Mentari

Mentari
Rencana Lusi



"Om kapan nglakuin itu sama kak Lusi?", Pertanyaan mengejutkan dari Mentari saat mereka berbaring di atas ranjang sempit Mentari.


Awan yang hampir saja terlelap spontan membuka mata." Nglakuin apa?",Awan pura-pura tidak tahu.


"Itu...kok bisa kak Lusi hamil?",kikuk juga Mentari menjelaskan.


"Ada lah...."


"Gitu ya... main rahasia-rahasiaan"


"Beneran kamu mau tahu?",Awan takut akan menyakiti Mentari. Tapi Mentari mengangguk mantap.


"Jangan marah tapi ya..."


"Hmmm",Mentari mengangguk lagi.


"Kamu ingat pas kamu dateng ke kantor mergokin aku lagi berduaan sama Lusi?"


"Pas om lagi ciuman sambil *****-***** itu?", Mentari antusias.


"Nggak usah diperjelas Baby...", kesal Awan.


"Okey.. okey... terus?", Mentari penasaran.


"Nah sebelum itu kita udah making love lebih dulu", ucapnya malu.


"Oh.... Jadi gitu? Siangnya abis enak-enak sama kak Lusi, malemnya bilang cinta sama aku dan bilang udah nggak cinta sama kak Lusi? Nggak cinta kok ditidurin. Dasar buaya!!", Mentari kesal. Memutar badannya memunggungi Awan.


"Bu..bukan gitu baby. Aku dipaksa", Awan gelagapan.


"Tapi mau kan?"


"Iya maaf baby, aku itu laki-laki normal. Dan laki-laki itu bisa melakukan itu tanpa cinta", jelas Awan.


"Jadi nanti om juga begitu kalau ketemu cewek yang godain om meskipun nggak cinta?", Mentari ketus.


"Ya nggak baby, aku janji nggak gitu lagi", Awan memelas." Buktinya aja sekarang aku lagi mau tapi aku tahan demi kamu baby"


Mentari melotot, membalikkan tubuhnya." Mau apa?", bentak Mentari


"Sini pegang", titahnya menuntun tangan Mentari ke tempat yang tak semestinya.


Mentari terkejut, langsung menarik tangannya."Ih...mesum!!!!". Membalikkan tubuhnya lagi, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Awan tertawa, memeluk Mentari dari luar selimut. Meskipun dia nakal,tapi Awan sangat ingin menjaga Mentari dengan sepenuh hati.


***


Awan masih tertidur pulas di atas ranjang Mentari. Dia tidur sambil bertelanjang dada,karena kamar Mentari hanya memakai kipas angin. Apalagi berbagi tempat di ranjang sempit bersama Mentari membuatnya gerah luar dalam atas dan bawah. Semalam Awan mengumpat, bersumpah akan memasang AC di kamar Mentari.


Mentari tersenyum melihat Awan dari balik cermin tempat ia berkaca sekarang. Ia sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya.


"Om bangun", Mentari membelai rambut Awan setelah ia dudukkan tubuhnya di ranjang.


Awan menggeliat. " Enggghhh", melenguh kemudian mengambil selimut yang semalam ia lempar dan merapatkan ketubuhnya.


"Om nggak kerja?"


"Malas beb..."


"Aku mau sekolah, Om nanti kalau mau pulang jangan lupa dikunci ya rumahnya"


"Hmmmm", Awan masih malas.


Mentari tersenyum geleng-geleng melihat tingkah Awan yang lucu. Beranjak dari duduknya,mengambil tas yang harus ia bawa ke sekolah.


Tiiinn...Tiiinn...


Mentari menengok keluar jendela dengan tirai tertutup yang tepat berhadapan dengan teras. Awan juga langsung membuka mata.


"Siapa sih beb,berisik amat pagi-pagi?"


"Angga"


Awan buru-buru bangun dari tidurnya. "Ngapain pagi-pagi kesini?"


"Jemput aku lah...,kan tiap hari begitu. Aku udah nggak pernah bawa motor lagi sekarang", Mentari sengaja memanasi Awan.


"Besok aku siapin sopir. Jangan bareng sama dia"


"Ya nggak bisa begitulah,nanti Angga tahu kalo aku selingkuh sama om"


"Biarin aja!"


"Enak aja! Nggak ya. Nanti aku dibilang pelakor, simpanan atau apa lagi coba"


"Iya iya...",Awan mendengus.


"Ya udah aku berangkat dulu ya..." ujar Mentari keluar kamar.


"Cium dulu!"


"Bye...!!"


Mentari berlari keluar,tak enak dengan Angga yang lama menunggu. Sementara Awan kembali ke alam mimpinya meskipun kesal mengetahui Mentari berangkat berdua dengan Angga. Tubuhnya benar-benar letih setelah pesta kemarin.


"Hai"


Angga yang tampak keren seperti biasa menoleh ke arah Mentari. Membuka helm full facenya,menampilkan wajah gantengnya.


"Sorry ya lama",ucap Mentari.


"Nggak apa-apa",tuturnya lembut. "Kok nggak dikunci?",Angga melihat Mentari langsung menghampirinya tanpa mengunci pintu seperti biasanya.


"Oh...itu ada..ada abang semalem pulang", Mentari gelagapan.


"Oh...",Angga mengangguk. "Ya udah ayo!"


Mentari menghela napas sepelan mungkin, gara-gara Awan sepertinya Mentari akan sering berbohong. Dia benar-benar merasa sedang berselingkuh dan menjadi simpanan suami orang. Dalam hatinya dia merutuki nasibnya yang rumit ini.


***


Hari berganti hari, Mentari sangat menikmati kesehariannya sebagai siswa sebelum lulus dari pendidikan menengah atasnya. Kini ia cukup bisa menikmati perannya sebagai remaja umumnya. Teman-teman yang asyik yakni genk Angga dan Meli adalah teman yang tepat untuk bergaul. Mereka asyik,tidak nakal seperti tampilannya meskipun playboy dan yang pasti mereka saling menghargai dan tidak membeda-bedakan status sosial. Apalagi Mentari tak perlu repot-repot lagi mencari Uang untuk makan sehari-hari nya, tapi bukan berarti Mentari boros. Malahan dia sangat hemat, tak jarang ditraktir Meli saat istirahat, dilimpahi makanan oleh Angga, juga transferan dari Awan yang tak selalu bisa bersama Mentari.


Dalam hati Mentari merasa bersalah seolah sedang memanfaatkan kebaikan mereka. Tapi mereka malah memaksa,karena menganggap Mentari paling tak punya. Bukan berarti menghina,tapi mereka tulus membantu.


"Tar, nanti jadi ya ke mall. Gua mau beli jaket,sweater, sepatu....apa lagi ya?"


"Iya...iya...,Lo tuh baju udah banyak,sepatu juga banyak. Masih aja ribut"


" Biarin. Anak- anak katanya juga mau ikut tadi"


"Kata siapa?"


"Ardi"


"Jangan bilang Lo ada main sama Ardi", Mentari menyelidik. Curiga dengan sahabatnya yang belakangan dekat dengan Ardi.


Meli nyengir," Nggak apa-apa kali dikit aja,gue bosen sama Bian. Dia susah buat ditemuin", Meli jujur.


"Jadi lo selingkuh?"


"Yang penting nggak ketahuan kan?"


"Hmmm",bibir Mentari mencebik.


Ternyata sama aja sama gue. Mentari miris sendiri dengan kenyataan itu.


Siang itu Mentari dan teman-temannya benar-benar menyambangi mall ternama di kota itu. Angga tak pernah melepaskan tangan Mentari. Angga yang playboy sekarang menjadi Angga yang bucin. Angga tetap setia kepada Mentari, meskipun Mentari selalu menolak diajak yang aneh-aneh.


"Kamu mau beli apa ay?",tanya Awan saat mereka sedang menyusuri pusat perbelanjaan itu. Mentari dan teman-temannya berpencar mencari tujuan mereka masing-masing.


"Aku cuma nganterin Meli aja, tapi Meli malah pergi sama Ardi", Mentari kesal


"Kamu tahu? Mereka pacaran loh"


"Iya tahu, aku udah curiga dari lama loh sebenarnya"


"Emang mereka deket dari sebelum kita deket ay"


"Oh ya?",Mentari tampak terkejut.


Angga mengangguk, dan Mentari geleng-geleng kepala karena kelakuan sahabatnya yang sama saja dengan dirinya.


" Kenapa kamu nggak beli sesuatu ay? Kalau nggak ada duit,nanti biar aku yang beliin", ujar Angga pengertian.


"Makasih Ngga, tapi aku beneran nggak lagi butuh apa-apa"


"Kalau gitu aku mau beliin kamu sesuatu"


"Nggak usah Ngga, beneran deh aku lagi nggak butuh apa-apa",Mentari meyakinkan Angga. Padahal dia sudah lebih dulu janji belanja dengan Awan weekend ini.


"Aku maksa, dan kamu harus terima!", tegas Angga.


Mentari merasa tak enak hati terus-terusan mempermainkan Angga seperti itu. Tapi dia juga tak mau rugi kalau sampai Awan berkhianat. Egois memang, tapi bagaimana lagi dia juga tak mau merusak pertemanan yang sedang asyik-asyiknya itu. Pastilah hubungan mereka ikut rusak jika Mentari ketahuan berselingkuh. Dia berharap, semoga itu tak akan terjadi sampai Mentari menemukan waktu dan alasan yang tepat.


Akhirnya, Angga membelikan Mentari sebuah sweater rajut berwarna peach yang amat manis dikenakan Mentari, juga topi rajut yang katanya harus dipakai Mentari saat ke Bogor nanti. Mau tak mau Mentari harus mau.


***


"Sial!! Kemana sih Awan?",Lusi frustasi karena panggilannya tak pernah dijawab oleh Awan." Gue yakin banget dia ada di apartemen. Gue lihat dengan mata gue sendiri mobilnya ada di basement", Lusi menggigit jarinya gusar. Dia berkali-kali bertandang ke apartemen Awan,namun tak menemukan sang suami.


"Pasti gara-gara tuh cewek Awan jadi giniin gue. Arght!! sial!!",Ia mengacak rambutnya frustasi." Passcode nya diganti lagi. Gue harus temui dia di kantor", keputusan akhirnya.


Setelah menikah, Lusi tinggal di rumah yang telah disiapkan oleh orang tua Awan. Rumah sebagai hadiah pernikahan dari Robi Bimantara itu adalah rumah yang seharusnya ditinggali Awan dan Lusi. Namun, Awan belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya disana setelah meninggalkan Lusi di hotel malam itu. Terhitung sudah hampir dua minggu ia tak dapat menemukan Awan. Awan berkelit dengan alasan sedang ke luar kota untuk waktu yang lama. Padahal hanya satu Minggu saja dia pergi ke Surabaya.


Dan jahatnya lagi, Awan malah sudah tiga kali menginap di rumah Mentari dengan menggunakan ojek online untuk menghilangkan jejaknya. Terhitung dari saat dia kabur di malam pertamanya. Kini kamar Mentari sudah dipasang AC sesuai kemauan Awan.


"Lihat aja, gue akan cari tahu soal cewek SMA itu. Gue harus bikin perhitungan sama dia", seringai licik muncul di wajah cantiknya. "Gue juga akan manfaatin orang tua Awan buat nglancarin rencana gue. Awan harus kembali sama gue".


"Jangan harap gue terus diam kaya gini. Sudah saatnya gue bertindak", Lusi tersenyum sinis.