Mentari

Mentari
Episode 177



Saat ini Rembulan sudah di bawa pulang ke rumah, sebenarnya dokter belum memperolehkan Rembulan untuk di bawa pulang. Tapi karena Rembulan sudah tidak betah hingga ia terus meminta pada Radit agar ia di perbolehkan untuk pulang, walaupun sedikit berat tapi Radit akhirnya mengijinkan. Karena tidak tega pada Rembulan, lagi pula ada ia yang merawat istrinya saat di rumah nanti.


"Kak Ulan," Mentari menyambut Rembulan dengan senyuman, ia bahkan sudah menyiapkan kamar Rembulan dengan baik. Mentari kini sudah bisa berjalan, walaupun belum bisa terlalu bebas. Tapi kini keadaan nya sudah lebih baik.


"CK, adik aku yang gesrek," kata Rembulan yang berdiri sambil menggendong Raka.


Rembulan juga sebenarnya belum bisa berjalan terlalu bebas, akan tetapi karena selama beberapa rapa hari terus rebahan di atas ranjang membuat tubuhnya terasa sedikit kaku. Hingga ia terus berusaha agar otot-ototnya kembali lagi membaik seperti semula. Sedangkan menggendong baby Raka Rembulan yang menginginkan nya sendiri, karena Rembulan merasa bersalah baru kini bisa memeluk anaknya. Bahkan Raka sudah mulai minum asi, walaupun masih belajar tapi Raka terlihat lebih menyukai asi. Dari pada susu formula yang biasa di berikan Oma Nina.


"Apasih Kak! Aku udah baik-baik nyambut di sini, kamu malah begitu!" kesal Mentari yang kini berdiri di depan pintu.


"Iya, makasih ya dek," Rembulan tersenyum lalu melangkah masuk, setelah itu ia duduk di sofa yang tertata rapi di ruang tamu. Rembulan belum terlalu kuat untuk berdiri lebih lama, hingga ia memilih cepat-cepat untuk duduk.


Mentari juga ikut menyusul duduk di samping Rembulan, sedangkan Radit duduk di sofa dengan saling berhadapan.


"Kak, Raka kayaknya nyenyak banget ya bobo nya?" Mentari menoel-noel, pipi Raka dengan gemas. Seketika wajah Mentari murung, karena ia juga ingin sekali kalau kedua baby S segera di bawa pulang.


"Iya, tapi juga minum ASI nya banyak banget," Rembulan mengelus dahi Raka dengan penuh kasih sayang.


"Kira-kira kapan ya Kak, anak Tari bisa di bawa pulang?" tanya Mentari dengan murung.


Rembulan menyadari kesedihan yang di rasakan oleh Mentari, bahkan Rembulan sangat Merakan apa yang di rasakan oleh Mentari, "Kamu sabar ya Dek, Kakak yakin secepatnya," kata Rembulan memberikan kekuatan.


"Mungkin beberapa hari lagi, kalau memang sudah memungkinkan pasti bisa di bawa pulang," timpal Radit.


"Ya Kak, semoga aja," kata Mentari masih dengan wajah murung nya.


Arka yang baru saja ikut bergabung mendengar apa yang dikatakan oleh Mentari ia juga ingin sekali kedua anaknya di bawa pulang. Tapi mau bagaimana lagi, karena dokter belum mengijinkan. Lagi pula apa yang di anjurkan oleh dokter adalah yang paling terbaik.


"Sayang," Arka mengangkat Mentari, kemudian ia duduk di sofa yang lainnya. Tapi dengan Mentari yang duduk si pangkuan nya, "Kamu nangis?" tanya Arka.


"Dasar anak-anak!" celetuk Rembulan, karena ia ingin membuat Mentari tersenyum.


Mentari kembali menatap Rembulan dengan tajam, "Tari udah dewasa! Bahkan Tadi udah punya anak dua!" geram Mentari, "Kakak aja yang umur segini cuman dapet satu, Tari tahun ini dua. Nanti kalau hamil tahun depan kembar empat!" Mentari menunjukan empat jarinya pada Rembulan.


"Emang bisa?" tanya Rembulan melongo.


"Bisa!" jawab Mentari dengan pasti.


"Yakin?" tanya Rembulan lagi ingin mengerjai Mentari.


"O, Kakak ragu?" tantang Mentari.


"Enggak, mana tau enggak mampu!" kata Rembulan dengan remeh.


"Enak aja enggak mampu, kita tiap malam juga ngecas! Sekarang aja enggak bisa, itu pun main secara adat barusan!" jelas Mentari dengan panjang lebar.


"Main secara adat?" tanya Rembulan bingung.


"Iya, katanya udah dewasa! Pakek ta....." mulut Mentari tidak bisa lagi berbicara, karena tangan Arka dengan cepat menutup mulut Mentari.


Mentari mulai tersadar, ia mengangguk. Arka kemudian melepas tangannya.


"Pakek apa?" tanya Rembulan yang semakin penasaran.


"Apasih!" kata Mentari yang tidak ingin menjelaskan nya lagi.


"Pakek apa?" goda Rembulan.


"Pakek apa aja boleh, asal enggak kepergok mertua!" jawab Mentari dengan jelas.


"Sialan lu dek!" geram Rembulan.


Glek.


Radit mengusap telinga nya yang mulai memerah, ia mengingat kembali kejadian kemarin. Dimana ia tengah menikmati nya sekali tapi tiba-tiba Ranti masuk, bukan hanya Mama mertuanya yang melihat. Tapi juga Papa mertuanya, sungguh sangat memalukan sekali.


"Kenapa?" tanya Arka saat melihat exspresi Radit yang mulai berubah.


"Spot jantung," celetuk Radit sambil terkekeh, "Lu harus coba bro, sensasi nya nano-nano," kata Radit lagi sambil terkekeh.


"Sialan lu," Arka melempar bantal sofa pada Radit, karena Radit ingin ia juga melakukan apa yang Radit lakukan.


"Hahaha...."'Radit tertawa melihat wajah Arka yang kesal padanya, "Suasana menegangkan itu asik bro!" kata Radit lagi.


"Mantu enggak ada akhlak!" kesal Arka sambil terkekeh.


"Mana lagi, merinding-merinding parahnya gitu kan. Tapi tiba-tiba ciut, gara-gara kepergok mertua," ujar lagi. Ia juga geleng-geleng kepala mengingat bertapa memalukan nya saat mengingat momen tersebut, belum lagi ia sampai kini belum berani menatap wajah Papa mertua nya. Karena Radit terus menghindar.


"Abi apasih," Rembulan yang dengan seorang palu dan sulit menceritakan masalah pribadi nya pada orang lain merasa malu.


"Ahahahhaha....." Radit kembali tertawa, "Umi ingat enggak pas tiba-tiba Tante Linda masuk, terus di susul Mama Ranti sama Papa juga. Kita seperti sepasang kekasih yang sedang melakukan hal mesum di tempat umum, dan kita ketakutan karena ketahuan orang tua," Radit benar-benar tidak kuasa menahan tawa, ia merutuki kebohongan sendiri saat ini.


"Makanya pas di kamar itu di puasin, ini di kamar malu-malu. Di tempat umum nyosor terus!" timpal Mentari.


"Ampun dah ini bocah, mulut nya parah banget!" kata Rembulan kesal, karena kini Mentari jauh lebih pandai menyambung jika masalah urusan ranjang.


"Cucu Oma udah pulang ke rumah," Ranti yang baru saja dari pasar melihat Raka dan Rembulan sudah pulang, ia tersenyum sam langsung mengambil Raka dari pangkuan Rembulan.


Radit, dan Arka diam. Sebenarnya keduanya masih ingin membahas banyak hal saat ini, tapi karena ada Mama mertua keduanya dengan terpaksa menyimpan pembahasan mereka yang begitu aneh namun terasa lucu.


"Aduh cucu Om," Nina yang datang bersama dengan Linda langsung masuk, mereka menyambut hangat ke pulangnya Rembulan ke tengah-tengah keluarga dengan begitu hangat.


"Kita cari tempat yang pas, biar bebas cerita!" kata Radit pada Arka dengan suara kecilnya.


Arka mengangguk dan mengacumkan jempolnya, karena ia setuju dengan usul Radit yang menurut nya sangat benar sekali.