Mentari

Mentari
Episode 105



Hari ini Rembulan sudah dibawa pulang ke rumah, keadaannya pun sudah mulai membaik. Hingga tiba-tiba Ranti di kejutkan dengan empat orang tamu yang berkunjung ke rumah nya.


"Assalamualaikum Jeng," sapa Linda dengan senyuman ramah seperti biasanya.


"Waalaikumusalam...." jawab Ranti,Nia juga memberikan senyuman pada besannya itu. Hingga mata Ranti melihat dua orang yang terlihat asing dimatanya, "Silahkan masuk jeng," Ranti mempersilahkan empat orang itu untuk masuk, "Ayo duduk," kata Ranti lagi menunjuk sofa yang tersusun rapi di ruang tamu.


"Iya jeng terima kasih," Linda tersenyum dan duduk, "Jeng Tari dimana ya?" tanya Linda sebab pagi-pagi tadi ia sudah berpamitan pulang ke rumah Ranti.


"Tari lagi di kamar Ulan jeng," jawab Ranti, sebab alasan Mentari pagi-pagi sekali pulang ke rumah nya memang karena Rembulan sudah di perbolehkan untuk pulang.


"Em...." Linda mengangguk.


"Sebentar ya Jeng, saya panggilkan Papa nya anak-anak dulu," pamit Ranti.


Setelah Linda mengangguk, Ranti bangun dari duduknya dan ia segera menuju dapur terlebih dahulu untuk meminta Bik Sum membuatkan minuman. Dan juga makanan ringan untuk para tamunya, setelah itu barulah ia menuju kamar. Setelah Ranti membuka pintu ia bisa melihat jika suaminya tengah sibuk dengan kertas-kertas di tangannya.


"Pa....."


"Iya," jawab Arya, namun ia hanya fokus pada pekerjaan nya.


"Di luar ada Tuan Anggara dan Jeng Linda, tapi Mama lihat ada dua orang lagi.... kalau tidak salah itu adiknya tuan Anggara," kata Ranti yang merasa pernah melihat orang tersebut, hanya saja ia sedikit bingung orang itu siapa.


Seketika Arya menghentikan pekerjaannya dan melihat kearah istrinya, "Adiknya tuan Anggara? Apa itu orang tuanya Radit?"


"Orang tuanya Radit?" Seketika Ranti merasa bingung, dan ia mulai bertanya-tanya, "Coba deh Papa keluar, nggak baik kan Pa ada tamu nggak di temuin," tambah Ranti lagi.


"Iya Mama benar," Arya membenarkan apa yang dikatakan oleh Ranti, karena mereka memang sangat menghargai tamunya baik dari kalangan atas maupun kalangan bawah.


Arya dan Ranti kini sudah berada di ruang tamu, bahkan sudah banyak makanan ringan dan minuman yang tertata rapi di meja. Seketika ia melangkah dan tersenyum.


"Apa kabar tuan Anggara...." sapa Arya kemudian keduanya saling berjabat tangan.


"Alhamdulillah baik.....tuan Arya," jawab Anggara juga dengan ramah pada besannya itu.


Kemudian Arya mengulurkan tangan pada seorang Mahesa, dan di balas dengan baik. Kemudian ia hanya menggabungkan kedua tangannya, seolah itu ia memberi salam pada Nina. Dan Nina juga sama menggabungkan tangannya tanpa sedikitpun bersentuhan. Setelah itu Arya juga ikut duduk.


"Ayo di minum," kata Ranti yang ikut duduk di sofa.


"Iya Jeng terima kasih, ini sudah repot-repot sekali," ujar Linda, "Ini juga ada sedikit oleh-oleh," Linda meletakan buah dan beberapa paperbag pada meja. Sebenarnya itu bukan ia yang membeli, tapi Nina untuk Rembulan.


"Terima kasih," Ranti dengan senang hati menerimanya, apa pun yang di berikan oleh orang lain ia sangat menghargai mau mahal atau tidak.


"Bagaimana kabar Rembulan Mbak?" tanya Nina, dan pertama kalinya ia bersuara sebab dari tadi ia hanya diam saja.


"Rembulan sudah lebih baik Mbak, dia sekarang sedang istirahat di kamar," jawab Ranti dengan senyuman, namun ia masih bingung apakan Nina adalah Ibu dari Radit.


Arya dan Ranti langsung saling pandang, ternyata apa yang sebelumnya mereka pikirkan benar. Jika tamu mereka adalah orang tua Radit, Ranti mengangguk pada Arya karena ia sangat menerima maksud baik dari keluarga Radit.


Nina langsung mendekati Ranti, "Saya minta maaf Mbak, saya sudah gagal mendidik putra saya," tangis Nina kembali pecah, saat melihat Ranti.


Ranti langsung memeluk Nina, "Ini bukan salah Radit saja Mbak, Rembulan juga bersalah," kata Ranti terharu akan kelembutan hati Nina.


"Sekali lagi maaf ya Mbak, kami memang tidak tahu tentang pernikahan mereka ini....dan sekarang kami tahu hingga kami datang ke sini," kata Nina yang mulai menjauh dari Ranti.


"Iya Mbak," Ranti mengangguk dan merasa lebih tenang, setelah melihat orang tua Radit.


"Saya juga minta maaf tuan Mahesa, karena putri kami juga salah," kata Arya.


"Iya tuan, semoga sekarang kita bisa menjadi satu keluarga...." Mahesa tersenyum, sebab Arya dan Ranti menerima mereka dengan begitu baik. Bahkan ia bisa melihat tidak ada kemarahan di wajah Arya.


"Berarti kita punya besan ya sama dong," ujar Linda dengan senyuman.


"Aduh iya Mbak," Nina tersenyum karena menyadari apa yang barusan dikatakan oleh Linda.


"Iya, aduh.....saya juga senang sekali," Ranti tersenyum, karena memiliki besan dengan hati besar menerima kehadiran putrinya.


"Mbak saya boleh ketemu dengan Rembulan?" pinta Nina, karena ia memang ingin sekali melihat menantunya itu. Kemarin mereka memang sempat berkenalan saat acara pertunangan Radit, tapi rasanya saat itu waktunya sangat tidak tepat.


"Tentu saja, kenapa tidak," Ranti tersenyum, "Ayo ke kamar putrinya sulung saya jeng, kalau dia yang di minta turun seperti nya kasihan karena masih terlalu lemah."


"Iya."


Ketiga wanita cantik itu langsung menuju kamar Rembulan, meninggalkan ketiga pria yang tengah asik berbincang-bincang.


"Assalamualaikum....Ulan Mama masuk ya Ka," Ranti membuka pintu, dan melihat Rembulan tengah duduk bersandar di ranjang. Dengan Mentari yang tengah menemani nya di sana.


"Iya Ma," Rembulan tersenyum dan mempersilahkan Ranti masuk, namun ia juga melihat ada Linda juga yang lebih mengejutkan Rembulan adalah Nina. Rembulan sempat berkenalan dengan Nina, dan kini dia ada di kamarnya.


"Gimana keadaan ku?" tanya Nina, ia kemudian mendekati Rembulan dan duduk di sisi ranjang Rembulan.


"Baik Tante," Rembulan merasa canggung, ia juga merasa malu bertemu dengan Nina.


"Kok Tante sih....Mama dong, kan kamu udah nikah sama Radit," kata Nina merapikan rambut Rembulan yang jatuh beberapa helai di wajahnya.


"Em," Rembulan mengangguk, rasanya sulit di percaya jika kini ia sudah punya mertua.


"Kenapa kamu dan Radit menikah diam-diam, padahal kalau bilang baik-baik Mama juga setuju kok, tapi ya sudah tidak apa, ini pasti karen salah Radit....yang penting sekarang Mama udah tahu," kata Nina lagi.


"Maaf ya Ma, kalau Ulan sama Radit udah bikin banyak orang kecewa," lirih Rembulan dengan perasaan bersalah.