
"Ma Tari titip Sea sama Satya, untuk malam ini," Mentari memberikan baby twins yang tertidur lelap di atas Stroller bayi.
Mama Ranti yang tengah menggendong baby Raka seketika melihat kedua cucunya itu, "Kok di kasih ke Mama?" tanya Mama Ranti bingung.
Sebenarnya bukan Mama Ranti tidak mau atau bahkan tidak suka pada baby twins. Tapi seharian ini Mama Ranti sudah cukup di sibukkan dengan baby Raka, apa lagi dari semalam baby Raka terus bersama dengan dirinya.
Mentari tentunya kesal dengan reaksi Mama Ranti, ia merasa Mama Ranti kini pilih kasih, "Gantian Ma, malam ini Sea sama Satya yang tidur sama Mama," jelas Mentari.
"Aduh Tari, kamu enggak kasihan sama Mama? Mama semalaman ngurusin Raka, dan seharian ini juga ngurusin Raka. Mama udah tua," jawab Mama Ranti.
Mentari berjongkok dan seolah tengah mengajak baby twins untuk berbicara, "Sea, Satya, Oma kalian itu pilih-pilih. Jadi jangan lupa itu ya," kata Mentari.
"Hey," Mama Ranti seketika menyentil kepala anak bungsunya yang sangat suka sekali berbicara asal, "Mulu asal nyerocos aja!" geram Mama Ranti.
Mentari menggosok kepala bagian belakang nya, ia bahkan memanyunkan bibirnya, "Kan emang benar kalau Mama pilih kasih buktinya sekarang Mama ngurusin Raka dari tadi malam sampai sekarang udah sore hari. Sedangkan sekarang Tari minta tolong Mama buat jagain Sea sama Satya Mama nggak mau. Padahal Sea sama Satya kan juga. Mama mulai beda-bedain cucu Mama jelas lah duluan sama lebih sayang sama Kak Ulan daripada sama Tari.
Mama Ranti langsung menarik telinga Mentari cukup kencang, "Udah punya dua anak masih aja seperti anak-anak!" kata Mama Ranti dengan sedikit amarah dan nada suara yang cukup tinggi.
"Tuh kan Mama kekerasan lagi, ini aja buktinya sekarang Mama jewer Tari, sakit Mama!" perum Mentari dengan nada yang tidak kalah tinggi.
Mama Ranti memutar bola matanya dengan jenuh, sebenarnya ia cukup malas berdebat. Hari ini cukup melelahkan baginya dan Mama Ranti ingin sekali beristirahat. Akan tetapi Putri bungsunya itu sepertinya tidak mengerti dan paham, malahan ia ingin memberikan kedua anaknya padanya lagi. Kedua putrinya ini memang konyol, tapi lebih konyol lagi untuk anak bungsunya ini yang selalu pencemburu. Apa yang dimiliki Rembulan harus dimiliki Mentari juga, bahkan Mama Ranti seringkali memberikan barang yang sama kepada kedua anaknya. Itu pun terkadang tidak boleh ada yang berbeda walaupun hanya sedikit bentuknya saja, karena itu bisa menimbulkan perdebatan dan sampai sekarangpun sipat itu nampaknya masih sangat melekat pada kedua anaknya terutama kepada Mentari.
"Kamu ya Tari asal nyerocos aja mau kamu Mama kutuk jadi Malin Kundang!" geram Mama Ranti.
"Tapi Mama nggak adil, kenapa Mama mau jagain Raka Kenapa Satya sama Sea nggak?" tanya Mentari lagi yang masih saja penasaran.
"Kak Ulan kan kemarin barusan menikah masa kamu tidak mengerti!" jelas Mama Ranti, berharap putrinya itu bisa mengerti sedikit.
"Tapi pas resepsi Tari Mama biasa aja enggak ada acara ini itu," kata Mentari lagi yang tidak ingin mengalah.
"Dasar bocah tengil ini!" Mama Ranti ingin sekali meremas wajah putrinya Mentari, "Kak Ulan itu menikah tidak sama dengan kamu, kamu ngerti nggak sih harus Mama jelasin lagi apa ya! Kak Ulan dan Kak Radit menikah diam-diam dan sekarang kemarin mereka baru menikah dengan resmi. Selama mereka mereka memiliki menikah banyak permasalahan jadi. Mama ingin mereka berdua tahu rasanya seperti apa menikah yang sebenarnya, bukan menikah karena terpaksa setelah itu terpisah lama Mama nggak mau mereka berdua tidak merasakan yang namanya seperti pengantin baru pada umumnya!" jelas Mama Ranti.
"Emangnya pengantin baru pada umumnya yang gimana Ma?" tanya Mentari.
"Tari kamu maunya apa sih?!" geram Mama Ranti, karena Mentari masih saja membuatnya emosi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat gila. Pertanyaan Mentari cukup sulit untuk menjelaskannya, "Entah ngidam apa Mama sama kamu dulu, Kok bisa Mama dapat anak kamu!" kata Mama Ranti lagi yang kehabisan akal untuk menjawab pertanyaan anaknya yang sudah dewasa namun masih terlihat seperti anak-anak.
Papa Arya yang tanpa sengaja mendengar keributan di kamarnya langsung masuk, Papa Arya baru saja kembali dari luar kota karena tadi pagi tadi ya harus melihat perkebunan dan kini ia sudah kembali lagi ke rumah. Namun sampai di rumah ia melihat dua wanita yang sangat ia sayangi tengah berdebat tanpa jelas hingga membuat Papa Arya juga bingung.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut ini ada cucu Opa di sini lagi bobo anteng begini," kata Papa Arya sambil melihat bergantian satu persatu ketika wajah cucunya.
"Harusnya main gantian kan, Mama sayangnya cuman sama Kak Ulan doang," adu Mentari sambil memeluk Papa Arya.
"Emang kan gue anak kesayangan!" Rembulan yang tiba-tiba ikut masuk dan mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya, dengan cepat Rembulan menimpalinya agar Mentari semakin emosi.
"Tuh Papa dengar sendiri!" Mentari menunjuk Rembulan ia sangat geram melihat wajah kakaknya itu.
"Papa. Mama nggak ngerti sama anak-anak, masa iya tiga-tiganya Mama sekali yang jagain. Enggak sanggup Mama Pa," kata kata Mama Ranty juga.
"Sini," Papa Arya mengambil alih baby Raka yang digendong oleh Mama Ranti dan memberikannya kepada Rembulan, "Kamu jaga anak kamu sendiri," kata Papa Arya.
"Kamu juga sama," Papa Arya memberikan baby twins kepada Mentari, "Kalian berdua jaga anak kalian masing-masing!" tegas Papa Arya sambil mendorong Mentari dan Rembulan keluar dari kamar nya.
"Lho... kok gitu sih Pa?" tanya Mentari yang diangkut Rembulan karena keduanya tidak mengerti dan ingin tahu, kenapa Papa Arya malah memberikan bayi mereka dan tidak mau menjaganya.
"Mama sama Papa juga mau honeymoon mau program anak ke-3! Buat adik-adik kalian. Jadi kalian jaga anak-anak kalian masing-masing!" jelas Papa Arya dengan konyol wajahnya terlihat serius, setelah itu Papa Arya langsung menutup.
Door!
Mentari dan Rembulan tersentak karena pintu yang ditutup dengan cukup kencang hingga berbenturan dan menimbulkan suara yang menggema.
"Papa Tari nggak mau punya adik lagi!!" seru Mentari.
"Ulan juga nggak mau punya adik lagi!!!" seru Rambutan yang tidak kalah kencang.
"Gara-gara lo ya Kak!!" teriak Mentari kepada Rembulan.
"Enak aja gue, ini gara-gara lu lah dek!!" balas Rembulan yang tidak ingin mengalah.
"Lu!!!"
"Lu!!!"
Oe oe oe oe oe oe oe ....
Oe oe oe oe oe.....
Oe oe oe oe......