
Mentari pulang dari mall bersama teman-temannya saat matahari sudah tak nampak. Pukul 7 malam lewat ia baru sampai di rumahnya. Karena seperti biasa mereka mampir makan di mie ayam mang jajang yang kini jadi favorit Mentari dan Meli.
"Astaga om?!", Mentari kaget melihat Awan sudah duduk di sofa rumahnya. "Bikin kaget aja"
Sepertinya Awan juga baru pulang bekerja, dia masih mengenakan kemeja yang sudah dikeluarkan dan digulung lengannya. Dia tampan, tapi Wajah Awan tampak garang dengan tatapan tajam yang menghunus Mentari. "Bagus ya... Setiap hari pulang sekolah selalu malam", beranjak dari duduknya menghampiri Mentari yang masih berdiri sambil menunduk di depan pintu.
"Apa aku harus melarang mereka berteman denganmu lagi Mentari?", Awan bersidekap di dada sambil menyenderkan tubuhnya pada tembok.
Mentari mengangkat kepala. "Jangan om...", dia merengek, bagaimana mungkin Mentari mau kehilangan teman-teman yang baik seperti mereka. Mentari mendekati Awan, bergelayut manja di lengan Awan.
"Kenapa? Bukankah Mereka memberi pengaruh buruk sama kamu?"
"Nggak Om, aku tadi cuma diajakin Meli belanja keperluan dia buat ke Bogor".
"Kamu pulang malam hampir setiap hari Mentari, apa kata tetangga kamu nanti? Kamu itu anak gadis yang tinggal sendiri. Nggak pantes kelayapan sampai malem begitu, apalagi masih pakai seragam"
"Sama aja kan kalau orang tahu om nginep disini lebih parah lagi tanggapan mereka Om", sanggah Mentari. Dia melepas kasar lengan Awan,cemberut.
"Oke", Awan manggut-manggut, jari telunjuk dan jempolnya mengusap-usap dagunya." Aku nggak akan nginep disini lagi,tapi kamu juga harus ingat, jangan sering-sering kelayapan. Kamu harus bisa jaga harga diri kamu Mentari"
"Iya...Besok lagi aku bawa baju ganti",Ucapnya enteng sambil melengos meninggalkan Awan.
"Apa kamu bilang hmm?",Awan menarik tangan Mentari sampai tubuh kecil itu masuk dalam dekapannya. Awan tak habis pikir, Mentari bisa punya ide seperti itu.
Mentari nyengir."Iya iya Om...Nggak sering-sering kelayapan lagi. Tapi boleh kan sekali-kali jalan?",Mentari mengerjapkan mata,agak menjauhkan kepalanya.
Awan gemas melihat Mentari,baru saja ia akan mendekatkan wajahnya ke Mentari,tapi Mentari buru-buru kabur melepaskan diri. Tentu saja Awan yang fokusnya mesum jadi lalai saat Mentari berontak.
"Nggak mau,aku masih bau...",teriaknya sambil berlari ke kamar.
Awan geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu Mentari. Lantas ia beranjak menyusul Mentari. Mana mungkin dia marah betulan dengan Mentari cuma gara-gara itu.
Dukkk. Awan menendang sebuah paper bag dengan logo merek cukup terkenal meskipun bukan merek super mahal,ia mengernyit. Mengambil benda itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah sweater rajut dan topi rajut dengan warna senada. Sejak kapan dia suka belanja?
"Kamu habis belanja?",tanya Awan yang tiba-tiba datang mengagetkan Mentari yang tengah fokus chating dengan Meli.
" Nggak", Mentari masih bermalasan,rebahan diatas kasur empuknya.
"Terus ini punya siapa?"
"Punya aku", jawabnya enteng. Seketika itu juga Mentari menyadari sesuatu,padahal niatnya tadi akan berbohong jika ketahuan Awan,tapi dia malah bicara apa adanya,itulah akibatnya punya otak yang standar. Dia langsung was-was. Mentari bangkit, melihat Awan yang sudah berdiri di dekatnya.
"Jangan bilang ini pemberian cecunguk itu", tanya Awan mengintimidasi. Curiga melihat gelagat Mentari.
Mentari Menggaruk kepalanya. Salah tingkah. "Emmm...",dia bingung harus jujur atau tidak.
"Jawab Mentari!", Bentak Awan.
Mentari terlonjak, "I..iya om,maaf", lirihnya gagap.
Awan mendengus."Nggak usah dipakai, nanti aku ganti dengan yang lain", ucapnya sambil melemparkan paper bag itu kesembarang tempat.
"Tapi aku udah janji mau pake pas ke Bogor".
"Aku bilang jangan ya jangan. Jangan membantah! Nanti aku beliin yang lebih mahal"
"Iya iya...",jawabnya pasrah.
"Mandi sana! nanti ketiduran kamu",titah Awan.
"Kenapa emangnya?",tanya Awan dengan seringainya. Ia cukup paham maksud Mentari.
Mentari sadar kalau dia salah bicara lagi. Sebenarnya ada apa dengan Mentari bisa-bisa ceroboh begitu saat bicara dengan Awan? Apa dianya saja yang terlalu jujur? Awan hendak mendekat ke Mentari,tapi Mentari menghindar secepat kilat. Namun, hap! terlambat,tubuh mungil itu tertangkap oleh Awan. Dia peluk dan cium sesuka hatinya gadisnya itu. Mereka bercumbu saling mengungkapkan rasa kasih dan sayang diantara mereka.
"Setelah kamu lulus, aku akan menikahi kamu". Janji seorang Awan yang semakin melambungkan hati Mentari.
***
Hari yang dinantikan para siswa kelas XII telah tiba. Meskipun hanya dekat dan tipis-tipis, tapi cukup merefresh otak mereka sejenak yang selama ini bekerja keras dengan materi pelajaran untuk ujian nanti.
Mentari yang dikenal sebagai murid kurang mampu,hari ini tampil berbeda dengan pakaian serba branded. Pakaian yang sudah diamanahkan oleh Awan agar dipakainya saat ke puncak. Jelas menimbulkan desas desus tak enak didengar. Banyak dari hatersnya yang ia dapatkan akibat pacaran dengan Angga, mencibirnya jika Mentari memiliki barang-barang mewah karena menjadi kekasih Angga. Bahkan ada yang sampai bilang Mentari sudah jatuh ke ranjang Angga.
Mentari sedih mendengarnya,tapi berusaha cuek. Dia tak merasa melakukannya. Tidak mungkin dia melakukan hal yang senekat itu hanya untuk barang mewah yang bagi Mentari sama saja dengan barang lainnya. Tapi dia juga sadar diri, dirinya tetap salah,hubungannya dengan Awanlah yang salah,bukan karena Angga.
"Udah...diemin aja! Cuek aja! Masih ada kita-kita ini. Iya kan guys?!" Ucap Meli menenangkan. Ada formasi lengkap teman baru Mentari disana.
"Aku yang tahu kamu nggak kaya gitu ay", ujar Angga.
Mentari tersenyum pada teman-temannya itu,tanda terima kasih karena sudah dibela. Dalam hatinya ia merasa jadi orang jahat. Segitu percayanya teman-temannya itu kalau Mentari cewek baik-baik. Padahal dia sudah tak sepolos itu, meskipun semua itu ia lakukan karena cinta bukan karena materi. Dan materi yang didapat Mentari adalah bonusnya. Ya Tuhan... Berbuat dosa aja masih ada bonusnya. Gimana kalau kena azab nanti? Ada bonusnya juga nggak ya? Batin Mentari memelas.
"Kalian denger semua ya!",suara Angga mengejutkan lamunan Mentari."Mentari itu nggak seperti yang kalian pikir. Dia cewek baik-baik. Gue saksinya, dan gue adalah cowok Mentari. Kalau kalian mikir Mentari cewek gampangan,kalian salah! Mentari nggak segampangan kalian!" Angga berbicara tegas kepada gerombolan fansnya yang julid ke Mentari.
"Udah Ngga biarin aja", Mentari memegang lengan Angga menenangkan kekasihnya.
"Iya bro kita cabut sebelum ada guru yang dateng", ajak Arya sambil merangkul bahu Angga di sisi berlawanan dengan Mentari.
Mereka memilih meninggalkan gerombolan gadis-gadis julid itu. Menuju bis masing-masing sesuai kelas mereka. Mentari hanya bersama Meli sekarang, sedang Angga and the genk berada di kelas lain. Untung saja teman-teman sekelas Mentari tidak banyak fans fanatik Angga,dan mereka kebanyakan memang sudah kenal Mentari sebagai gadis biasa-biasa saja.
Sedang asyik mendengarkan musik ditengah perjalanan, dering pesan dari ponsel Mentari berbunyi.
Om Awan
Aku udah jalan ke puncak sama Indra
Nanti ketemu disana ya
Mentari tersenyum membaca pesan itu. Awan memang sengaja mengikuti Mentari. Selain ingin menghabiskan waktu bersama Mentari dengan suasana berbeda, Awan juga tak ingin momen ini dimanfaatkan oleh Angga untuk menarik hati Mentari.
"Kita ke tempat Mentari Ndra, ini tujuannya",kata Awan menyodorkan ponsel dengan google map tempat yang akan Mentari tuju. Baru saja Awan dapat pesan dari Mentari yang memberitahukan peta lokasi tujuan sekolah Mentari.
"Lo mending booking tempat sekarang boss,daripada nggak kebagian tempat. Kan dari sekolah Mentari aja udah banyak pengunjungnya",titah Indra memberi saran.
"Lo aja, gue males. Dan lo harus dapet kamarnya!", Awan memang sang boss yang semena-mena jika berhadapan dengan Indra.
Indra mendengus. "Gue lagi nyetir boss. Lo mau kita mati konyol gara-gara gue fokus ngelobi petugasnya?"
"Gue aja yang nyetir sini! Pinggirin mobilnya!", sekali lagi Awan sok berkuasa." Kurang baik apa gue jadi boss? asisten aja gue setirin".
"Ya... suka-suka lo boss! Lo yang bucin gue yang repot. Harusnya gue nonton sama bini gue hari ini",gerutu Indra.
"Kasihan amat anak lo nggak diajakin", sindir Awan
"Dia punya banyak pengasuh kalau weekend",Indra menghentikan mobil di depan minimarket. Ia ingin mendinginkan otaknya dengan air dingin sejenak akibat tingkah Awan yang sering membuatnya repot.
Setelah cukup membasahi tenggorokan, mereka berjalan lagi dengan Awan yang mengemudi. Siapa yang mengira, di belakang mobil Awan ada sebuah mobil yang mengikutinya sejak tadi namun tak disadari oleh kedua orang tersebut. Itu adalah Lusi yang sengaja mengikuti mereka.
"Gue ada tugas buat kalian guys, kalian ke puncak sekarang, nanti gue shareloc ".