Mentari

Mentari
Episode 178



"Abi ini gimana cara ganti popoknya ya?" tanya Rembulan yang masih sedikit bingung.


Kini baby Raka tengah diletakkan Rembulan di atas ranjang, bayi mungil itu masih terbungkus bendong. Akan tetapi bendong nya sedikit basah karena bayi itu mengompol, Rembulan memang sudah berusia 27 tahun. Akan tetapi untuk mengurus bayi ia belum mengerti sama sekali, bahkan Rembulan terlihat begitu kesulitan untuk mengganti popok Raka.


Radit tersenyum ketika Rembulan bertanya tentang mengurus bayi kepadanya, karena bagi Radit mengurus bayi bukanlah suatu kesulitan. Kalau hanya mengganti bendong dan juga mengganti popok bayi, itu hal yang cukup mudah bagi Radit.


"Caranya begini," Radit membuka bendong yang terpasang di tubuh baby Raka, kemudian ia menyiapkan di tempat lainnya sebuah bendong dan juga popok. Setelah itu mengangkat baby Raka dan meletakkannya di atasnya, kemudian mulai mengikat popok baby Raka dan kembali melilitkan bendong ke pada tubuh bayi lucu itu.


"Jadi deh anak Abi udah ganteng," Radit mengangkat baby Raka dan memberikannya kepada Rembulan.


Rembulan terkejut ketika melihat Radit melakukan semua itu dengan begitu mudah, Rembulan merasa apa yang dilakukan Radit tidak cukup sulit dan ia pun pasti bisa melakukannya dengan baik, "Abi pinter banget deh," kata Rembulan memuji suaminya.


"Suami siapa dulu," kata Radit dengan membanggakan diri.


"Umi," jawab Rembulan dengan malu-malu.


"Gemuszzzz...." Radit menarik kedua pipi Rembulan dengan gemas.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu dan itu adalah Nina yang ingin menjenguk cucunya, jika beberapa hari yang lalu Raka tinggal bersamanya maka kini tidak. Karena Raka kini tinggal bersama Rembulan di rumah besannya, sebenarnya Nina ingin sekali membawa Rembulan dan juga cucunya ke rumahnya. Tapi kembali lagi kepada perjanjian awalnya dulu, Rembulan dan Raka akan ia bawa setelah Radit dan Rembulan menikah dengan resmi.


"Masuk," kata Rembulan melihat arah pintu.


Nina tidak langsung masuk tentunya ia memutar gagang pintu dengan perlahan dan mengintip sedikit dari celah pintu yang terbuka, bukan tanpa alasan ia melakukan itu. Akan tetapi ia sangat malu setelah kejadian kemarin hari, karena ia tahu Radit dan Rembulan kadang-kadang bisa berbuat aneh-aneh di tempat mana pun. Jadi tidak mustahil bila itu terjadi kembali karena ini di dalam kamar keduanya.


"Mama kenapa?" tanya Radit yang melihat Nina tidak seperti biasanya, karena biasanya Nina langsung memutar gagang pintu dan menyelonong masuk tanpa membutuhkan izin. Dan bagi Radit Radit ketika Nina bertingkah sopan itu sangat dicurigai sekali.


Nina tersenyum dan ia masuk kemudian menutup pintu, "Mama nggak kenapa-kenapa kok," jawab Nina tersenyum, sambil berjalan mendekati Raka yang tengah berada di pelukan Rembulan.


"Terus ngapain ngintip ngintip?" tanya Radit, "Tumben aja Mama sopan," tambah Radit lagi.


"Mama takut aja nyelonong masuk trauma Mama," jawab Nina sambil memegang pipi Raka.


Rembulan Dan Radit langsung menatap kepada Mama Nina, karena jawaban Mama Nina yang terdengar aneh.


"Trauma kenapa? Kayaknya yang ada orang yang trauma kalau deket-deket sama!" kata Radit lagi.


Nina memutar bola matanya karena kesal kepada jawaban Radit, "Gimana Enggak trauma? Mama nggak mau sampai ngelihat life streaming adegan yang yang dewasa, soalnya Mama udah tua," jawab Nina dengan kesal.


"Mama apa sih nggak usah ngomongin itu lagi kenapa sih!" kesal Radit.


Tok tok tok.


Kembali terdengar suara ketukan pintu, ada 3 pasang bola mata itu langsung melihat ke arah pintu.


"Kok mendadak semua orang menjadi sopan ya?" tanya Rembulan.


Clek.


Radit membuka pintu dan ternyata itu Ranti yang datang membawa makanan untuk Rembulan, Ranti tersenyum ketika melihat ada besannya di kamar Rembulan dan ia berjalan mendekati Rembulan dan meletakkan nampan yang ia pegang dengan makanan yang tertata di atasnya.


"Tumben sopan Ma?" tanya Rembulan yang juga bingung dengan tingkah Ranti.


"Ya nggak papa," kata Ranti.


"Jeng Ranti juga sama kayak Mama, begitu takut melihat adegan dewasa. Karena kami itu sudah tua," jelas Nina dengan senyuman sambil menatap besarannya, "Betul kan Jeng?" tanya Nina kepada Ranti.


Ranti tersenyum dan mengangguk karena apa yang dikatakan oleh Nina memang benar adanya, Ranti kini juga mulai sopan. Belum pernah Ranti memergoki Mentari yang seperti itu, padahal Mentari yang terkenal dengan segala kekonyolan dan juga keunikan nya. Tapi sepertinya jika masalah hal yang berbau seperti ini lebih kepada anak sulungnya, Tapi Ranti senang karena kini Rembulan sudah bahagia dan sangat wajar jika keduanya begitu. Itu artinya mereka tetap menjadi keluarga harmonis, walaupun begitu tetap saja yang ia merasa malu menjadi salah satu orang yang memergoki menantu dan anaknya Tengah bermesraan melepas rindu.


"Mama apa sih mending Mama keluar," kata Radit karena merasa dipermalukan oleh Nina.


"Mama juga mau keluar, lihat wajah kamu lama-lama di sini bikin enek! Kalau nggak karena mau lihat cucu Mama. Mama ogah ketemu kamu!" jawab Nina yang tidak kalah sewot.


"Ck...." tidak ada pernah kata menang bila berurusan dengan wanita satu itu, Cinta pertama Radit itu memang selalu saja bisa membuatnya menjadi mati kutu. Bahkan di dalam mimpi saja Radit tidak pernah menang berdebat dengan Nina, apalagi di dalam dunia nyata, akhirnya Radit hanya mendesus kesal saja.


"Cucu Oma," Nina mengambil Raka dari pelukan Rembulan, "Kamu makan dulu ya nak, biar ASI kamu bagus," kata Nina dengan senyuman dan kini Raka sudah berada di pelukannya.


"Iya mah Makasih ya," kata Rembulan yang juga tersenyum kepada Nina.


"Setelah resepsi nanti kamu bakalan tinggal sama Mama kan?" tanya Nina.


Rembulan tidak menjawab ia hanya menatap Ranti saja, karena keputusan hanya ditangan Ranti dan Rembulan tidak berani menentang apapun yang dikatakan oleh sang Mama. Karena di saat di saat terluka hanya Ranti yang selalu ada untuknya, menemaninya dalam segala kepedihan. Mendukungnya dalam segala kesulitan yang ada tanpa peduli dengan kesalahan yang begitu besar karena perbuatannya.


"Ia dong," kata Ranti tersenyum. Ranti tahu Rembulan menyerahkan semua keputusan itu kepadanya, tapi Ranti juga mengerti dengan perasaan Rembulan yang ingin terus bersama Radit. Apa lagi terlihat sekali jika Nina sangat menyayangi Putri seluruhnya Rembulan. Tidak ada alasan untuk tidak mengizinkan Rembulan dibawa oleh Radit, terlihat jelas rasa cinta yang dimiliki Radit pada Rembulan begitu besar.