Mentari

Mentari
Episode 97



"Minta maaf terus dari tadi, ada apa sih sebenarnya?" Tanya Mentari lagi semakin penasaran, "Katakan saja, aku selalu memaafkan mu" Sambung Mentari sambil menaruh tangannya diatas punggung tangan Siska.


"Tapi aku ragu" Jawab Siska mengutarakan yang ia rasa saat ini.


"Aku sahabatmu jadi jangan ragu. Percaya" Ucap Mentari meyakinkan Siska dengan menatap mata Siska.


"Oke, aku percaya" Jawab Siska lalu ia memejamkan mata sambil menarik napas dan berkata dengan cepat, "Rio ingin minta maaf" Sambungnya lagi.


Ucapan sahabatnya itu membuat Mentari seketika menarik tangannya dari tangan Siska dengan wajah kaget bertanya dengan sedikit terbata-bata.


"Aa pa benaarr?" Tanya Mentari.


Jujur, masih ada perasaan takut jika mendengar itu. Rionaldo, sahabat kampusnya itu. Rasa gugup karena takut tergambar jelas diwajah Mentari.


"Maafkan aku, Rionaldo meminta aku menyampaikan ini ke kamu. Ia telah menyesali perbuatannya" Jelas Siska.


"Kamu tau gak Siska, andai aku tidak cepat ditolong mungkin anak aku Balqis gak ada sekarang" Jelas Mentari kepada Siska. Sakit, kecewa, marah campur aduk jadi satu kepada sahabatnya itu.


Arka datang menghampiri, "Apa dia ada disini?" tanya Arka.


"Aku juga kurang tau" Kilah Siska


Mentari masih kecewa kepada sahabatnya itu, bukan hanya meninggalkan kekecewaan di hati Mentari, tapi rasa trauma sudah tersimpan kokoh dalam jiwanya.


Tangan Mentari sedikit gemetar dan keringan dingin, "Siska aku takut nanti Rio menyakiti anakku" Ucapnya.


"Itu tidak mungkin, karena bagaimanapun Rionaldo masih punya hati nurani. Mana tega mau menyakiti anak kecil yang tak berdosa" Jelas Siska lagi mencoba meyakinkan sahabatnya itu.


"Tidak menutup kemungkinan Siska, dulu saja anakku masih dalam segumpal darah sudah berani ia sakiti, apalagi sekarang sudah bernyawa Siska. Balqis separuh nyawaku Siska, hiks hiks hiks" Mentari sudah tidak mampu ia tahan dan akhirnya menangis.


"Maafkan aku Mentari, aku tidak ada niat untuk mengingat kejadian dulu. Aku hanya ingin memperbaiki persahabatan kita, aku rindu kita yang dulu. Meskipun Rionaldo tidak pernah menganggapku ada seperti dirimu" Ucapnya dengan menunduk.


Arka duduk disamping istrinya dan merangkul pundaknya, "tidak ada yang menyakiti kalian. Jadi jangan takut" Ucap Arka kepada Mentari.


Mentari langsung mengambil tisu lalu lap air matanya dan senyum kepada suaminya, "Iya kak, aku tau hanya sedikit takut saja" Jawab Mentari.


"Tau tapi takut" Ulang Arka, mau heran tapi itulah keunikan istrinya.


"Balqis pasti tertawa melihatmu menangis" Canda Arka.


"Yeee, biarin aja. Manusiawi kok menangis" Jawab Mentari tidak mau kalah, sedangkan Siska menyaksikan itu ikut senyum.


Kejadian itu ternyata dipantau langsung oleh Rionaldo dari jauh. Ia tidak mampu mendengar apa yang mereka bicarakan hanya mencoba menilai dari ekspresi dan gerak badan saja.


"Sepertinya Mentari belum bisa memaafkanku" Gumamnya.


"Aku menyesal Mentari melakukan itu dulu, terlalu dikuasai rasa cemburu. Tidak bisa menerima kenyataan kalau kamu bersama pak Arka. Maafkan aku Mentari, terlalu mudah menyetujui permainan Santi, sehingga aku menyesal seperti ini" Ucap Rionaldo lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Rionaldo menjauh dengan tujuan yang tidak terwujud untuk minta maaf kepada Mentari. Ia kembali mengendarai mobilnya menuju bandara untuk kembali ke kita yang ia tinggali selama ini.


"Mungkin ini yang terbaik menjauh sejauh mungkin, selamat tinggal kota kelahiran" Monolog Rionaldo masuk bandara.


Setelah masuk diruang tunggu tidak lupa mengirimkan pesan kepada seseorang untuk membawa mobilnya kembali dirumah.


"Mobil saya dibandara, tolong bawa di rumah" Pesan Rionaldo.


Dan tidak lama ada pemberitahuan segera masuk pesawat, dan Rionaldo kembali mengirim pesan.


"Jangan lupa" pesan Rionaldo lagi lalu menonaktifkan hp nya.


Selama dalam pesawat Rionaldo terus merenung apa yang ia lihat diaqiqah tadi, seakan Mentari ketakutan dan menangis setelah Siska bicara.


"Apa aku sejahat itu dimata mu, sehingga mendengar nama ku saja begitu ketakutan. Dimana Mentari yang dulu selalu ceria mendengar nama aku. Aku menyesal dengan perbuatanku selama ini, tapi mau minta maaf saja berat rasanya" Batin Rionaldo.


Rionaldo tersiksa dengan kesalahan yang ia perbuat selama ini terhadap Mentari, ia selalu berusaha untuk minta maaf tapi pengawasan Mentari begitu ketat dan bahkan jarang keluar rumah.


Menyuruh anak buahnya untuk memantau keadaan rumah Mentari dan Arka saja tidak menemukan hasil. Dan yang membuat Rionaldo heran adalah tidak ada pihak berwajib yang mencari dirinya sampai saat ini.


"Apa Mentari yang larang untuk pencarian atas diriku?, tapi kenapa?, Apakah ini caramu menghukum ku atas apa yang aku perbuat selama ini" Monolog Rionaldo lagi.


Rionaldo saat ini hanya mampu untuk mencoba menghilangkan rasa bersalah itu tapi selalu tidak membuahkan hasil. Ia hanya menatap lewat jendela pesawatnya seakan-akan diluar sana begitu indah.


...💛💛💛...


Acara sudah selesai dan para tamu pun berangsur-angsur berkurang dalam gedung, tersisa tinggal keluarga besar. Namun anehnya saat ini, Siska ikut gabung bahkan tempat duduknya disamping bundanya.


"Hmmmm, naik taksi online saja" Jawabnya.


"Jangan dong. Atau tidak, nginap aja dulu dirumah. Gimana?" tawar Mentari lagi sembari senyum kepada Siska.


"Maaf Mentari, tapi saya harus pulang. Lain kali saja ya nginapnya"


"Benar ya, aku tunggu lo" Ucap Mentari lagi.


"Iya iya, aku pamit pulang dulu. Assalamualaikum" Pamit Siska diakhiri dengan ucapan salam.


Semua disitu menjawab salam kecuali Aldi langsung minta izin kekamar mandi.


"Aku ke toilet dulu" Izin Aldi lalu ia jalan lewat bagian samping Siska.


Entah Aldi memang benar ke toilet tau hanya alasan semata.


"Oke kita siap-siap pulang sekarang, sambil tunggu Aldi" Ucap Hadi karena sekarang sudah menunjukkan waktu sore juga.


Mobil diluar sana sudah siap semua tinggal menunggu dua keluarga itu keluar. Siska pun sudah sampai depan gedung, ia dengan buru-buru pesan taksi online.


Saat Siska menunggu, Aldi menghampiri Siska.


"Ekhem, katanya tadi naik taksi online tapi aku lihat tidak ada mobil yang berhenti" Ucap Aldi tepat berada di belakang Siska dengan tangan ia masukkan dalam saku celana.


"Oh, sebentar lagi kok sampai, mungkin macet" Kilah Siska. padahal baru ia pesan setelah sampai diluar gedung tadi.


"Saya antar saja kalau begitu, daripada menunggu" tawar Aldi.


"Ehh tidak usah kak, sudah biasa naik taksi online" Tolak Siska dengan sopan.


"Benar nih?" tanya Aldi.


Aldi selalu mencoba untuk mendekati sahabat adiknya itu, tapi sifat Siska yang berubah-ubah membuat Aldi susah menebaknya.


"Boleh sedikit bertanya?" tanya Aldi dengan serius.


"Apa itu?" tanya Siska dengan wajah serius dan menatap wajah Aldi.


Siska sudah tidak sungkan lagi pada Aldi. Aldi terang-terangan menyukai Siska tapi untuk mengungkapkan perasaannya Aldi sampai sekarang belum ia lakukan.


"Saya kan sudah menyuruhmu datang sekaligus membicarakan hal serius kepada orang tua saya" Ucap Aldi.


"Hal serius?, hal serius apa?, ada hubungannya dengan saya?" pernyataan Siska yang bertubi-tubi membuat Aldi pusing.


"Satu-satu bertanya supaya aku bisa jawabnya" Ucap Aldi, lalu menghela napas, "lebih baik saya antar pulang saja, nanti dibicarakan dalam mobil" sambung Aldi dan Aldi langsung menarik tangan Siska membawanya ke parkiran mobil.


"Ini bos kunci mobilnya" Ucap anak buahnya yang bawa kunci itu.


"Iya, terima kasih ya" Ucap Aldi dan langsung membukakan pintu mobil bagian depan.


"Masuk" Ucap Aldi dan Siska hanya nurut saja.


"Kita bicara sambil jalan saja" Ucap Aldi lagi sambil melihat kiri kanan untuk keluar kejalan utama.


"Saya sudah bilang sama kamu, saya ingin membicarakan hal yang serius ini dengan orang tua saya tapi harus ada kamu disana tepatnya disamping saya" Jelas Aldi.


Aldi mengatakan itu bukan nyali yang sedikit, karena ia selama ini pernah dekat dengan seorang perempuan tapi waktu zaman kuliah dulu, semenjak lanjut studi dan kerja, Aldi seakan gila dengan pekerjaan sampai tidak ada waktu untuk mencari pendamping hidup.


Namun, melihat Siska dirumah sakit sekilas saat terlibat dalam menyelamatkan Mentari, ia langsung tertarik dengan Siska itu. Ia suka Siska bukan hanya karena cantik tapi sifat Siska yang baik hati.


"Tapi kak saya rasa tidak ada yang mau dibicarakan dengan serius" Ucap Siska karena selama ini Aldi hanya perhatian tapi tidak ada ungkapan atau kalimat kalau Aldi menyukai dirinya.


Jujur saja sebagai perempuan, sebaik apapun laki-laki itu, sepeduli apapun terhadapnya jika ia tidak mengungkapkan satu kalimat yang mengungkapkan tentang perasaan sukanya, maka ia akan menganggapnya biasa, meskipun mungkin hatinya tertarik pada orang tersebut.


"Ingat ya, mungkin tidak akan ku ulangi nih" Ucap Aldi dan jantungnya seakan mau copot, "Saya ingin melamarmu tapi terlebih dahulu ingin memperkenalkan kamu kepada orang tuaku" Sambungnya.


"Haaa" Kalimat yang keluar dari Siska. Ia bingung kaget mau jawab apa dengan kalimat Aldi saat ini, seakan otaknya mendadak kosong.


...**SEMOGA SUKA 😊...


...TERIMA KASIH 🙏**...