
Acara resepsi pernikahan Radit dan Rembulan kini sudah selesai, rasa lelah kini tergantikan dengan rasa bahagia. Karena semua merasa lega dengan acara yang cukup sempurna.
"Sayang," Radit yang masuk ke kamar menyusul Rembulan langsung memeluk Rembulan dari belakang.
"Suutttt!" Rembulan meletakan telunjuknya di bibir dan meminta Radit untuk tidak berteriak, karena Raka baru saja tertidur.
Oe.....oe....oe.....
Baby Raka langsung saja menangis, padahal Rembulan sudah dengan susah payah menidurkan baby Raka.
"Tu kan!" Rembulan melepas tangan Radit yang melingkar di pinggang nya, kemudian ia duduk di sisi ranjang dan kembali memberikan asi pada baby Raka.
Radit yang melihat Raka minum asi dengan lahapnya merasa kesal, karena ia juga ingin di manja oleh Rembulan. Radit sudah cukup lama berpuasa, dari Rembulan hamil, lalu melahirkan, kemudian di tambah lagi dengan tradisi pingit. Ia tidak ingin menghitung berapa hari tapi ia kini ingin meluapkan segalanya.
"Umi," Radit duduk di samping Rembulan, dan ia melihat mata baby Raka yang mulai terpejam, "Abi kangen."
Rembulan langsung melihat wajah melas Radit, jangan katakan jika hanya Radit yang merindu dan ia tidak. Sebenarnya sama saja, hanya saja Rembulan adalah wanita yang kalem dan pemalu, ia tidak akan meminta apalagi mengungkapkan bahwa ia juga rindu akan Radit.
"Umi enggak kangen ya sama Abi?" tanya Radit.
"Jangan brisik Abi, nanti anak kita kebangun lagi," Rembulan perlahan meletakan baby Raka pada box bayi, dan saat ia berdiri tegak Radit sudah memeluk pinggang nya.
"Abi kangen Mi," Radit menatap wajah Rembulan yang memerah, "Kenapa?" tanya Radit menggoda Rembulan.
Rembulan tahu ke mana arah saat ini keinginan Radit, ia hanya diam sambil mengigit bibir bawahnya. Dengan jantung yang berdebar kencang, sulit di mengerti namun sentuhan tangan Radit seakan sangat ia rindukan.
Dengan cepat Radit menarik tengkuk Rembulan ke hadapannya, dan kemudian melahap habis bibir Rembulan dengan penuh damba. Rasa cinta yang tertahan seakan terluapkan saat ini juga.
Perlahan tangan Rembulan melingkar di leher Radit, sedangkan tubuh Rembulan di dorong Radit pada dinding. Dan dengan cepat Radit merapat dengan tangan yang bergerak bebas tanpa ada penolakan.
Krang!!!
Tanpa sengaja gelas yang di letakan di atas meja tersenggol, entah itu Radit yang menyenggol atau Rembulan. Yang jelas gelas itu sudah berantakan di lantai, dan menimbulkan suara yang cukup kuat.
Oe.....oe.....oe.....
Baby Raka kembali menangis, karena ia terkejut akan suara yang cukup kencang itu.
"Abi," Rembulan berusaha mendorong Radit agar menjauh darinya.
"Sayang sebentar saja," pinta Radit tanpa ingin melepaskan Rembulan, dan sedetik kemudian ia kembali melahap bibir istrinya.
Rembulan tidak bisa mendengar tangisan baby Raka, dan ia kembali mencoba mendorong dada Radit, "Abi.....kasihan anak kita," kata Rembulan.
"CK...." Radit dengan terpaksa melepaskan Rembulan, kemudian ia duduk di sofa dengan rasa kesal.
Dengan cepat Rembulan membenarkan gaun tidur yang sudah berantakan di tubuhnya, setelah itu tangannya kembali mengangkat Raka untuk bangun dari atas box bayi. Dan Rembulan kembali menenangkan baby Raka, dengan memberikan asi.
"Sayang, badan kamu kok anget ya," kata Rembulan yang merasakan suhu tubuh Raka yang terasa panas.
Sedangkan Radit sibuk dengan mengacak rambutnya, otaknya hanya sedang pusing karena keinginan nya belum ia dapatkan.
"Abi," Rembulan memanggil Radit.
"Apa?" Radit melihat Rembulan dengan rambut yang acak-acakan.
"Badan Raka anget," kata Rembulan.
Radit bangun dari duduknya, dan tangannya mulai memegang dahi dan tangan Raka. Radit mengangguk.
"Lalu suami mu ini siapa?" tanya Radit.
Radit memang bukan dokter spesialis anak, tapi walau pun begitu ia tetap mengerti dengan apa yang harus di lakukan.
"Cinta nya Umi," jawab Rembulan, sebab ia tahu Radit tengah menahan emosi. Dan benar saja Radit langsung tersenyum saat mendengar kata manis yang di katakan oleh Rembulan.
"Hem," Radit mencolek dagu Rembulan, "Bikin tambah gerah saja," ujar Radit.
"Hehehe...." Rembulan terkekeh melihat Radit yang aneh.
Raka kembali tertidur setelah di berikan obat penurun demam, dan kali ini tampaknya benar-benar tertidur pulas. Rembulan kembali meletakan Raka pada box bayi. Dan Rembulan duduk di sisi ranjang dengan Radit di samping nya.
Tangan kekar Radit mulai menyisir anak rambut yang menutupi wajah cantik Rembulan, perlahan mata keduanya saling memandang satu sama lainnya. Saat bibir Radit semakin mendekat Rembulan memejamkan matanya, dan sedetik kemudian Radit melahap dengan kasar bibir Rembulan.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu.
"Huuuufff," Radit menjauh dan kembali menarik nafas dengan berat, kemudian ia naik ke atas ranjang dan masuk ke bawah selimut. Sambil berusaha menurunkan hasrat nya.
Rembulan langsung menuju pintu sambil membenarkan bajunya.
Clek.
Pintu terbuka dan ternyata Mama Ranti yang ada di sana.
"Raka udah tidur?" tanya Mama Ranti sambil melihat ke dalam.
"Udah Ma, Raka lagi rewel. Badannya anget," kata Rembulan.
"O, kalau gitu malam ini Raka tidur sama Mama saja," kata Mama Ranti.
"Mama serius?" tanya Rembulan.
"Iya," Mama Ranti mengangguk, "Ambil Raka, sama susu formula nya juga," kata Mama Ranti, sebab ada Radit di sana jadi tidak mungkin ia langsung masuk untuk mengambil Raka.
Rembulan mulai memberikan Raka pada Mama Ranti, kemudian kembali menutup pintu saat Rembulan berbalik ternyata sudah ada Radit di sana. Bahkan Rembulan sampai tersentak kaget, karena Radit yang tiba-tiba. Rembulan tidak bisa lagi berbicara saat Radit mulai menyudutkan dirinya pada daun pintu.
"Sssssttt....
Rintih Rembulan semakin terdengar saat tangga Radit mulai bergerak bebas, sesaat kemudian Radit kembali melahap bibir Rembulan dengan penuh damba.
Tidak ada penolakan, yang ada hanya sebuah ******* yang seakan menandakan Rembulan juga sangat menginginkan nya. Sampai akhirnya tubuh Rembulan melayang dan ternyata Radit yang mengangkat nya.
Setelah Rembulan terlentang di atas ranjang, dengan cepat Radit menindihnya, dan mulai melahap dua gundukan milik istrinya.
Entah sejak kapan kedua melepaskan benang penutup tubuh, tapi yang jelas kini kedua nya tanpa sehelai benang pun. Dan sesaat kemudian Radit mulai memasuki Rembulan dengan penuh damba.
"Sssstttt.....Abi," desah Rembulan saat merasakan nikmatnya surga yang di tawarkan oleh Radit, dan kali ini Rembulan baru menikmatinya dengan rasa cinta yang menggebu. Tanpa ada rasa beban ataupun rasa malu, sebab rasa menginginkannya jauh lebih besar.
"Abi kangen banget yang," ujar Radit di sela-sela permainan panas yang mengundang gairah.
"Ah....ah....ah....ah....." terdengar suara Rembulan yang menandakan bertapa nikmatnya bercinta dengan pasangan yang sudah sah.
"Sayang, uh....."
Udah dulu ya temen-temen, Othor nya juga enggak kuat. Karena kepanasan, Soalnya Othor jadi saksi...haredang....hareudang....