Mentari

Mentari
Episode 159



Hari ini Radit pergi bekerja, sebab kini ia mulai beraktivitas seperti biasa. Hari-hari yang ia jalankan sungguh begitu indah, sebab ada Rembulan di sampingnya. Hingga ia begitu menikmati setiap masa-masa indah nya.


"Ngapain Kak?" tanya Mentari yang ke dapur, namun sampai di dapur ia melihat Rembulan.


"Masak," kata Rembulan yang mulai mematikan api kompor, dan mengambil kotak bekal.


"Iya tahu, maksud Tari itu buat siapa?" tanya Mentari.


"Buat Abi," jawab Mentari.


"O," Mentari mengangguk mengerti, "Kak, di bagi dua bisa enggak?" tanya Mentari.


Rembulan memutar lehernya, melihat Mentari, "Buat kamu?" tanya Rembulan.


"Buat Kak Arka, Tari mau ke kantor Kak Arka," kata Mentari.


"Boleh," Rembulan mengangguk, kemudian ia mengambil kotak bekal lainnya. Kemudian ia mengisi nya, "Nih," Rembulan memberikan kotak bekal berisi makanan pada Mentari, "Bilang apa?" kata Rembulan lagi.


"Makasih Umi," kata Mentari sambil cekikikan.


"Ish!" Rembulan kesal karena Mentari mengejek dirinya, padahal ia sudah berbaik hati, "Adik enggak ada akhlak!" kesal Rembulan.


"Hehehe.....Tari berangkat ya Kak, makasih bekalnya," kata Mentari dan ia segera menumpangi mobil yang di kemudikan seorang sopir.


Lima belas menit berlalu, Mentari sampai di tempat tujuannya. Ia perlahan turun dari mobil dengan membawa bekal di tangannya, setelah resepsi di langsungkan semua orang sudah tahu jika Mentari adalah istri dari Arkana Anggara Wijaya. Semua terlihat hormat padanya, tidak seperti saat dulu. Ia sering kali diusir paksa karena di anggap orang tidak waras.


"Kak!" teriak Mentari tanpa sadar.


Lebih tepatnya di lobby, Arka yang tengah berdiri sambil berbicara dengan seorang karyawan mulai berbalik karena mendengar suara istri cerewet nya. Dan benar saja yang memanggilnya adalah ibu hamil, dengan kotak bekal di tangannya. Arka tahu pasti istrinya itu sedang membawakannya makan siang, Arka berdoa semoga bekal yang di bawa Mentari hari ini rasanya lebih baik, dari pada bekal yang kemarin terasa cukup asin.


Dengan langkah yang cepat Mentari menuju Arka, bahkan sedikit berlari.


"Pelan-pelan saja," kata Arka yang takut bila istrinya terjatuh, sambil kakinya juga dengan cepat menuju Mentari.


"Aaaaaaa....." Teriak Mentari karena kakinya tersandung, dan ia hampir saja jatuh terlungkup.


"Sayang," Dengan cepat Arka menahan tubuh istrinya.


Keringat dingin meluncur dari tubuh Mentari, nafasnya terengah-engah, bayangkan saja jika Arka tadi tidak dengan cepat menangkap diri ya. Mungkin hal buruk itu terjadi.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Arka panik.


Mentari menggeleng, "Kak, Tari beneran enggak jatuh kan?" tanya Mentari dengan ketakutan.


"Enggak," Arka dengan cepat kembali memeluk istrinya. Ia tahu istrinya itu memang ceroboh, tapi Arka tidak ingin marahi Mentari untuk saat ini. Karena waktu nya yang belum tepat. Setelah ia rasa Mentari lebih baik Arka langsung mengangkat Mentari, dan membawanya ke ruang kerja miliknya. Arka menurunkan istrinya di sofa, kemudian mengambil segelas air putih yang ada di atas meja kerja nya, "Minum."


Mentari meneguk air tersebut, ia merasa lebih baik. Arka yang berjongkok di melihat istrinya, "Maaf ya Kak," kata Mentari menyadari kesalahannya.


"Jangan di ulangi lagi ya, harus lebih hati-hati," jawab Arka sambil tersenyum.


"Iya, Tari janji," kata Mentari penuh rasa bersalah.


"Kamu bawa apa?" Arka duduk di samping Mentari, ia tahu Mentari tanpaknya sangat takut di marahi. Hingga Arka ingin mengalihkan topik pembicaraan mereka, lagi pula istri itu terlihat menyesal.


"Ini bekal buat Kakak," Mentari tersenyum dan meletakkannya di atas meja, "Tari bukain ya Kak," kata Mentari.


"Iya," Arka mengangguk, "Semoga bekal ini rasanya tidak aneh," batin Arka. Sebab kemarin ia terpaksa memakan masakan Mentari yang rasanya sangat asin, karena takut istrinya bersedih. Sebab Mentari sudah susah payah memasak untuk dirinya.


"Buka mulut," Mentari melayangkan sendok berisi nasi di depan mulut Arka.


Arka melihat tampilan nasi dan juga lauknya, tanpanya cukup menarik dan tidak aneh, dengan perlahan Arka membuka mulutnya bersiap mendapatkan rasa makanan dengan sensasi yang lainnya.


"Gimana Kak?" tanya Mentari.


"Emangnya kemarin-kemarin masakan Tari gimana Kak?" tanya Mentari.


"Aneh dan tidak enak!" jawab Arka cepat.


"Nih," Mentari memberikan kotak bekal beserta sendok di tangannya pada Arka, "Makan sendiri!" kesal Mentari.


Arka kini malah bingung, karena tiba-tiba Mentari marah. Bukankah seharusnya Mentari bangga karena saat ini ia sudah pintar memasak, "Sayang apa Kakak salah?" Arka tidak tahu dimana letak kesalahannya.


"Salah sih enggak," jawab Mentari kesal, "Tapi Tari enggak mau lagi belajar masak buat Kakak, kalau Kakak mau makan suruh Kak Ulan yang masak!" kesal Mentari, "Itu masakan Kak Ulan, masakan Tari yang enggak enak dari kemarin-kemarin," kata ibu hamil yang cukup sensitif itu.


Glek.


Arka meneguk saliva, "Ini masakan Kak Ulan?" tanya Arka dengan susah payah.


"Iya, masakan Tari yang rasanya aneh-aneh kemarin!" jawab Mentari dengan cepat.


"Mmmmfffffpp......" Dimas yang dari tadi hanya di anggap pigura mulai tertawa, karena melihat wajah Arka.


Arka melihat Dimas, kemudian ia melihat Mentari yang memanyunkan bibirnya, "Sayang masakan kamu jauh lebih enak," Arka mencoba membujuk Mentari.


"Bohong!" Mentari melepaskan tangan Arka yang memegang tangannya.


Arka diam dan sedang berpikir cara untuk bisa mendapatkan maaf dari Mentari, "Sayang maksud Kakak enggak begitu," kata Arka lagi.


"Kelimpungan kan bos," gumam Dimas sambil bersorak gembira di hatinya, karena Arka seorang bos arogan itu terlihat kalah bila berhadapan dengan istrinya.


"Diam!" Arka tahu Dimas tengah mengumpat dirinya, sebab terlihat sekali bibir Dimas senyum-senyum sendiri.


"Kakak marahin Tari?" tanya Mentari yang salah paham, sebab Dimas dari tadi hanya diam saja. Jadi Mentari berpikir jika Arka marah pada nya.


"Bukan begitu sayang, Kakak enggak marahin kamu," Arka menggaruk kepala dan tidak mengeri cara untuk menenangkan istrinya.


"Terus marahin siapa?"


"Orang gila," kata Arka melihat Dimas.


Glek.


"Sial," gumam Dimas karena ia yang di sebut gila.


"Kita beli eskrim yuk," kata Arka.


Mentari langsung mengusap air matanya, dan menatap Arka dengan cepat, "Beneran Kak?" tanya Mentari.


"Iya, tapi jangan nangis lagi," kata Arka.


"Iya," Mentari mengambil tisu dan mulai mengarahkan ke hidungnya.


Krokkk....krokk......


Mentari mengeluarkan ingusnya dan ia tersenyum, "Hehehe ayo," Mentari tersenyum dan melupakan permasalahan nya barusan.


"Dasar anak-anak, ini alasannya aku tidak suka anak-anak," kata Dimas dengan suara pelan.


"Apa kau sedang bicara?" tanya Arka menatapnya tajam.


"Enggak bos," bohong Dimas.


"Sayang ayo," Arka langsung memegang lengan Mentari dan keluar dari ruangan nya. Meninggalkan Dimas yang mengurus semua pekerjaan.


"Semoga saja aku tidak mendapatkan istri anak-anak," kata Dimas.