
"Kok aku sih Dit?" tanya Rembulan, karena ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Iya," Radit mengangguk, "Mana tau kamu nggak mau aku jenguk..." lanjut Radit.
"Iya udah deh terserah kamu aja, mau jenguk boleh....kalau nggak juga terserah," kata Rembulan dengan pasrah, andai saja suaminya bukan temannya sendiri mungkin tidak akan sesulit ini.
Radit mengangguk, dan ia sejenak diam, "Lan apa kita nggak tinggal satu atap aja? Kita masih suami istri yang sah," ujar Radit, ia menatikan jawaban Rembulan.
Rembulan setuju dengan apa yang di katakan Radit, tapi ia juga tidak bisa ikut dengan Radit. Karena ada dua orang tuanya yang harus mengijinkan dirinya terlebih dahulu, bukan maksud Rembulan durhaka pada suaminya. Akan tetapi ia sudah membuat kedua orang tuanya kecewa untuk dua hal, yang pertama ia menghilang saat pernikahan nya akan di langsungkan dengan Arka, kedua ia menikah diam-diam dan ia tidak ingin membuat kecewa orang tuanya untuk yang ketiga kalinya.
"Aku sih mau Dit, cuman.....aku butuh restu dari Papa aku, aku udah banyak banget bikin mereka kecewa Dit..... padahal dalam setiap duka ku mereka selalu ada untuk aku," jawab Rembulan dengan mata yang berkaca-kaca. Ia ingat saat mencoba mengakhiri hidupnya keduanya orang tuanya menangis dan terus ada di sampingnya, lalu dengan mudahnya memaafkan dirinya. Kemudian saat ia hamil walaupun kedua orangtuanya awalnya marah, tapi tidak berlangsung lama. Kedua orangtuanya langsung merangkulnya kembali, memberikan semangat padanya. Lalu apakah ia tega kembali melukai hati dua malaikat yang ia panggil Papa dan Mama itu? Tentu saja tidak. Sebab ia tahu, ia tidak akan bahagia bila tanpa restu kedua orang tuanya. Rembulan hanya ingin memperbaiki segalanya dan memulai dengan baik hingga semua bisa saling menerima.
"Tapi kamu istri ku...." kata Radit lagi, rasanya ia tidak ingin berjauhan dengan Rembulan. Karena saat ini Radit merasa lebih berhak dari pada kedua mertuanya sekalipun.
"Aku tau kok Dit gimana posisi aku, aku tahu kalau istri memang seharusnya ikut dengan suaminya....tapi maaf Dit, aku butuh restu dari Papa dan Mama.....aku mohon banget kamu ngerti," pinta Rembulan penuh harap, ia berharap semua berjalan dengan baik.
Radit mengangguk, memang apa yang dikatakan oleh Rembulan sangat benar sekali, mungkin jika ia juga di posisi kedua mertuanya bisa melakukan hal yang sama. Bahkan mungkin lebih.
"Tapi sampai kapan ya Lan?" tanya Radit, "Aku ingin menjalani rumah tangga dengan baik, selayaknya pasangan suami istri pada umumnya," Radit menatap Rembulan, ia menanti apa yang akan Rembulan katakan.
Rembulan menunduk dan mengusap wajahnya, 'Pasangan suami istri pada umunya?' batin Rembulan, ia malah bergidik ngeri mendengar kalimat tersebut.
"Semua butuh proses Dit, mungkin belum waktunya.......jujur aku nggak ingin kamu pergi tinggalin aku, tapi kalau kamu tetap mau pergi juga silahkan aku nggak akan larang kamu....." kata Rembulan membalas tatapan Radit yang terlihat sangat dalam padanya.
"Aku nggak akan pernah pergi, aku bakalan selalu ada buat kamu.....aku akan sabar dan berusaha buat dapat restu dari orang tua kamu," kata Radit dengan pasti, "Lan kamu ada rasa nggak sih....sama aku?" tanya Radit seketika.
"Hemmmm....." Rembulan langsung tersenyum mendengar pertanyaan Radit, "Ada, kita kan teman, teman sejak dulu....jail bareng, pas lagi nyontek juga bareng pas kita nyolong juga bareng," lanjut Rembulan saat mengingat bertapa konyol nya dulu mereka.
"Bukan itu!" Radit duduk di sisi ranjang Rembulan, dan ia memegang tengkuk Rembulan, "Bukan yang itu," kata Radit lagi.
Rembulan seketika diam mematung, ia merasa nyaman saat berdekatan dengan Radit. Tapi apa yang bisa ia katakan, karena semua masih membingungkan dengan segala pertanyaan. Tidak pernah ia bermimpi akan menjadi istri dari sahabat sejatinya sendiri, bahkan terlintas saja di otak Rembulan tidak pernah. Namun kenyataannya justru takdir malah menyatukan nya dengan cara yang sangat tidak terduga.
"Ehem.....Ehem....." Ranti yang batu saja masuk langsung berdehem.
Radit dan Rembulan tersadar, dan seketika Radit berdiri menjauhi Rembulan.
"Ulan tadi kamu minta jus apel, ini Mama buatkan...." Ranti langsung memberikan jus pesanan putrinya, sebenarnya Ranti belum ingin kembali ke rumah sakit. Tapi karena jus permintaan Rembulan ia langsung kembali, karena kasihan pada anaknya dan cucunya yang di kandung Rembulan.
"Makasih ya Ma," Rembulan memegang jus yang di bawakan oleh Mama Ranti dan mulai meneguknya.
Radit mengibas-ngibaskan tangan nya, dan ia cepat-cepat masuk ke kamar mandi, "Huuueeekkkk.....hueeek..... hueeek...." Radit langsung memuntahkan isi perutnya, bahkan ia memijat dahinya yang terasa tidak nyaman. Setelah ia rasa lebih baik, Radit keluar dari kamar mandi.
"Kamu nggak papa Dit?" tanya Rembulan dengan khawatir.
"Nggak papa kok," jawab Radit, "Lan aku keluar sebentar ya...." pamit Radit.
"Iya," Rembulan mengangguk, dan Radit langsung keluar dengan menutup hidungnya.
"Ayo makan lagi," pinta Ranti.
"Ma, apa Mama masih benci sama Radit?" tanya Rembulan.
"Buka mulutnya," pinta Ranti lagi.
Dengan terpaksa Rembulan membuka mulutnya, dam menatap kesal Ranti.
"Mama tidak pernah benci sama Radit, Mama cuman benci sama apa yang kalian berdua lakukan!" jawab Ranti.
"Terus sampai kapan dong Ma?"
"Sampai dia bawa orang tuanya buat lamar kamu, nikahin kamu baik-baik!" ucap Ranti dengan tegas.
"Tapi Ulan sama Radit udah nikah, buat apa lamaran lagi Ma...." Rembulan rasanya ingin menangis, saat menjelaskan kembali jika ia dan Radit sudah menikah.
"Menikah? Mana ada orang nikah diam-diam!" sejenak Ranti menjeda ucapannya, "Kamu pikir kamu itu anak kucing,nikah-nikah aja!" lanjut Ranti, "Atau kamu nggak menghargai Mama dan Papa sama sekali?" tanya Ranti lagi.
"Iya.... enggak gitu juga Ma."
"Kalau kamu mau pergi sama suami kamu itu silahkan, tidak usah panggil aku Mama lagi!"
"Mama...." Rembulan cepat-cepat memegang lengan Rembulan, "Jangan ngomong gitu dong Ma," kata Rembulan ketakutan.
"Mama sama Papa cuman mau yang terbaik buat anak-anak kami, dan kalau Radit mau kamu jadi istrinya nikahin dengan benar....jangan diam-diam begini dong, kalian pikirin perasaan Mama sama Papa nggak sih?!" mata Ranti berkaca-kaca, ia seakan menumpahkan rasa kecewa yang ada di harinya.
"Mama.....maaf," lirih Rembulan, "Maaf, Ulan nggak maksud buat Mama kecewa.....Ulan butuh restu dari Mama dan Papa dan Ulan ikut aja gimana kata kalian, tapi jangan nangis ya Ma," pinta Rembulan lagi dengan penuh rasa bersalah, "Ulan udah sering banget bikin Mama nangis maaf ya Ma."