Mentari

Mentari
Episode 92



Mobil pun beriringan membelah jalan kota. Semua sibuk dengan ponsel masing-masing tidak terkecuali yang mengemudi mobil. Bosan rasanya jika tidak ada komunikasi dalam mobil, salah satunya yaitu Aldi.


Aldi sekali-kali menguap sambil membawa mobil dan itu ditangkap oleh ekor mata Mentari.


"Kakak ngantuk?" Tanyanya.


"Iya, akhir-akhir ini kurang tidur" Jawab Aldi dengan pandangan fokus didepan.


Arka mendengar itu tidak mau mengambil resiko, jika terjadi sesuatu karena yang bawa mobil mengantuk.


"Berhenti didepan Di, nanti aku yang bawa mobil" Ucap Arka.


Aldi pun tidak menunggu waktu lama setelah memastikan mobil dibagian belakang jauh dari mereka dan ada peluang untuk kepinggir, maka dia langsung menyalakan lampu sen mobil dengan pelan-pelan kearah pinggir jalan.


"Kenapa itu pa?" Tanya Ibu Anita.


"Papa juga gak tau bun, nanti kita tanya" Jawab Hadi lalu berhenti tepat dibelakang mobil Aldi.


Ibu Anita langsung turun dari mobil dan menghampiri mereka, "Ada apa?" Tanyanya.


"Kak Aldi ngantuk bun, jadi tukaran dengan kak Arka" Jawab Mentari dalam mobil sambil menggendong bayi mungilnya.


"Oh gitu, ya udah kalian hati-hati ya" Ucap Ibu Anita lagi dan kembali dimobil.


"Ada apa bun?" tanya Hadi setelah istrinya masuk dalam mobil.


"Aldi mengantuk, jadi tukaran dengan Arka" Jawab ibu Anita dan mereka melanjutkan perjalanan.


Sedangkan bagian depan mobil Rahmat dan Ibu Dewi, tidak tau kalau mobil Aldi dan besannya sempat berhenti tadi.


"Yah, mobil mereka tidak ada dibelakang" Ucap ibu Dewi yang memantau dari kaca spion mobil.


"Tinggal telepon, hmmm panik duluan" respon Rahmat dengan menggelengkan kepalanya heran kepada istrinya itu.


"Ayah gak panik, kalau mereka kenapa-napa, aduh gimana dengan cucuku" Ibu Dewi pusing sendiri dalam mobil sedangkan Rahmat malah santai.


📞 Ibu Dewi : "Assalamualaikum Anita, dimana?"


📞 Ibu Anita : "Wa'alaikumussalam, dalam mobil, tadi sempat berhenti, Aldi mengantuk jadi harus tukaran dulu dengan Arka" jelas ibu Anita diseberang telepon, ibu Anita tau kalau ibu Dewi khawatir dengan keadaan mereka.


📞 Ibu Dewi : "Oke. Hati-hati, kami akan memperlambat laju mobil"


📞 Ibu Anita : "Lanjut saja, tunggu dirumah. insyaallah kami aman" ucap ibu Anita untuk meyakinkan ibu Dewi yang super panik.


📞 Ibu Dewi : "Ok kalau begitu. Assalamualaikum" Ucap ibu Dewi dan sekarang perasaannya lega.


Setelah mematikan sambungan telepon, ibu Dewi memberitahu suaminya kalau mereka nanti menunggu dirumah saja.


15 menit kemudian, ibu Dewi sampai rumah dan langsung menyuruh ART nya untuk merapikan kamar khusus cucunya yang sudah disediakan jauh-jauh hari. Sedangkan Ibu Dewi membersihkan badan sudah tidak sabar menyambut cucunya itu.


5 menit kemudian, dua mobil sudah terparkir dihalaman rumah. Mereka masuk dalam rumah dengan Aldi kembali memegang tas yang berisi kain yang digunakan Mentari dalam mobilnya tadi.


Setelah masuk dalam rumah Arka, Aldi langsung membanting badannya diatas sofa.


"Alhamdulillaah, akhirnya raga ini istrahat juga" Gumamnya pelan sambil memejamkan mata.


"Kayak disiksa saja" jawab Mentari sambil menggendong anaknya itu.


"Dek, hanya kamu tidak hadapi dua ibu-ibu dalam rumah ini, pusing kepala mu dek" Jawabnya dengan nada kecil.


"Sabar kak, kak Arka saja pingsang di ruang persalinan biasa saja" Ucap Mentari keceplosan. Ia berusaha menyemangati kakaknya tapi tanpa sadar membuka kartu suaminya.


"Hahaha, pingsan, lemah" Ucap Aldi setelah tertawa, "Gak nyangka pemimpin perusahaan Holding Purnawan pingsan gara-gara nemenin istrinya melahirkan" Sambungnya lagi sambil menutup mulut menahan tawa.


Sedangkan Arka tidak tau apa-apa, datang memberitahu Mentari kalau sekarang ke kamar untuk istrahat.


Mentari dilarang langsung masuk kamar sebelum kedua ibu-ibu tetua itu periksa ulang kamar cucu mereka. Sehingga Mentari disuruh untuk duduk diruang keluarga bersama Aldi.


"Hay bro" Ucap Aldi sembari senyum.


Mentari tau maksud dari ucapan kakaknya itu, "Macam-macam, tidak akan izinkan gendong anakku" Ancam Mentari sambil menatap tajam kakaknya.


Aldi bukannya respon ucapan adiknya malah menghampiri Arka, "Gimana rasanya temanin istri dalam ruang persalinan?" tanya Aldi sengaja.


"Kakak" Ucap Mentari mengingatkan kakaknya itu.


"Marah gak ya kak Arka kalau tau aku tidak sengaja beritahu kak Aldi tentang pingsan di ruang persalinan" Batin Mentari.


"Dek, ke kamar istrahat dan disana sudah ada ibu dan bunda menunggumu" Ucap Arka lembut kepada istrinya membuat Aldi pura-pura muntah.


"Dek ibu-ibu" Ucap Aldi.


"Kakak, sekarang Mentari sudah jadi seorang ibu, jadi harus tau surga itu ada dimana, dan ucapan seorang ibu itu mustajab lho, jadi hati-hati" Ucap Mentari lalu pergi sambil menepuk-nepuk pantat bayinya.


"Songong itu anak" Ucap Aldi heran sambil menunjuk Mentari yang sudah meninggalkan mereka berdua.


"Begitulah, sabar saja" Ucap Arka lalu pergi meninggalkan Aldi.


"Heee" Suara yang keluar dari bibir Aldi mendengar respon Arka, "baru sadar sahabat aku sifatnya seperti itu" Sambungnya lalu menyusul Arka.


Ia penasaran dengan kamar ponakannya itu, ia hanya mendengar dari cerita ibu Dewi dan Bunda yang selalu bertukar pendapat tentang perlengkapan bayi.


Seketika semua dalam ruangan itu mengangkat jari dan menempelkan jari mereka dibibir tanda dilarang ribut. Aldi diam sambil jalan menuju ranjang bayi, dimana ponakannya tidur. Awalnya Aldi hanya menatap ponakannya tanpa menyentuh, namun semakin lama melihat bayi mungil itu perlahan tangannya mengarah ke pipi gembul yang imut dan menggemaskan.


"Aldi, tangan mu kotor lho" Tegur ibu Anita.


"Mana Hand sanitizer" Minta Aldi dengan mengarahkan tangannya ke belakang.


"Cuci dulu tangannya baru pakai hand sanitizer" Timpal Mentari kali ini.


Aldi menoleh ke arah Mentari, "Itu pembunuh kuman juga" Aldi membela diri.


"Mengantisipasi kuman yang tidak mati kalau hanya menggunakan hand sanitizer saja Aldi" Ucap Anita lagi.


"Aldi mengalah saja, pusing kalau sudah perempuan yang bicara" Arka mulai ikut bersuara.


"Iya iya" Aldi mengalah.


Aldi pergi cuci tangan setelah kembali tidak lupa menggunakan hand sanitizer yang sudah disediakan di ruangan bayi. Aldi terlihat gemas dengan pipi ponakannya dan Mentari tau kalau Aldi gemas kadang muncul tingkah gilanya.


Mentari menghampiri Aldi tepat berada dibelakang sang kakak, awalnya Mentari tidak menegur kakaknya karena pertama hanya mengelus pipi anaknya, tapi lama-kelamaan tangan Aldi mulai nakal malah menekan pelan pipi sang ponakan.


Mentari melihat itu seketika membulatkan matanya, "Nakal bangat sih tangan kakak" ucapnya memukul tangan Aldi lalu ia tarik tangan itu cepat agar tidak mengganggu tidur anaknya.


"Pelit amat, baru pegang pipi belum dicium" protes Aldi dengan mata malas lalu ia duduk di kursi samping ibunya.


"Tidak ada yang larang kak, hanya baby masih tidur" jawab Mentari, ia merasa tidak enak dengan kakaknya atas perlakuannya tadi.


Ibu Dewi mengalihkan pembicaraan, "Gimana kalau kita makan dulu, sepertinya para bapak-bapak sudah lapar".


"Iya bu, kasian ayah dan papa" timpal Mentari.


"Kalau gitu kita makan sama-sama" Ucap ibu Dewi lagi, "Udah lama juga kan gak kumpul-kumpul seperti ini" sambungnya lagi.


"Benar, tapi maaf yaa Mentari gak bisa ikut" Ucap Mentari.


"Arka juga maaf ya tidak bisa gabung, mau temanin anak dan istri" Ucapnya sembari senyum.


"Iya tau" Jawab Aldi lalu ia pergi dari ruangan itu.


Semua orang dalam kamar itu heran dengan tingkah Aldi yang kekanak-kanakan.


"Hmm, sudah tua tapi sifatnya kayak anak-anak, apa akan ada yang mau sama kak Aldi" Gumam Mentari ikut heran melihat tingkah kakaknya. Namun tidak sadar ucapannya membuat ibu, ibu mertua dan suaminya saling melihat satu sama lain.


"Semoga semakin dewasa ya sayang setelah punya anak" Ucap ibu Anita lalu mengusap kepala anaknya lalu ke ke cucunya yang masih tidur pulas.


"Bunda, berarti maksud bunda Mentari kurang dewasa?" Tanya Mentari sambil memanyunkan bibirnya disamping bundanya.


"Udah dewasa kok" Jawab ibu Anita, "Maa syaa allah si cantik buka mata" sambung ibu Anita lagi ketika melihat cucunya membuka mata sejenak lalu kembali terpejam.


"Terusik mungkin Anita" Timpal ibu Dewi.


"Sepertinya, kasian cucu oma ini, terlalu bising ya disini?" tanya ibu Anita kepada cucunya itu seakan anak Mentari sudah mengerti bahasa yang diucapkan.


"Ayo Anita, kita makan dulu, ini sudah menjelang siang belum makan" Ajak ibu Dewi.


Ibu Anita dan Dewi pergi, tinggallah keluarga kecil yang baru dikaruniai seorang peri cantik imut dalam keluarga mereka.


Arka tidak henti-hentinya bersyukur setiap melihat putri kecilnya itu, meskipun belum berani gendong tapi selalu memperhatikan cara sang istri menggendong putri mereka.


"Apa kita balik rumah saja ya dek?" tanya Arka.


"Saya ikut kakak saja" Ucap Mentari lagi sambil melihat anaknya dalam ranjang bayi, "Oh iya kak, nanti akikah nanti dimana kak?" tanya Mentari lagi.


"Tinggal pilih saja, dimana kamu suka dan peri kecil ayah ini nyaman" Ucap Arka sembari senyum.


Arka dan Mentari sejak orang tua mereka meninggalkan ruangan itu, ke duanya memutuskan untuk duduk disamping ranjang anaknya.


"Hmmmm, nanti Mentari pikir-pikir sekarang itu mau fokus sama anak dan proposal, gimana kak proposal Mentari itu?" tanyanya lagi.


"Dek saraf-saraf mu banyak yang putus waktu lahiran jadi jangan banyak pikiran dulu" Arka sengaja berkata seperti itu agar Mentari tidak terus bertanya soal kuliah dulu saat ini.


"Haaa.." Ucap Mentari dengan nada tidak kalah kecil sama Arka, ia kaget dan takut setelah mendengar ucapan suaminya itu. Mata mulai berkaca-kaca, "Jadi gimana dong kak?" sambungnya sambil memegang tangan suaminya.


"Yah, jangan banyak pikiran dulu" Jawab Arka lagi.


"Gimana mau punya anak lima satu saja saraf Mentari sudah banyak yang putus, a a aku takut" Ucapnya dengan sesegukan.


Arka merasa kasihan melihat istrinya, ia langsung memeluknya dan mencoba untuk menenangkannya. Semua itu diluar dugaan Arka, ia tidak kepikiran kalau istrinya itu sampai menangis dengan perkataannya.


"Bercanda, jangan diambil hati" Ucap Arka sambil mengelus kepala sang istri, "Kok kakak rasanya sudah punya dua anak, bayi besar dan bayi kecil" sambungnya dengan bercanda ingin mencairkan suasana.


"Bodoh amat" jawab Mentari yang masih dalam pelukan suaminya, sedangkan Arka yang ketawa mendengar jawaban dari sang isteri. Tentu suara tawa dengan nada kecil agar peri kecil mereka tidak dengar dan tidurnya terganggu.


...Semoga Suka 😊...


...Jangan lupa Like, Komen, Share ke teman-temannya yaa....


...Terima Kasih sudah mendukung Mentari sampai saat ini 🙏😊...