
Dengan wajah polos dan damai Mentari selesai shalat subuh tertidur diatas sajadahnya, Arka yang baru pulang dari mesjid melihat sang isteri tanpa membangunkannya langsung angkat dan membaringkannya diatas tempat tidur dan seketika Mentari merubah posisi tidurnya.
"Sehat-sehat kalian yaa" Gumam Arka sambil mengusap kepala sang isteri lalu ia menggantung pecinya dan turun kebawah karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi dan diluar sudah terang.
Dalam rumah sudah repot termasuk ibu Dewi, ibu Dewi kesana kemari jalan urus catering makanan dan keperluan lainnya.
"Bu, dari kemarin catering makanan selalu datang" Ucap Arka heran.
"Soalnya ibu sibuk jadi gak sempat masak" jawab ibu Dewi seadanya, "Pak, apa anak yatim-piatu sudah dipanggil?" Sambungnya dengan pertanyaan kepada salah satu staf di kantor.
"Lho?" ucapan Arka dengan nada bertanya karena bingung "Kapan datang pak?" tanya Arka setelah diam beberapa menit.
"Maaf pak, saya harus pergi mau pastikan anak-anak Yatin" Ucapnya sopan lalu pergi.
"Ini ada apa yaa?" batin Arka sambil jalan menuju dapur untuk membuat kopi pagi ini, ia sengaja pagi ini minum kopi agar tidak mengantuk dipagi hari.
Arka kembali dari dapur menuju meja makan untuk minum kopi, sembari memikirkan kerepotan dirumah orang tuanya pagi ini.
"Astaga, acara tujuh bulanan Mentari hari ini. Kenapa aku bisa lupa" Ucap Arka lalu meminum kopinya satu kali dan pergi mengambil ponselnya dikamar untuk menelepon mertuanya.
Sementara di keluarga Algantara, mereka sudah siap menuju disalah satu gedung yang sudah dihias.
"Papa, jam berapa Mentari ke sana?" tanya ibu Anita.
"Mungkin sore atau malam" Jawab Hadi.
"Pagi ini ke rumah besan dulu?" tanya ibu Anita lagi.
"Iya, selamatan dulu habis itu bagi-bagi amplop untuk anak yatim-piatu baru kita ke gedung" jelas Hadi.
Mereka pun langsung masuk mobil sepagi itu untuk ke rumah sang besan. Dalam perjalanan Arka menelfon.
📞 "Wa'alaikumussalam nak. Iya, bunda mau kesitu sekarang. Iya, bersikap normal saja. By, wa'alaikumussalam" percakapan ibu Anita lewat telepon dengan mantunya itu.
"Jadi bun, Arka tunggu?" tanya Aldi. hari ini mereka sengaja menggunakan satu mobil.
"Arka bingung, lupa dengan tujuh bulanan Mentari" jawab ibu Anita santai.
"Heee, kenapa bisa lupa?" tanya Aldi lagi.
"Tidak diberi tahu, Dewi terlalu sibuk saking sibuknya gak sempat beri tahu anaknya" jawab ibu Anita.
"Masa usia kandungan istri sendiri gak tau sih bun, kalau kandungan istri orang lain wajar gak tau" ucap Aldi lagi.
"Kan kita yang ingat, iya gak pa?" tanya ibu Anita pada suaminya itu.
"Iya, anggap saja ini kejutan buat anak dan mantu. Kamu nikah dong, supaya anak Mentari nanti ada temannya" Pancing ini Anita.
"Aku sudah tau pasti mengarah kesitu, tapi biar lah aku saja yang marahi Arka" ucap Aldi lalu membawa mobil sedikit cepat.
...💛💛💛...
"Diruangan ini saja untuk syukurannya yaa pak" Ucap Dewi lagi kepada yang menata ruangan dirumahnya itu untuk acara tujuh bulanan Mentari.
"Baik bu" Ucapnya lalu pergi.
Ibu Dewi pun memberikan instruksi kepada semua orang yang ikut serta dalam acara tujuh bulanan ini, "Diperhatikan semuanya, saya mau sebelum jam 10 sudah selesai semua yaa, karena mantu saya siang tidur siang" Ucap ibu Dewi dengan senyum yang tidak luntur disudut bibirnya tergambar jelas hari ini begitu bahagia.
"Baik bu" jawab mereka serentak dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.
"Baik bangat ibu Dewi, pengen punya mertua seperti ibu Dewi" Ucap salah satu dari mereka.
"Aku juga, mana kaya raya lagi" timpal salah satu diantara mereka lagi.
"Lanjut saja kerjanya, kita orang biasa mana mungkin kita mendapatkan paket komplit seperti ibu Dewi" Jawab salah satu lagi seperti mematahkan pemikiran teman-temannya itu.
Salah satu diantara mereka menghela napas, "iya iya, sadar diri kok aku" jawabnya lalu mereka melanjutkan pekerjaan tanpa mengeluarkan suara kecuali hal yang berkaitan dengan pekerjaan mereka.
Sementara keja, tiba-tiba keluarga Algantara masuk dalam rumah sambil memperhatikan dekorasi rumah untuk tempat acara itu.
"Ibu Dewi niat bangat pa, padahal disini gak lama" ucap ibu Anita yang masih memperhatikan dekorasi itu.
"Beruntung Mentari" Aldi menimpali.
Kelompok perempuan yang ikut dalam persiapan acara langsung saling membisik satu sama lain.
"Hee, siapa tu?" tunjuk salah satu dari mereka.
"Mana?" tanya diantara mereka lagi.
"Masa gak lihat sih, sana yang tiga orang" Tunjuknya lagi.
"Aku lihat, sepertinya itu orang tuanya, tandanya belum menikah. Mudah-mudahan dia jodoh ku" Ucapnya sambil menengadahkan tangan lalu mengusap diwajahnya.
Sementara Aldi keliling diruangan itu hanya untuk melihat-lihat dan sampailah pada tempat makanan itu, seketika gadis-gadis yang ada disitu saling berbisik-bisik dan ada yang salah tingkah.
"Boleh aku coba?" tanya Aldi kepada mereka itu.
"Silahkan" Jawab salah satu diantara mereka dengan sopan.
"Ganteng bangat" pujinya dengan nada kecil namun Aldi masih bisa mendengarnya.
Aldi menoleh kearah orang yang memujinya itu lalu senyum, seketika orang tersebut salah tingkah lalu menunduk.
Ibu Anita menghampiri putranya itu, "Aldi ngapain kesini, yuk kita lihat Mentari dulu" Ucap ibu Anita.
"Iya bun" jawab Aldi, "Terima kasih kuenya" Sambung Aldi kepada orang-orang bagian makanan tersebut sembari mengangkat kue yang ambil dan tidak lupa Aldi senyuman.
"Ya Allah, pangeran bumi" Ucapnya dan seketika menutup mulutnya karena suaranya sedikit keras.
Aldi yang mendengar itu hanya geleng kepala lalu pergi bersama ibunya.
Berbeda dengan gadis yang pernah membantu Pak Rahmat di RS. Ia masih memilih baju yang cocok untuk acara tujuh bulanan Mentari. Disalah satu rumah yang lumayan mewah gadis itu tinggal. Baju-baju yang ia coba menurutnya tidak cocok dengan tema acara. Ia menelfon salah satu butik dekat rumahnya agar tidak lama menunggu jika pesanannya dibawakan.
📞 "Dibawakan sekarang ya, aku mau pakai jam 10 nanti" Ucapnya ditelepon sambil mencari high heels yang cocok dengan gaun yang ia pesan.
"Aku mau pakai yang tumit 5 cm saja, nah ini yang cocok" Ucapnya senang.
Begitu repot gadis itu hari ini, sampai lupa ngabarin ibunya yang lagi diluar negeri. Sibuk dengan kegiatan yang tidak berfaedah itu kerjanya, ia sengaja menghabiskan waktu sebelum masuk kerja karena Ia sudah dijanji oleh Pak Rahmat setelah tujuh bulanan Mentari akan masuk kerja.
Berbeda dengan Mentari, ia sekarang dibangunkan oleh Aldi sang kakak.
"Dek, jangan tidur terus gak baik ibu hamil tidur pagi" tegur Aldi yang sudah berdiri disamping ranjang adiknya itu.
"Mentari tau kak, hanya mata ini gak bisa diajak kompromi. Susah ditahan" Jawab Mentari dengan perlahan bangun.
"Gitu dong. Satu kali kakaknya bicara langsung diikut, jadi enak adem rasanya" Ucap Aldi.
"Lebai, minggir aku mau mandi" Ucap Mentari sambil mendorong sedikit badan kakaknya itu.
"Kan bisa lewat sini dek" tunjuk Aldi disampingnya.
"Anak aku mau lewat disini, bleee" jawab Mentari lalu menjulurkan lidahnya pada kakanya itu.
"Iidih, gini nih kalau anak kecil menikah" Ucap Aldi lagi sambil melihat adiknya berlalu masuk dalam kamar mandi.
"Biarin. Aku sudah laku beda dengan kakak, gak laku-laku. Hahahaha kayak lagu Ku tak laku laku" Ucap Mentari dalam kamar mandi itu yang sudah tidak didengar oleh Aldi karena ia sudah pergi dari kamar adiknya.
Aldi sampai diruangan dimana ayah dan ibunya berada termasuk orang tua Arka dan Arka juga disitu. Aldi duduk, baru bokongnya duduk ia sudah ditanya oleh Arka.
"Gimana, Mentari sudah bangun?" tanya Arka.
"Iya, lagi mandi tu" Jawab Aldi.
"Kenapa dibiarkan mandi Di, dia bangun itu tengah malam makanya aku minum kopi supaya tidak mengantuk" Jujur Arka yang membuat orang tuanya melihat sang anak itu.
"Lho kenapa, Mentari sakit atau apa?" tanya Ibu Dewi.
"Iya, kenapa gak bilang sama ayah tadi malam" Timpal pak Rahmat.
"Gak sakit, hanya tumben ngobrol dengan bayinya" Ucap Arka lagi.
"Ohh, biasa itu ibu hamil seperti itu. Apalagi kalau bergerak ya bu, senangnya bangat" Ucap ibu Dewi yang diangguki oleh Anita.
"Apalagi anak pertama kan Dewi, pengalaman pertama. Jadi bawaannya itu, senang" Timpal ibu Anita.
"ohh senang, itu aku kan bun?" tanya Aldi
"iya, kalau Mentari dengan papa bicara nada tinggi sedikit saja itu bawaannya marah" Ucap ibu Anita.
"Cocok" Jawab Aldi singkat dan ambigu.
"Maksudnya?" tanya Arka.
"Cocok dengan sifatnya Mentari saat ini" jawab Aldi.
"Itu hormon nak, bukan Mentari ngambekkan" Arka membela istrinya.
"Iya iya, aku baru sadar ternyata disini ada suaminya, hehehe" ucap Aldi lalu ia ketawa.
...SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏...