
"Abi!!!"
Plak!
Rembulan memukul pundak Radit, ia sangat kesal karena Radit sangat menyebalkan sekali.
"Hehehe.....ini namanya aroma terapi," seloroh Radit.
"Pencemaran udara ini Abi," omel Rembulan.
Radit mengibas-ngibaskan selimut nya, agar baunya cepat menghilang.
"Huuueeekkkk," Rembulan menutup mulut sambil menahan mual.
"Sayang maaf ya, Abi tadi mau bangun.... tapi pinggang Abi sakit banget," kata Radit. Karena setelah terjatuh dari atas pohon yang cukup tinggi sungguh membuat nya sulit bergerak, "Tadi Abi bilang keluar Umi enggak mau, terus ini Abi makan mangga muda sama teh pedas," kata Radit lagi. Karena kasihan pada Rembulan.
"Dasar jorok!" Rembulan turun dari ranjang dan segera menuju kamar mandi, ia ingin mencuci wajahnya agar lebih segar.
Sementara di ruang keluarga ada Arka, Mentari. Di tambah dua sahabat sejati Mentari yaitu Rika dan Lala.
"Tari kapan kuliah, perasaan kamu kuliah cuman sekali deh," kata Rika.
"Kayaknya aku kuliah di lanjut abis lahiran aja deh, Rika.....aku sekarang gampang banget kecapean," kata Mentari, apa lagi dokter mengatakan kemungkinan ia melahirkan secara prematur. Karena kandungannya sangat beresiko sekali, Mentari lebih memilih menurut pada suaminya takut bila tidak nantinya ia sendiri yang merasakan imbasnya.
"Ya udah gimana baiknya aja," kata Rika. Ia mengerti dengan keadaan sahabatnya Mentari.
"Iya bener Tar," timpal Lala.
"Udah USG belum, cowok apa cewek?" tanya Rika penasaran.
"Sepasang," kata Mentari.
"Maksudnya kembar Tar???" tanya Rika lagi, ia bahkan sampai shock.
"Gila buat aku satu ya," timpal Lala.
"Bapaknya di cari dulu woy," Rika menjitak kepala Lala karena kesal.
"Bapaknya Kan ada Kakak lu yang tamvan itu," celetuk Lala.
"Apasih...." Rika memutar bola matanya dengan jenuh, "Kayak enggak ada manusia lain aja, di kampus juga banyak yang jomblo," kata Rika lagi.
"Udah Rika, relain aja Dimas sama Lala....kamu enggak kasihan sama Kakak kamu jomblo....cuman jadi obat nyamuk dia kalau lagi kumpul bareng kita," kata Mentari sambil terkekeh.
"Biarin aja!" kata Rika.
Tidak lama kemudian Dimas datang, ia kesana untuk mengantarkan beberapa dokumen perusahaan yang harus di tanda tangani Arka.
"Assalamualaikum," kata Radit.
"Waalaikumusalam....." jawab Mentari.
"Pak Dimas tamvan datang," Lala langsung bersemangat dan memasang senyum paling menarik.
"Apasih lu," Rika menyenggol Lala, "Centil banget....sama bujang lapuk begitu doang!" kesal Rika.
Dimas berjalan mendekati Rika dan menyentil kepala adiknya.
Peltak.
Dimas tidak perduli dengan wajah kesal Rika, ia meletakan beberapa map di tangannya pada meja, kemudian ia duduk dengan santai.
"Kita ke rumah saja," kata Arka, karena ia memiliki ruang kerja khusus untuk dirinya.
"Nanti dulu, kita makan mangga dulu," kata Mentari, ia mengingat mangga muda yang tadi di dapat Arka.
"Tapi Kakak enggak suka asem," kata Arka, membayangkan nya saja ia sudah merasa ngeri apa lagi makannya.
"Ayo dong Kak, Tari pengen makan nya rame-rame," pinta Mentari.
"Tau nih pak Arka, Lala kan mau liatin pak Dimas yang tamvan ini...." Lala menopang tangannya di pipi, dan tersenyum manis pada Dimas.
Dimas malah merinding melihat kelakuan Lala, jika biasanya ia yang mengejar wanita namun kali ini sangat berbeda. Karena Lala yang terang-terangan menggodanya.
"Pak Dimas udah punya pacar?" tanya Rika.
"Dia mah jones," celetuk Rika.
"Enggak papa, mungkin jodoh bapak itu saya," kata Lala dengan konyol nya.
"Heh lu enggak ada harga dirinya ya," kesal Rika yang duduk di samping Lala.
"Mmmmfffffpp," Mentari yang duduk di samping Arka hanya menutup mulut sambil menahan tawa, karena Lala terlihat sangat konyol sekali. Tapi Mentari setuju saja, karena ia sudah bertanya pada Arka jika Dimas bukan lelaki yang suka mempermainkan wanita. Yang ada sebaliknya, karena Dimas mudah percaya pada wanita yang ia sayangi, hingga tanpa sadar ia ternyata hanya di manfaatkan saja.
"Pak Dimas, katanya gagal nikah terus ya....udah sama Lala aja dijamin bahagia dan enggak akan PHP," kata Lala lagi sambil melambaikan tangan pada Dimas.
Dimas hanya bersandar sambil menopang tangannya pada sofa, melihat bocah ingusan yang sudah terang-terangan menggodanya.
"Dimas ngomong dong, dilamar tu sama Lala," kata Mentari sambil terkekeh geli, karena Lala tidak pernah bicara begitu nekat. Bahkan selama ini Lala selalu di kejar-kejar banyak pria, tapi apa daya Lala tidak mudah jatuh hati begitu saja.
"Mangga nya mana?" kesal Rika.
"Bik," Mentari meninggikan suaranya, agar Bik Sum mendengar panggilan nya. Karena tadi Mentari meminta tolong pada Bik Sum untuk mencuci dan memotong mangga yang dipetik Arka.
"Iya Non, ini udah di piring," Bik Sum meletakkannya di atas meja.
"Makasih ya Bik, sekalian tolong buatin kopi buat Dimas," kata Mentari lagi.
"Iya Non," kata Bik Sum.
"Tuh mangga nya," Mentari menunjuk mangga yang sudah di meja, "Ayo makan, tadi nannyain!" kata Mentari pada Rika. Sementara ia mulai mengambil satu potong dan memakannya.
"Mending makan mangga, dari pada muak liatin Lala buluk," kesal Rika, ia mengambil sepotong mangga dan dengan cepat melahap nya. Tanpa mencicipi terlebih dahulu ia langsung saja mengunyahnya, meluapkan segala perasaan kesalnya. Namun beberapa saat kemudian, ia merasa ngilu dan melihat sekitarnya, "Ini mangga apa? Asem banget," Rika langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan mangga nya. Setelah ia berkumur baru kembali berkumpul bersama temannya yang lain.
"Mampus, kelewatan cerewet sih," kata Lala. Karena Lala sudah bergidik ngeri saat melihat mangga muda yang di letakkan Bik Sum di meja. Tapi Rika malah dengan sengaja memakannya, "Azab calon Adek ipar durhaka sama calon Kakak iparnya," kesal Lala.
"Ye.....papan, siapa coba yang setuju lu jadi Kakak ipar gue!" kesal Lala.
"Udah.....udah..... Ahahahhaha......" Mentari tidak kuasa menahan tawa saat melihat Rika dan Lala terus saja adu mulut, bahkan Dimas saja terlihat santai tapi malah dua wanita di hadapan nya terus saja bertengkar, "Dimas kamu jadi penengah dong," kata Mentari mengejek Dimas.
"Tau nih pak Dimas," kata Lala lagi sambil tersenyum, "Panggilnya AA aja deh, biar tambah gemuszzzz......"
"Udah Dim, sikat," tambah Arka. Arka yang dari tadi diam tiba-tiba bersuara, dan dengan santai berbicara.
Bahkan Rika dan Lala baru tahu ternyata Arka yang dingin itu bisa juga berbicara layaknya manusia pada umumnya. Karena mereka berpikir Arka hanya seorang yang dingin dan mengerikan.
Dimas tidak perduli, ia meneguk kopi yang barusan di antarkan Bik Sum. Karena menurut Dimas selera nya itu wanita yang sudah seumuran dengan nya, ataupun hanya berjarak satu sampai dua tahun. Karena ABG seperti Lala sama sekali tidak memiliki daya tarik menurut nya