
Radit menarik napas terlebih dahulu, setelah itu ia mulai mengangkat tangan nya untuk mengetuk pintu kamar Rembulan. Namun Radit kembali menurunkan tangannya, ia ragu. Namun ia kembali meyakinkan dirinya.
Tok tok tok.
Rembulan bingung siapa yang datang, apa itu Mentari pikir Rembulan. Karena hanya adik jailnya itu yang suka sekali mengerjainya, hingga Rembulan tidak perduli dan ia diam saja sambil memainkan ponselnya.
Tok tok tok.
Pintu kembali di ketuk, dan itu membuat Rembulan sangat kesal. Menurut Rembulan kali ini adik nya itu harus di berikan sedikit hukuman, Rembulan masuk ke kamar mandi dan mengambil air di dalam sebuah wadah.
Tok tok tok.
Masih terdengar ketukan pintu, dan Rembulan kini sudah berdiri di depan pintu bersiap-siap mengguyur Mentari di balik pintu.
Tok tok tok.
Clek.
Rembulan membuka pintu, tanpa melihat dengan jelas ia langsung mengguyur orang yang mengetuk pintu dan ia yakin itu adalah Mentari.
Byurrrrrrrr.
Rembulan tersenyum penuh kemenangan, namun senyumnya menghilang ketika ia melihat dengan jelas siapa orang yang mengetuk pintu kamarnya barusan.
"Radit....." Rembulan menjatuhkan wadah yang ia pegang, kemudian ia merasa takut dan malu.
Radit mengusap wajahnya, kemudian ia melihat Rembulan dengan baju yang sudah basah karena di guyur oleh Rembulan.
"Radit apa kau sudah menemukan kamar Ulan?" tanya Ranti.
Ranti tahu Radit tengah menuju kamar Rembulan, dan ia takut Radit bingung hingga ia merasa perlu menunjukan di mana letak kamar itu. Namun sampai di sana justru ia melihat Radit dengan baju yang basah, dan ada wadah yang di yakini Ranti adalah tempat air sebelum mengguyur tubuh Radit. Kemudian ia melihat Rembulan, karena ia yakin putri sulungnya yang melakukan itu, "Ulan apa yang kamu lakukan!" kesal Ranti. Ia merasa Rembulan tidak menghargai Radit sebagai suami.
"Ma, Ulan nggak tahu kalau yang datang Radit....Ulan pikir Tari yang ketuk terus-menerus pintu kamar Ulan Ma," jawab Rembulan penuh rasa bersalah.
Ranti menatap Rembulan dengan tajam, "Panggilan mu itu, apa pernah Mama memanggil nama Papa mu langsung menyebut nama nya!" kesal Ranti lagi yang semakin menjadi-jadi.
Dulu juga Mentari memanggil Arka dengan panggilan Om, dan Ranti sering kali memarahi putrinya itu. Dan kali ini pun sama, Rembulan harus di ingatkan panggilan yang baik untuk suaminya.
"Ulan harus panggil apa, kita udah sahabat lama Ma," jawab Rembulan.
Karena pertemanan mereka yang cukup lama membuat nya terbiasa memanggil nama, dan Rembulan sama sekali tidak bermaksud tidak sopan pada Radit.
"Itu dulu, sekarang sudah berbeda.....belajar berubah.....!" ujar Ranti kemudian ia menatap Radit, "Kamu masuk ke kamar, nanti Mama suruh bik Sum kemari untuk mengambil baju basah mu dan dia yang akan mengeringkannya," kata Ranti.
"Iya Tante," jawab Radit, yang seketika membuat mata Ranti melotot, "Iya Ma," Radit membenarkan panggilannya.
"Dasar anak jaman sekarang, tidak ada yang benar....." Dan setelah itu Ranti pergi meninggalkan pasutri yang aneh, sebenarnya Ranti bingung dengan Rembulan dan Radit. Keduanya mengaku suami istri, tapi banyak kecanggungan yang terlihat. Hingga Ranti penasaran apa penyebab Rembulan bisa menikah dengan Radit, sebab sampai sekarang semua itu belum ada kejelasan.
"Maaf ya Dit," Rembulan merasa tidak enak hati, "Tadi aku pikir Tari, ternyata kamu....karena aku nggak nyangka kamu ke sini," kata Rembulan dengan susah payah.
"Iya tidak apa," kata Radit sambil melihat bakunya.
"Ya udah di sebelah situ ada kamar tamu, kamu boleh ke sana dulu ya.....nanti Bik Sum aku suruh ke sana aja," kata Rembulan menunjukan kamar tamu.
"Baiklah," Radit tidak mau banyak membantah, ia mengikut saja.
"Dit," Rembulan memanggil Radit lagi.
"Kenapa?"
"Iya," Radit mengangguk dan ia masuk ke dalam kamar Rembulan, mata Radit menyapu ruangan tersebut. Semuanya terlihat berwarna pink karena ia pun tahu Rembulan pencinta warna pink, tidak ada yang tidak diketahui Radit tentang Rembulan. Karena selama ini ia mencintai Rembulan dalam diam.
"Dit ini handuk, dan aku nggak punya baju cowok....kamu pakai handuk tidak apakan?" tanya Rembulan, masih dengan rasa bersalah nya.
"Em," Radit mengangguk, kemudian ia masuk ke kamar mandi. Tidak berselang lama Radit keluar hanya dengan balutan handuk di pinggangnya, bisa di bayangkan bertapa gagahnya Radit dengan perut kotak-kotak nya. Jangan lupakan tubuh kekarnya hingga membuat Rembulan melongo.
"Ulan," Rembulan meneguk saliva, dan ia berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
"Kamu kenapa?" tanya Radit.
"Aku?" Rembulan menunju dirinya sendiri sambil bertanya.
"Ada yang lain di sini selain kita?" tanya Rafit melihat sekitarnya.
"Nggak..." Rembulan menggeleng, dan ia naik ke atas ranjang sambil tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Em, gimana keadaan kamu hari ini?" tanya Radit sambil berjalan mendekati Rembulan, dan ia duduk di sisi ranjang.
"Aku?" Rembulan lagi-lagi bingung, berdekatan dengan Radit sangat membuat nya aneh. Padahal dulu biasa saja.
"Kamu kenapa?" lagi-lagi Radit bingung dengan tingkah Rembulan, karena tidak biasanya begitu.
"Aku nggak papa," Rembulan menggelengkan kepalanya, dan cepat-cepat menutup wajahnya dengan selimut.
Radit mengangkat sebelah alisnya, ia ikut naik ke atas ranjang dan masuk kedalam selimut Rembulan.
"Dit kamu ngapain?" tanya Rembulan panik.
"Mau tidur Lan, aku capek banget....." Radit tahu kalau Rembulan masih belum terbiasa dengan dirinya, tapi tetap saja bagi Radit Rembulan adalah istrinya.
"Tapi kenapa disini?"
"Kenapa?"
"Ya nggak papa," kata Rembulan mendadak ambigu.
Radit menarik selimut dan ia menutup matanya, sebenarnya Radit tidak mengantuk hanya saja ia ingin lebih dekat dengan istrinya.
Rembulan merasa udara di kamarnya terasa begitu panas, dan mendadak minim udara. Bukan Rembulan ingin mengusir Radit atau tidak suka pada Radit yang tidur di sampingnya, namun ini untuk yang pertama kali dan membuat Rembulan sangat tidak nyaman sekali.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu.
"Itu pasti bik Sum," Rembulan turun dari ranjang dan membuka pintu.
Clek.
Rembulan benar untuk kali ini, ada Art nya di sana.
"Neng Bibik cuman mau ambil pakaian basah tuan Radit, di suruh sama Ibu Ranti," kata Bik Sum.
"Bik tolong ambil di kamar mandi ya, Ulan masih lemes," kata Rembulan. Karena tubuhnya memang masih harus beristirahat dengan baik.
"Saya masuk non," Bik Sum masuk, dan setelah ia mengambil pakaian Radit di kamar mandi ia segera keluar. Lalu Rembulan kembali masuk dan menutup pintu.