Mentari

Mentari
Episode 103



"Sabariah....." Arka merangkul pundak Mentari, "Kamu cemburu ya?" goda Arka.


Mata Mentari seketika melebar, karena memang tadi ia sempat cemburu," Nggak!" ketus Mentari, padahal ia sedang berusaha untuk menahan rasa malu.


"Ini ada apa?" Linda masih saja bingung, karena Mentari dan Arka tidak menjelaskan pada nya.


Arka melihat Maminya yang kebingungan, "Mantu Mami sedang cemburu, dia pikir Arka ngasi mukenah buat siapa......jadi dia nangis, uring-uringan nggak jelas," jelas Arka pada Linda.


"Siapa yang cemburu.....PD amat......" Mentari tetap berdalih bahkan ia membuang wajahnya ke lain arah, agar menghindari tatapan Arka yang membuat nya merasa malu.


"O....jadi mantu Mami lagi cemburu?" Seloroh Linda, "Biasa lah itu, apa lagi buat orang yang sangat kita sayangi...." ujar Linda sambil menggoda Mentari.


Mentari lagi-lagi melongo mendengar yang di katakan oleh mertuanya, ia pikir kali ini pun Linda akan menolongnya. Ternyata ia malah di jadikan bahan hiburan, tapi apa yang di katakan oleh Linda memang benar tadi ia memang sedang cemburu.


"Mami ke dapur dulu ya," Pamit Linda, "Tapi cemburu nya jangan terlalu nanti bahaya," tambah Linda.


"Bahaya Mi?" tanya Mentari bingung.


"Iya, nanti kamu ketahuan udah cinta mati sama suami kamu," telunjuk Linda menunjuk Arka, kemudian ia tersenyum lalu pergi.


Mentari ingin sekali menangis, mertuanya itu benar-benar menyudutkan dirinya. Lihatlah sekarang suaminya itu malah tebar pesona di sampingnya, seolah ialah manusia paling tampan di dunia ini. Tapi memang benar menurut Mentari, Arka memang tidak duanya bahkan paling tampan sejagat raya.


"Aku memang tampan Sabariah.....tidak usah melihat ku begitu!" Arka bersuara, dan berhasil menyadarkan Mentari dari lamunannya. Apa lagi ada tatapan kekaguman yang terlihat dari wajah istrinya.


Glek.


Mentari meneguk saliva, untuk kali ini sepertinya bukan ia yang menggoda orang sampai kesal. Tapi ia yang di goda sampai ingin menangis lagi.


"Enak aja!" bohong Mentari masih mengelak.


"Baiklah....aku pergi saja, karena kau tidak mencintai ku....aku mau cari seseorang yang benar-benar mencintai ku," Arka berpura-pura ingin pergi, dan itu hanya untuk menggertak Mentari.


"Kak," Mentari cepat-cepat memeluk lengan Arka, agar tidak bisa bergerak pergi, "Tari sayang kok sama Kakak, cinta juga iya....jangan pergi ya," pinta Mentari penuh harap.


Arka tersenyum, karena berhasil membuat Mentari mengakuinya, "Benarkah?" tanya Arka.


"Iya," Mentari mengangguk, "Jangan cari yang lain ya Kak ...."


"Asal ada bayarannya....."


"Ayo......" Mentari langsung menarik Arka, dan ia akan memberikan bayaran yang di minta oleh Arka.


"Enak juga kalau begitu," gumam Arka sambil mengikuti Mentari berjalan menaiki anak tangga.


Sementara di tempat lainnya, dua orang manusia masih diam tanpa sepatah kata pun. Entah apa yang keduanya pikirkan hingga kehilangan bahan untuk berbicara.


"Dit...." Rembulan memecahkan keheningan, dan seketika Radit langsung melihat kearah nya, "Maaf ya kalau tadi Tari ngomongnya asal, tapi dia memang orang nya begitu.....dia itu humoris banget kadang aku juga sampek nangis di goda sama dia, tapi aslinya dia baik kok," jelas Rembulan.


Radit mengangguk, ia sama sekali tidak sakit hati dengan Mentari. Karena ia dapat melihat jika Mentari memang cerewet, namun sebenarnya tadi ia juga sempat merasa malu karena hampir tidak kuat mendengar godaan Mentari.


"Dit, kok bisa ya kamu jadi dokter yang ngerawat aku.... bukannya kemarin yang rawat aku dokter Veli," tanya Rembulan.


"Kenapa, kamu nggak suka kalau yang rawat aku?" Radit ingin melihat reaksi Rembulan, maka dari itu ia malah memilih bertanya dari pada menjawab.


"Bukan gitu....." jawab Rembulan panik, karena ia takut Radit tersinggung.


"Lalu?" tanya Radit.


"Ya....." Rembulan merasa tidak memiliki jawaban dengan baik, ia hanya tersenyum kecut sambil memegang tengkuk nya.


Rembulan diam dan ia tidak banyak lagi bertanya, apa yang di katakan oleh Radit sudah sangat membuatnya luluh seketika.


"Ayo berbaring," pinta Radit.


Rembulan yang sedang duduk menatap Radit dengan bingung, "Buat apa?" tanya Rembulan dengan bodohnya, bahkan wajahnya terlihat panik.


Radit mengangkat sebelah alisnya melihat wajah Rembulan, "Menurut mu?" tanya Radit.


Rembulan menggeleng dan ia menyilangkan tangannya di dada, "Dit kamu mau ngapain?" Rembulan tahu keduanya masih suami istri, tapi apa harus di sini dan Rembulan juga belum siap kalau sampai Radit menginginkan dirinya.


"Memangnya aku mau ngapain?" Radit balik bertanya, karena wajah aneh Rembulan, "Ayo rebahan," pinta Radit lagi.


"Dit, jangan aneh-aneh ya....kita memang udah nikah tapi nggak di sini jugakan?"


Radit mulai mengerti dengan apa yang di pikirkan Rembulan, "Lan, kita temenan udah tahunan....dari duduk di bangku SMA, tapi aku baru lihat kamu yang aneh saat ini!"


"Aku..... aneh?"


"Iya, aku minta kamu rebahan....biar aku bisa periksa kandungan kamu, tapi kenapa kamu malah ngelantur?"


"Kandungan?" Rembulan kembali bertanya, dan ia baru sadar kalau Radit akan memeriksa keadaan janinnya.


"Iya, kan sekarang aku yang tanganin kamu....aku yang jadi dokter rawat kamu...." jelas Radit lagi, "Apa kamu mikir yang lain?" tanya Radit memberanikan diri.


Glek.


Rembulan meneguk saliva mendengar pertanyaan Radit, "Yang lain apa nya?" Rembulan berpura-pura tidak mengerti, dan ia dengan segera merebahkan tubuh nya, "Ayo."


"Ayo?" tanya Radit.


"Ish....." Rembulan menutup matanya sejenak, kemudian ia memberanikan dirinya lagi untuk melihat wajah Radit, "Katanya mau periksa kandungan aku!"


"Oh....." Radit mengangguk, ia sebenarnya hanya sedang berusaha menggoda Rembulan. Dan Radit tahu Rembulan masih terlalu malu, apa lagi saat ia berusaha untuk lebih dekat.


Tangan Radit mulai bergerak, ia mulai memeriksa keadaan Rembulan. Tapi tidak di pungkiri ia sedang tidak terlalu fokus, yang ada ia terus menatap wajah Rembulan penuh kekaguman.


"Dit....kamu beneran meriksa aku nggak sih?"


"Jadi maksud kamu aku main-main!" jawab Radit.


"Tapi biasanya dokter yang menangani aku nggak sedekat ini deh."


"Apa mungkin?"


"Iya."


Radit menjauh, karena apa yang dikatakan Rembulan memanglah benar. Karena hanya ia dokter yang begitu dekat pada pasien nya, "Besok kamu udah boleh pulang, istirahat di rumah."


"Besok?"


"Kenapa?"


Rembulan terlihat ragu, untuk menanyakan hal yang mengganjal di hati nya, "Dit, kalau aku pulang kamu bakalan jenguk aku ke rumah kan?"


"Maunya kamu gimana?"


Deg.