bau alkohol lagi" Batin Rionaldo. Ia tidak menghiraukan ucapan Santi itu lalu meraih kunci mobilnya diatas meja lalu pergi dari tempat itu.
Sepanjang perjalanan Rionaldo terus kepikiran dengan Mentari, ia sayang dengan sahabatnya tapi rasa cintanya yang menghancurkan segalanya. Dan saat ini sangat tidak mungkin muncul dihadapan Mentari sebagai sahabat setelah anak buahnya mencelakainya, apalagi keluarga Algantara dan Purnawan tidak akan tinggal diam dengan hal itu.
Rionaldo membawa mobil dengan pelan ditengah jalan kota membuat pengendara lain ada melambungnya tapi ada juga yang jengkel dan tidak segan-segan mereka megurnya.
"Mas kalau bawa mobil kepinggir, jangan ditengah menghambat pengendara lain saja" Ucap gadis itu lalu melajukan mobilnya.
Rionaldo pun pelan-pelan meminggirkan mobilnya sejenak hanya untuk istirahat, ponsel terus berdering dan dia mengabaikan semua itu, menunduk dengan setir mobil sebagai tumpuannya sembari mengingat perbuatan yang ia lakukan pada Mentari selama ini dan tanpa sadar ia ketiduran.
Sedangkan Santi, masih asyik joget-joget di klub berpesta dan dia kira Mentari kehilangan anaknya karena sebelum pergi dari tempat kejadian anak buah Rionaldo sempat melihat darah dan Mentari pingsan.
"Benar, hehehe" Jawab Santi dengan menaikkan jarinya minta sayu gelas vodka lagi.
"Tapi kami tidak berhasil bos" Ucap anak buahnya itu.
"Maka dari itu, kita berhasil" Jawab Santi yang membuat anak buahnya semakin bingung.
"Maksudnya bos?" tanya anak buahnya lagi.
"ssstttttt" Ucap Santi sambil menempelkan jari telunjuk dekat bibirnya tanda melarang anak buahnya bertanya lagi, "Pergi" sambungnya mengusir anak buahnya itu.
"Baik bos" Ucapnya lalu pergi dari klub itu dan disana sudah ditunggu oleh teman-temannya.
"Bagiamana bos?" tanya salah satu diantara mereka.
"Bos bahagia, kita pulang" jawab anak buah yang bertemu Santi itu, dan seketika mobil mereka hilang dari halam klub malam itu.
...💛💛💛...
Pukul 3 pagi
Mentari merasa ingin buang air kecil, tetapi untuk turun dari tempat tidur saja setengah mati. Ia masih takut bergerak banyak masih menghawatirkan kandungannya. Mentari sambil meringis menahannya karena sudah tidak bisa tahan lagi.
"Kak Arka" panggil Mentari dengan sedikit lirih.
"Kak Aldi" panggil Mentari lagi.
"Bunda" Panggilnya.
Ketiga orang yang ia panggil tidak ada yang bangun, begitu nyenyak rasanya mereka tidur. Mentari mengatur napas karena sudah kesal, ia mengambil bantalnya dan melemparkannya sembarang tempat dan alhasil bantal itu melayang pas mengenai badan Aldi.
Aldi mengambil bantal itu dan memeluknya, Mentari melihat itu dibuat jengkel.
"Kak Aldi, sengaja atau benar-benar tidur?" lirihnya dengan pertanyaan.
Mentari memutuskan untuk merebahkan badannya lagi, namun rasa untuk buang air kecil semakin tidak tahan lagi. Ia pun dengan berat hati dengan nada sedikit keras memanggil suaminya itu.
"Kakaaakkkk" Panggil Mentari dengan menutup kupingnya.
Aldi dan Arka seketika bangun, begitupun dengan ibu Anita. Aldi dan Arka memegang dadanya tepat di bagian jantung.
"Dek, kalau manggiil itu pelan saja, untung lho kita ngak jantungan" Tegur Aldi dengan lembut.
Arka turun dari tempat tidur menghampiri tempat tidur istrinya itu, "Ada apa dek?" tanya Arka dengan lembut.
Mentari langsung meledek kakaknya dengan menjulurkan lidahnya, "Bleee", lalu menjawab pertanyaan suaminya, "Mau buang air kecil" jawabnya.
"Oohh, ayo kakak bantu" Ucap Arka lagi.
"Gendong" Ucap Mentari sambil merentangkan tangannya dan Arka menyambut tangannya istrinya lalu membawa sang istri kekamar mandi.
Ibu Anita dan Aldi melihat itu hanya geleng kepala heran, begitu manja Mentari sama suaminya.
"Bun, aku takut dengan Mentari" Ucap Aldi setelah Mentari dan Arka sudah dalam kamar mandi.
"Kenapa?" tanya ibu Anita.
"Terlalu manja bun" Ucap Aldi lagi mengeluarkan rasa khawatirnya itu
"Begitulah kalau hamil nak, kamu menikah baru akan tau bagaimana rasanya seorang suami menunggu sang buah hati yang sudah dinanti-nantikan" Jelas ibu Anita kepada putranya itu.
"Tapi bun, itu bukan berlebihan?" tanya Aldi lagi.
"Kamu akan semakin cinta jika kamu direpotkan oleh orang yang kamu cintai nak" Jawab ibu Anita kali ini membuat Aldi paham dan tidak bertanya lagi.
...**SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏**...