
"Kak ini buburnya," Mentari meletakkannya di atas meja nakas, ia bahkan sampai memakai masker agar bau bubur itu tidak menyeruak masuk ke dalam hidung nya. Tapi tetap saja ada juga bau yang ia rasakan, walau pun tidak terlalu parah.
Arka mulai duduk, ia tidak tega melihat Mentari yang seperti nya tidak kuat mencium bau bubur. Tapi ia pun hanya ingin bubur buatan istri bocah nya.
"Ayo buka mulut," Mentari mulai menyuapi Arka, Hingga untuk suapan ke tiga ia kembali meletakan buburnya ke atas meja nakas, dan ia berjalan cepat menunju kamar mandi, "Huuueeekkkk..... huuueeekkkk..... huuueeekkkk......"
Arka yang mendengar istrinya muntah-muntah merasa tidak tega, dan juga merasa bersalah. Ia kemudian meminta pembantu untuk membawa sisa bubur yang tidak habis ia makan. Kemudian Arka menuju kamar mandi.
"Kamu nggak papa?" tanya Arka dengan sedikit panik.
"Huuueeekkkk....... huuueeekkkk....." Mentari terus memuntahkan air saja, rasa mulanya seakan semakin terasa. Dengan kepala yang juga terasa pusing, perlahan ia Keluar dan dari kamar mandi dan membaringkan tubuhnya lemah nya.
"Cantik maaf ya," Arka naik ke atas ranjang dengan rasa bersalah nya.
Mentari hanya mengangguk dan ia memeluk Arka, dengan erat.
Sementara di tempat lainnya Radit sangat kesal pada kedua orangtuanya, karena Nina dan Mahesa tidak menanggapi dirinya.
"Ma, Radit mau Mama sama Papa datang ke rumah Ulan," pinta Radit pada kedua orang tuanya yang tengah duduk di kursi.
"Untuk apa?" tanya Nina seolah tidak perduli, "Kau kan tidak membutuhkan kami, maka dari itu kau menikah di belakang kami," Nina duduk santai di depan teras rumah sambil membolak-balik lembaran majalah di tangannya.
Radit menggaruk kepalanya, rasanya sulit sekali Nina mengerti akan dirinya, "Kalau Papa, sama Mama nggak mau, nggak usah!" kesal Radit.
Nina sekilas melihat Radit, kemudian ia kembali menyeruput teh dan meletakkannya kembali ke atas meja, "Bagus!" ujar Nina.
"Nanti kalau Ulan udah lahiran, Radit nggak akan ijinin Mama sama Papa buat lihat, anak Radit!" kesal Radit dengan nada mengancam.
Nina seketika bangun dari duduknya, ia berdiri sambil berkacak pinggang, "Udah hebat kamu sekarang ya, udah sarjana.....udah bisa cari uang sendiri!" kesal Nina dengan emosi yang membuncah, sebelah tangannya kini berada di pinggang sementara sebelahnya lagi menunjuk Radit dengan majalah yang ia pegang, "Udah bisa sekarang kamu kasih anak orang makan ya, makanya kamu udah nggak menghargai wanita tua ini ya."
"Aduh...." gumam Radit.
Wibawa yang di lihat orang-orang dan juga temannya di luar sana hilang seketika bila berhadapan dengan Nina, karena menurut Nina walaupun Radit sudah dewasa tapi tetap Radit adalah anak-anak.
"Nggak gitu juga kali Ma, tapi Mama juga salah ini kan Radit udah bilang sama Mama...." Radit berusaha membela dirinya, tapi tetap saja Nina memasang wajah galaknya.
"Terus gimana!" Nina memukuli Radit dengan Majah di tangannya, "Terus gimana?" tanya Nina lagi tanpa henti memukuli anak semata wayangnya itu.
Radit berusaha menjauh, tapi tetap saja Nina memukuli nya, "Mama apasih!" kata Radit berusaha melindungi dirinya dengan tangan, "Ampun Ma!"
Nina berhenti memukuli Radit, ia menjauh dan kembali duduk di kursi.
"Sayang minum dulu," Mahesa memberikan cangkir berisi teh pada Nina, ia dapat melihat wajah istrinya yang lelah bercampur emosi.
"Makasih Pa," Nina kembali meletakan cangkirnya pada meja setelah ia mendeguk tehnya. Kemudian tangannya mengibas-ngibaskan majalah di tangannya agar mendapatkan angin segar yang terasa sejak mendengar perkataan Radit barusan.
"Selesaikan masalah mu dengan Diva, kau harus minta maaf pada keluarga nya," ujar Mahesa, sambil menatap Radit dengan serius.
Brak.
Radit menutup pintu dengan membantingnya, ia langsung melemparkan tubuhnya pada ranjang. Kemudian Radit mengambil ponselnya, dan bersiap mengirim pesan pada Rembulan.
[Assalamualaikum,] setelah Radit selesai mengetik pesannya ia langsung mengirimkannya pada Rembulan, atau pun yang tertulis di kontaknya adalah Umi.
Ting.
Ponsel Rembulan di seberang sana berbunyi, ia tahu itu adalah sebuah pesan. Rembulan yang tengah duduk di atas ranjang langsung mengambil ponselnya dan ia bingung siapa yang mengirimkannya pesan, "Abi?" Rembulan merasa tidak pernah menyimpan kontak seseorang dengan nama Abi, lalu ia seketika membaca pesan tersebut. Batinnya terus bertanya-tanya siapa pengirim pesan dengan nama Abi pada kontaknya, "Siapa ya?" gumam Rembulan bingung. Kemudian Rembulan melihat fhoto profil para tampilannya, "Radit?" Rembulan bisa melihat seorang pria dengan jas putih di sana, dan ia cukup mengenali orang itu. Rembulan bingung dan kembali bertanya-tanya, kenapa bisa ada kontak Radit di sana, dengan nama Abi. Dan nama kontaknya juga terdengar sangat membuatnya bergidik, hingga ia sibuk berdebat dengan otaknya dan pesan kembali masuk.
[Suami,] Abi.
"Wahahhahah......." tawa Rembulan pecah saat membaca pesan masuk dari Radit untuk yang kedua, "Suami, pacaran, sahabat," kata Rembulan sambil cekikikan geli, tidak pernah ia bayangkan bisa bersuamikan sahabatnya sendiri. Kemudian tangan Rembulan mulai membalas pesan dari Radit.
[Waalaikumusalam,] Umi.
Radit di sebelah sana tersenyum, walaupun merasa geli tapi mau bagaimana lagi. Sejak dulu Radit sudah jatuh hati pada Rembulan.
[Pacaran yuk,] Abi.
Rembulan lagi-lagi hanya tertawa lepas saat membaca pesan masuk dari Radit, yang sangat konyol, "Pacaran?" tanya Rembulan pada dirinya sendiri, Namun ia kembali membalas pesan Radit.
[Ke puncak yuk,] Umi.
[Ke hati kamu aja,] Abi.
Glek.
Rembulan meneguk saliva saat membaca balasan chatting dari Radit, ia tidak menyangka Radit bisa mengirimkan chatting seperti itu.
[Jadi nggak?] Umi.
[Jadi sayang,] Abi.
"Sayang," Rembulan mengusap wajahnya sampai beberapa kali, dan beberapa kali mengulang-ulang membaca pesan dari Radit. Ia takut mata nya yang tidak beres hingga salah membaca, tapi tidak. Apa yang ia baca memang benar, "Ya ampun Dit, aku kenalnya kamu pendiem sejak dulu....tapi kok ternyata kamu begini ya?" Rembulan bicara sendiri, karena ia baru tahu sisi lain tentang Radit.
[Aku siap-siap dulu ya,] Umi.
[Yang cantik ya, tapi kamu mau gimana juga tetap cantik,] Abi.
Rembulan kali ini mengelus dada, karena Radit sangat membuatnya merasa malu. Dari pada Rembulan terus merasa tidak karuan, ia lebih memilih meletakan ponselnya di atas ranjang dan bersiap-siap. Karena Radit sebentar lagi akan datang.
*
Yang mau tahu kelanjutan seru selanjutnya, Like dan Vote.